
Keadaan masih kondusif, saat Anton menceritakan panjang lebar perjuangan hidupnya. Memang, Anton menghilang dari peredaran bumi, bahkan rekan-rekan sesama fotografer juga tidak ada yang tahu dimana keberadaannya.
Sesuai cerita yang Dia sampaikan saat ini, setelah dia dipecat dari pekerjaannya, Anton pulang ke kampung halaman dan merawat ibunya yang sakit.
"Kamu tahu, betapa berat perjuanganku saat itu." Lirihnya.
Aleesha masih terdiam, mendengarkan, tanpa berani berkomentar.
"Ibuku hanya tahu, Aku sukses dalam berkarir di dunia fotografi. Fotoku terpampang dimana - mana. Namaku juga tergores disetiap gambar yang ada. Namun apa yang sebenarnya terjadi !" Teriaknya mulai terdengar kasar.
"Kekasih pujaan hatimu menghancurkan impian seorang ibu !"
Bukan hanya teriakan, kali ini dia tambah volumenya dengan sebuah pukulan kepalan tangan di atas meja.
"Tunggu Anton, jika Kamu tidak melakukan kesalahan, itu juga tidak akan terjadi padamu. Lagipula sakit dan kepergian ibumu, semua takdir, tidak ada hubungannya dengan_"
"Diam !" Teriaknya memotong.
"Jangan sebut nama laki-laki itu di hadapanku. Dia, Dia penyebab semuanya. Dia juga yang merampas kebahagiaanku." Ucapnya sedikit melunak.
"Cukup Anton, tidak usah membicarakan hal-hal yang tidak berguna. Sebaiknya kita lanjutkan apa yang menjadi tujuanmu mengundangku hari ini." Pinta Aleesha.
Takut, itulah hal yang Aleesha rasakan saat ini. Dia ingin segera menyelesaikan misinya dan mengakhiri pertemuan ini.
"Ini Anton, di dalam tas ini ada uang yang Kamu minta. Dan Aku harap Kamu juga menepati janjimu." Kata Aleesha sangat berhati-hati.
Namun rasa takut Aleesha semakin menjadi, saat melihat tatapan tajam mata Anton yang memerah marah.
"Kamu pikir semudah itu bertransaksi denganku ?" Jawabnya setengah bertanya.
"Apa maksudmu ? Bukankah kita sudah sepakat ?"
Anton tertawa lepas. Seakan ingin menguasai keadaan.
"Anton, plis...Kamu bisa gunakan uang ini untuk hidup yang lebih baik. Aku yakin Anton punya hati nurani yang baik. Itulah kenapa Aku beranikan diri untuk datang sendiri." Ucap Aleesha, berharap lawan bicaranya melunak dan membuka hati untuk menepati janjinya.
"Apa masih ada waktu dan ruang untukku lebih baik Aleesha ?"
Kali ini lebih lembut dan sepertinya, Anton yang dulu dia kenal telah kembali. Pikir Aleesha.
"Pasti Anton, Aku yakin, Kamu bisa menjadi dirimu sendiri. Menata hati dan niat, untuk hidup lebih baik. Nasehat Aleesha.
"Apa Aku juga bisa mendapatkan kebahagiaan yang Aku inginkan ?" Pertanyaan Anton kali ini membuat Aleesha kembali takut.
Takut untuk menjawab, dan harus lebih berhati-hati dalam merangkai kata.
__ADS_1
"Aku yakin, Allah juga menyiapkan kebahagiaan untukmu Anton. Karena setiap manusia berhak untuk hidup bahagia."
Sebenarnya kalimat itu hanya asal saja keluar dari bibirnya. Karena Aleesha sendiri bingung, apa yang harus dia sampaikan.
"Kamu tahu, kebahagiaan seperti apa yang aku inginkan ?" Tanya Anton dengan tatapan tajam.
Aleesha menggelengkan kepalanya perlahan. Bibirnya keluh tertahan. Tidak ada jawaban yang tepat bisa dia berikan.
"Kebahagiaan yang Aku inginkan, hidup bahagia bersamamu A-lee-sha." Ucapnya mantap mengeja nama Aleesha.
Bagai sebuah tamparan mengena tepat di mukanya. Aleesha yang tadi tenang, kali ini mulai panik dan tidak bisa berbuat lebih.
"Anton, lebih baik_"
"Lebih baik Aku utarakan lagi." Potongnya.
"Aku utarakan kebahagiaan yang Aku inginkan. Yang Kamu bilang, semua manusia berhak bahagia. Dan kebahagiaan yang Aku mau bersamamu." Ucapannya terhenti sejenak. Dia pandang lekat wajah gadis pujaannya.
"Sekali lagi Aku memohon dan merengek kapadamu Aleesha, maukah Kamu menjadi bagian dari hidupku ?" Lanjutnya.
"Kita akan hidup tenang dan damai di sebuah desa, menikmati udara yang lebih bersih, jauh dari hiruk pikuk kota. Aku akn mencukupi semua kebutuhanmu, tanpa Kamu harus bekerja membanting tulang. Pasti kita akan hidup bahagia dengan beberapa anak-anak kita. Maukah Kamu menjalaninya bersamaku ?" Imbuhnya.
