
"Non, ini_"
"Ssssattttt ... Bibik, sini." Buru-buru Nadira mencegah suara bising Bibik di depan kamar Abang nya.
Tolah toleh, itulah yang Bibik kerjakan, setelah si teh jahe hangat tidak sampai kepada tuannya.
"Ssssattttt..." Hal yang sama dengan Nadira Bibi lakukan.
"Ayo Bik." Ajak Nadira sembari menyambar secangkir teh jahe yang masih mengepulkan asapnya.
"Kemana Non ?" Tanya Bibik masih linglung.
"Cari tempat aman." Jawab Nadira asal.
"Hah...memangnya kenapa Non ?" Cemasnya memelototkan mata.
"Sebentar lagi ada gempa lokal." Celoteh Nadira bikin Bibik tertawa.
"Ih, Non Dira ada-ada saja." Komentar Bibik sembari berlalu, mengikuti Nadira menjauh dari pusat gempa lokal.
***
Dingin, ngilu sekujur tubuh sejuk merasuk. Rasa yang sama Aleesha rasakan, saat ini Asbram rasakan juga. Bukan tanpa sebab, tetesan air dari langit membasahi sekujur tubuhnya.
Entah apa yang terjadi. Pangeran tampan telah kembali. Tubuh kekarnya basah kuyup, meninggalkan jejak kotor di lantai rumahnya.
Kemana perginya Jeep Wrangler Rubicon Granite Crystal Metallic yang biasa Dia pakai. Kenapa Dia rela kulit mulusnya tersentuh air hujan. Bahkan membiarkan rambut legamnya yang biasa tertata rapi, berantakan diterpa sejuknya angin malam.
Dengan langkah gontai, Asbram berjalan menuju ruang ganti yang berada satu ruang dengan kamar mandinya.
Brrraaaakkkk !
Terdengar dentum pintu geser yang terbuka paksa.
"Hhuuuuhhhh..." Keluhnya menggeliatkan tubuh lelahnya. Dia lempar jaket jeans entah milik siapa, yang sudah tak jelas lagi warnanya.
Satu persatu Dia lepas semua yang melekat pada tubuhnya. Bukan untuk pergi mandi, tapi sekedar untuk berganti pakaian dan mengeringkan rambut basahnya.
Ditariknya selembar handuk untuk menyelimuti bagian bawah tubuhnya. Matanya tajam menerawang. Memperhatikan dengan seksama setiap inci tubuhnya yang terpampang pada sebuah cermin lebar di depannya.
Gambaran hidup bahagia dengan pujaan hatinya, gini sudah mulai pudar dan sirna. Terpampang jelas di matanya, saat sebuah kebohongan perlahan mulai jelas terungkap.
*Flashback On
"Kamu mau kemana Nduk ?" Tanya Pak Sholeh yang melihat putrinya sudah rapi dan wangi.
"Bapak mau tahu saja urusan anak muda." Jawabnya acuh.
"Nisa, Bapak hanya ingin mengingatkan. Hentikan sandiwaramu Nduk. Sebelum semuanya terlalu jauh." Kata Pak Sholeh mengingatkan.
"Bapak ini bicara apa ? Apa Bapak tidak senang, kalau Aku hidup enak, berkecukupan, jadi nyonya di rumah mewah dan bahagia dengan orang yang Aku cintai ?" Bantahnya.
"Bahagia Nduk, pasti Bapak bahagia. Tapi Bapak akan sangat bahagia, jika Kamu bisa menemukan jodohmu sendiri. Bukan merebut suami dari sepupumu sendiri." Komentar Pak Sholeh.
__ADS_1
"Pak, sejak kecil Chacha hidup berkecukupan dan apa yang Dia inginkan semuanya tercapai. Apa tidak boleh jika Dia harus sedikit berbagi kebahagiaan denganku." Kekehnya.
"Tapi tidak begini caranya Nduk. Bapak hanya tidak mau Kamu menyesal di kemudian hari."
"Kenapa harus menyesal Pak. Sebentar lagi Nisa akan jadi seorang Nyonya Asbram Purnama. Bapak seharusnya bangga dengan Nisa." Masih dengan gaya percaya dirinya.
"Bapak akan lebih bangga, jika Kamu mau mengakui kesalahanmu dan mengatakan yang sejujurnya kepada Nak Bram, bahwa Chacha yang selama ini Dia cari, adalah Aleesha, istrinya sendiri. Bukan Kamu Anisa." Untuk kesekian kalinya Pak Sholeh mengingatkan.
"Diam ! Cukup Pak, jangan sampai omongan Bapak ini didengar sama Mas Bram. Aku tidak mau mendengar Bapak bicara seperti itu lagi." Teriaknya semakin emosi.
"Tapi sayangnya, Aku sudah mendengar semuanya, Anisa." Kata Asbram yang entah sejak kapan Dia berada diantara bapak dan anak yang sedang berdebat itu.
Bahkan, Asbram mendengar semua pernyataan yang Pak Sholeh sampaikan. Tidak sampai disitu, Asbram juga mendengar pengakuan Anisa tentang kebohongan yang Dia ciptakan sendiri.
"Mas Bram." Lirihnya cemas.
"Nak Bram, sejak kapan Nak Bram di sini ?" Tanya Pak Sholeh yang juga ikut khawatir dengan kondisi mereka saat ini.
"Sejak Bapak mengungkapkan identitas asli Anisa dan diiyakan oleh putri Bapak ini." Jawab Asbram tenang.
