
"Aleesha, Kamu dimana Sayang." Gumamnya lirih, bahkan mungkin hanya telinganya sendiri yang mendengar.
"Maafkan Aku Aleesha, mataku benar-benar tertutup nostalgia masa lalu. Hingga Aku tidak menyadari keberadaan mu." Lanjutnya lebih lirih.
Penyesalan memang selalu datang belakangan. Namun, sebuah usaha yang sungguh - sungguh, akan menghapus penyesalan menjadi kebahagiaan. Itulah harapan setiap insan, begitupun dengan Asbram. Meskipun hampir pupus harapannya untuk bisa mendapatkan kembali cinta Aleesha.
Sejenak matanya terpejam, Dia tundukkan kepala di hadapan cermin lebar yang terpampang seolah menguliti seluruh tubuhnya yang penuh dosa.
Dosa, karena telah tega membiarkan istrinya hidup dalam ketidakpastian.
"Maafkan Aku Aleesha, maafkan Aku." Kalimat itu yang berulang kali keluar dari bibirnya.
Drrttt ... drrttt ...
Getar dan nyala pada layar handphone nya menyadarkan Dia dari lamunan.
"Apa yang Kamu dapatkan ?" Tanya Asbram tanpa semangat.
"Kami belum bisa menemukan keberadaan Ibu Aleesha Pak." Jawab David yang sudah mendapatkan tugas baru, mencari dimana Aleesha tinggal.
"Dimana Dia Vid ? Aku sudah pulang ke rumah, tapi Dia tidak ada. Bahkan di apartemen pribadi nya juga tidak ada. Sekarang Aku di rumah Mama, tapi seperti biasa, hanya ada Nadira dan Bibik yang kutemui." Keluh Asbram yang sudah berusaha mencari Aleesha.
"Apa perlu Kami coba tanyakan ke beberapa relasi kerja Ibu Aleesha Pak ?" Tanya David meminta pertimbangan.
"Tidak, jangan Vid. Aku tidak mau ada asumsi negatif di kalangan mereka." Cegah Asbram.
"Lalu, bagaimana Kami bisa tahu dimana keberadaan Ibu Aleesha. Bahkan Dia tidak ada, di tempat terakhir Saya tinggalkan. Dan menurut keterangan dari Mbak Widya, mengatakan kalau Ibu Aleesha sudah kembali ke rumah sejak pukul sepuluh tadi malam, bahkan mereka taunya, kalau Saya yang menjemput Ibu Aleesha." Kata David memberi informasi detail.
Pupus sudah harapan Asbram untuk bisa memperbaiki diri dan meminta maaf kepada istrinya.
"Kalian pulang saja. Besok Kita lanjutkan pencarian." Perintah Asbram yang masih berharap esok ada titik terang dimana keberadaan Aleesha.
"Semua ini salahku, Aku memang pantas Kamu hukum seperti ini Aleesha." Keluhnya. Baru kali ini Dia rasakan sakit yang teramat sangat di hati.
Brrraaaakkkk !
Sebuah kepalan tangan tepat mengenai sasaran. Cermin retak, darah mengalir dari sela-sela jemari Asbram. Namun perihnya tidak lagi Dia rasakan.
Sementara itu, Aleesha yang tertidur sejak menenggelamkan tubuhnya ke dalam bathtub yang berisi air hangat, terperanjat kaget mendengar gebrak retakan dan pecahan kaca di lantai.
Tanpa pikir panjang lagi, Dia berlari, menarik handuk putih yang sudah bertengger dan sejak awal Dia gunakan untuk menutupi tubuhnya.
Srreeeekkkk !
Pintu sliding kamar mandi terbuka, bukan hanya Aleesha yang terkejut ketika menemukan sumber suara. Begitu juga dengan Asbram yang seketika berbalik, melihat siapa yang berdiri di ambang pintu kamar mandinya.
"Aleesha..." Gumamnya lirih.
Mata mereka saling beradu pandang. Perlahan, Asbram mulai mendekat, memastikan kalau Dia tidak sedang bermimpi.
"Kau kah itu Aleesha ?" Tanya Asbram, masih belum percaya dengan penglihatannya sendiri.
__ADS_1
Namun entah dorongan dari mana, Aleesha menghindar, satu langkah ke belakang, saat Asbram mencoba menyibak anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Aku mencarimu kemana - mana Aleesha." Bisiknya lirih.
Masih diliputi rasa takut, Aleesha menggeser tubuhnya, mencoba untuk menjauh dari pria yang telah melukai hatinya.
"Maafkan Aku Cha." Untuk kesekian kalinya, tidak ada komentar dari setiap pernyataan yang Asbram berikan. Hanya gelengan kepala yang mewakili penolakannya.
"Aleesha, dengarkan Aku."
Kali ini, tubuh kekar Asbram yang bertindak, saat Aleesha mencoba lari dan pergi dari tempat itu.
Tiba-tiba keadaan begitu berubah. Aleesha tak mampu berbuat apa-apa. Tubuhnya terkunci rapat, terhimpit diantara tembok dan dada bidang suaminya.
"Maafkan Aku Cha, seharusnya Aku mengenalimu sejak awal." Rintihnya.
"Aku janji, Aku tidak akan pernah membuat mu terluka lagi." Lanjutnya.
'Ya Allah...apa Dia benar-benar telah kembali. Begitu cepat Engkau dengarkan dan kabulkan doa-doa ku.' Kata hati Aleesha. Tak terasa, air mata Aleesha jatuh membasahi pipi.
