
Matahari mulai terbangun dari redupnya cahaya. Menghangatkan tubuh dari hawa dingin, dan membakar semangat baru di hati setiap insan penghuni alam semesta. Samar-samar terdengar aktivitas anak manusia, menjajakan berbagai olahan khas kota asalnya.
Aleesha, yang terbiasa dengan sarapan pagi, harus rela tetap berdiam diri pada zona nyaman yang belum tentu akan terulang lagi suatu hari nanti.
Tidak peduli dengan apa yang telah terjadi.
Tidak peduli dengan kisah lalu yang menyakitkan hati.
Yang Dia harapkan hanya ketenangan dan kenyamanan dalam sebuah hubungan.
Harapan itu Dia gantungkan pada sosok tampan yang ada di hadapannya saat ini.
Sesosok anak Adam yang tercipta untuk dirinya.
'Untukku ? Benarkah Dia tercipta untukku ?' Sangkal hati kecilnya.
Perlahan, ujung jari telunjuknya memberanikan diri menyentuh ukiran indah yang pencipta goreskan di wajahnya.
Dia sibak anak rambut yang menutupi sebagian keningnya. Mulai dari kening turun ke hidung mancung suaminya. Seolah meneliti, adakah yang kurang di wajahnya.
Dia rasakan hembusan nafas pelan beraturan dari pria tampan yang masih lelap dalam buaian angan. Dia turunkan telapak tangannya, mencoba merasakan detak jantung dengan ritme yang senada.
Takut berlama-lama akan membuat pemilik dada bidang itu terbangun, Aleesha kembali memindahkan jemari tangannya ke bibir ranum yang sedikit terlihat ada celah di sana.
Yang disentuh masih tetap diam, tidak ada pergerakan. Hanya hembusan nafas pelan yang masih Aleesha rasakan.
"Au !" Teriaknya kaget, saat ujung jarinya mulai mengusik ketenangan tidur sang pangeran.
Asbram yang sebenarnya sudah merasakan sentuhan - sentuhan lembut Aleesha, mulai membalas dengan sebuah gigitan kecil pada ujung jari telunjuk Aleesha yang sedang asyik bergerilya menikmati wajah tampannya.
"Sakit ?" Tanyanya lirih.
Yang ditanya pun hanya menggelengkan kepala. Rona merah diwajah Aleesha, membuat Asbram merasa bersalah telah mengagetkan istrinya.
Dengan lembut dia genggam jemari Aleesha, Dia kecup ujung jari yang tadi Dia mangsa.
Udara dingin terasa hangat kembali pagi ini. Tatapan tajam Asbram, seolah berganti menguliti wajah cantik Aleesha. Dia yang selalu energik dan banyak bicara saat di panggung dan mengisi berbagai acara, kali ini hanya mematung tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata.
"Mau kemana ?" Tanya Asbram saat Aleesha mulai mengangkat sebagian tubuhnya untuk menghindar.
"Aku_"
"Aku masih ingin berlama-lama seperti ini." Cegah Asbram memotong.
Perlahan, kembali Dia rebahkan tubuhnya.
Entah kenapa, ini bukan pertama kalinya Aleesha berdekatan dengan Asbram. Namun gemuruh di hatinya seakan menunjukkan kalau ini akan menjadi sebuah awal yang indah dalam hidupnya.
Bergeser sedikit, Asbram semakin merapatkan tubuhnya. Menciptakan suasana kehangatan yang tak terkira indahnya. Membuat Aleesha semakin tak kuasa menahan rona merah muda di pipinya.
Debar jantung Aleesha semakin kuat menabuh genderang berirama. Bahkan denyut nadi di dalam tubuhnya mulai semangat mengalirkan darah ke seluruh tubuhnya. Membuat Aleesha merasa hidup kembali, membelalakkan mata, dengan kesadaran penuh sempurna.
__ADS_1
Lama sekali, Asbram menatap wajah polos Aleesha. Tanpa makeup, lebih natural, lebih terlihat kecantikan alaminya.
"Maafkan Aku." Bisik Asbram lirih.
"Maaf ?" Tanya Aleesha, bingung dengan permohonan maaf suaminya.
"Maaf, karena Aku telah menyia-nyiakan Kamu selama ini." Lanjutnya.
Aleesha hanya terdiam, tanpa bisa membalas dengan kata-kata. Wajah datarnya melukiskan berbagai tanda tanya.
Kata maaf baginya seolah tidak ada artinya. Kesalahan besar yang pernah Asbram lakukan seakan tidak pernah terjadi.
'Apakah ini yang dinamakan kekuatan cinta ?' Kata sisi hatinya.
'Begitu mudahnya Kamu percaya Aleesha ?' Maki sisi hatinya yang lain.
'Apa Kamu tidak ingat, luka yang pernah Asbram goreskan di hatimu ?' Komentar sisi hatinya mengingatkan.