"Aku, Aku minta maaf Anton. Bukan Aku menolakmu, tapi memang kita belum berjodoh. Aku_"
"Cukup ! Aku tidak mau lagi dengar alasanmu Aleesha."
"Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan kita sebelumnya ya." Bujuk Aleesha.
"Ini kan, yang kamu inginkan ?" Tunjuknya pada sebuah flashdisk yang dia pegang di tangannya.
Aleesha berdiri mendekat, berharap apa yang dia inginkan berhasil dia dapat hari ini.
"Eits... nanti dulu." Kata Anton sembari menarik mundur tangannya.
"Kenapa Anton ? Berikan padakau dan Aku akan menyerahkan uang ini." Pintanya.
"Disini sepi, lebih baik kita nikmati dulu suasana yang hening ini." Bujuk rayu Anton mengarah ke hal yang tidak baik bagi Aleesha.
"Jangan macam-macam Anton, Kamu sudah janji untuk memberikan flashdisk itu padaku."
"Kenapa Aleesha, Kamu takut ?" Ucapnya sembari berjalan pelan mendekati Aleesha.
"Stop Anton, plis, jangan membuat Aku takut." Rengek Aleesha.
Anton berhenti melangkah, dia duduk kembali, masih pada posisi di sebrang tempat duduk Aleesha.
__ADS_1
"Kamu tahu Aleesha, Aku begitu sayang sama Kamu. Aku tidak bisa melihatmu menitikkan air mata. Aku tidak mungkin berbuat kasar sama Kamu Aleesha." Ucapnya meyakinkan.
"Lalu, apa yang Kamu takutkan dariku ?" Lanjutnya.
"Aku tahu Kamu orang baik. Kalau Kamu sayang dan tidak bis melihatku menangis, maka izinkan Aku pergi dari sini." Rengek Aleesha memohon.
"Tanpa meninggalkan kenangan manis untukku ?"
Aleesha menggelengkan kepala. Air matanya tak henti mengalir di pipinya.
"Jangan takut Aleesha, Aku akan bersikap lembut padamu. Bahkan lebih lembut dari yang Asbram lakukan padamu." Bujuknya.
"Anton, Aku masih bersabar untuk bersikap baik kepadamu. Jadi tolong, bersikaplah yang wajar." Pintanya.
"Aku hanya ingin ada kenangan manis tentang Kamu Aleesha. Tinggal satu itulah impian dalam hidupku. Aku tidak peduli semua impian hidupku yang hilang. Menurutlah, jangan paksa Aku untuk berbuat kasar." Kata Anton seolah mengiba.
Kehilangan, itulah yang membuat Anton merasa putus asa. Tapi tidak seharusnya dia berada di jalan yang salah.
'Bagaimana caranya agar mata hati Anton terbuka kembali.' Pikir Aleesha dalam hati.
"Anton, plis, jangan seperti ini. Kamu tahu siapa Aku, seperti apa Aku dulu, Kamu tahu semuanya." Kata Aleesha mencoba mengingatkan, kalau dulu mereka pernah berbagi cerita.
"Aku yakin, Kamu punya hati nurani yang baik. Kembalilah Anton, mulailah membuka lembaran baru, gunakan sisa hidupmu untuk hal yang lebih baik. Aku yakin Kamu bisa, kita bisa bekerjasama kembali, merintis masa depan yang lebih baik lagi."
Kalimat yang Aleesha sampaikan seolah menyentuh hatinya. Anton terduduk bersimpuh di lantai. Merenungi apa yang seharusnya tidak terjadi padanya saat ini.
Tapi semuanya sudah terlambat. Kebahagiaan yang dia miliki sudah berakhir. Bahagia yang tersisa hanyalah bisa hidup berdampingan dengan Aleesha.
"Apa Kamu mau membimbingku untuk hidup lebih baik lagi Aleesha ?" Pintanya.
"Tentu Anton, kita bisa bekerjasama, Aku juga bisa mengenalkanmu dengan teman-teman ku di luar sana. Masih banyak di luar sana yang membutuhkan keterampilan mu Anton."
"Membimbingku dan mendampingiku kemana langkah kakiku berpijak ?"
Aleesha terdiam, menela'ah kembali pertanyaan yang Anton utarakan.
Entah kalimat mana yang keluar dari bibir Aleesha yang membuat Anton salah paham kembali.
"Anton, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, asalkan engkau sanggup untuk berubah dan bekerja lebih keras lagi." Jawab Aleesha seolah ingin membuka mata batin Anton untuk melihat betapa indahnya dunia jika kita bisa bersahabat dengan keadaan yang ada.
"Aku hanya butuh satu jaminan hidup darimu Aleesha. Jaminan untuk bisa hidup berdampingan bersamamu, selamanya." Gumamnya lirih.
"Cinta tidak bisa dipaksakan Anton, tapi cinta bisa berubah seiring dengan waktu. Mungkin sekarang kita tidak bisa mengiyakan satu sama lain. Tapi tidak tahu nanti. Jadi_"
"Jadi tidak ada jaminan untuk ku bis lebih baik dan mendapatkan cintamu." Kembali lagi Anton memotong Ucapannya.
__ADS_1
Ketegangan kembali terulang, raut wajah Anton memerah, seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
Next On --------------->