
Satu pekan sudah lamanya kepergian Mama dan Papa Purnama beribadah ke tanah suci. Selama itulah Aleesha menahan pedih di hatinya.
Kebahagiaan yang sejak dulu dia bayangkan, tidak seindah mimpi yang selama ini menghiasi tidur malamnya.
'Apakah semua pengantin dalam perjodohan bernasib sama sepertiku...' Pikirnya dalam hati.
Hidup ini pilihan, dan kehidupan yang dia jalani saat ini adalah takdir cinta pilihan untuknya.
'Aku ikhlas menjalani takdir yang Engkau berikan Ya Rabb. Karena Aku yakin, suatu hari nanti, akan ada kebahagiaan untukku.' Dia tahan air mata yang hampir terjatuh membasahi pipi.
"Maaf Ibu, sudah bisa Kami catat pesanannya ?" Sapa seorang waitress menyodorkan daftar menu. Sudah lewat dari lima belas menit, Dia duduk sendiri di pojokan ruang cafe shop.
Awalnya, Aleesha ingin sendiri, merenungkan apa yang terjadi di dalam kehidupan cintanya. Namun, masih sama seperti tahun - tahun yang lalu. Dimana selalu ada Keysha, disaat rasa gundah dan susah menyelimuti hatinya.
Namun kali ini, Aleesha berusaha menyimpan rapat-rapat, karena ini menyangkut rumah tangganya. Dan hanya Dia yang bisa menyelesaikan.
"Satu orange juice dan satu french fries." Ucapnya sembari menyerahkan kembali daftar menu di tangannya.
"Masih ada lagi ?"
"Sementara itu dulu, sambil menunggu teman saya datang." Pinta Aleesha.
"Baik, mohon ditunggu. Pesanan akan segera Kami siapkan.
"Terimakasih."
"Terimakasih kembali."
Dari raut wajahnya, tidak pernah terlihat kesedihan di hadapan orang lain. Senyumnya selalu mengembang dalam berbagai suasana.
Begitupun pada saat ini. Aleesha duduk sendiri di sebuah cafe, bukan tanpa arti. Tapi ada seseorang yang Dia nantikan.
Seseorang yang selalu bisa membuat Dia tertawa, meskipun hatinya merana.
"Hai, ngelamun saja. Sudah lama nunggunya ?" Tanya Keysha yang sudah datang terlambat lima belas menit dari perkiraan perjanjian mereka berdua.
"Lumayan dan hampir berakar." Seloroh Aleesha.
"Hahahahha....bisa saja."
"Mau pesan apa ?"
"Ada apa saja ?" Tanya Key membuat Aleesha menggelengkan kepala dan memaksa tangan kanannya untuk melambai memanggil salah seorang waitress yang bertugas hari ini.
Beberapa menu ringan dan berat mereka pesan, sekedar untuk memenuhi rasa lapar di perutnya.
"Kamu sendirian ?" Tanya Key disela-sela santap siang mereka.
"Hhmm."
"Oh ya, minggu depan Aku gak jadi nebeng."
"Ehmm...nebeng ? Kemana ? Memangnya Kita ada janji ?" Tanya Aleesha mencoba mengingat -ingat, janji apa dan kemana yang mereka rencanakan.
"Gimana sih, Minggu depankan pernikahan Widya dan Ridwan."
__ADS_1
"Astagfirullah...maaf, Aku lupa."
'Ya Allah... maafkan Aku Wid, karena urusan pribadiku, Aku sampai lupa hari bahagia kalian.'
"Cha, hei...kenapa ?" Tanya Keysha membuyarkan lamunannya.
"Gakpapa."
"Gakpapa apanya, Kamu kelihatan melamun terus dari tadi. Ada masalah ?"
"Enggak, gak ada masalah." Jawabnya mencoba menutupi kegundahan hatinya.
"Serius ?" Tanya Key, kembali memastikan
"Seriuslah. Masalahnya itu Kamu." Ucap Aleesha mencoba mengalihkan perhatian.
"Kok Aku ?"
"Ya iyalah, gak jadi nebeng, mau kemana coba !"
"Ya Aku hadir, tapi_"
"Tapi apa ?"
"Tapi, Aku bareng sama seseorang." Jawabnya malu-malu.
"Hhmmm...siapa tuh, cowok ? Pacar lo ?" Tanya Aleesha merapatkan duduknya. Tapi, tidak seperti yang Dia harapkan, Keysha hanya menjawab dengan sebuah anggukan.
"Jadi penasaran, siapa sih ?"
"Nanti juga Kamu tahu."
"Hahahaha...tuan putri ngambek."
"Tau ach, suka-suka kamu aja, yang penting kamu bahagia."
Aleesha menggenggam tangan Keysha. Sebuah genggaman yang amat sangat berarti.
"Makasih ya Cha, doakan Aku, agar bisa bahagia seperti Kamu dan Asbram."
