
Bukan Aleesha namanya kalau tidak jadi pusat perhatian.
"Mbak Aleesha, gabung sini sama kita." Panggil seseorang pada kelompok tertentu.
"Terimakasih, selamat menikmati makan malamnya." Balas sapa Aleesha ramah.
"Hallo Mbak Aleesha." Lambai salah seorang lagi.
"Hai." Balasnya.
"Cha, buruan Cha jalannya. Gue berasa asisten lo disini." Gerutu Keysha lirih.
"Santai aja kali."
"Mana sih tempat kita, jauh amat." Omelnya tak sabar.
"Tu, disitu tu." Tunjuk Aleesha.
Sudah ada Dokter Arya dan David disana.
'David ? Kenapa ada david ? Lalu dimana Widya ? Berarti dimana ada David disitu pasti ada Asbram.' Pikirnya kacau. Sejenak dia hentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti, buruan, laper ini."
"Bentar dech, kamu duluan. Aku cari Widya dulu." Ucapnya beralasan.
"Udah yuk, entar Widya juga nyusul." Ajak Key tidak sabar.
"Gakpapa, duluan saja." Masih dengan sikap kebingungan.
"Mbak Aleesha, nungguin siapa ? Semua dah pada nunggu di meja sana." Tegur Widya yang tiba-tiba berada di sampingnya.
"Tu, dah ketemu kan, hayuk buruan." Tarik Keysha.
'Kenapa sih, belakangan Mbak Aleesha kelihatan aneh dech.' Gumam Widya sendiri.
'Ufh... syukurlah, tidak ada dia di sini.' Pikirnya dalam hati.
Entah apa yang membuat Aleesha merasa Asbram jadi sumber pobia buat dia. Padahal pria itulah yang selama ini mengisi ruang hatinya. Meskipun bisa dikatakan, saat ini cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Ehhrrmmm..."
Dehem Keysha saat melihat Dokter Arya tak berkedip memandang Aleesha.
"Kenapa Dok ?" Tanya Aleesha terus terang.
"Tidak apa-apa, ini yang aku suka dari Aleesha, selalu tampil natural." Jawabnya memuji.
Entah kenapa, tidak Key tidak juga Arya, semua bawel hari ini.
"Boleh saya bergabung ?" Tanya seseorang yang melihat bangku kosong di samping Aleesha.
"Bram, baru saja Aku tanyakan tadi kepada David." Jawab Dokter Arya mempersilakan.
Aleesha terdiam tanpa banyak bicara di tempat itu.
Rasa canggung membuat dia harus menyudahi makan malamnya.
__ADS_1
"Aku duluan ya." Pamitnya.
"Loh, Sha, tunggu, mau kemana ?"
"Jalan - jalan sebentar, cari angin malam." Jawabnya asal.
"Aleesha, jangan jauh-jauh, angin malam tidak bagus untuk kesehatan." Komentar Dokter Arya.
"Thanks." Jawabnya tetap berlalu.
"Bentar Dok, saya juga duluan ya." Kata Keysha mengikuti sahabatnya.
"Hhhhmmmm... hati-hati Key, dasar keras kepala."
'Ternyata Arya begitu perhatian sama Aleesha.' Komentar Asbram di dalam hati.
***
"Cha, tunggu dong, mau kemana ?"
"Kamu ngapain ngikutin aku ?" Tanya Aleesha ganti bertanya.
Dia memilih mencari tempat yang hening, jauh dari keramaian dan keributan duniawi. Kali ini sebuah bangku yang terletak di taman dekat dengan kolam renang, menjadi pilihan nya untuk menyendiri.
"Cha, cerita dong, ada apa ?"
"Ada apa ? Memangnya kelihatan ya, kalau saya kenapa-kenapa ?"
"Ya iyalah, ni dengerin ya...terutama setiap kehadiran Asbram di antara kita, kamu selalu jadi salah tingkah." Celetuk Keysha tanpa sadar.
"Masak sih." Komentar Aleesha santai.
"Iya ya, kenapa coba ?" Canda Aleesha berusaha menutupi gundah hatinya.
"Aleesha !" Teriak Key kesal.
"Iya, iya, iya, kebiasaan, ambegkan."
Sejenak suasana hening, sebelum akhirnya Aleesha mulai buka suara.
"Kamu ingat Key, aku pernah cerita tentang seseorang yang pernah aku temui di masa kecil ?" Tanya Aleesha mengawali.
"Maksud kamu cinta monyet kamu ?" Celetuk Keysha mengingat kisah cinta Aleesha yang tumbuh di usia dini.
"Upss...maaf, maksud aku cinta pertama kamu ?" Ulangnya kemudian, saat yang punya kisah mulai melotot matanya.
"Ya, itu dia Key." Jawabnya datar.
"Dia ? Bram ?" Tanya Key tersentak.
