Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 37. Bertemu Pak Saleh


__ADS_3

Hari ke - 2 di penginapan.


Sesampainya di penginapan, David kembali merebahkan tubuhnya usai berjalan-jalan mengelilingi jalan desa. Bukan untuk sekedar menikmati sejuknya udara pagi, tapi Dia juga ingin menyelidiki, apa betul Chacha yang dia temui adalah Chacha yang Asbram cari selama ini.


drrttt...drrttt... drrttt...


Handphone di dalam sakunya bergetar.


"Mbak Aleesha." Gumam David.


'Diangkat gak ya ?' Pikirnya penuh pertimbangan.


"Hallo Mbak." Akhirnya Dia angkat juga.


"Hallo Pak David, bagaimana Pak ? Bapak sudah dapat informasi dari Mas Bram ?" Tanya Aleesha yang sebelumnya khawatir dengan kondisi suaminya.


"Maaf Mbak, Saya lupa kasih kabar ke Mbak Aleesha. Ini Saya sudah bersama Pak Bram. Ada pekerjaan di luar kota yang tidak bisa diwakilkan dan harus dikerjakan Pak Bram sendiri."


David terpaksa berbohong, demi menjaga perasaan seorang istri terhadap suaminya.


"Oh, baik Pak David. Terimakasih informasinya. Semoga selalu dimudahkan segala urusan." Komentar Aleesha, tanpa ingin tahu apa yang dikerjakan dan bagaimana keadaan suaminya.


"Terimakasih Mbak. Oh ya untuk sementara, handphone Pak Bram belum bisa dihubungi, karena terjatuh saat di lokasi." Lagi-lagi David berbohong.


"Tidak apa-apa Pak." Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Aleesha.


'Maaf Mbak, Saya terpaksa berbohong kepada Mbak Aleesha.' Ucapnya dalam hati.


Baru selesai bernafas, karena berhasil merangkai kata sebagai alasan untuk disampaikan kepada Aleesha, gini kembali handphonenya bergetar.


"Pak Purnama. Apa yang harus saya sampaikan." Omelnya sendiri.


"Ya hallo Pak."


"Hallo Vid, Kamu bersama Asbram ?"


"Oh iya Pak."


"Kenapa handphone Asbram tidak bisa di hubungi ?"


"Iya Pak, handphone Pak Bram rusak karena terjatuh di air. Ini masih dalam perbaikan."


"Lalu, pekerjaan apa yang mengharuskan kalian harus ke luar kota ?"


"Oh, itu Pak Bram ada kerjasama dengan stasiun TV lokal untuk sebuah acara Pak."


Dengan lancarnya David mencari alasan.


"Ya sudah, bilang kepada Asbram untuk membiasakan berpamitan kepada istrinya. Agar tidak khawatir di rumah."


"Iya Pak."


'Uuhhhh ... David, David, betapa bodohnya Kamu. Apa lagi yang akan Kamu sampaikan kalau Asbram tidak bisa berubah.' Umpatnya pada dirinya sendiri.


Kling ...


("Vid, benar Asbram bersamamu ?")


Kali ini pesan singkat dari Mama Rose.


("Iya Bu, ada pekerjaan yang harus Pak Bram tangani langsung di luar kota.) Jawabnya kembali berbohong.


("Ibu percaya padamu, segera kembali kalau urusan kalian sudah selesai." )


("Baik Bu.")


"Maafkan Saya Bu Rosema, terpaksa Saya juga harus berbohong pada Anda."

__ADS_1


Rasa bersalah menggelayut di benaknya.


"Saya janji pada Bapak, terutama Ibu Purnama yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, dan Mbak Aleesha, Saya akan berusaha mengembalikan Asbram pada tempatnya." Gumamnya sendiri.


Hati kecilnya berkata, kalau Chacha bukanlah Chacha. Rentetan pertanyaan yang keluarga Purnama lontarkan kepadanya, menguatkan hati David untuk mencari kebenaran.


Rasa sayang kepada kedua orang tua Asbram, yang telah membimbing dan memberinya dukungan moril serta material, membuat David tidak bisa tinggal diam dengan apa yang dia lihat di depan mata.


"Dikembalikan pada tempatnya ? Aissshhh... memangnya salah tempat Dia."


David tertawa sendiri mendengar ocehannya sendiri.


Keeruucuuukkk....


Dia usap perutnya yang mulai terasa lapar.


Mungkin, terlalu banyak berbohong membuat cacing di dalam perut David demo minta jatah.


'Mandi dulu, habis itu cari sarapan.' Pikirnya, sembari menyambar handuk yang ada di gantungan.


***


Sepiring lontong sayur, lengkap dengan satu butir telur dan gorengan, sudah memuaskan rasa laparnya. Apalagi ditambah dengan segelas teh hangat. Lengkap sudah isi perutnya.


"Hei."


Seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


'Asbram.' Sapanya dalam hati, saat Dia pastikan siapa pemilik telapak tangan kekar yang menepuk pundaknya.


"Kamu masih di sini ?" Kembali Asbram melontarkan pertanyaan, namun David masih santai menikmati segelas teh hangat dan enggan untuk menjawabnya.


"Bagaimana dengan perusahaan, kalau Kamu tinggalkan berlama-lama ?" Kata Asbram memberondong pertanyaan.


David meletakkan gelasnya, dan memutar tubuhnya ke arah lawan bicaranya.


Seperti sebuah tamparan pedas yang mengenai sasaran. Ucapan David berhasil membuat Asbram meletakkan sarapan paginya.


"Vid, Aku hanya perlu waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah pribadiku."


