
Seberkas cahaya mentari pagi, menyisir hangat, menyusup ke dalam pori-pori. Sesekali, tiupan angin menggerakkan anak rambut yang tertata rapi menghiasi wajah cantik Aleesha.
"Sudah semakin panas Nak, mau Bunda bantu masuk ?" Tanya Bunda menawarkan. Sama seperti tadi, saat Bunda menawarkan untuk membantu Dia berjemur di balkon lantai tiga ruang rawat inapnya.
"Tidak Bunda, terimakasih. Sebentar lagi Aleesha masuk Bun." Jawabnya.
Pandangan matanya jauh menerawang. Pendengarannya pun tajam, menikmati bisingnya lalu lalang kendaraan kota di ujung jalan sana.
"Yah, setelah Aleesha pulang nanti, kita harus bicara dengan keluarga Purnama." Bisik Bunda lirih, takut kalau sampai terdengar putri kesayangannya.
Begitupun juga dengan Ayah, yang hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.
"Selamat pagi Bapak, Ibu." Sapa seorang suster, yang sempat mengagetkan Ayah dan Bunda.
"Pagi Sus, maaf sampai tidak melihat kedatangan Suster."
"Tidak apa-apa Ibu, ini hasil pemeriksaan Ibu Aleesha, Alhamdulilah hasilnya semua baik dan hari ini Ibu Aleesha sudah diizinkan pulang." Terang Suster.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak Sus."
"Sama-sama Ibu. Dan ini surat pengantar untuk kontrol minggu depan." Ucapnya sembari menyerahkan satu amplop warna coklat.
"Terimakasih Suster, nanti Saya sampaikan."
"Baik, kalau begitu Saya permisi dulu Ibu. Untuk lain-lain bisa ditanyakan di bagian administrasi."
"Terimakasih Sus, Saya segera ke sana." Kali ini Ayah yang menjawab.
Tiga hari lamanya, Aleesha dirawat
Aleesha segera menuju kamarnya, saat samar-samar mendengar perbincangan Bunda dengan seseorang.
"Icha, Kamu sudah masuk Nak."
"Iya Bunda. Icha mendengar Bunda bicara dengan seseorang."
"Oh, tadi Suster mengantarkan ini." Kata Bunda sembari menunjukkan beberapa lembar kertas di tangannya.
"Ayah kemana Bun ?"
"Ayah sedang ke tempat administrasi. Siapa tahu ada yang belum beres." Jawab Bunda yang masih terus sibuk membereskan perlengkapan Aleesha.
"Biar begitu saja Bunda, biar Widya nanti yang bereskan." Pinta Aleesha
"Tidak apa-apa, kalau cuma begini saja, Bunda juga bisa."
Itulah Bunda, yang tidak pernah bisa melihat kalau ada yang sedikit berantakan.
"Cha."
"Iya Bun."
"Hari ini Kita pulang, apa rencanamu selanjutnya Nak"
__ADS_1
Sejenak Aleesha terdiam, belum ada rencana apa-apa yang akan dia lakukan. Meskipun sebenarnya, sudah banyak jadwal yang tertunda.
"Entahlah Bun. Mungkin, Icha akan segera kembali beraktivitas." Gumamnya.
"Bunda hanya bisa mendoakan dan mendukung, apapun yang menjadi keputusanmu." Komentar Bunda memberikan semangat.
"Sebenarnya, Icha ingin sebentar saja menghindar dari dunia Icha Bun. Icha ingin pulang bersama Ayah dan Bunda." Lirihnya.
"Kamu betul Nak, Kamu memang butuh ketenangan. Tapi, Bunda harap, jangan terlalu larut dalam peristiwa yang lalu. Tetaplah jadi Icha kecil Bunda yang dulu. Yang selalu semangat, pantang menyerah dan selalu tersenyum pantang mengeluarkan air mata."
"Terimakasih Bunda." Peluk dan cium Bunda hadiahkan. Bagi Bunda, Aleesha yang sekarang, tetap seperti Aleesha kecil dulu.
"Assalamu'alaikum." Terdengar ucapan salam, disaat Bunda dan Aleesha sedang bercengkrama.
"Wa'alaikumsalam." Jawabnya serentak.
"Ayah, gimana, sudah selesai administrasinya ?" Tanya Bunda yang tidak sabar ingin segera pulang.
"Alhamdulillah, semuanya sudah beres Bunda. Semua sudah diselesaikan Nak Bram." Tidak ada yang menyadari kedatangan Asbram diantara mereka.
"Terimakasih Bram, Bunda tidak tahu apa yang akan terjadi sama Aleesha, jika Nak Bram tidak datang tepat pada waktunya." Kata Bunda mengingat kembali cerita Widya saat mereka baru bertemu.
"Sama-sama Bun, Saya juga berhutang banyak kepada Aleesha." Jawabnya.