Bukan hanya kening mereka yang saling beradu, tapi Asbram mulai menyentuh pipi Aleesha, menyeka bulir - bulir air mata yang ikut serta beradu akting di dalamnya.
Aleesha mulai terlena, terbawa suasana. Bibirnya keluh tak dapat berkata apa-apa. Matanya terpejam, kepalanya tertunduk, baru kali ini Dia rasakan hangatnya hembusan nafas Asbram. Sentuhan lembut tangannya, membuat Dia lupa, rasa sakit yang selama ini mendera.
Bahkan Dia lupa, dengan rasa ikhlas untuk melepaskan, rasa ikhlas untuk kembali hidup sendiri.
"Jangan tinggalkan Aku Cha." Bisik Asbram untuk kesekian kalinya.
"Achh." Reflek Aleesha memalingkan wajahnya.
Entah dari mana datangnya kekuatan untuk menolaknya, saat Asbram mulai lengah menikmati sensasi indah di bibirnya dan mencoba menarik selembar handuk yang menutupi tubuh Aleesha.
Tiba-tiba gambaran beberapa waktu yang lalu terlintas di benak Aleesha.
'Apa seperti ini Dia memperlakukan setiap wanita yang Dia dekati ?' Kata hati Aleesha.
Gambaran keindahan yang sempat terlintas, gini berganti kebencian yang mendalam.
"Cha, tunggu Cha." Panggilnya saat Aleesha mulai melangkah meninggalkannya.
'Cha, kenapa Dia memanggil dengan nama itu.' Pikir Aleesha dalam hati.
"Tunggu Cha, kenapa Kamu menghindar ?"
Sampai detik ini, belum ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Aleesha.
"Aleesha !" Teriak Asbram sembari menarik paksa pundak istrinya.
Plakkkk !
Sebuah tamparan mendarat di pipi Asbram.
__ADS_1
"Aku bukan perempuan murahan, yang disaat Kamu kehilangan tempat untuk memuaskan hasratmu, bisa Kamu tuju sewaktu - waktu." Ketusnya sembari berlalu.
"Tunggu Aleesha, Kamu salah paham." Cegah Asbram, kembali diraihnya pergelangan tangan Aleesha. Namun, upaya Aleesha untuk menghindar kembali, selalu berhasil.
"Aachh, hhhhsss..." Desahnya merintih kesakitan, saat cairan merah kembali mengalir di sela-sela jemarinya.
"Oh, maaf. Tangan Anda terluka ?" Tanya Aleesha merasa bersalah, membuat lawan bicaranya kesakitan.
"Tidak apa-apa, hanya luka kecil."
"Tapi ini, darahnya harus segera dihentikan."
Dengan dalih kemanusiaan, Dia raih tangan Asbram yang terluka.
Ada luka sobek pada punggung tangan kanannya. Diraihnya kotak P3K yang tersedia di kamarnya. Asbram mengikuti dan duduk di sofa, begitupun dengan Aleesha yang cekatan membersihkan dan mengobati luka pada tangan suaminya.
"Hsssshhh..."
"Maaf, mungkin sedikit perih." Kata Aleesha, tanpa melihat sebentar saja ke arah pasien yang diobatinya.
"Luka ini tidak seberapa terasa sakit, dibandingkan dengan luka dalam yang Aku goreskan di hatimu." Lirihnya.
Sejenak Aleesha menghentikan aktivitas nya. Dia kumpulkan kekuatan agar mampu memandang wajah suaminya.
"Kenapa Cha ?" Tanya Asbram.
Tatapan mata yang penuh makna pada wajah Aleesha, membuat Asbram tidak bisa lepas dari pandangan.
"Saya tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi, tapi maaf, sebaiknya Saya pindah ke kamar tamu."
Mendengar hal itu, ditariknya tubuh Aleesha lebih mendekat. Seolah takut kehilangan untuk yang kesekian kalinya.
"Aakhhhh ..."
Tubuh mungil Aleesha jatuh terjerembab di pangkuan suaminya. Dan semakin berusaha Dia menghindar, semakin kuat tangan Asbram mengunci tubuhnya.
"Lepaskan Mas." Pintanya.
Dia coba mendorong dada Asbram dengan kekuatan sebelah tangannya.
Tapi_ "Aakkkkhhh !"
Lampu tiba-tiba padam, diikuti gelegar suara alam yang masih intens meneteskan air dari langit. Usaha Aleesha sia-sia. Berharap bisa menjauh, namun nyatanya semakin lebih dekat. Pobia gelap dan takut akan suara petir, membantu Asbram melancarkan aksinya.
Dia kunci leher Aleesha, Dia nikmati keindahan di bibir ranum istrinya.
'Apa yang Aku lakukan, kenapa Aku pasrah begitu saja dengan keadaan.' Komentar sisi hatinya.
Detak jantungnya berdegup kencang. Aliran darahnya, tiba-tiba memanas, mengucur deras tak terkendali. Digigitnya dagu Aleesha. Dipikir akan ada perlawanan, tapi ternyata, Aleesha semakin pasrah, mengikuti permainan Asbram.
Tubuh mereka yang sama-sama hanya tertutup selembar handuk, memudahkan Asbram untuk melanjutkan misinya. Dan malam itu, menjadi malam pertama untuk keduanya menikmati malam pengantin yang tertunda.
__ADS_1
Next On --------------->