
Rumah Sakit Harapan Sehat, tempat inilah yang Asbram pilih untuk melanjutkan perawatan kesehatan Aleesha setelah mendapatkan pertolongan pertama malam itu.
Bukan tanpa alasan, lima puluh persen saham dari Rumah Sakit ini, adalah milik keluarga Purnama. Selain itu, akan lebih baik dan lebih dekat dari rumah Aleesha jika Aleesha di rujuk langsung ke Rumah Sakit keluarga nya.
"Di ruang mana Aleesha di rawat Vid ?" Tanya Mama Rose sesampainya mereka di area parkir.
"VVIP Dewi Sinta nomor satu." Jawabnya to the point.
"Biar Saya bawa sendiri. Kamu boleh kembali ke kantor."
"Saya akan menunggu Ibu disini. Sesuai pesan Pak Bram agar saya menunggu sampai Ibu selesai dengan urusan Ibu di rumah sakit." Terangnya.
"Tidak perlu. Bilang sama Bram, kalau Ibu belum mau pulang sebelum Bram jemput."
'Anak sama Ibu sama-sama keras kepala.' David menghela nafas panjang. Mau tidak mau dia tetap harus mau kembali ke kantor dan menyampaikan apa yang Nyonya Bos besar perintahkan.
Setelah memastikan David sudah keluar dari pintu gerbang Rumah Sakit, Mama Rose segera bergegas menuju ruang sesuai informasi yang di dapat dari asisten pribadi putranya.
Ddrrrttt... ddrrrttt...
"Bram, belum juga Aku sempat telfone, dia sudah nelfon duluan." Omelnya sendiri.
"Hallo."
"Hallo Vid, bagaimana Mama ?"
"Gua balik kantor, Bu Rose tidak mau Gua tunggu tunggu, Beliau minta Lo yang jemput nanti. Gua dah bilang kalau Lo_"
Tutt ... tutt ... tutt ...
Sambungan seluler terputus. Mungkin sengaja Asbram mematikannya.
"Kebiasaan ni bocab, belum juga selesai ngomong. Sultan mah bebas, dasar." Gerutunya sendiri.
Memang, sebenarnya David dan Asbram berteman sejak mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama sebelum terpisah karena Bram melanjutkan kuliahnya di Luar Negeri waktu itu. Hingga akhirnya dipertemukan kembali di waktu yang tepat, saat Bram membutuhkan seorang Asisten yang bisa dia percaya untuk membangun perusahaan yang dia rintis mulai dari nol.
***
*VVIP. Dewi Sinta (001)
Tok... tok... tok...
Tidak ada jawaban dari dalam.
Ceklek...
Mama Rose membuka pintu sesudah mengetuk nya tiga kali, memastikan apakah benar yang Beliau cari ada di dalam. Dari ambang pintu terlihat Aleesha terbaring di ranjang. Sendiri tanpa seorang pun menemani di sana.
__ADS_1
Bermaksud tidak ingin membangun Aleesha, pelan Mama Rose meletakkan buket buah yang Beliau siapkan dari rumah. Namun perkiraan Beliau salah, Aleesha terlanjur mendengar langkah kakinya.
Dia menoleh dan melihat siapa yang datang kali ini.
"Tante." Lirihnya.
"Mama Rose, panggil Mama, sudah-sudah jangan bangun, tetap di situ." Cegah Beliau.
"Iya Ma, terimakasih." Ucap Aleesha fasih memanggil Mama.
"Bagaimana keadaanmu Nak ?"
"Alhamdulillah, sudah mendingan Ma." Jawabnya diiringi dengan seutas senyuman.
"Kamu sendirian ? Asbram bilang, ada asisten kamu menemani."
"Iya Ma, tadi pagi setelah selesai periksa dokter, Widya saya suruh pulang, untuk bersih-bersih dan istirahat. Sejak kemarin, dia kurang tidur karena menunggu saya."
"Ya Allah Nak, kamu sendiri butuh perhatian, tapi masih sempat memperhatikan asisten kamu. Kalau kamu perlu sesuatu, siapa yang akan bantu." Keluh Mama Rose.
"Gakpapa Ma, Icha sudah biasa mengerjakan semuanya sendiri." Ucapnya meyakinkan.
"Tidak bisa begitu, harus ada yang bertanggungjawab atas hal ini."
Aleesha terdiam, dia mengernyitkan dahinya. Mencoba menelaah, apa maksud dari kalimat yang calon ibu mertuanya itu ucapnya.
Ingin dia menanyakan secara langsung. Tapi dilihatnya Mama Rose sedang sibuk dengan handphone di tangannya. Entah apa yang Beliau ketik, atau siapa yang akan Beliau hubungi, masih menjadi tanda tanya untuk Aleesha.
