Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 20. Galau


__ADS_3

Hujan di pagi hari seakan menggiring Kita untuk tetap duduk diam pada zona nyaman. Begitupun dengan Aleesha, yang masih bermalas-malasan paska masa penyembuhan.


Belum ada jadwal apapun yang harus dia kerjakan. Sengaja, Widya cansel semua jadwal Aleesha, agar dia bisa fokus pada kesehatannya.


Namun, rasa jenuh berlama-lama di dalam rumah, membuat jemari Aleesha gatal untuk segera menghubungi teman-teman nongkrongnya, meskipun hanya untuk sekedar say hallo.


Dia raih handphone yang masih diam terlelap di atas nakas kamarnya. Dia geser layarnya perlahan. Terkadang terlihat naik, namun sesekali terlihat turun.


Entah apa yang sedang dia cari.


"Hallo Cha, hallooo..."


Samar-samar terdengar suara seseorang menyapa dari balik layar enam inci di tangannya.


"Ha...hallo ?" Jawabnya setengah tertahan.


"Cha, lemot amat, ada apa pagi-pagi nelfon ?" Jawab seseorang yang belum disadari betul oleh Aleesha.


"Key ? Keysha ya ?"


"Kamu kenapa sih ? Memangnya Kamu pikir siapa ?"


"Maaf, belum pada ngumpul nyawanya." Jawab Aleesha asal.


"Hhhhmmmm..." Komentar Keysha maklum.


"Ada apa Key ?"


"Idih, malah balik bertanya. Kan Kamu yang nelfon duluan tadi, ada apa ?"


"Masak sih ? Kepencet kali." Jawabnya tanpa dosa.


"Kenapa Cha, ada masalah ?"


"Enggak."


'Kenapa lagi ni bocah, bikin khawatir saja.' Pikir Keysha dalam hati.


Keysha tahu betul bagaimana sifat sahabatnya yang periang. Aleesha yang biasanya lebih aktif bertanya, kali ini malah banyak tidak nyambung diajak bicara.


Tidak lama mereka berbincang, Keysha lebih memilih untuk segera mengakhiri percakapan mereka dan segera meluncur ke apartemen Aleesha. Bahkan tanpa meminta persetujuan pemilik rumah, karena kebetulan hari ini dia dapat jadwal siang, jadi masih ada banyak waktu untuk ngobrol dengan Aleesha.


'Tidak afdol rasanya kalau ngobrol tanpa cemilan.' Pikirnya dalam hati, saat melintasi sebuah minimarket.


Seperti biasa, Keysha mampir untuk sekedar membeli beberapa macam cemilan.


Brruuukkk !


Mata meleng dan sikap yang buru-buru, membuat Keysha kurang memperhatikan sekeliling, hingga seseorang terbentur tubuhnya.


"Auu ... Maaf, maaf." Rintihnya kesakitan, sembari memastikan kalau seseorang yang baru saja berbenturan dengan dia tidak apa-apa.


"Keysha."


"Dokter Arya, sedang apa Dok?" Tanya Keysha yang melihat dua kantung belanjaan penuh di tangan kanan dan kirinya.


"Kamu sendiri ngapain ?" Jawab Dokter Arya balik bertanya.


"Ya belanjalah, emang di minimarket ngapain ?" Jawabnya sedikit kesal.


"Nah itu tahu."

__ADS_1


"Eh...iya, ya, kenapa Gue jadi ketularan Aleesha ya ?" Omelnya sendiri.


"Kenapa Aleesha ? Apa Dia baik-baik saja ? Atau mungkin ada yang sedang Dia keluhkan ?" Reflek Dokter Arya bertanya.


Naluri seorang Dokter selalu tergerak dengan sendirinya, setiap mendengar keluhan orang lain, apalagi hal ini menyangkut tentang kesehatan Aleesha.


"Gakpapa Dok, mungkin Dia boring saja, lama berdiam diri di rumah."


"Bisa jadi."


"Tahu sendiri kan, gimana Aleesha setiap hari."


"Hhhhmmm... Oh ya, titip ini ya, sampaikan pesanku, untuk tetap happy." Ucapnya sembari memberikan sepaket coklat, yang terbilang cukup mahal dan terkesan romantis untuk seorang Dokter kepada pasiennya.


"Oke, akan Saya sampaikan nanti."


Entah kenapa, terbesit rasa kesal di hati Keysha.


"Aku juga belum sempat jenguk dia selama keluar dari Rumah Sakit. Lain waktu pasti aku temui Dia." Sambungnya. Dan lagi-lagi kalimat Dokter Arya membuat hati kecil Keysha semakin menciut.


"Hhmmm..." Komentar Keysha tidak jelas.


