Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 34. Tidak Ada Malam Pertama


__ADS_3

Gosip di dunia maya masih santer membicarakan kedekatan dua publik figur yang sedang naik daun. Bagi Aleesha dan Asbram, hal itu sudah biasa terjadi. Meski dijelaskan seperti apapun, tidak akan bisa menutup komentar negatif yang beredar.


Janji untuk klarifikasi terjawab sudah. Tidak hanya sebuah klarifikasi, tapi sebuah pesta pernikahan benar-benar digelar. Meskipun sangat sederhana, dan hanya dihadiri orang - orang terdekat mereka saja.


Ada tawa dan senyum bahagia di setiap wajah para tamu undangan yang hadir. Namun tidak bagi Aleesha, senyum yang mengembang di bibirnya, hanyalah sebuah cara agar untuk tetap terlihat bahagia.


"Selamat ya Cha, apa yang pernah kamu impikan, akhirnya terwujud juga. Kakak tingkat yang galak sedingin es, Semoga Kalian bahagia." Bisik Keysha, sembari memeluk erat sahabatnya.


"Makasih Key, meskipun Aku masih berharap ini semua bukan mimpi." Jawabnya dengan nada bergetar.


Masih teringat jelas di benaknya, ketertarikan Aleesha kepada Asbram, saat mereka memasuki bangku kuliah.


*Flashback On


"Ganteng banget Cha..." Bisik Keysha saat mereka berhadapan dengan beberapa Kakak tingkat di sebuah universitas.


"Mana, gak ada yang ganteng." Jawabnya cuek.


"Ih, ini anak, lihat dong .. " tunjuk Keysha lagi.


"Bukan type Aku kali. Gak ada yang cakep." Juteknya.


"Selamat pagi semua."


"Pagi Kak."


"Maaf Saya sedikit terlambat."


Aleesha sempat terbengong mendengar suara merdu menyapa. Bahkan, membelalakkan mata seketika si pemilik suara ada tepat di hadapannya.


"Yang ini baru bikin excited." Gumamnya sendiri.


"Apaan sih, gak banget. Yang Aku dengar, itu orang galak, sedingin kulkas dua pintu, kalau gak salah namanya Asbram purnama." Jawab Keysha balas berbisik.


"Sok tahu loo.."


"Ya emang Gua tahu."


"Ada yang mau kalian tanyakan ?" Tanya Asbram mengagetkan, saat Dia tiba-tiba mendekati dan menegur Aleesha yang sedang berdebat dengan Keysha.


"Kalian tahu keterangan apa yang baru saja Saya sampaikan ?"


Bukannya jawaban yang benar yang mereka sampaikan, tapi hanya saling pandang dan mengangkat bahu tanda tak tahu.


Asyik berdebat dan mengghibahkan orang yang ada di depannya, membuat mereka tidak paham, keterangan apa yang diberikan.


Alhasil, Keysha dan Aleesha dihukum lari keliling lapangan basket dua puluh lima putaran. Itulah kenangan buruk pertama kali saat bertemu Asbram.

__ADS_1


Meskipun begitu, rasa penasaran dan rasa suka di hati Aleesha tidak luntur begitu saja. Semakin keras Asbram membimbing, semakin keras perasaan Aleesha ingin mengenalnya.


*Flashback Off


"Aleesha...hei, kamu kenapa ? Kok malah bengong." Tanya Keysha sebelum akhirnya berpindah memberikan ucapan selamat kepada pengantin pria.


"Pak Bram, selamat. Semoga pernikahannya langgeng."


"Terimakasih Key. Arya mana ?" Jawab Asbram ganti bertanya.


"Oh iya, Dokter Arya tidak bisa hadir. Tapi Beliau titip salam, nanti mau hubungi pengantinnya langsung. Begitu pesannya."


"Ok, makasih Key."


Kling...


Satu pesan WhatsApp masuk. Seolah terasa, yang baru saja dibicarakan sudah menghubungi.


"Selamat Mas Bro, kalian memang pasangan yang serasi. Pangeran tampan pasti akan mendapatkan pendamping yang cantik dan baik hati seperti Aleesha." Isi pesan dari Dokter Arya.


"Thanks." Jawab Asbram singkat.


"Sayang sekali, karena tuntutan pekerjaan, Saya tidak bisa menyaksikan langsung kebahagiaan kalian berdua." Lanjutnya.


"No problem."


"Arya titip salam untukmu." Ucapnya kepada Aleesha yang gini sudah sah sebagai Nyonya Asbram Purnama.


Namun Aleesha masih diam tanpa komentar.