'Tanya gak ya ? Tanya, enggak, tanya, enggak.' masih dengan hati penuh rasa ingin tahu. Takutnya kalau apa yang Beliau lakukan ada hubungannya dengan Widya, asisten pribadinya.
'Gimana dong, tanya enggak ya ?'
'Enggak usah lah, gak etis rasanya kalau bertanya. Itukan hak pribadi Beliau.' Komentar sisi hatinya yang lain.
"Mama gak mau tahu." Sepenggal kalimat yang Beliau ucapkan sebelum menekan tombol merah pada layar handphonenya.
Belum bisa ditebak, siapa gerangan yang Mama Rose hubungi. Dalam hati Aleesha hanya ada satu nama yang terancam, yaitu 'Widya'.
'Tapi, bagaimana mungkin Beliau tahu nomor WA Widya.' Masih dengan banyak tanda tanya di kepalanya.
"Maaf ya Nak, tadi Mama sedikit emosi. Aleesha mau Mama kupasin buah ? Tadi Mama bawakan buah untuk Aleesha." Kata Beliau mengalihkan perhatian.
"Terimakasih Ma, nanti saja, Icha bisa kupas sendiri." Tolaknya sungkan.
"Gakpapa sayang, jangan sungkan sama Mama. Aleesha sudah Mama anggap sebagai seperti putri kandung Mama sendiri. Jadi, kalau Aleesha kesulitan atau perlu sesuatu, bilang sama Mama." Sambil bicara, tangan Mama Rose sibuk mengupas dan membersihkan buah yang Beliau bawa dari rumah.
Aleesha mengangguk, mencoba memahami apa yang Beliau katakan.
__ADS_1
'Apakah ini sebuah kode kalau sebenarnya, aku dan Asbram tidak berjodoh. Jadi Mama Rose sudah menganggapku sebagai anak kandungnya, bukan anak menantunya.' Tiba-tiba dada Aleesha terasa sesak.
Ingin rasanya menangis, namun tak mampu untuk mengeluarkan air mata.
'Jangan lebay Cha, itu hanya perasaanmu saja.' Komentar sisi hatinya.
"Oh ya Nak, hubungi asistenmu, bilang untuk tidak usah ke Rumah Sakit malam ini."
"Tapi Ma_"
"Sudah bilang saja." Potong Mama Rose, sebelum Aleesha bisa menjelaskan.
Tanpa pikir panjang lagi, Aleesha menekan hurug demi huruf yang ada pada layar handphonenya, menyampaikan apa yang diperintahkan Mama Rose agar Widya istirahat di rumah malam ini.
Meskipun ragu, siapa yang akan menemaninya malam ini, tapi tetap saja dia kerjakan. Bukannya takut, tapi kalau ada temannya, suasana pasti berbeda, apalagi ini di Rumah Sakit, bukan di Hotel.
***
Bbrraakkk !
Asbram melempar handphonenya hingga terpelanting di atas karpet lantai kantornya.
"Woi...sabar Bro, kenapa lo ?" Tanya David heran melihat tingkah aneh sahabatnya sekaligus atasannya itu.
Asbram masih diam, tidak menjelaskan apa yang membuat dia begitu kesal.
"Rusak juga tinggal kring, datang yang baru." Omel David lirih.
"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu?" Tanya Bram tanpa ekspresi sama sekali.
David menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menjelaskan apa yang perlu dia sampaikan.
"Bram, sory Bro, Gue ngomong saat ini sebagai sahabat Lo, bukan sebagai bawahan Lo ya. Jadi kalau boleh Gue kasih saran, stop Bram, jangan nyakitin diri sendiri dengan mencari-cari yang gak pasti." Kata David mengawali pembicaraan mereka.
"Apa sih yang kurang dari Aleesha, sudah cantik, cerdas, mandiri, dia punya karir yang bagus. Kurang apa coba ?" Imbuhnya.
"Kalau Aku ada di posisi kamu saat ini, Aku akan jaga Dia Bram. Sebelum rezeki dipatok ayam." Sambungnya.
Lagi-lagi yang diajaka bicara masih diam tanpa komentar sedikitpun.
"Bram, sadar dong, dia bukan tercipta untukmu dan Allah hadirkan Aleesha untukmu." Lantang David bicara.
"Jangan banyak bicara, cukup selesaikan tugasmu." Sepenggal kalimat menutup percakapan diantara mereka.
Bram pergi meninggalkan ruang kerjanya, membiarkan David melongo sendiri tanpa bisa protes lagi.
"Bram, kemana lagi teamku mencarinya ! Kenapa bukan kamu sendiri yang terjun langsung ke lapangan !" Teriaknya mencoba membuka mata hati Bram yang masih tertutup oleh janji hati.
__ADS_1
Meskipun sia-sia David berteriak, Asbram hanya menjawabnya dengan lambaian tangan.
Next On --------------->