
Sinar mentari pagi menyibak, menyusup di sela-sela korden yang tak tertutup sempurna. Menggambarkan untaian gelombang asmara yang semakin hangat merasuk ke dalam jiwa.
Perlahan, Aleesha membuka matanya, menikmati seberkas cahaya yang hangat menyentuh kulitnya. Bayangan mimpi indah yang semalam Dia lakukan, masih sangat begitu terasa menyentuh kalbu.
'Mimpi ? Apakah Aku sedang bermimpi semalam ?' Tanya Aleesha dalam hati.
'Tapi kehangatan ini, tidak seperti biasanya Aku rasakan. Ini bukan kehangatan karena sinar mentari pagi. Tapi hangatnya sebuah pelukan.' Komentar sisi hatinya.
Aleesha membelalakkan mata, saat Dia lihat ada jemari lain di sisi lengan kanannya. Segera Dia bangkit dari tidurnya, tapi...
"Aachh..." Teriaknya kaget, katika kedua lengan Asbram kembali menariknya ke dalam pelukan.
"Mau kemana ?" Tanya Asbram setengah tersadar.
"Saya, Saya_"
"Saya apa ?"
Belum lagi Aleesha menyelesaikan ucapannya. Asbram secepat kilat merengkuh tubuh mungil Aleesha, membuatnya tidak ada sedikitpun pembatas bagi mereka. Reflek, Aleesha membungkam mulutnya sendiri.
"Makasih Sayang." Gumamnya lirih.
"Terimakasih untuk apa ?" Jawab Aleesha setengah bertanya, dengan mulut masih tetap terbungkam oleh tangannya sendiri.
"Terimakasih masih mau menerimaku, dan mau menjadi bagian dari hidupku."
Pelukan Asbram semakin erat. Bahkan tidak ada lagi ruang gerak untuk Aleesha.
'Haruskah itu terucap dari bibirmu Mas. Apa yang menarik dari diriku, hingga Kamu ingat keberadaanku sebagai istrimu.' Kata hatinya setengah berontak.
"Kenapa Cha ?" Bisiknya lirih, saat melihat wajah tegang istrinya.
"Entahlah, Aku_"
"Aku tahu, mungkin masih ada keraguan di dalam hatimu." Potongnya lirih.
"Syukurlah, Kamu menyadari hal itu." Ucapnya sembari beranjak bangkit dari ranjangnya, saat terasa Asbram melonggarkan pelukan.
Namun, lagi-lagi Dia harus kembali merapatkan tubuhnya, ketika baru menyadari, tak selembar benangpun menutupi tubuhnya.
'Jadi, apa yang Aku mimpikan semalam benar-benar terjadi. Dan itu bukanlah sebuah mimpi.' Renungnya dalam hati.
"Kenapa Sayang ?" Tanya Asbram dengan lirikan nakal.
Tanpa banyak bicara, Aleesha menarik selimut yang tadi memenuhi seluruh tubuhnya. Entah apa sebabnya, langkahnya terasa berat, ada rasa perih dan nyeri di sekitar pangkal pahanya.
"Uhhh..." Keluhnya sembari meletakkan selimut yang sudah menyelamatkan kulitnya dari mata nakal suaminya. Ada sebercak darah menempel pada permukaan kain biru tanpa motif itu.
"Apa Aku benar-benar menyerahkannya pada suamiku, ataukah Aku sedang kedatangan tamu ?" Lirihnya sembari memegang lembut noda yang menempel pada selimutnya.
'Tidak, itu tidak mungkin, bukankah dua hari yang lalu, Aku baru saja selesai menstruasi.' Komentar sisi hatinya.
Bibirnya tersenyum, impian yang sudah cukup lama Dia rindukan, gini sudah tepat sasaran. Bukan hanya kali ini, Dia merasakan jatuh cinta pada suaminya. Tapi sudah jauh sebelum Dia menerima perjodohan itu, Asbram kecil sudah menjadi bagian dari pikirannya.
'Tapi, apa sebenarnya yang Mas Bram rencanakan ? Kenapa begitu cepat Dia berubah ?' Kalimat tanya itu tiba-tiba muncul kembali di dalam pikirannya.