"Kamu bukan menyelesaikan masalah Bram, tapi menambah masalah." Makinya.


"Kecilkan suaramu." Pinta Asbram lirih.


"Entahlah Bram, Aku tidak tahu jalan pikiranmu. Dimana hati nuranimu terhadap wanita. Kamu berdalih menjaga perasaan orang lain, tapi secara tidak langsung, Kamu juga menyakiti hati orang-orang yang mencintaimu." Lirihnya.


"Pagi tadi, hampir semua orang mencarimu. Pak Purnama, Ibu Purnama dan yang terpenting istrimu. Mereka semua khawatir terhadap mu." Lanjutnya, berharap agar Asbram terbuka mata hatinya.


"Ah sudahlah, percuma bicara sama orang yang berhati batu." Kalimat itu mengakhiri perdebatan keduanya.


David meninggalkan Asbram kembali usai membayar sarapannya.


'Aku ingin mengetahui sesuatu tentang gadis itu, tapi Aku tidak tahu harus mulai dari mana.' Keluhnya dalam hati.


Brruukkk...


"Maaf Pak, maaf."


Tak sengaja, David bertubrukan badan dengan seorang bapak-bapak yang usianya sedikit lebih tua dari Pak Purnama.


"Bapak tidak apa-apa ?" Tanya David memastikan.


"Tidak apa-apa Nak, Bapak yang kurang hati-hati." Jawabnya.


"Maaf Pak, Saya juga tidak memperhatikan jalan tadi."


"Sudah, Bapak tidak apa-apa, mari Nak."

__ADS_1


"Silahkan Pak."


"Huufff ..." Keluhnya lega.


'Oh, ternyata Bapak tadi juga mau beli sarapan di warung ini.' Komentar sisi hatinya.


Kaki David kembali melangkah, setelah memastikan bapak-bapak tadi baik-baik saja.


"Lo Nak Bram, disini juga."


Namun, langkahnya kembali terhenti setelah mendengar orang yang dia temui di luar menyapa sahabatnya.


'Siapa orang itu, kedengarannya mereka sangat akrab.' intipnya penuh selidik.


'Lebih baik, Aku duduk dulu di sini. Siapa tahu Aku dapat informasi mengenai gadis pujaan hati Asbram.' Pikirnya mengambil keputusan.


"Bapak, silahkan Pak. Mari sarapan bareng Saya."


Terdengar suara Asbram menyambut sapaan Bapak tadi.


"Oh, sudah Nak, terimakasih. Bapak hanya ingin ngopi saja." Jawabnya.


"Bu kopi hitam satu ya." Teriak Asbram memesan secangkir kopi.


Tidak membutuhkan waktu lama, secangkir kopi sudah tersedia.


"Silahkan Pak, tumben Pak Saleh ngopi di warung." Sapa si Ibu penjual, yang ternyata juga sangat kenal dengan seorang bapak yang dia panggil Pak Soleh ini.


"Lagi pengen saja, biar agak beda suasana." Canda beliau.


"Gak sarapan sekalian Pak ?" Tawar si Ibu penjual.


"Maturnuwun, Saya sudah sarapan sepiring ubi jalar tadi." Kelakarnya kemudian.


Suasana di dalam warung terdengar sangat kekeluargaan. Bahkan, sebagai seorang wisatawan, Asbram sudah begitu akrab dan tidak kelihatan canggung untuk bercanda.


"Sarapan kok ubi jalar ya Mas, mbok ya sekali sekali ngincipin lontong sayur di warung saya. Mumpung ada calon mantu yang traktir."


"Uhuk ... uhukk...huk huk huk..."


Entah apa yang salah dari ucapan ibu pemilik warung, sehingga membuat Pak Saleh tersedak saat baru mulai menyeruput secangkir kopi yang tersaji.


"Eh, Pak, maaf. Pelan-pelan minumnya." Ucap ibu penjualan merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Saya tak langsung saja. Berapa ini kopinya ?" Jawab Beliau terdengar tergesa.


"Lo kok buru-buru, kan kopinya belum habis."


"Tidak apa-apa. Saya lupa, kalau Saya ada janji dengan Pak RT hari ini." Jawabnya kembali tergesa.


"Sudah Pak, biar nanti saya yang bayar." Cegah Asbram saat Pak Saleh mengeluarkan dompetnya.


"Terimakasih Nak, Bapak duluan ya."


"Sama-sama Pak, atau, tunggu Saya sebentar, biar Saya antarkan Pak." Kata Asbram menawarkan.


"Tidak-tidak, terimakasih. Nak Bram santai saja, Bapak bisa sendiri." Tolaknya segera berpamitan.


"Pie to Pak, dikasih tumpangan enak kok gak mau." Omel si Ibu penjual sendiri.


'Ada apa dengan Pak Saleh, kenapa tiba-tiba pergi begitu saja.' Pikir Asbram dalam hati.


"Oh... Ya Allah, kenapa Aku dihantui rasa bersalah seperti ini." Lirih Pak Soleh sembari berjalan keluar dari warung.


'Jadi ini yang namanya Pak Saleh, yang menurut Asbram paman dari Chacha, yang sudah menganggap Chacha seperti anaknya sendiri. Tapi, kenapa eskpresinya berubah dan langsung pergi setelah ibu pemilik warung bercanda soal calon menantu.' Pikir David sedikit curiga.


"Kelihatannya ada yang tidak beres. Aku harus mendapatkan sesuatu." Ucapnya segera berdiri, berusaha mengikuti kemana perginya Pak Saleh.

__ADS_1


Next On ----------------- >


__ADS_2