Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 46. Tangan Kecil Nadira


__ADS_3

"Mbak Aleesha !"


Terdongak kaget saat seseorang memanggil namanya.


'Sepertinya, Aku mengenali pemilik suara itu. Andira, ya, itu suara Andira. Tapi, tidak mungkin, bagaimana mungkin Dia ada di daerah ini.' Kata Hati Aleesha bertanya-tanya.


"Mbak Aleesha !" Panggilnya lagi.


Aleesha mengernyitkan kedua matanya, sekedar memastikan, Dia mengenali pemilik suara yang memanggil namanya.


Pencahayaan yang kurang, ditambah lagi dengan derai air hujan yang mulai lebat, mengurangi pandangan dan pendengaran Aleesha.


"Mbak menunggu siapa ?" Suara itu semakin dekat di telinga nya.


"Andira ?" Tanya Aleesha kembali memastikan.


"Iya Mbak, ini Dira." Jawabnya sembari menepuk dadanya sendiri.


"Kamu ngapain di tempat ini Dir ?" Tanya Aleesha heran, bagaimana bisa Adik iparnya berada jauh dari kota Dia tinggal.


"Aku ? Harusnya Aku yang bertanya sama Mbak. Mbak Aleesha ngapain di sini ? Abang mana ?" Tanya Nadira lebih heran melihat kakak iparnya duduk sendiri di sebuah halte Bus yang sangat sepi.


'Aku harus jawab apa ? Selama ini, keluarga besar Kami hanya tahu kalau Kami baik-baik saja. Atau, mungkin ini sudah saatnya mereka tahu yang sebenarnya.' Keluh sisi hati Aleesha.


'Ya Aleesha, ceritakan kepada Nadira. Dengan begitu, tidak ada lagi beban yang Kamu tanggung sendiri. Biarkan semua itu mengalir apa adanya. Jangan bikin hatimu tersakiti sendiri.' Usul sisi hati Aleesha yang lain.


'Jangan Aleesha, itu tidak benar. Jangan sampai dengan Kamu bercerita kepada Nadira. Karena tidak mungkin Nadira tidak mencerminkan hal itu kepada kedua orangtuanya. Ingat Sha, kedua orang tua kalian masih ada di tanah suci. Jangan kotori ibadahnya dengan memikirkan masalah kalian di sini.' Komentar positif sisi hatinya yang lain.


'Ya, Kalian benar. Aku harus tetap diam dan menjaga rahasia ini sendiri. Meskipun sebenarnya, Aku sudah sangat lelah. Tapi Aku yakin, Allah akan menunjukkan kepadaku, jalan yang lebih baik.' pupusnya kembali.


"Mbak Aleesha, kenapa diam. Abang dimana ? Kenapa Mbak sendiri disini ? Apa Mbak bertengkar dengan Abang ?" Tanya Nadira memberondong.


"E... tidak, tidak. Abang, Abang sedang ada pekerjaan di luar kota." Jawabnya berbohong. Itulah Aleesha, yang selalu menutupi kekurangan dan masalah rumah tangganya kepada siapapun, terutama keluarganya.


'Maafkan Mbak Dir, Mbak terpaksa harus berbohong. Sebenarnya Mbak capek, harus berbohong terus seperti ini. Tapi apalah daya, Mbak cuma manusia biasa, yang hanya mampu menjalankan skenario dari Tuhan.'


"Terus, ngapain Mbak disini ?" Tanyanya kembali, masih tidak percaya. Aleesha terlihat sedikit bengong, antara sadar dan tidak, otaknya berputar mencari segudang alasan.


"Tadi, Mbak baru selesai di acara pernikahan asisten Mbak. Terus, Mbak mau pulang. Tapi taxi online yang Mbak pesan, dari tadi belum ada yang nyambung dan keburu hujan. Jadi, Mbak berteduh disini." Terangnya dengan tenang dan kali ini Dia bicara jujur.


"Kok bisa ? Mbak Aleesha, Bang Asbram bukan orang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan sekali hentak, semua orang nurut kepadanya. Kenapa Mbak Aleesha tidak bilang ke Abang, kalau Mbak perlu jemputan."


Ada rasa jengkel pada nada bicara Nadira.


"Gakpapa Dira, Abang sedang sibuk. Mbak gak mau ganggu." Polosnya.


"Mbak Aleesha." Geregetan rasanya.


Aleesha tersenyum tipis. Dalam remang-remang sinar lampu di halte terlihat pancaran mata Aleesha yang sayu.

__ADS_1


"Udah ah, ayo pulang." Ajak Nadira jengkel.


Ditariknya pergelangan tangan Kakak iparnya. Lembab dirasakan pada lengan baju Aleesha yang tersentuh telapak tangan Nadira.


"Kamu dari mana Dir ?" Kembali Aleesha bertanya saat mereka sudah berada di dalam satu mobil.


"Tadi Dira sama teman-teman rencananya mau ke desa tempat kita KKN. Tapi_" jawabannya terhenti.


Kaki dan tangannya sibuk mengendalikan kuda besi yang melaju cukup kencang.


"Tapi kenapa ?" Tanya Aleesha ingin tahu.


"Tapi gak jadi." Jawab Nadira enggan bicara.