"Haahhh..." Dengusnya, diiringi gemericik air hangat yang mengguyur sekujur tubuhnya, berharap bisa melunturkan semua pikiran negatif di dalam benaknya.
Tok...tok...tok...
"Aleesha." Panggil Asbram, tanpa Aleesha pedulikan.
"Sayang, masih lama kah ?" Tanya nya kembali.
Merasa menunggu lama, Asbram memilih kamar mandi di kamar tamu sebagai tempat untuk membersihkan diri.
"Ehem ehem...ada yang sudah basah Bik." Canda Nadira, saat melihat Abangnya keluar dari kamar tamu dengan rambut basahnya.
Namun seperti biasa, Asbram tetap diam dan langsung menuju kamarnya kembali.
Ceklekk ...
Layaknya pengantin baru, Asbram yang sedang bucin merasa tidak ingin jauh dari istrinya. Dia kunci tubuh Aleesha dari belakang, saat sedang mengeringkan rambut di balkon kamarnya.
Aroma wanginya memikat hati Asbram untuk tidak bisa melepaskan pelukan. Bahkan, leher dan rambut legam Aleesha yang masih setengah basahpun, tidak luput dari sentuhan bibirnya.
__ADS_1
"Mas..."
"Hhmmm..."
"Lepasin Mas." Pintanya mencoba menghindar.
"Enggak, Aku sudah lama kehilangan Kamu, dan Aku tidak akan melepaskan untuk kedua kalinya." Bisiknya tepat di daun telinga Aleesha.
Kali ini Asbram benar-benar kelihatan bucin. Bahkan lebih bucin dibandingkan saat Aleesha pertama kali jatuh cinta.
Tok tok tok ...
"Den, Non Aleesha, sarapannya sudah siap." Panggil Bibik dari luar kamar mereka.
"Iya Bik, terimakasih. Sebentar lagi Kami turun." Jawab Aleesha sembari melepaskan pelukan Asbram.
"Apaan sih Bibik, gak biasanya panggil-panggil." Gerutu Asbram lirih.
"Memangnya kenapa, orang tadi Saya yang minta." Bantah Aleesha.
"Eh mau kemana ?" Tanya Asbram saat istrinya berjalan menuju pintu keluar kamar mereka.
"Lapar, mau sarapan." Jawab Aleesha point.
"Tunggu, tunggu." Ucapnya sambil berlari.
"Hhhmmmm... beneran nih Bik, ada pengantin baru." Goda Nadira lagi.
"Iya Non." Jawab Bibik ikut cengengesan.
"Sini Sayang." Kata Asbram mendahului. Kali ini Dia menggeserkan kursi untuk istrinya duduk di ruang makan.
Pemandangan yang tidak biasa bagi keluarga Purnama. Terutama Nadira, yang selama ini mengenal Kakaknya yang cuek, acuh dan selalu jaim, tapi pagi ini begitu kalem, lembut bahkan terlihat romantis dengan pasangannya.
'Abang benar-benar berbeda.' Kata hati Nadira.
"Mau makan apa Sayang ? Biar Mas ambilkan." Tawarnya.
Aleesha hanya diam, melongo dengan sikap aneh suaminya.
"Mau Mas bikinkan sandwich atau mau roti selai ?" Tawarnya sekali lagi.
Aleesha hanya menggelengkan kepala. Bukan tidak mau tapi lebih ke heran dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah.
"Ini Non, pesanannya."
Sepiring salad sayur Bibik hidangkan di hadapan Aleesha.
"Makasih Bik." Jawabnya.
"Ternyata lama menikah tidak menjamin Kita tahu apa kebiasaan pasangan Kita ya Bik." Sindir Nadira lagi.
"Ehem hem..."
Belum makan apa-apa, tapi tenggorokan Asbram terasa kering kerontang.
"Pindah ah, bareng Bibik ajah. Kasih kelonggaran buat yang lagi berdua, karena yang ketiganya setan." Lagi-lagi Nadira menggoda.
"Dira..." Panggil Asbram sedikit risih dengan canda Adiknya.
