
"Maaf, Saya terlambat."
Suara itu semakin terdengar dekat disisinya.
Benar saja, Bram menempatkan dirinya tepat pada bangku kosong di sisi Aleesha.
"Tidak Nak, kita belum juga mulai." Jawab Bunda Aida.
"Bram, ini Om Hermanto dan Tante Aida, sahabat Mama dan Papa sejak kami masih sama-sama berjuang di dunia pendidikan." Kata Mama mengawali perkenalan mereka.
"Selamat malam Om, Tante. Selamat datang di rumah kami." Jawabnya lugas dan tegas.
"Dan Bidadari cantik di sebelahmu ini, Aleesha, yang pernah Mama ceritakan."
"Oh, hai."
Antara takut, gugup dan tidak percaya diri, Aleesha mencoba berdiri dan menoleh ke arah pemilik suara yang menyapanya.
'Subhanallah, apa ini yang namanya jodoh ? Atau mungkin aku sedang bermimpi ?' Kata hati Aleesha.
Ada perasaan berbunga-bunga yang menyelimuti sisi hatinya yang telah lama terbengkalai dengan satu nama terpatri di sana.
Tangan Aleesha gemetar menerima uluran tangan pria tampan di sebelahnya.
"Aleesha." Ucapnya menyebut namanya sendiri.
"Asbram. Asbram Purnama." Jawabnya berulang, tanpa senyum, bahkan tanpa ekspresi sama sekali.
'Ada apa dengan ekspresi wajahnya ? Kenapa dia begitu tenang, apa cuma aku yang merasakan gugup seperti ini.' Gundah hati Aleesha.
***
"Mbak Aleesha, sini deh, Dira tunjukkin koleksi Dira." Tarik Andira menuju ruang khusus yang menghadap ke sebuah taman.
Aleesha hanya turut begitu saja kemana kemauan Andira.
"Maaf ya Mas, Mbak Aida, Andira memang begitu anaknya. Apalagi kalau sesuai dengan hatinya." Kata Mama Rose berharap tamunya memaklumi tingkah putrinya.
"Gakpapa, namanya juga anak muda. Saya lega, kalau Aleesha dan Andira bisa lebih dekat." Jawab Bunda Aida
"Semoga begitu juga dengan kakaknya." Sindir Mama Rose yang belum melihat ketertarikan pada diri putranya.
"Saya ke dalam dulu Ma, Tante, Om, silahkan dilanjut." Pamit Bram menghindar.
***
Asbram memainkan gelas yang masih berisi setengah orange jus di tangannya. Dari jauh, dia melihat kedua sisi, dimana ada adik perempuan dan calon istri pilihan orang tuanya sedang asyik bercanda. Sedangkan di sisi lain, ada kedua orangtuanya yang tak kalah asyik berbincang.
Entah apa lagi yang kedua orang tua mereka obrolkan. Meskipun enggan dia melangkah, tapi rasa ingin tau lebih dalam, membuat Asbram terpaksa mendekati adik dan wanita yang belum dia kenal sama sekali.
__ADS_1
"Kakak, tau gak, Dira senang sekali hari ini. Kakak ingat kan, waktu Dira minta antarkan menghadiri sebuah seminar minggu lalu ?" Kata Andira menggebu, saat Asbram mendekati mereka.
"Ah... kelamaan mikirnya." Tepisnya, saat Asbram mencoba mengingat-ingat apa yang dia sampaikan barusan.
"Ya ini, mentor idola yang aku ceritakan waktu itu. Masih muda, pinter, cantik lagi." Sambungnya, setengah menggoda kakak laki-lakinya.
"Bawel lo." Komentar Asbram diiringi cubitan sayang yang mendarat di pipinya.
"Sakit tau." Gerutunya sambil berlalu.
Bukan pergi karena marah atas cubitan kecil dipipinya. Meskipun rasanya sedikit sakit, tapi Andira tau diri dan sengaja meninggalkan mereka berdua, memberikan ruang waktu untuk bisa leluasa bicara.
"Eh, Dira." Panggil Aleesha, tapi Andira tetap berlari sembari memegang pipinya.
"Gakpapa, biarkan saja." Cegah Bram mulai membuka suara.
Terasa bergemuruh di hati Aleesha saat mendengar suara merdu yang sudah lama dia idamkan.
"Maaf, Dira memang begitu. Suka lepas kontrol kalau sedang menyukai sesuatu."
"Hhmm... tidak apa-apa, saya suka pembawaannya yang ceria." Komentar Aleesha tentang calon adik iparnya.
Sejenak, suasana sedikit hening. Gugup, bingung, atau mungkin tidak tahu, topik apa yang akan mereka bicarakan.
"Eehmm ... Saya." Ucap mereka berdua hampir bersamaan.
"Oh, silahkan dilanjut." Kata Bram memberikan kesempatan Aleesha untuk bicara terlebih dahulu.