"Oke, kalau begitu, Saya duluan ya." Pamit Arya, sembari menepuk lembut lengan Keysha.


"Iya." Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibirnya.


Entah apa yang Keysha rasakan saat ini. Yang jelas, ada perasaan lain di dalam hatinya.


***


Tok...tok...tok...


"Cha."


"Ini Gue, Key."


"Wait."


Langkah Aleesha sedikit gontai. Tapi kali ini bukan karena sakit secara jasmani, namun lebih ke risalah hati.


"Kenapa Cha, kamu baik-baik saja ?" Bukan hanya bertanya, punggung tangan Keysha juga ikut bergerilya, meraba kening, leher dan menggenggam jemari Aleesha, merasakan suhu badannya yang sedikit beda dengan dirinya.


"Gakpapa, gakpapa, fine."


"Huufff...bikin panik tahu gak !" Omelnya.


"Kamu gak masuk hari ini ?" Tanya Aleesha, sembari meletakkan pantatnya pada sofa di ruang tengah apartemennya.


"Aku ada jadwal siang."


"Hhuufff... sama aja bohong." Dengus Aleesha.


"Apaan ? Bohong apanya ?"


"Sama aja bo'ong, ini sudah jam berapa coba." Tunjuknya pada pergelangan tangan.


Keysha hanya mengangkat bahunya, tidak jelas apa yang Aleesha katakan.


"Sebentar lagi juga kamu pergi. Mending tadi gak usah kesini saja sekalian." Gerutu Aleesha, sembari menyandarkan dagunya pada sandaran sofa.


'Kelihatannya ni anak benar - benar butuh teman untuk mendengarkan keluh kesahnya.' Pikir Keysha yang masih mematung sejak tadi.

__ADS_1


"Kenapa sih Cha ? Kamu perlu sesuatu ?" Tanya Keysha, ingin tahu.


"Gakpapa." Jawabnya, masih dengan posisi duduk memeluk kedua lututnya.


"Gini dech, nanti setelah pulang dari Rumah Sakit, aku langsung menuju kemari lagi." Rayunya.


Namun tidak ada tanda-tanda semangat pada diri Aleesha.


"Atau kalau perlu, aku akan tidur sini nanti." Hiburnya kembali.


Aleesha sama sekali tidak tertarik dengan rayuan maut Keysha.


"Oke, oke, aku telepon teman - teman, biar salah satu dari mereka menggantikan ku."


"Iyess, dari tadi kek ngomongnya." Ucapnya sembari menunjukkan deretan giginya yang putih tertata rapi.


Keysha mulai sibuk menekan tombol angka pada layar handphonenya. Salah seorang rekan kerjanya tidak mengangkat panggilan darinya.


Sedangkan Aleesha, masih duduk termenung, menunggu jawaban apa yang akan di dapatkan sahabatnya.


Satu panggilan tak terjawab, Keysha mencoba memanggil yang lain. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka mengangkat panggilannya.


"Oh ... begitu ya, tapi_"


"Oke, oke, baik, Saya mengerti."


Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Namun, terlihat dari mimik wajah Keysha yang lesu, sudah bisa dipastikan kalau apa yang Aleesha inginkan tidak akan terwujud.


"Pasti gak bisa ya ?" Tanya Aleesha memastikan.


"Maaf."


"Tidak apa-apa."


"Cha, jangan marah dong. Barusan Gue telfone asisten Gue, hari ini ada jadwal terapi pasien khusus dan Beliau nya tidak mau diganti dengan Dokter lain." Jelas Keysha, kelihatan takut mengecewakan sahabatnya.


Sebenarnya Aleesha paham betul bagaimana sibuknya profesi seorang dokter. Apalagi Keysha, sebagai ahli bedah ortopedi.


"Iya, santai aja kali. Gimana aku bisa marah coba." Ucapnya mengenakan.


"Eehmm...miss you Cha."


"Udah sana balik, entar telat lo."


"Sabar dong, Gue yang dinas kenapa Lo yang ribut."


Masih ada cukup banyak waktu untuk mereka saling berbagi. Seperti kebiasaan mereka yang tidak lengkap rasanya kalau ngobrol tanpa ngemil.


Dan seperti biasanya pula, Aleesha yang selalu diam menunggu apapun yang Keysha siapkan untuk kegiatan rahangnya kali ini.


"Cha."


"Hhmmm."


"Cerita dong."


"Cerita apa ?"


"Jangan sok kuat, Aku tahu kamu kuat. Tapi sebenarnya kamu juga punya sisi rapuh."


'Keysha benar, Aku tidak bisa menyimpan semua keluh kesahku sendiri. Aku memang perlu wadah dan saran dari orang - orang terdekatku.' Komentar sisi hati Aleesha.

__ADS_1


Next on ----------------->


__ADS_2