Aleesha tidak melanjutkan pertanyaannya, saat melihat bibir manyun adik iparnya. Pandangan matanya ikut fokus ke depan. Menikmati derai air hujan yang tertawa riang bertebaran di jalan.


Entah kenapa, perjalanan pulang kali ini terasa cukup lama. Tubuh Aleesha perlahan mulai menggigil. Bukan hanya dingin yang Dia rasakan, tapi ngilu pada persendian semakin lengkap menyiksa tubuhnya.


"Mbak, Mbak sakit ?" Tanya Nadira sembari menyentuh lembut jemari Aleesha yang terasa sangat dingin. Bertolak belakang dengan leher dan keningnya yang terasa panas membakar.


Aleesha seakan tak berdaya. Hanya gelengan kepala sebagai pengganti jawabannya.


"Enggak bagaimana, badan Mbak panas lo, tapi telapak tangan Mbak dingin sekali." Komentarnya.


"Gakpapa, Mbak sudah biasa seperti ini." Jawabnya santai.


"Sabar ya Mbak, sebentar lagi Kita sampai rumah." Ucapnya sembari menambah frekuensi laju kendaraannya.


'Tapi aneh juga sih, kalau gak terjadi apa-apa antara mereka berdua, mana mungkin Mbak Aleesha gengsi menghubungi suaminya.' Komentar sisi hatinya yang lain.


Perlahan tapi pasti, kuda besi mulai memasuki area perumahan elit, tempat dimana Asbram dibesarkan.


"Kita sudah sampai Mbak." Kata Nadira perlahan. Takut kalau sentuhan tangannya akan membangunkan tergesa.


Tidak, Dia tidak sedang tidur, tapi hanya memejamkan mata. Berharap jika suatu saat nanti Dia membuka mata, rasa sakit di tubuhnya akan hilang. Semua ngilu yang terasa akan pergi entah kemana.


"Mbak, Kita sudah sampai." Kata Nadira lagi.


"Dimana ini Dir ?" Perlahan Dia buka kedua matanya.


"Di rumah." Jawab Nadira.


'Nadira membawaku pulang ke rumah Mama.' Kata hatinya.


"Ayo lekas turun, bersihkan tubuh Mbak Aleesha. Mandi air hangat, minum vitamin. Aku akan bilang bibik untuk menyiapkan minuman hangat untuk Mbak." Pinta Nadira penuh perhatian.


"Makasih ya Dir." Jawabnya lemah lunglai.


"Loh Non Dira, Non Aleesha, kenapa basah begini ?" Tanya Bibi khawatir.

__ADS_1


"Mbak Aleesha kehujanan Bik, minta tolong siapkan minuman hangat biar tubuh Mbak terasa hangat." Pinta Nadira lagi.


"Iya Non, ayo Non, bibik bantu ke dalam." Ucapnya memberi bantuan.


"Gakpapa Bik, Saya bisa sendiri kok." Tolak Aleesha yang tidak mau merepotkan.


"Eh eh Non, Non mau kemana ?" Tanya Bibik sembari menarik pergelangan tangan Aleesha, saat langkah kakinya berjalan menuju kamar tamu.


"Saya mau mandi dan istirahat Bik." Jawabnya.


"Itu kan kamar tanu Non. Kamar Den Bram ada di sana. Banyak baju ganti yang bisa Non pakai buat ganti." Usul Bibi yang memang benar.


'Iya juga sih, Aku kan gak bawa baju ganti. Lagipula gakpapa, Mas Bram kan sedang tidak ada di rumah juga.' Pikirnya dalam hati.


"Makasih ya Bik." Ucapnya sambil berlalu meninggalkan Bibi yang masih berdiri diam mematung.


"Kenapa Bik ?" Tanya Nadira yang sejak tadi juga masih ada di tepi tangga, memperhatikan gerakan Kakak iparnya yang tidak seperti biasanya.


"Gakpapa Non, cuma kasihan sama Non Aleesha. Pasti capek, apalagi dalam keadaan tidak enak badan juga." Komentar Bibi.


"Iya Bik, biarkan Mbak Aleesha istirahat. Jangan dibangunkan awal besok pagi." Pinta Nadira.


"Iya Non, Bibik tinggal bikin teh jahe dulu Non."


"Iya Bik."


'Dimana Kamu Bang, awas nanti kalau Abang pulang.' Gumamnya geram dalam hati.


Brrraaaakkkk !


Terdengar sebuah helm terjatuh dari tempatnya.


'Siapa malam - malam begini.' Tanya Nadira sembari berjalan menuju pintu depan.


"Abang, Abang darimana ?"


"Abang lelah, Abang ingin istirahat." Jawabnya berlalu begitu saja.


"Eh, Abang_" Teriaknya terhenti.


Nadira membungkam mulutnya sendiri, saat melihat Abangnya melangkah lebar menuju kamarnya.


Sudah lama kamar itu tak berpenghuni. Dan sekarang, sepasang sejoli ada di dalamnya.


Nadira senyum-senyum sendiri. Bahagia melihat Abangnya terjebak dalam sebuah sangkar cinta.


"Non, ini_"


"Ssssattttt ... Bibik, sini." Buru-buru Nadira mencegah suara bising Bibik di depan kamar Abang nya.

__ADS_1


Tolah toleh, itulah yang Bibik kerjakan, setelah si teh jahe hangat tidak sampai pada tuannya.


Next On ---------------------------->


__ADS_2