"Mbak, sabar ya... terkadang singa bisa kalem seperti kucing, tapi kadang juga bisa mengaum berasa ingin menerkam." Bisiknya pada Aleesha.
Yang digoda hanya tersenyum tipis. Nadira benar, baru kali ini ada yang berbeda dengan Asbram. Asbram yang sebelumnya Dia kenal, tidak pernah bersikap manis terhadap siapapun, bahkan kepada istrinya sekalipun.
***
"Mbak, Dira pergi dulu ya." Pamitnya.
"Hati-hati ya Nad, semoga lancar acaranya."
"Makasih Mbak. Mungkin nanti pulangnya agak sedikit terlambat."
"He'em, kabar-kabar kalau sudah sampai."
"Siap."
__ADS_1
"Mau kemana Kamu ?" Tanya Asbram yang tiba-tiba muncul dengan secangkir kopi di tangannya.
"Hari ini kan Dira ada jadwal sosialisasi di desa sebrang." Jawabnya.
"Oh ya, hati-hati."
"Abang gak ngantor ?" Tanya Nadira yang sebenarnya kalimat yang sama akan Aleesha sampaikan. Tapi sudah diwakili oleh adik iparnya.
"Enggak, Abang capek pengen istirahat." Jawabnya asal.
"Tumben." Komentarnya singkat.
Tumben, satu kata yang pas untuk Asbram saat ini. Dia yang begitu on time dengan segudang pekerjaannya, hari ini terlihat santai dan benar-benar menikmati hidup.
"Apaan sih." Gerutunya.
"Takut ya... diambil orang." Goda Nadira berkali-kali.
"Sudah sana berangkat, mau tahu aja urusan orang." Ucapnya sembari melemparkan dua bungkus permen yang ada di meja.
Nadira berlari menghindar, dan _ bruukk.
"Ach !" Teriaknya saat merasakan keningnya terantuk sesuatu.
"Maaf, maaf, Saya tidak tahu."
"Aduh, sakit tahu." Jawabnya dengan nada manja.
"Ada yang luka ?"
"Ucchhh..." Rintihnya.
"Kenapa ? Makanya kalau jalan lihat-lihat." Maki Asbram ikut ambil bicara.
"Maaf Pak, tadi Saya_"
"Bukan Kamu, ini anak manja."
"Tidak, tapi Saya juga yang salah Pak." Bela David menyalahkan dirinya sendiri.
"Ada apa Vid ?" Tanya Asbram dan masih membiarkan Nadira meringis kesakitan.
"Oh, Ini berkas-berkas yang Bapak minta." Jawabnya, sembari menyerahkan setumpuk map warna merah.
"Makasih Vid."
Kembali David mengalihkan perhatiannya kepada Nadira, saat Asbram mulai asyik dengan berkas di tangan nya.
"Nad, Kamu kenapa ?" Kali ini Aleesha memberikan perhatian.
"Ada kodok tadi." Jawabnya asal.
"Jalan pakai mata." Goda Asbram sambil berlalu.
"Ibu, Ibu sudah kembali ?" Tanya David heran.
"Memangnya Saya kemana ?" Tanya Aleesha lebih heran.
Asbram berbalik seketika sadar mendengar percakapan mereka. Alhasil, sebuah kedipan mata dia layangkan kepada asisten pribadinya.
"Oh tidak, maaf." Jawab David semakin tidak jelas saat menerima kode dari Asbram.
"Tidak kenapa Vid ?"
"Oh itu, Pak Bram, tangannya kenapa Pak ?" Ucapnya mengalihkan perhatian.
"Gakpapa, biasa kalah tinju semalam." Jawabnya lebih asal.
"Hhaaaaaaa...." Rengek Nadira minta perhatian.
"Mbak, ada yang sakit ?" Tanya David masih merasa bersalah.
"Sakit semua !" Teriaknya sambil berlalu.
'Kenapa dengan keluarga ini, aneh, sebentar-sebentar diam, sebentar-sebentar baikan.' Komentarnya tidak habis pikir.
__ADS_1
Next On --------------->