Aleesha mengedipkan mata, mengiyakan ucapan sahabatnya.
"Kamu juga ingat Key, waktu Ayah dan Bunda mengagendakan perkenalan aku dengan salah seorang putra sahabatnya ?" Tanya Aleesha mengingatkan curhatan dia beberapa hari yang lalu.
"Iya, yang waktu itu kamu ceritakan padaku kan ?"
"Hhhmmm... Itu juga Dia Key."
__ADS_1
"Dia ? Bram ? Hhaaahhh !" Keysha menjawab sembari membungkam mulutnya sendiri.
"Gila Cha, mimpimu benar-benar terwujud. Sempurna." Komentar Keysha lirih.
"Tapi, tapi kenapa kelihatannya kamu tidak senang Cha ? Apa lagi yang kurang coba ?" Tanya Keysha, saat melihat mimik wajah sahabatnya yang datar tanpa ekspresi, bahkan kelihatan suram.
"Entahlah Key, mungkin ini hanya perasaanku saja. Atau mungkin juga memang seperti itu adanya."
"Ngomong apaan sih, gak paham saya." Ucap Keysha geram.
"Aku merasa, hanya aku yang merasa senang atas pertemuan dan perjodohan ini Key." Keluhnya.
"Maksud kamu, Bram tidak menyetujui perjodohan ini ?"
"Bukan begitu, lebih konkrit nya, dia tidak menyukaiku." Jawabnya irih, bahkan hampir tak terdengar.
"Cha, aku mengerti perasaanmu. Aku juga paham, bagaimana rasanya cinta dalam perjodohan. Ada kalanya cinta itu hadir di tengah perjalanan hidup kalian. Meskipun ada juga yang merasakan, cinta tidak pernah datang. Tapi ingat Cha, ini jawaban atas doa-doamu. Ini cinta yang Allah hadiahkan untukmu. Bukan tanpa usaha, tapi penuh perjuangan. Jadi kamu harus berjuang untuk mendapatkan nya." Tutur kata Keysha panjang kali lebar kali tinggi.
"Dalam pekerjaan yang aku jalani sehari-hari, Aku sudah biasa ditolak Key. Aku sudah biasa dihina, dicaci bahkan diusir sama orang. Tapi tidak ada rasa sakit di hatiku." Gumam Aleesha.
"Entah kenapa, disaat dia menanyakan, apakah aku senang dengan perjodohan ini ? Hatiku terasa sakit Key, nyaliku ciut, bahkan rasa senang yang aku tunjukkan, seolah sebuah tawaran besar yang tak bernilai harganya." Imbuhnya.
"Cha, dengerin, tidak semua yang berawal buruk akan selamanya buruk. Suatu hari, pasti akan indah pada waktunya. Percayalah." Support Keysha.
Keduanya saling berpelukan, saling menguatkan dan saling support. Dari dulu sampai saat ini, Keysha selalu ada di saat Aleesha membutuhkan.
"Makasih ya Key, lega rasanya bisa keluar semua, apa yang aku pikirkan."
"Santai saja, apapun masalahmu, akan menjadi masalahku juga."
"Tua banget lo hari ini." Kata Aleesha datar tanpa ekspresi sama sekali.
"Blegug lu...demi siapa coba ? Demi kamu, aku udah berusaha pilih kata-kata baku biar bisa menyentuh hatimu." Didorongnya lengan Aleesha.
"Iya, iya maaf Bu Dokter cantik. Bercanda Bu, maaf."
"Tau ach." Jawabnya kesal.
"Ahahhaha....makin ngambek makin cantik dech. Tapi, ngomong-ngomong. Aku juga pengen dengar, pria mana yang bisa menyentuh hati sahabatku ini." Kata Aleesha merayu.
"Bodoh amat." Jawabnya sembari berjalan meninggalkan Aleesha.
"Key, tunggu Key."
Keysha berlalu, tanpa mempedulikan panggilan Aleesha. Seperti itulah Keysha, sedikit-sedikit ngambek, tapi cepat luluh kembali hatinya.
Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Hanya tiupan angin malam yang tersisa di area hotel malam ini. Hening, tanpa ada suara aktivitas penghuninya.
Aleesha melangkahkan kakinya setapak demi setapak. Pelan tapi pasti meninggalkan kesunyian di luar sana. Benar-benar sudah sepi, hanya satu dua orang pekerja hotel yang masih terlihat sibuk membersihkan aula.
Dua, tiga, empat lima dan enam lantai telah dia lewati.
Kling ...
Sampailah di lantai tujuh, tempat dimana dia akan segera merebahkan tubuhnya malam ini.
Brakk ...
__ADS_1
Suara gaduh membuat Aleesha mengurungkan niatnya untuk langsung membuka pintu kamarnya.
Next On -------------->