
Kling ...
[ "Cha, maksi yuk." ] Satu pesan masuk.
'Keysha' itulah nama pengirim pesan pada layar handphonenya. Belum sempat Dia balas, namun sudah terbaca melalui layar utama, apa isi pesannya.
[ "Cha, lagi sibuk ya ?" ] Lanjutnya, dan masih belum Dia sentuh handphone yang tergeletak di jok sebelah kiri kemudinya. Entah karena masih pada posisi di belakang kemudi, atau memang enggan membalas, dalam kondisi badmood saat ini.
Sedangkan di tempat lain, Keysha yang sangat peduli dengan sahabatnya, merasa gelisah dan takut terjadi apa-apa dengan Aleesha. Secara, saat ini, hati dan pikiran Aleesha sedang tidak sejalan.
Memang, sejak Aleesha curhat pekan lalu, belum Dia dengar lagi bagaimana perkembangan hubungan sahabatnya dengan seorang CEO tampan salah satu stasiun TV ternama di negeri ini.
"Kenapa sayang ?" Tanya Arya yang kebetulan menemani kekasihnya makan siang di tempat yang mereka janjikan.
"Gakpapa Yang, cuma, ini, Saya sedikit khawatir sama Aleesha." Jawabnya apa adanya.
"Aleesha ? Memangnya kenapa Dia ?" Sendok dan garpu yang tadi sempat beradu, gini Dia letakkan kembali pada sisi-sisi piringnya.
"Ceritanya panjang Mas, tapi Aku yakin, Aleesha mampu menyelesaikan semuanya dengan baik." Kata Keysha tanpa keterangan yang jelas.
Rasa penasaran semakin menyelimuti hati dan pikiran Arya.
'Apa sebenarnya yang terjadi dengan Aleesha ? Apa Dia sedang ada masalah dengan pekerjaannya, atau masalah dengan suaminya ?' Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benaknya.
'Asbram, Kamu akan berhadapan denganku, jika berani menyakiti hati Aleesha.' Ancamnya dalam hati.
"Mas, Mas Arya, Mas kenapa ?" Tanya Keysha heran melihat tingkah aneh kekasihnya, mengetatkan antara sendok dengan garpu di tangannya.
"Oh tidak, tidak apa-apa." Jawabnya.
Untuk menghindari kecurigaan Keysha, Arya kembali memainkan sendok dan garpu di tangannya, mengayun suapan demi suapan ke dalam mulutnya.
'Aneh, kenapa setiap kali Aku membicarakan Aleesha, Mas Arya seperti orang sakit hati ya.' Pikir Keysha penuh selidik.
"Lusa, Mas jadi ngisi seminar sehat di Bali ?" Tanya Key tiba-tiba memecahkan keheningan.
"Hhmmm, ya." Jawabnya dengan mulut penuh mengunyah.
Tanpa pikir panjang, Dia ambil handphone yang sudah tersimpan rapi di dalam handbag. Dia sentuh kembali layar enam inci untuk menghubungi seseorang yang sejak kedatangannya di tempat ini menjadi topik utama.
"Iya Cha, Kamu lagi dimana ?" Tanya Keysha mengawali panggilannya.
"Kamu udah makan siang ?" Lanjutkan bertanya.
'Boro-boro makan siang, sarapan saja Aku belum sempat.' Omel Aleesha dalam hati.
"Cha, are you oke ?"
"Iya, fine. Aku gakpapa kok."
"Oh ya Cha, yang kemarin Kamu tawarkan ke Aku, masih berlaku kan ?" Tanya Keys girang.
"Yang mana ?"
__ADS_1
"Bali, Bali." Ucapnya memberikan kode.
"Masih."
"Makasih Chacha cantikku. Miss you, emuah..." Ucapnya menyelesaikan pembicaraannya.
"Iyeesss." Gumamnya sendiri.
"Kenapa ?" Tanya Dokter Arya, berganti heran pada kekasihnya.
"Surprise..."
"Apaan ?"
"Lusa, Aku bareng Aleesha berangkat ke Bali." Jawab Keysha senang. Karena selain bisa mengikuti seminar herbal dengan sahabatnya, Dia juga bisa berdua dengan kekasihnya.
"Oh..." Itu saja komentar Arya.
"Kok Oh sih !" Dengus Keysha kesal.
"Harusnya bagaimana ?"
"Ya apa kek, yang bikin seru gitu."
"Kenapa gak bareng Saya saja ?" Tanya Arya datar.
"Tapi kan, kita beda misi Mas. Mas dalam rangka panggilan kerja, na Saya dalam rangka panggilan jiwa." Celoteh Keysha bercanda.
Tanpa rasa curiga lagi, Keysha menarik nafas panjang untuk mulai bercerita.
"Sebenarnya, Aku juga gak percaya sih Mas, kalau kisah cintanya tidak semulus karirnya." Kata Keysha.
