Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 40. Rindu Bahagia


__ADS_3

Hening, sepi, sendiri di dalam sebuah ruang yang mereka sebut dengan kamar. Sebuah kebahagiaan yang hakiki seharusnya Aleesha rasakan. Setelah sekian hari tidak bertemu suaminya.


Namun berbeda dengan kebanyakan istri di luar sana. Tidak ada senyum kasih sayang ataupun pelukan kerinduan.


Bahkan, demi menjawab panggilan seseorang, Asbram kembali meninggalkan istrinya seorang diri. Tanpa permisi, tanpa mengatakan sesuatu untuk menunggu.


Tidak mau kehilangan kesempatan, Aleesha segera beranjak dari tempat duduknya, dan berusaha keluar meninggalkan ruangan ini.


Ceklekkk...


Pintu sudah terbuka, meskipun belum sempat dia menyentuh handle pintunya.


"Kamu nguping pembicaraanku ?" Tuduh Asbram, ketika mendapatkan Aleesha berada tepat di balik pintu.


"Aku ingin keluar." Lirihnya, tanpa peduli pertanyaan yang suaminya lontarkan.


"Kembalilah ke ranjangmu."


"Hhmmm..." Aleesha menghela nafas panjang.


'Bagaimanapun keadaannya, Dia masih suamiku. Jadi, tidak ada alasan untukku harus membantah. Meskipun Aku tidak yakin, apakah Dia menganggap ku sebagai istrinya.' Keluhnya dalam hati.


Tapi entah apa sebenarnya yang terjadi, pandangan matanya kembali nanar. Dunia terasa berputar, kakinya lemas, bahkan merasa tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.


"Aakhh..." Keluhnya, saat nyeri Dia rasakan dan hampir terjatuh.


"Aleesha." Reflek, Asbram mendekap tubuh mungilnya.


Saat itulah, untuk yang pertama kalinya, Aleesha bisa menatap lekat-lekat pria tampan yang menjadi idola banyak kaum hawa ini.


Untuk waktu yang cukup lama, mereka saling pandang. Tangan kekar Asbram masih kuat menopang separoh tubuh Aleesha yang hampir terhuyung ke lantai.


Saking dekatnya, hingga Aleesha mampu mendengar detak jantung Asbram yang berdegup kencang.


'Ya Allah...ini seperti mimpi. Kami begitu dekat. Hingga Aku bisa merasakan hangatnya hembusan nafasnya.'


"Keras kepala." Gerutu Asbram, sembari menggendong istrinya kembali berbaring. Perlahan, Asbram merebahkan Aleesha di tempat semula. Kali ini gemuruh di dada keduanya kembali berontak.


Entah kenapa baik Aleesha maupun Asbram, sama-sama enggan melepaskan pelukan.


'Aleesha...Dia bukan hanya cantik, tapi juga sabar dan ikhlas saat Aku tinggalkan.' Gumam Asbram dalam hati.


Ceklekkk...


Adegan yang cukup bisa memacu detak jantung itu, lepas begitu saja, saat terdengar seseorang membuka pintu kamarnya.


"Oh, maaf... Bibi tidak tahu kalau ada Mas Bram di dalam." Ucapnya ketika melihat keduanya berusaha merenggangkan tubuh mereka.


"Tidak apa-apa Bi, tadi Saya hampir jatuh saat mau keluar kamar dan Mas Bram membantu Saya untuk_"


"Ah...gak usah malu-malu Non, Bibi juga pernah merasakan jatuh cinta." Potong Bibi, saat Aleesha berusaha menjelaskan apa yang seharusnya tidak perlu untuk dijelaskan.


"Ada apa Bi ?" Tanya Asbram point.


"Maaf Mas, Bibi hanya mengantar makan malam untuk Non Aleesha." Jawabnya, sembari meletakkan isi nampan yang dibawanya.


"Terimakasih Bi."


"Dimakan ya Non, biar cepat pulih tenaganya." Goda Beliau sembari mengedipkan sebelah matanya, sebelum meninggalkan kamar mereka.

__ADS_1


"Terimakasih Bi."


"Kalau begitu Saya permisi Non, Mas Bram." Pamitnya lagi.


"Hhhmmmmm ..." Jawab Asbram enggan.


Bibi berjalan dengan tergesa, usai menutup pintu kamar mereka.


"Ibu, Bu Rose, Bu..." Panggilnya terengah.


"Ada apa Bi ? Kok gugup begitu, ada apa, tenang dulu, bicaranya pelan."


"Oh, ibu... Bibi tidak gugup. Bibi bahagia sekali." Ucapnya girang.


"Ada apa ?" Tanya Mama Rose semakin penasaran.


"Tadi, pas Bibi masuk ke kamar tamu, mengantarkan makan malam untuk Non Aleesha, Mas Bram dan Non Aleesha pas ehem-ehem." Ceritanya sambil cengar-cengir.


"Kamu ini, itu mah biasa, namanya juga suami istri lama tidak bertemu." Komentar Papa yang tiba-tiba ikut nimbrung di situ.


'Tapi Bibi benar Pa, ini hal yang luar biasa. Karena Mama tahu, pernikahan mereka sedang tidak baik-baik saja.'


Mama tersenyum mendengar cerita Bibi dan komentar Papa Purnama.


Dalam hati, Mama mengucap syukur bahagia. Dan berharap hubungan Aleesha dan Bram bahagia, layaknya hubungan suami istri.