"Maafkan Bapak Nak, Bapak tidak bermaksud berbohong, tapi Bapak_"
"Bapak !" Potong Anisa sedikit ketakutan.
"Kenapa Nduk ? Sudah waktunya semua terungkap."
"Hentikan Pak !" Teriak anisa mulai tak karuan.
"Tidak Pak, tidak apa-apa. Bapak tidak salah. Keadaan yang membuat kita harus bisa lebih melihat dari hati."
"Sekali lagi, Bapak minta maaf. Malu rasanya Bapak bertemu dengan Nak Bram. Apalagi Aleesha, Chacha kecil Bapak yang sangat patuh dan rajin." Gumam Beliau sendiri.
"Terimakasih, atas semuanya Pak. Saya pamit dulu. Saya tidak mau kehilangan Chacha yang selama ini Saya cari." Pamitnya tiba-tiba.
"Kamu dimana Vid ?"
"Saya masih bersama Ibu Aleesha di tempat Mbak Widya Pak."
Awal mula Asbram menghubungi David, untuk memastikan dimana keberadaan assisten pribadinya.
"Jam berapa acaranya selesai ?" Tanya Asbram kembali.
"Belum tahu Pak, mungkin akan selesai pukul sembilan lebih."
"Kalau begitu, jemput Saya sekarang."
"Tapi Pak_"
"Sudah jangan banyak tanya, Saya tunggu sekarang."
"Baik Pak."
Tanpa bisa menolak lagi, David segera pamit dari pesta pernikahan Widya untuk menjalankan perintah bosnya. Namun semua bukan tanpa kepedulian dan tega meninggalkan Aleesha. Asbram sudah mempunyai rencana lain, hingga harus mengambil waktu tugas David bersama istrinya.
__ADS_1
Untuk sekian lama Asbram menunggu kedatangan David.
"Sampai mana Vid ?"
"Maaf Pak, Saya terjebak macet yang cukup panjang. Dan mungkin membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa keluar dari sini, karena ada pohon yang tumbang." Kata David menjelaskan.
Memang cuaca saat itu sedang hujan lebat. Hingga akhirnya Asbram memutuskan untuk kembali ke rumah dengan motor cross nya.
"Mas Bram ! Maafkan Aku Mas, Aku terpaksa melakukan ini karena Aku benar-benar cinta sama Mas." Teriak Anisa, putri semata wayang Pak Sholeh yang mengaku dirinya Chacha.
"Maaf, cinta bukan berawal dari sebuah kebohongan." Jawab Asbram yang tetap fokus dengan helm yang dia kenakan, tanpa menoleh ke arah sumber suara sedikitpun.
"Mas, dengarkan Aku dulu. Aku bisa menjelaskan semuanya !" Teriaknya kekeh.
"Semua sudah cukup jelas Anisa." Ucapnya segera berlalu dari tempat dimana Dia menaruh harapan untuk hatinya.
Anisa menangis terduduk diantara lumpur dan air hujan yang membasahi tubuhnya.
"Sudahlah Nduk, Nak Bram bukan ditakdirkan untukmu. Ayo Kita pulang Nduk." Bujuk Bu Sholeh kepada Anisa.
"Ndak Buk, Aku harus tetap mendapatkan cintanya Mas Bram. Namun jika Aku tidak bisa mendapatkan, tidak juga untuk siapapun." Ucapnya diliputi rasa sakit hati.
"Anisa ! Tidak pantas Kamu bicara seperti itu. Aleesha anak yang baik, Dia pantas untuk bahagia." Bentak Pak Sholeh marah.
"Terus Pak, terus saja Bapak puji-puji Dia. Bapak memang tidak pernah sayang sama Nisa." Protesnya.
"Sadarlah Nduk, Nak Bram itu suami dari saudara sepupumu sendiri. Dia suami Aleesha, putri angkat dari saudara perempuan Bapakmu sendiri. Kamu tidak pantas melakukan itu kepada saudaramu sendiri Nduk." Kata Pak Sholeh ikut mengingatkan.
"Aaa....!" Teriak Anisa tidak karuan.
"Uwes Pak, biarkan saja Dia sendiri, biar Dia menenangkan dirinya sendiri." Kata Bu Sholeh melerai.
"Aku hanya mengingatkan Buk. Aku tidak mua Nisa terjerumus lebih jauh. Dosa Buk, dosa jika Kita sebagai orang tua tidak bisa mengingatkan." Kekeh Pak Sholeh dengan kebenarannya.
"Semua gara-gara Bapak. Coba kalau Bapak tidak ikut campur urusanku, semua ini pasti tidak akan terjadi." Teriaknya marah dan berlalu begitu saja.
"Anisa !" Panggil Pak Sholeh memintanya kembali.
"Sudah Pak, uwes, biarkan Dia sendiri dulu Pak." Pinta Bu Sholeh.
"Maaf Buk, Bapak tidak bisa mendidik anak kita dengan baik." Keluhnya.
"Ini bukan salah Bapak. Ibu yang salah. Ibu terlalu memanjakan Dia Pak." Ucap Bu Sholeh berebut salah.
"Bapak bersyukur, semua terungkap sebelum hal lebih besar terjadi."
"Iya Pak. Semoga Anisa cepat menyadari kesalahannya dan kembali seperti Anisa yang dulu."
"Iya Buk."
*Flashback Off
Next On ---------------------------->
__ADS_1