Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 28. Serba Salah


__ADS_3

Entah sudah berapa lama waktu yang Dokter butuhkan untuk bisa mengeluarkan peluru dari dalam bahu Aleesha. Yang jelas, Asbram merasa sudah berjam-jam dia duduk dan mondar-mandir menunggu di depan ruang operasi.


Sesekali dia duduk termenung, tanpa tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Sedangkan di luar Rumah Sakit, sudah banyak berkerumun para pejuang berita yang tidak mau ketinggalan info mengenai kabar terkini tragedi yang menimpa dua publik figur di dalam.


"Pak Bram, mau Saya belikan kopi atau teh hangat ?" Tanya Widya menawarkan.


"Tidak, terimakasih." Jawabnya, masih dengan pandangan nanar.


"Wid."


"Iya Pak."


Buru-buru Widya mendekat, untuk memastikan lebih teliti, perintah apa yang akan Dia dapatkan.


"Kamu sudah kasih kabar ke orang tua Aleesha ?"


"Belum Pak. Saya masih bingung, bagaimana dan apa yang harus Saya sampaikan kepada Ayah dan Bunda Aida." Jawab Widya, setengah meminta pendapat.


"Kita tunggu saja setelah keadaan Aleesha sedikit membaik." Saran Asbram.


"Baik Pak."


Ditengah-tengah perbincangan, Ridwan datang bersama seorang petugas keamanan Rumah Sakit.


"Pak Bram, maaf Pak, sebaiknya Bapak berikan sedikit informasi agar para wartawan di depan, bisa membubarkan diri dan tidak menggangu ketenangan pasien yang lain di Rumah Sakit." Saran Ridwan diiyakan oleh salah seorang scurity Rumah Sakit yang kebetulan bertemu Ridwan saat hendak menemui Asbram.


"Keadaan di luar semakin tidak kondusif Pak. Semakin lama semakin banyak berdatangan para wartawan yang ingin tau kabar tentang pasien di dalam." Terang seorang petugas keamanan yang tadi juga sempat berdiskusi dengan Ridwan mengenai gaduh di depan lobi rumah sakit.


Meskipun sedikit berfikir, tapi Asbram akhirnya menyetujui dan beranjak menuju lobi untuk memberikan sedikit keterangan.


"Pak Asbram."


"Pak Asbram."


Terdengar banyak orang memanggil namanya.


"Bapak, mohon informasi mengenai kejadian yang menimpa Bapak dan Ibu Aleesha Pak ?"


"Bisa diceritakan Pak, awal mula kejadiannya ?


"Lalu, bagaimana kondisi terkini Mbak Aleesha sekarang Pak ?"


Berbagai pertanyaan tertuju kepadanya. Saling berebut dan saling mendesak untuk mendapatkan jawaban.

__ADS_1


"Bisa minta tolong semuanya untuk tenang ?" Pinta Asbram.


"Ini Rumah Sakit. Jadi, Saya minta tolong untuk tetap tenang. Kita harus bisa saling menghargai pengunjung dan pasien yang ingin mendapatkan pengobatan." Imbuhnya.


"Baik Pak, Kami hanya ingin tahu kondisi Mbak Aleesha saat ini." Pinta salah seorang perwakilan dari mereka.


"Baik, untuk Aleesha saat ini, masih dalam penanganan dokter. Jadi untuk sementara Saya belum bisa kasih informasi apa-apa. Yang jelas, mohon doanya semua teman-teman, agar operasi Aleesha berjalan lancar dan diberikan kesembuhan." Terang Asbram.


"Amin !" Jawab mereka serentak.


"Lalu bagaimana kronologi atas kejadian yang menimpa Mbak Aleesha saat ini Pak ?"


"Mohon maaf, untuk saat ini Saya belum bisa memberikan keterangan apa-apa, tapi saya janji, nanti bila sudah tiba waktunya, pasti akan Kami lakukan press conference."


Keputusan Asbram untuk menunda keterangan, mengakibatkan hal yang tidak diinginkan. Banyak diantara mereka yang menduga-duga dan mencari informasi yang kurang akurat. Akibatnya, banyak pula terjadi simpang siur pemberitaan yang beredar di media masa, sehingga musibah yang menimpa Aleesha menjadi konsumsi publik dengan pemberitaan miring.


***


Kembali pada posisi semula. Asbram duduk pada kursi tunggu ruang operasi yang terletak tepat di dekat pintu ruang operasi. Sedangkan di seberang sana, masih ada Widya dn Ridwan yang juga setia menunggu.