"Tidak apa-apa, silahkan."
Entah kenapa, Aleesha yang sudah terbiasa bertemu dan menghadapi begitu banyak orang dengan karakter yang berbeda, bisa terdiam seribu bahasa, hanya di hadapan seorang Asbram Purnama.
"Hhhhmm..." Sapa Asbram ingin memastikan lawan bicaranya.
"Tidak, maaf, jika tidak ada yang ingin anda sampaikan, sebaiknya kita bergabung dengan Om dan Tante Rose di sana." Ajak Aleesha, sebelum semakin salah tingkah.
"Tunggu."
"Ya."
Bram terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengutarakan maksudnya.
"Apa pendapatmu tentang pertemuan hari ini ?" Tanya Bram yang terdengar hati-hati.
'Apa maksud dari pertanyaanmu Mas, tentu saja aku senang. Apalagi kaulah orangnya yang selama ini menempati ruang kosong di hatiku.' Kata hati Aleesha.
'Atau mungkin hanya aku yang merasakan senang dalam hati.' masih ada keraguan pada siai hatinya.
'Stop Cha, jangan berpikir yang tidak seharusnya kamu pikirkan.' komentar sisi hatinya yang lain.
__ADS_1
"Aleesha, apa ada yang salah dengan pertanyaan ku ?" Tanya Bram kembali.
"Oh, tidak, saya hanya berpikir ini sebenarnya sangat mengejutkan buat saya." Jawab Aleesha asal.
Sejujurnya, di lubuk hatinya yang paling dalam, Aleesha sendiri ingin tahu, apa pendapat Asbram mengenai hal ini.
"Hhhhmmmm... sebenarnya, saya juga tidak tahu harus berkata apa. Tapi, apapun yang Mama dan Papa katakan, aku tidak bisa menolaknya."
'Ingat Cha, jangan sampai kamu terlena dengan pencapaian yang kamu dapatkan hari ini. Lebih baik jaga image sejak dini, daripada sakit dikemudian hari.' Pinta hatinya.
Wajah Aleesha merah padam, seakan ada rasa malu yang dia pendam.
'Santai saja Cha, ini belum bisa dikatakan cinta bertepuk sebelah tangan. Bukankah kalian baru saja bertemu. Masih ada banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain.' Komentar sisi hatinya memberikan semangat.
Aleesha hanya mengangkat bahunya, menanggapi komentar yang Asbram berikan.
"Saya ke ruang depan dulu." Ucapnya mencoba menghindar.
"E, Aleesha, tunggu."
"Iya."
"Oh, tidak apa-apa, kita ke depan sama-sama."
"Oke, silahkan."
Dari dalam sudah terdengar canda gurau kedua keluarga yang berharap bisa bersatu dengan amanah perjodohan yang mereka terima.
Bukan hanya mereka kedua orang tuanya, tapi juga ada Andira dan salah satu asisten rumah tangga, yang menurut cerita sudah ikut keluarga Purnama sejak Asbram masih di dalam kandungan.
•Mbok Monah
Seorang perempuan yang usianya sudah tidak muda lagi itu, masih terlihat cekatan dan bugar. 'Mbok Nah' begitulah panggilan akrab Beliau, yang sudah menjadi bagian dari keluarga besar Purnama sejak Asbram belum terlahir ke dunia.
Bahkan, Mbok Nah juga lah yang membantu dan merawat Bram sejak usia dini. Bagi Asbram dan keluarga, Mbok Nah bukan lagi asisten rumah tangga, tapi sosok seorang Ibu dan Nenek yang bisa dijadikan suri tauladan.
"Hallo sayang, bagaimana, kalian sudah saling mengenal satu sama lain ?" Tanya Mama Rose tidak sabar.
"Ma, baru juga tau namanya." Canda Asbram mengikuti.
"Ayah, Bunda, sudah malam, sebaiknya kita pamit biar Om dan Tante Rose bisa segera beristirahat." Ajak Aleesha pamit.
"Lo lo lo ... Ini masih sore lo, kok buru-buru." Cegah Mama Rose.
"Benar kata Aleesha Rose, lain kali kita mampir lagi." Jawab Bunda Aida.
"Harus ya Ma, semoga pertemuan malam ini segera bisa berlanjut." Kata Mama Rose setengah berbisik.
Sepanjang jalan perjalanan pulang, Bunda Aida menanyakan perihal kesan pertama bertemu dengan putra sulung keluarga Purnama. Berbagai harapan baik Bunda sisipkan di sela-sela obrolannya, berharap putrinya bisa hidup bahagia dengan pria pilihan kedua orangtuanya.
__ADS_1
'Aku berharap juga begitu Bunda, meskipun aku sendiri juga tidak yakin dengan kata hatiku.' Gumamnya dalam hati.
Next On ------------------->