Seketika itu, perempuan cantik yang Dia panggil dengan nama 'Chacha' ini melepaskan genggaman tangannya.
"Cha, kenapa ?" Lirih Keysha bertanya.
"Hehehehe...gakpapa."
Ada yang berubah dari mimik wajah Aleesha. Pipi putihnya memerah. Bukan karena malu, tapi sedang menahan sesuatu. Terlihat jelas pada binar matanya yang semakin lembab.
'Jangan Key, biarkan Aku saja yang merasakan kebahagiaan di dalam mimpi.'
Tak terasa cairan yang sejak tadi tertahan di kelopak mata, menetes begitu saja seiring dengan kata hatinya.
"Cha, jujur padaku, ada apa ?" Keysha mulai menekan dengan pertanyaan, namun sangat lembut dan berhati-hati.
"Gakpapa Key. Aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Tidak, tidak. Kamu sedang tidak baik-baik saja. Katakan, ada apa ?"
"Tapi tidak disini Key." Lirihnya tertahan.
"Kita keluar. Mana kunci mobilmu, biar Aku yang bawa."
Keysha mengambil alih perjalanan mereka. Entah kemana mereka akan pergi. Yang pasti, Aleesha percaya penuh kepada sahabatnya ini.
Hening, tidak ada percakapan diantara mereka berdua. Hanya deru kendaraan di luar sana yang mengisi pendengaran mereka berdua.
'Ada apa denganmu Cha ? Belum pernah Aku melihatmu seperti ini.'
'Sebuah rahasia besar yang sekian lama terkunci di dalam hati, mungkinkah Aku sudah tak kuat lagi.' Rintihan hati Aleesha.
'Aku tidak habis pikir, hatimu itu terbuat dari apa. Tidak ada tanda-tanda kesedihan sejak tadi kita bertemu. Tapi ternyata...' Komentar sisi hati Keysha.
'Ya Allah...semoga keputusanku untuk mencurahkan isi hatiku kepada sahabatku, adalah langkah yang tepat untuk mengurangi beban hatiku.'
Seolah gayung bersambut, kata hati mereka saling berbicara. Tak lama Keysha menghentikan mobilnya di sebuah halaman parkir.
Entah dimana ini, yang pasti udara di sana begitu sejuk, hamparan rumput hijau dan pepohonan menambah segar suasana.
"Dimana ini Key ?"
"Tempat dimana Aku selalu meluapkan emosi, disaat hati dan pikiranku tidak sejalan." Jawab Keysha apa adanya.
Aleesha hanya mengekor kemanapun sahabatnya akan membawa.
'Kamu benar Key, bicara dengan alam, mungkin jalan yang tepat untuk kita berkeluh-kesah. Alam lebih bijak mendengar jeritan hati kita.'
"Duduk, tenangkan dirimu, tata hati dan pikiranmu, lalu luapkan apa yang ingin Kamu sampaikan." Kata Keysha setelah mendapatkan sebuah tempat yang cukup nyaman untuk mereka berdua.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana Key." Lirih Aleesha dengan pandangan kosong.
"Apa ini ada kaitannya dengan hubungan kalian berdua ?"
Kali ini gantian tangan Keysha menggenggam erat jemari tangan Aleesha. Genggaman dan ketulusan hati sahabatnya itulah yang membuat Aleesha tidak bisa lagi menahan sesak di dalam dadanya.
"Menangislah Cha, teriak, kalau Kamu ingin teriak."
"Bahkan air mataku sudah tak mampu keluar lagi Key."
"Aku tidak akan memaksa, jika Kamu belum mau cerita. Tapi satu hal yang harus Kamu tahu, kalau Kamu tidak sendiri Cha. Ada Aku, ada banyak orang di sekellilingmu yang sangat sayang padamu." Kata Keysha memberikan dukungan.
Perlahan tapi pasti, Aleesha mulai bercerita, mengingat kembali awal hingga saat ini, rentetan kehidupan hatinya yang semakin menempati level kandas.
"Aku masih tidak percaya ini terjadi padamu Cha. Aku melihat kalian berdua begitu mesra pada acara tasyakuran keluarga purnama pekan lalu." Komentar Keysha.
"Sejak awal Aku berusaha menutupi kekurangan dalam rumah tangga Kami."
"Lalu, dimana Asbram sekarang ?"
'Asbram, dimana Dia...bahkan Aku tidak tahu sekarang Dia ada dimana.'
Ya, kembalinya Asbram di tengah - tengah keluarganya hanya untuk sesaat. Beberapa hari yang lalu, sebuah kenyataan pahit harus Aleesha rasakan, ketika seorang perempuan datang dan mengajaknya kembali.
__ADS_1
'Sakit sekali rasanya, tapi itulah kenyataan yang sesungguhnya.'
Next On ---------------------------->