'Aleesha yang tegas, cerdas, cantik dan energik. Yang selama ini menjadi pujaan hati setiap insan. Ternyata bertekuk lutut hanya karena sebuah buaian.' Cibir sisi hatinya kembali.
"Sayang, ada yang salah dengan ucapanku ?" Tanya Asbram memastikan.
"Oh, tidak. Aku, Aku hanya bingung." Entah apa yang Dia katakan.
'Sayang ? Sejak kapan Dia panggil Kamu Sayang ?' Lanjut sisi hatinya menggoyahkan keteguhan hati Aleesha.
'Sejak Dia sadar dan takut kehilangan, huhhh.' Cibir sisi hatinya yang lain.
Kembali perdebatan kecil di hati Aleesha membuat pikirannya tidak fokus dengan situasi yang ada.
"Bingung kenapa ?" Asbram yang sejak tadi hanya mengernyitkan kedua alisnya, gini kembali melontarkan sebuah pertanyaan.
"Apa, apa Mas yakin dengan apa yang Mas ucapkan." Lirih, setengah bertanya, Aleesha menyampaikan isi hatinya.
Asbram merengkuh tubuh Aleesha, memeluknya lebih dalam.
"Aku tidak akan pernah membuatmu menangis lagi." Balasnya lirih.
"Janji ?"
"Janji."
Ada ketulusan yang Asbram tunjukkan. Rindu akan buaian kasih sayang orang yang Dia cintai, membuat Aleesha lupa waktu dan tidak ingat, agenda kerja hari ini.
Yang pasti, 'Hari ini hanya untukmu.'
Selama apapun waktu berjalan, Aleesha tidak akan menyia - nyiakan indahnya pagi ini.
Sebuah kecupan selamat pagi di hadiahkan Asbram untuk istrinya tercinta. Balasan dari Aleesha membuat Asbram terpacu ingin melanjutkan tragedi semalam.
Tragedi yang bukan hanya membuat keduanya merasa melambung tinggi di atas awan, tapi juga mampu membakar kalori di dalam tubuh, menyehatkan jantung, mencegah terjadinya obesitas dan mengurangi stres, tanpa harus berlari mengelilingi kompleks perumahan.
__ADS_1
Dan apapun itu namanya, pagi ini terulang lagi. Lebih dalam, lebih menjiwai dan lebih ikhlas saat saling memberi dan menerima.
***
"Iya Pak, mohon maaf, kelihatannya pertemuan kita pagi ini kita tunda besok."
"Iya Pak, sekali Saya mohon maaf. Karena kondisi kesehatan Mbak Aleesha, agenda hari ini jadi tertunda."
"Baik Pak, terimakasih atas pengertiannya."
Beberapa kalimat yang terdengar saat Widya menerima panggilan telepon dari seseorang. Suaranya terdengar panik menjelaskan kondisi owner nya saat ini.
Terpaksa Dia berbohong, karena sejak pagi sampai menjelang siang hari, Aleesha tidak dapat dihubungi.
"Kenapa Yang ?" Tanya Ridwan saat melihat istrinya mondar - mandir tidak jelas.
"Aneh gak sih Mas, tumben tumbenan lo Mbak Icha riject panggilan dariku." Ucapnya setengah bergumam.
"Masak sih ?" Komentar Ridwan balik bertanya.
"Padahal ini tamu penting lo." Kata Widya masih dengan mode heran.
"Terus, Kamu bilang apa ?"
"Ya Aku cansel aja, Aku bilang kalau Mbak Icha lagi gak enak badan." Jawabnya datar.
"Jangan - jangan _"
"Apaan sih, jangan bikin Aku takut dong Mas." Teriak Widya memotong ucapan Suaminya.
"Apanya yang apaan, orang Mas mau bilang, jangan - jangan Mbak Aleesha sakit beneran." Kata Ridwan menebak.
Tanpa berani berpikir macam-macam lagi, keduanya segera bergegas menuju tempat dimana Aleesha menginap.
"Kalian mau kemana ?" Langkah kaki mereka terhenti, saat David tiba-tiba datang menyapa.
"Eh Pak David, kebetulan sekali. Kami mau ke kamar Mbak Aleesha Pak." Jawab Widya terbata.
"Iya Pak, Widya khawatir, karena sejak pagi tadi, Mbak Aleesha tidak dapat Kami hubungi." Tambah Ridwan meyakinkan.
"Hahahaha...Kalian tidak perlu khawatir."
Widya dan Ridwan saling pandang dengan wajah heran, mendengar komentar disertai gelak tawa asisten pribadi pemilik stasiun TV swasta ternama di negeri ini.
"Maksud Pak David ?" Tanya Widya meminta penjelasan.
"Mbak Aleesha aman bersama Pak Asbram di kamarnya." Jawab David to the points.
"Oh, pantas saja. Apalagi angkat telpon balas chat saja sampai gak sempat." Gerutu Widya yang akhirnya pulang dengan perasaan gemas sendiri.
Next On ---------------------------->
__ADS_1