***


"Bram." Sapa Mama Rose, saat melihat putranya keluar dari dalam kamar tamu, setelah untuk waktu yang cukup lama mereka berdua di dalam.


"Iya Ma."


"Biarkan saja, Aleesha sudah tidur, setelah Dia minum obatnya tadi."


Mama Rose tersenyum mendengarnya.


"Mama bahagia mendengarnya. Mama berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua." Ucap Beliau.


Asbram tidak berkomentar dengan pernyataan Beliau. Pandangannya kosong, seolah ada beban berat yang sedang dia rasakan.


"Kamu sudah makan Nak ?" Tanya Mama yang dengan seksama memperhatikan putranya.


"Belum." Singkatnya sembari meneguk segelas susu yang sengaja Dia buat untuk menghangatkan perutnya.


"Mau Mama ambilkan, biar Mama panasi terlebih dahulu." Kata Beliau mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Oh, tidak Ma. Terimakasih, Bram masih kenyang." Tolaknya.


"Bram."


"Iya Ma."


"Kamu masih punya satu penjelasan yang belum Kamu sampaikan ke Mama."


"Apaan sih Ma, seperti anak kecil saja." Keluhnya.


"Tapi dengan sikap Kamu yang seperti ini, itu lebih dari seperti anak kecil."


"Lalu apa yang harus Bram ceritakan."

__ADS_1


"Mama hanya ingin tahu, pekerjaan apa yang membuatmu harus meninggalkan Aleesha dalam waktu yang cukup lama."


"Apa semua hal yang Bram lakukan, harus seizin dan sepengetahuan Mama."


"Bram, Mama tahu, Kamu punya hak atas diri Kamu sendiri. Tapi Kamu juga punya tanggungjawab atas diri Aleesha. Dan Mama, sebagai orang tuamu, punya kewajiban pula untuk mengingatkan jika Kamu berbuat kesalahan." Cukup panjang nasehat yang Mama Rose berikan.


"Mama tidak usah khawatir, Bram tahu apa yang harus Bram lakukan."


"Asbram_"


"Sudah malam Ma, Bram capek, Bram istirahat dulu. Mama juga, jangan terlalu banyak pikiran. Jaga kesehatan Mama. Apalagi, Mama dan Papa akan melakukan perjalanan jauh." Pintanya sambil berlalu.


Mama hanya bisa menggelengkan kepala, melihat tingkah laku Asbram yang terlihat aneh belakangan ini.


"Bram, ingat pesan Mama !" Teriak Mama lagi, sebelum akhirnya Asbram menghilang di balik tembok penghubung ruangan.


"Ada apa Ma, malam-malam teriak-teriak."


"Itu Pa, Asbram. Mama bingung dengan sikapnya."


"Sikap yang bagaimana ?"


"Sikap Dia yang acuh sama istrinya." Jawab Mama Rose semakin kesal.


"Ma, Asbram sudah bukan anak kecil lagi. Untuk urusan rumah tangga, biar Bram sendiri yang mengatasinya."


"Tapi ini lain Pa, sejak awal mereka menikah, Mama belum sekalipun melihat kebersamaan mereka." Kekeh Mama.


"Ya itu memang masalah lain. Jangan disamakan dengan mereka yang menikah karena pilihan mereka sendiri. Bram dan Aleesha butuh waktu untuk bisa saling dekat. Mama sabar saja." Komentar Papa mendasar.


"Ah...tau ah, susah bicara sama Papa." Gerutu Mama.


"Lo kok jadi ngambeknya sama Papa."


"Habisnya Papa juga membuat Mama kesel."


"Hhhmmmmm...makin kesel Mama kelihatan semakin cantik." Goda Beliau.


"Ingat umur Pa, sudah mau punya cucu, masih saja ngegombal."


"Susah kalau ngerayu orang yang lagi marah." Keluh Papa bercanda.


"Sudah ah, Mama ngantuk, Mama mau tidur." Tepis Mama menyudahi canda malam mereka.


"Tidur yang nyenyak Ma, jangan terlalu banyak pikiran. Kita Do'akan saja, semoga anak-anak kita selalu diberikan kebahagiaan."


"Amin, iya Pa. Ayo, Papa juga tidur. Besok kita harus berangkat pagi-pagi." Ajak Mama, mengingatkan agenda keberangkatan mereka ke tanah suci.


'MasyaAllah...betapa bahagianya, jika Aku bisa merasakan kebahagiaan seperti Mama dan Papa yang selalu menjaga rasa cinta mereka sampai tua.' Gumam Aleesha dalam hati.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada yang memperhatikan percakapan dan candaan Mama dan Papa Purnama. Aleesha terbangun karena haus. Dan berdiri di ujung pintu penghubung ruangan, saat mendengar masih ada Papa dan Mama Purnama duduk bercanda di sana.


'Tapi untuk saat ini, Aku harus lebih banyak bersabar. Entah sampai kapan ?


Mungkin esok atau lain waktu Aku bisa merasakan senyum bahagia. Namun jika kebahagiaan itu bukan milikku, Aku harus rela. Lebih baik sekarang, sebelum lebih banyak kurasakan sakit di hatiku.' Keluh sisi hatinya.


Tak terasa, setetes cairan bening mengalir di pipinya. Hangat, namun terasa perih tak terkira.


Next On ----------------------------->

__ADS_1


__ADS_2