
š¶ ------------- š¶
I tried to go on like I never knew you.
Iām awake but my world is half asleep.
I pray for this heart to be unbroken.
But without you all Iām going to be is incomplete.
š¶ ------------- š¶
Terdengar sepenggal lirik lagu yang cukup terkenal di era tahun sembilan puluhan. 'Incomplete' salah satu baitnya sangat mengena di hati Aleesha.
Begitu merdu, syahdu, dibawakan dengan sangat menjiwai, oleh salah seorang musisi yang namanya sedang naik daun di negeri ini.
'Kalau Aku tahu, patah hati bisa mengurangi semangatku, mungkin Aku tidak akan pernah mau merasakan yang namanya jatuh cinta.' Komentar sisi hati Aleesha ditengah-tengah kesibukan para make up artist memoles paras cantiknya.
Wajah cantik yang selalu tampil natural itu semakin terlihat elegant dengan make up yang tidak terlalu mencolok, namun mampu membuat decak kagum setiap mata yang memandang.
"Mbak Aleesha, mau make up seperti apapun, tetap cantik." Puji salah seorang make-up artist.
Aleesha hanya tersenyum menanggapi percakapan mereka.
'Aku tidak boleh mengecewakan mereka. Aku harus selalu tampil maksimal, tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada diriku saat ini.' Support sisi hatinya.
Rentetan acara, satu persatu berjalan sesuai agenda. Aleesha menghela nafas panjang, menata diri, mempersiapkan kembali mental dan fisiknya untuk tampil maksimal di depan umum.
'Ini bukan kali pertama Aku sendiri, dulu sendiri, sekarang pun juga sendiri.' Motivasi untuk dirinya sendiri.
"Ladies and gentlemen, we welcome our royal crown ambassador, Aleesha Zavira !"
Teriakan dari sepasang master of ceremony terdengar menggema dengan suasana yang powerfull.
"Mbak Icha, siap ?" Tanya Widya meyakinkan.
"Pasti." Jawabnya mantap.
'Aleesha yang sekarang, tetaplah Aleesha yang dulu. Aleesha yang harus tetap siap, kuat dan percaya diri. Menginspirasi banyak orang, memberikan motivasi kepada kalangan muda-mudi, tanpa kenal menyerah, pantang menoleh ke belakang.' Kata hatinya yakin.
Dengan iringan musik dan teriakan serta tepukan tangan meriah para hadirin, Aleesha melenggang naik ke atas panggung.
__ADS_1
"Selamat malam semuanya." Sapa awalnya.
"Selamat malam Kakak Aleesha." Balas salah seorang pembawa acara.
"Bang, kalau dilihat-lihat, Kakak kita yang satu ini, semakin lama semakin keluar pancaran sinarnya." Canda seorang pembawa acara yang lain.
"Iya betul. Bukan hanya cantik, tapi juga semakin energik ya Din." Balas yang satu lagi.
"Tapi ngomong-ngomong, siapa yang punya ya Bang ?" Goda mereka.
"Wah, kalau itu Abang gak ikutan Din, yang jelas ⦠š¶ Ya ndak mampu, Aku...jadi spek idamanmu...š¶" Lanjut mereka bersautan di iringi sebuah nyanyian.
"Sudah - sudah, Saya yakin kalau itu, pasti Kak Aleesha juga gak mau sama Abang." Goda seorang pembawa acara yang dipanggil Dina.
"Mending kita tanya langsung kepada yang bersangkutan. Gimana Kakak Aleesha ? Bisa di spill sedikit pria idaman yang seperti apa yang menjadi kriteria Kakak Aleesha ?"
Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ingin sekali Aleesha hindari, karena memang tidak banyak kalangan yang tahu, siapa Dia sebenarnya.
"Jangan dong, durasi, durasi." Tolak Aleesha setengah bercanda.
"Ok, nanti spill nya di belakang ya Kak." Pinta mereka menanggapi candaan Aleesha.
"Siap." Balas Aleesha.
Suasana hening, para hadirin mendengarkan dengan seksama, ketika pembawa acara mempersilahkan Aleesha untuk mulai menyampaikan apa yang akan Dia sampaikan malam ini.
Durasi empat puluh lima menit, yang disampaikan Aleesha, menjadi puncak dari seluruh inti acara. Tepuk tangan meriah kembali terdengar, saat Aleesha menutup apa yang sudah selesai Dia sampaikan.
