
"Tunggu !" Teriak David memanggil.
"David, Kamu_"
"Kenapa, kaget Saya ada di sini ?"
Asbram yang sudah bersiap tancap gas, terpaksa harus turun dan menstandarkan kembali motor cross nya.
"Sejak kapan Kamu disini ?" Tanya Asbram penuh selidik.
"Harusnya Aku yang tanya, sejak kapan Kamu disini ?"
Ada sedikit nada kesal di dalam pertanyaan yang David lontarkan kembali.
Asbram hanya diam dan mendekati David yang masih berdiri mematung di teras tempat dia menginap.
"Dari mana Kamu tahu Aku ada di sini ?" Tanya Asbram lirih.
"Tidak penting dari mana, yang jelas Joko sudah salah memberimu petunjuk." Jawab David sembari meletakkan pantatnya pada kursi yang tertata apik di teras.
"Aaahhhh...Aku sangat berterimakasih kepada Joko."
Asbram ikuti David yang duduk di kursi teras.
"Dia telah menemukan apa yang Aku cari." Lanjutnya.
"Semudah itu ? Dan kamu yakin, Dia perempuan yang Kamu cari-cari selama ini." Lagi-lagi David mengeluarkan nada kesalnya.
"Aku yakin, dan Aku sendiri yang melihat bukti - bukti yang Dia tunjukkan." Jawab Asbram kekeh.
"Lalu, bagaimana dengan Aleesha ?"
Sejenak Asbram terdiam. Bukan hanya seorang perempuan yang dia tinggalkan di sana. Tapi sebuah tanggung jawab besar yang Dia sepelekan begitu saja.
"Bram, Aku bicara sebagai sahabatmu. Kamu juga punya seorang adik perempuan. Apa Kamu rela adik Kamu diperlukan yang sama seperti Kamu memperlakukan Aleesha saat ini." Maki David halus.
"Aku_"
"Jangan egois Bram, itu sudah menyangkut harga diri. Lihat dirimu, Kamu seorang publik figur. Apa kata mereka, jika mereka tahu perbuatanmu saat ini. Namamu kembali baik setelah pernikahan kalian di publikasikan. Lalu apa yang Kamu perbuat ? Dalam sekejap Kamu akan menghancurkannya sendiri ?" Luapan emosi David panjang lebar.
"Tapi_"
"Dan satu lagi, pikirkan perasaan kedua orang tuamu, orang tua Aleesha." Kembali David tidak memberikan ruang untuk Asbram bicara.
"Kami sudah berkomitmen Vid. Aleesha juga sudah menyadari akan hal ini." Lirihnya.
"Tega Kamu Bram. Di malam pengantin Kamu tinggalkan Dia tanpa kabar dan tanpa kepastian apa-apa. Dimana hati nuranimu !"
"Kamu tidak tahu Vid, bagaimana Aku mencarinya selama ini. Dan setelah Aku temukan Dia, Aku harus lepaskan begitu saja ?" Ucapnya masih membela diri.
"Egois Kamu Bram. Kamu sudah dibutakan oleh cinta." Makinya.
"Jika Kamu ada pada posisiku sekarang, Kamu pasti akan melakukan hal yang sama." Komentar Asbram.
"Aku masih bisa melihat realita Bram. Mana yang bisa Aku jalani dan mana yang harus Aku tinggal." Elak David.
__ADS_1
"Lalu, Aku harus bagaimana ?" Terdengar sebuah pertanyaan yang meminta pendapat.
"Kamu harus bisa mengambil keputusan sebelum terlambat. Jangan menggantung perasaan seorang perempuan." Saran David.
"Dan Aku berharap, Kamu bisa memilih yang tepat." Lanjutnya.
"Maksud Kamu, Aleesha ?"
"Harusnya Kamu yang lebih tahu. Mana yang lebih tepat dan harus Kamu perjuangkan saat ini."
Sejenak keduanya terdiam. Entah apa yang salah dalam percakapan mereka. Yang jelas, seakan sudah hahis topik yang akan mereka bicarakan lagi.
"Mas Bram, Aku tunggu-tunggu ternyata masih di sini." Panggil seorang perempuan yang masih asing bagi David, tapi terdengar begitu akrab dengan Asbram.
Untuk sesaat David dan Asbram saling pandang. Saling bertanya satu sama lain. Tapi tidak mampu untuk mengungkapkan nya.
"Kok bengong ? Ini siapa ? Teman Mas Bram ?" Tanya perempuan itu kembali.
"Oh, eh iya... kenalkan ini David, teman sekaligus wakil Aku di kantor." Jawab Asbram mulai tersadar.
"Hallo... perkenalkan Saya Chacha." Ucapnya mengulurkan tangan.
'Jadi ini, yang namanya Chacha. Apa istimewanya wanita ini. Asbram benar-benar sudah dibutakan oleh cinta.' Komentar David dalam hati.