"Syukurlah kalau sadar." Sindir Aleesha lirih.
"Sya." Towel Bunda yang sempat mendengar celoteh putrinya.
"Icha, belakangan saja Yah. Biar Icha tunggu Widya dan Ridwan." Tolaknya.
"Cha." Lagi-lagi Bunda merasa kalau putrinya sedang menghindari pria tampan di antara mereka.
"Tidak apa-apa Bun, ada yang harus Icha selesaikan." Kekehnya.
Asbram hanya diam tanpa berani berkomentar. Hingga akhirnya, mereka putuskan untuk menunggu kedatangan Widya dan Ridwan, yang sudah dalam perjalanan.
"Nah, itu Widya."
"Maaf, kami terlambat. Tadi dijalan sedikit ada kendala."
"Tidak apa-apa. Ayo, bantu Bunda bawa barang-barang Mbak Aleesha."
"Siap Bunda."
Bukan hanya Widya dan Bunda yang semangat atas kepulangan Aleesha, tapi juga Ayah dan Ridwan yang banyak berbincang sembari berjalan menuju area parkir.
"Mas Ridwan." Panggil Aleesha.
"Iya Mbak."
"kita mampir besuk Anton terlebih dahulu, sebelum kembali ke apartemen." Pintanya lirih, seolah takut terdengar yang lain.
Namun, Ridwan Sudah bergerak lebih lincah. Dia laporkan permintaan Aleesha kepada Asbram. Bukan bermaksud apa-apa, tapi Ridwan takut, kejadian serupa akan terulang lagi. Akibat dari kecerobohan Aleesha sendiri.
__ADS_1
"Aleesha, tunggu." Cegah Asbram menarik pelan pergelangan tangan Aleesha.
Terkejut, Aleesha harus menghentikan langkah kakinya. Menoleh ke arah pria yang masih memegang erat pergelangan tangannya. Sesekali dia mendesah pelan, merasakan sakit akibat eratnya genggaman tangan kekar Asbram.
"Oh, maaf." Ucapnya, ketika menyadari sanderanya merasakan kesakitan.
"Ada yang mau disampaikan ?"
"Oh, tidak, itu, Saya."
Ingin rasanya Aleesha tertawa mendengarnya. Entah kenapa, baru kali ini, Aleesha merasa Asbram terlihat lucu saat gugup.
"Tidak ada yang apa-apa kan ? Kalau begitu Saya lanjut, ada yang lebih penting yang harus Saya lakukan. Keburu mereka jauh."
Belum sempat Aleesha berbalik begitu selesai dengan satu kalimatnya, Asbram sudah terlebih dahulu mencegahnya kembali.
"Biar mereka duluan, Aku sudah sampaikan ke Ayah dan yang lainnya untuk ke apartemen terlebih dahulu." Ucapnya.
"Apa maksudnya."
"Aku akan antar Kamu."
"Terimakasih, tapi Aku bisa sendiri." Tolaknya.
"Jangan keras kepala, Aku tahu Kamu akan kemana. Aku akan mengantarmu."
"Memangnya, apa yang Kamu tahu ?"
"Sudah, jalan saja. Kamu ingin melihat kondisi Anton bukan ?"
'Oh my God, dari mana dia tahu. Apa dia mendengar pembicaraanku dengan Ridwan tadi.' Tebaknya dalam hati.
"Kenapa Aleesha, Kamu heran Aku mengetahuinya. Jangan khawatir, Aku izinkan kamu untuk bertemu. Tapi harus Aku yang antar." Kekehnya.
Apa boleh buat, semua diluar dugaan. Terpaksa Aleesha menuruti permintaan Asbram. Lagipula, Ridwan dan yang lain mungkin sudah mulai keluar dari area parkir Rumah Sakit.
"Mau jalan atau mau bengong terus disitu ?" Tanya Asbram berusaha mencairkan suasana.
'Tumben banget ni orang bisa bercanda.' Pikir Aleesha dalam hati.
Asbram yang biasanya dingin, cuek dan masa bodoh, kali ini memperlihatkan sikap dewasa dan perhatian.
Malah Aleesha yang saat ini menunjukkan sikap kekanak-kanakan dan mau menang sendiri.
Tanpa menjawab apapun, Aleesha berjalan menuju area parkir dimana Asbram menyiapkan kendaraannya. Sesekali dia pegang dada sebelah kirinya yang terasa nyeri bekas luka jahit akibat tembusan timah panas.
"Awas, hati-hati." Ucap Asbram, saat dia membukakan pintu mobilnya.
"Terimakasih."
Sedikit demi sedikit, kerak di dalam hati Aleesha mulai terkikis. Membersihkan rasa ja'im dan keras kepala yang mengisi ruang hatinya.
Next On ---------------------- >
__ADS_1