Suasana hening tiba-tiba dikagetkan oleh derap kaki yang terdengar terburu-buru dan semakin lama semakin mendekat.


"Mama." Sapa Asbram, sembari bangkit dari duduknya, saat mengetahui kedatangan Mama Rose bersama Papa dan David di belakangnya.


Plakkk !


"Ma." Rintih Asbram, seolah bertanya apa salahnya.


"Apa yang kamu lakukan Nak, kenapa Kamu mempermalukan diri Kamu sendiri ?" Tegur Mama Rose lirih.


"Apa maksud Mama ?"


"Masih saja mau mengelak ?"


"Tapi_"


"Ma, sudahlah, ini di Rumah Sakit, tidak enak didengar orang banyak." Potong Papa Hendra sembari memberi kode kepada Asbram untuk diam dan mengalah dari Mama Rose.


'Keadaan memang memaksa Aku harus diam terlebih dahulu. Tapi apa maksud tamparan Mama barusan.' Pikir Asbram.


"Ingat Bram, Kamu harus belajar lebih bertanggung jawab dengan kejadian ini." Ucap Mama mengecilkan volumenya.


Asbram hanya diam, tanpa tahu harus menjawab apa. Menjawab sekalipun, dengan posisinya saat ini, hanya akan membuat dia semakin serba salah.

__ADS_1


"Sudah berapa lama Aleesha di dalam ?" Tanya Papa lirih.


"Entahlah Pa." Jawab Asbram terdengar putus asa.


"Pa, bagaimana ini. Bagaimana Kita sampaikan kejadian ini kepada Mas Hermanto dan Mban Aida. Mereka pasti akan menyalahkan Bram, sebagai penyebab musibah yang menimpa Aleesha." Rengek Mama Rose menduga-duga.


"Mama tenang dulu, jangan dulu berburuk sangka." Pinta Papa mengingatkan.


Memang, sudah menjadi kebiasaan Mama Rose, yang selalu panik dan sering mengambil keputusan sesuai pemikiran Beliau sendiri.


"Kenapa lama sekali Pa, jangan-jangan... terjadi apa-apa dengan Aleesha." Lagi-lagi kepanikan Mama, membuatnya berpikir yang enggak-enggak.


Asbram beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan kepanikan Mama Rose yang penuh kekhawatiran yang berlebihan.


Sembari berjalan, Dia berikan satu kode ajakan kepada David untuk meninggalkan tempat ini.


"Bagaimana proses penangkapan Anton ?" Tanya Asbram, saat mereka berdua berada di dalam kantin yang disediakan oleh pihak Rumah Sakit.


"Semuanya berjalan lancar Bram, Anton sempat berusaha untuk kabur, tapi entah kenapa dia lebih memilih berhenti dan menyerahkan diri." Terang David.


"Dan Anton sempat menitikkan air mata, saat melihat Kami bawa Aleesha keluar." Lanjutnya.


"Maksudnya, kenapa ?" Tanya Asbram kepo dengan urusannya sendiri.


"Kalau, Saya tidak salah terka, Anton kelihatan menyesal telah salah sasaran."


'Benar juga, apa yang David Bilang. Anton telah mengungkapkan isi hatinya, sebelum kejadian itu.' Pikir Asbram.


"Kamu sudah hubungi pengacara kita ?"


"Semua sudah beres, tinggal Kita tunggu saja kabar dari Pak Satrio nanti."


Pembicaraan mereka kali ini lebih santai, bukan sebagai atasan dan asisten, tapi lebih sebagai seorang teman.


"Bram, kita sudah berteman cukup lama. Jauh sebelum Aku ikut bekerja denganmu. Aku tahu bagaimana Kamu, sifatmu dan semuanya tentang Kamu_" Gumam David menghentikan bicaranya.


"Jangan berbelit-belit, mau ngomong apa." Potong Bram.


"Simple saja, Aku hanya ingin mengingatkan, sebelum semuanya terlambat, sebelum ada yang lebih memperhatikan dan menyayangi dia. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari." Lanjutnya.


"Buka pintu hatimu Bram, Allah sudah berikan yang indah di depan mata, yang lebih memperhatikan dan siap berkorban untukmu, apa sih kurangnya Aleesha di mata lo." Imbuhnya.


Asbram hanya diam, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sesekali dia usah dengan kasar rambutnya sendiri. Dan entah apa yang sedang dia pikirkan, Dia pergi begitu saja usai menghabiskan tegukan terakhir dari segelas kopi yang dia pesan.

__ADS_1


"Dasar kebiasaan." Komentar David, seraya mengikuti langkah dia pergi.


Next On ---------------------------->


__ADS_2