"Kamu sakit ?"


"Oh, tidak." Entah apa yang sedang dia pikirkan. Ingatan akan masa lalu, membuat Aleesha gagal fokus.


Tidak banyak acara, hanya akad nikah dan ramah tamah saja. Tapi hal itu sudah cukup membuat Aleesha merasa lelah. Belum lagi jika Dia harus dituntut menunaikan kewajibannya sebagai pengantin baru malam ini.


Dia letakkan pantatnya di kursi depan meja rias, dia bersihkan rasa penat yang menggelayut di wajahnya.


'Tapi, apa mungkin Asbram menginginkan hal itu.' Pikirnya, usapan tangannya menghapus sisa riasan di wajahnya, terhenti sejenak.


Sebelumnya, membayangkan bisa hidup berdampingan dengan seorang Asbram saja, Dia tidak berani. Apalagi sampai disentuh sedekat lazimnya seorang suami istri. Reflek, Dia bergidik menatap wajahnya sendiri, membayangkan sesuatu yang belum pernah dia lakukan.


"Kamu kenapa ?"


Entah sejak kapan Asbram sudah berdiri di belakangnya. Mengenakan setelan piyama, yang kancing atasnya sedikit terbuka.


Dada bidang Asbram, terlihat jelas melalui kaca rias yang terpampang di hadapannya. Kedua tangannya Dia saku ke dalam celana, semakin memperlihatkan gayanya yang selalu cool.

__ADS_1


Aleesha melotot, jantungnya berdegup kencang. Tanpa sengaja Dia melihat dada bidang dan mendengar suara yang masih asing di dalam kamarnya. Apalagi tidak ada kedekatan sebagai seorang pacar sebelumnya.


"Oh, eh, tidak apa-apa." Gugupnya, sembari berdiri meraih sebuah bantal dan selimut dari atas ranjangnya. Mau tidak mau Dia harus rela berbagi kamar dengan orang asing yang sekarang disebut suami baginya.


"Mau kemana ?" Tanya Asbram yang sekarang sudah berpindah duduk di tepi ranjang.


"Kamu tidur saja di sini, Saya di sofa." Tunjuknya pada sebuah sofa panjang di tepi ranjang.


"Aku rasa, ranjang ini cukup lebar dan kuat untuk kita berdua."


Ucapan Asbram, berhasil membuat wajah Aleesha merah padam.


"E...Saya_"


"Tidurlah. Tenang saja, Aku tidak akan menakutimu" Gumam Asbram sembari menyandarkan kepalanya di bantal.


Begitupun Aleesha, yang mulai menata hati dan pikirannya untuk bisa ikut berbaring di sisi Asbram. Rasa gundah yang menggelayut, membuat Dia resah, miring kesana kemari tanpa bisa memejamkan mata.


"Tidur saja, paling nanti Aku gigit sedikit kalau Kamu terlelap." Lirihnya menggoda.


"Bodo." Omelnya, kembali berpaling membelakangi suaminya.


'Uffhh... lama-lama gak kuat juga.' keluhnya dalam hati saat rasa kantuk mulai menghinggapi.


Perlahan matanya mulai terpejam, sebelum akhirnya terbangun kembali oleh nada dering panggilan pada handphone Asbram.


"Hallo." Terdengar suara Asbram, masih setengah kantuk.


"Apa !" Kata tanya yang keluar dari mulut Asbram, menandakan terjadinya sesuatu.


'Apa yang terjadi dan Siapa yang menghubungi Mas Bram, tengah malam begini.' Pikir Aleesha dalam hati, yang masih pada posisi tidurnya, seolah tidak mendengar percakapan suaminya.


"Kamu yakin ?" Lagi-lagi pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan, membuat rasa khawatir di hati Aleesha.


"Aku kesana." Tutupnya.


Setengah berlari, Asbram melompat dari ranjangnya. Mengambil jaket dan menarik travel bag pakaiannya yang belum sempat Aleesha rapikan di almari.


"Mas, Mas mau_"


"Aku pergi dulu. Ada hal penting yang harus Aku selesaikan." Pamitnya buru-buru. Bahkan sebelum Aleesha menyelesaikan pertanyaannya.


Entah apa yang terjadi, yang pasti malam ini tidak seperti malam-malam pengantin pada umumnya. Tidak ada malam pertama, tidak ada peluk dan cium pertemuan, bahkan tidak ada jabat tangan saat Dia ditinggalkan.


Aleesha masih terpaku. Memandang kepergian suaminya dari balik jendela kaca di atas balkon kamarnya.


Next On --------------->

__ADS_1


__ADS_2