"Maksudnya ?" Kali ini kata tanya Arya lebih santai, demi bisa mendengar apa yang terjadi sebenarnya dengan cinta pada pandangan pertamanya.
"Jadi, selama ini, cinta Aleesha hanya bertepuk sebelah tangan. Mas Bram lebih memilih cinta di masa kecilnya dari pada yang nyata ada di depan mata."
Sampai detik ini, Arya masih menjadi pendengar yang budiman.
"Dan yang tidak habis pikir, Aleesha hanya diam saja, memendam semuanya sendiri. Tanpa berani bercerita ke orang lain, bahkan kepada orang tuanya sendiri. Dia hanya berharap keajaiban, menunggu kepastian yang tak kunjung tiba."
Meskipun belum sepenuhnya terang, tapi Arya paham kemana arah cerita Keysha tentang sahabatnya.
"So, it's oke. Dia masih yakin ada harapan." Komentar Arya.
"Kamu salah Mas, saat ini Dia mungkin sudah tidak kuat lagi. Dan puncaknya dua pekan lalu, Aleesha mau curhat setelah sedikit Aku paksa."
"Lalu ?" Tanya Arya semakin kepo.
"Lalu Dia bilang, akan segera membicarakan hal ini, setelah orangtuanya pulang haji."
"Maksudnya bagaimana, membicarakan apa ? Ini kan permasalahan antara suami istri." Komentar Arya memancing agar Keysha bercerita lebih detail.
"Ya, mungkin, jika pernikahan mereka sudah tidak bisa dipertahankan, jalan satu-satunya ya perpisahan." Ungkap Keysha lirih.
__ADS_1
"Uffhh...gila, Aku tidak menyangka Asbram setega itu."
"Lagi pula, pernikahan mereka berdasarkan perjodohan, hanya di atas kertas. Boro - boro disentuh, diakui saja tidak." Kata Keysha keceplosan, hingga harus Dia bungkam mulutnya sendiri.
"Apa !" Tapi Arya terlanjur mendengarnya.
"Sorry, sorry, Aku keceplosan Mas. Jangan sampai Mas cerita ke siapa - siapa ya, dan jangan juga tanyakan hal ini kepada Aleesha atau Asbram, bisa habis Gue." Ucapnya kelihatan panik.
"Enggak lah, gila apa." Jawaban Arya bernada tinggi.
'Ternyata hanya sampai segitu tanggung jawabmu Bram, Aku tidak habis pikir, kenapa setega itu Kamu kepada seorang Aleesha yang tulus menerimamu apa adanya.' Kesalnya dalam hati.
Kencan siang mereka telah usai, tepat pada batas akhir waktu istirahat nya.
"Mas, Aku duluan ya." Pamit Keysha.
"Yakin gak mau bareng ?" Jawab Arya menawarkan.
"Gak usah lah, gak enak sama anak buah." Jawabnya dengan kedipan mata nakal.
"Oke, take care ya."
Keysha melambaikan tangan, sebagai pengganti ucapan selamat tinggal kepada kekasihnya.
Tutttt ... Tuttt ... Tutt ...
Dua kali panggilan tak terjawab. Dan untuk yang ketiga kalinya Arya mencoba menghubungi Asbram.
Usai pendengaran tajamnya, mendengar tentang wanita pujaan hatinya tersakiti, Arya gemas dan ingin segera bertindak sendiri, mengesampingkan kehormatannya sebagai seorang dokter demi mendapatkan sebuah kebenaran.
"Hallo Bro." Ucapnya tanpa salam, saat ada kesempatan panggilannya terjawab.
"Maaf Pak Arya, saat ini Pak Asbram sedang ada klien, belum bisa dihubungi." Jawab seseorang yang pastinya dia mengenali siapa pemilik suara pada handphone nya.
"Oh, oke. Sampaikan ke bosmu, Arya ada perlu penting. Luangkan waktu sebentar untuk bisa bertemu." Jawab Arya sedikit kecewa.
"Baik Pak, nanti Saya sampaikan."
Kembali Arya menutup panggilannya tanpa salam. Kelihatan sekali ada perasaan marah dan kecewa menyelimuti hatinya.
'Bahkan, Dia tidak mau menjawab panggilanku sebentar saja. Apa seperah itu hubungan Asbram dengan Aleesha, hingga tidak ada kesempatan untukku bertanya.' Mulai over thinking.
Jemari Arya kembali sibuk dengan menu-menu pada layar handphonenya.
Tuttt... tutt... tuttt...
Panggilannya berganti kepada Aleesha. Namun sama dengan Asbram, berkali-kali Arya hubungi, Aleesha tidak menerima panggilannya.
'Kompak sekali ini suami istri, kenapa mereka menghindar dari panggilanku.' Pikir Arya, lebih over thinking lagi.
'Aleesha...andai saja Kamu peka dengan perhatian - perhatian kecil yang Aku berikan, pasti Kamu akan selalu hidup bahagia bersamaku.' Sesal Arya atas kasih yang tak sampai.
Next On -------------->
__ADS_1