Bukan hanya sebagai pengisi inti dari acara hari ini. Aleesha juga mendapatkan berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri.
Kiprah nya di berbagai segi, menjadi motivasi dan menginspirasi banyak kalangan. Bagi Aleesha, ini bukan kali pertama, Dia mendapatkan berbagai pujian dan penghargaan. Dan masih sama seperti dulu, tanpa kehadiran orang-orang yang Dia cintai.
Hingga acara berakhir, Aleesha segera pergi meninggalkan hall. Sengaja lebih cepat kembali ke hotelnya, sekedar untuk menghindar dari berbagai pertanyaan awak media.
Sedangkan di sisi lain, di salah satu sudut ruang VVIP, masih terlihat beberapa pengusaha dan orang - orang ternama, asyik mengobrol dan berdiskusi tentang peliknya bisnis di dunia.
"Asbram, ternyata Dia ada di sini juga." Gumam Arya lirih, saat matanya tertuju pada lingkaran meja bundar yang masih penuh dengan orang-orang yang tidak banyak Dia kenal.
"Kelihatannya, Dia masih sibuk dengan rekan-rekan bisnisnya. Biar nanti saja Aku sapa kalau sudah agak sepi." Ucapnya sendiri, mengurungkan niat untuk mendekati teman yang dianggap berkhianat dengan nya.
"Aku yakin, seorang Asbram Purnama pasti ada di antara banyaknya kerumunan manusia hebat di sini." Sindir Arya, mendekati saat relasi-relasi kerja Asbram sudah mulai satu-persatu meninggalkan tempat.
__ADS_1
"Hallo, Dokter Arya." Sapa Bram seperti biasa tanpa memperdulikan apa yang barusan Arya sampaikan.
"Bapak Asbram yang terhormat. Perlu Anda tahu. Saya orangnya simple. Saya hanya tidak suka dibohongin. Apalagi oleh sahabat sendiri." Lanjutnya sedikit ketus.
Kalimat Arya berhasil memancing emosi Asbram, terbukti perubahan dari raut wajah dan kedua alis yang mengerut ke dalam.
"Apa, ada yang salah ?" Tanya Asbram dengan ketidaktahuannya.
"Jangan pura-pura tidak tahu, atau mungkin sudah mulai amnesia." Lagi-lagi Arya menggunakan kalimat sindiran untuk memukul mundur Asbram.
"Saya memang tidak paham apa yang sedang Anda bicarakan. Tapi maaf, untuk saat ini, Saya tidak mau berdebat dengan siapapun. Jadi maaf, kalau Saya harus permisi." Tolaknya sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Tunggu Bram, sebagai sahabat yang pernah menganggap kehadiran mu sebagai rival, Aku hanya ingin mengingatkan janji yang pernah Kamu ucapkan kepada ku."
Pembicaraan mereka mulai dari hati ke hati.
"Dan ingat, jika sekali lagi Aku tahu kalau Aleesha tidak bahagia hidup bersamamu, jangan salahkan jika ada orang lain yang berusaha ingin membahagiakan Dia." Imbuhnya.
Apa yang Arya sampaikan, sangat menusuk jantung Asbram. Tanpa memperdulikan lagi, Asbram pergi meninggalkan Arya, dengan perasaan emosi dan rasa cemburu di hatinya.
"Bram, jangan Kamu anggap sepele apa yang Aku katakan." Teriak Arya mengingatkan.
Dengan langkah seribu, Asbram pergi meninggalkan ruang VVIP.
"Vid, sudah Kamu pastikan lantai berapa dan nomor berapa kamar Aleesha ?" Tanya Asbram kepada asisten pribadinya, melalui sambutan seluler.
"Sudah Pak, akurat, Saya dapat dari Widya. Dan sudah Saya kirimkan ke WhatsApp Bapak." Jawabnya yakin benar dan dia dapat dari orang yang tepat.
"Oke, terimakasih." Tutup Asbram.
Gelisah, marah, emosi yang tertahan. Itulah yang saat ini Asbram rasakan. Kalimat - kalimat yang Arya ucapkan, berhasil membuat emosi jiwanya memuncak.
Menimbulkan rasa cemburu yang teramat dalam. Menandakan rasa cinta dan kasih sayang yang besar di dalam hatinya.
Tok ... tok ... tok ...
"Siapa ?"
"Room service."
Ceklekkk ....
__ADS_1
Next On ---------------->