"Vid_" Senggol Asbram, yang melihat sahabatnya bengong.
"Hhmmm...oh ya, maaf, Saya David." Jawabnya membalas uluran tangan perempuan itu.
"Gakpapa Mas, mungkin Mas David terpesona melihat saya." Selorohnya mencoba bercanda.
"Kamu sendirian ?" Tanya Asbram.
"Oh, iya Mas. Ini Chacha bawakan sarapan spesial Chacha masak sendiri khusus buat mas Bram." Ungkap seorang wanita yang menyebut dirinya Chacha.
'Genit amat ini bocah, sikapnya seperti ABG. Apa iya ini gadis yang selama ini Asbram cari-cari.' Selidik David dalam hati.
"Mas Bram pasti belum sarapan kan ?"
"Nanti saja." Jawab Bram merasa tidak enak dengan adanya David di antara mereka.
"Jangan begitu, sarapan itu penting loo... sini, biar Chacha suapin ya."
'Haiisss... seperti patung batu saja Gue di sini.' Gerutu David dalam hati.
"Cha, nanti saja Saya makan bareng David." Pinta Asbram.
"Iya, ini Chacha sisain kok untuk Masnya."
"Cha_"
"Ehem herm."
Deheman David membuyarkan kemesraan mereka berdua. Meskipun Asbram yang tidak pernah mengerti wanita, terlihat sangat canggung.
'Asbram kelihatan tidak nyaman dengan wanita itu. Sikap dekatnya terlihat dipaksakan.' Lagi-lagi hati kecil David menebak situasi pagi ini.
__ADS_1
"Cha, Saya masih ada urusan sama asisten Saya. Jadi tolong tinggalkan Kami sebentar. Nanti biar Saya makan makanan ini." Pinta Asbram tegas.
"Oke, kalau begitu Aku pergi dulu. Jangan lupa dimakan ya Mas." Pamitnya kepada Asbram, tanpa memperdulikan David yang sejak tadi dianggap patung.
Entah pergi karena kerelaan atas permintaan Asbram, atau karena marah keinginannya tidak terpenuhi. Yang jelas perempuan yang menyebut dirinya bernama Chacha itu pergi tanpa menyapa kepada tamunya terlebih dahulu.
'Biar saja, bukan urusan Saya juga.' Ungkap sisi hati David.
'Kenapa Vid ? Ngiri ya... Asbram punya dua wanita sekaligus, sedangkan Kamu belum. Jiahahhahaha...' Komentar julid sisi hatinya yang lain.
"Bodo amat." Celetuknya sendiri.
"Kenapa Vid ?" Tanya Asbram, setengah kaget mendengar umpatan David.
"Ha, ehem... tidak apa-apa." Jawabnya salah tingkah.
"Kelihatannya Kamu tidak suka dengan Chacha ?" Tanya Bram lagi terus terang.
"Hah... pasti ada alasan seseorang untuk suka atau tidak suka sekalipun."
"Boleh Saya tahu kenapa ?"
"Jujur Bram, Saya merasa kehadiran gadis itu tidak tepat untukmu." Ucapnya terus terang.
"Namanya Chacha."
"Siapalah itu, terserah Kamu."
"Maksud Kamu ?"
"Pikirkan sendiri, yang jelas Aku tidak setuju dengan kedekatan kalian."
"Setuju atau tidak setuju, itu bukan urusan Kamu. Dan suka atau tidak suka, itu menjadi hak Saya. Dan satu hal yang harus Kamu ingat, biasakan untuk menerima kenyataan. Karena kedepannya kalian akan sering bertemu satu sama lain. Kecuali_" Asbram menghentikan ucapannya.
"Kecuali apa ?"
"Kecuali, Kamu sudah bosan kerja denganku." Lirihnya, namun cukup membuat David tersinggung.
"Oke, semua sudah menjadi pilihanmu. Aku hanya mengingatkan, jangan sampai menyesal di kemudian hari."
David segera masuk ke dalam penginapan, usai berkata seperti itu. Meskipun David tahu, kalau sahabatnya itu tidak serius berkata seperti itu. Tapi tidak pernah dia duga akan mendapatkan ucapan yang begitu menyakitkan dari sahabatnya yang sudah berkumpul selama belasan tahun bersama.
Tok... tok... tok...
"Vid, buka Vid. Kita belum selesai bicara."
Tidak ada jawaban dari dalam.
"Sorry Vid, Aku hanya sedikit emosi tadi."
"Gakpapa, sudah biasa. Sarapan dulu biar gak kebawa emosi." Teriak David dari dalam.
"Ayolah Vid, jangan seperti anak kecil." Bujuk Asbram kembali.
Apa yang Asbram ucapkan, cukup membuat David marah. Sebenarnya bukan marah, tapi David lebih peduli dengan keadaan keluarga Asbram saat ini.
__ADS_1
Next On ------------------->