Takdir Cinta Aleesha

Takdir Cinta Aleesha
Bab. 17. Perasaan Yang Tak Biasa


__ADS_3

Senja mulai terlihat di ufuk barat. Remang-remang bisa dirasakan sisa hangat sinarnya.


"Hallo Wid, aku minta tolong urus administrasi Rumah Sakit besok pagi."


"Tapi Mbak_"


"Aku ingin keluar."


Entah rasa kesal apa yang membuat Aleesha harus menghubungi asistennya di luar kamar. Disaat Mama Rose berpamitan untuk keluar sebentar.


Aleesha kembali ke ruang rawatnya, setelah sempat keluar untuk menikmati indahnya mentari di sore hari. Pintu kamar rawatnya sudah terbuka lebar, pastinya sudah ada seseorang yang masuk terlebih dahulu sebelum Dia.


'Apa Mama Rose sudah kembali ?' Pikirnya.


Pelan-pelan Aleesha mendorong masuk roda pengait infus di tangannya.


"Dari mana kamu ?" Suara yang semakin lama semakin dia hafal.


"Saya_"


"Bukankah Dokter meminta Kamu untuk bedrest." Potongnya.


"Iya, tapi_"


"Tapi terserah, jika Kamu tetap ingin berlama-lama di sini." Lagi-lagi tidak ada kesempatan untuk Aleesha menjelaskan.


"Huufff." Aleesha menghela nafas panjang. Dia putuskan memilih untuk diam daripada capek menjelaskan namun tetap saja tidak didengarkan.


'Tenang Aleesha, anggap saja tidak ada siapa-siapa di sini.' Saran sisi hatinya.


Dia kembali berbaring di atas ranjangnya. Sedangkan Asbram, duduk bersilang kaki dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.


Entah apa yang sedang dia pikirkan. Namun, Aleesha merasa, pandangan mata Asbram tidak lepas dari dirinya. Entah benar atau tidak, Aleesha yang merasa risih diperhatikan, mencoba berpaling, menghadap ke arah jendela kaca, membelakangi Asbram.


"Asbram, Kamu sudah datang Nak." Sapa Mama Rose yang entah dari mana Beliau datang.


Aleesha kembali memposisikan tubuhnya untuk duduk.


"Istirahatlah yang nyaman Nak." Buru-buru Mama Rose mencegahnya.


"Bram, kebetulan Kamu sudah disini Nak, Mama akan pulang bareng sama Dokter Maya. Kebetulan Beliau ke arah jalan yang sama." Ucap Beliau kepada putranya.


Asbram hanya diam, tidak membantah. Dia tahu betul Mamanya tidak suka dibantah. Apalagi dalam satu hal ini.


"Sayang, Mama pulang dulu ya. Besok Mama kembali lagi. Untuk malam ini Asbram yang akan menjagamu." Pinta Beliau.


"Tante, Saya rasa tidak perlu. Saya bisa sendiri Tan, dan saya memang sudah terbiasa sendiri." Tolak Aleesha.


Bukan karena rasa sungkan, tapi memang Aleesha masih merasa tidak nyaman dengan kehadiran Asbram yang sangat terlihat kalau Dia sebenarnya tidak menyukai apa yang Mama Rose inginkan.


"Mama, biasakan panggil Mama."

__ADS_1


"Iya Tan, eh Ma." Jawabnya lirih.


Sebelum ada Asbram tadi, Aleesha sempat fasih dengan panggilan 'Mama' kepada calon ibu mertuanya. Tapi sejak kehadiran Asbram, panggilan itu seakan sulit sekali Dia ucapkan.


Tok... tok... tok...


Seseorang mengetuk pintu ruang rawat Aleesha.


"Selamat petang."


"Dokter Maya, mari-mari, silahkan masuk." Sambut Mama Rose.


"Jadi ini calon istri pangeran tampan Star Group ?" Tanya Dokter Maya terus terang.


"Aleesha, ini Dokter Maya, kepala Dokter di Rumah Sakit ini." Kata Mama Rose memperkenalkan.


"Selamat sore Dok." Jawab Aleesha mengulurkan tangan. Namun belum sempat Dia memperkenalkan diri, Mama Rose sudah terlebih dahulu mengambil alih.


"Namanya Aleesha, Aleesha Zavira." Sebut Mama Rose terdengar bangga memperkenalkan calon menantunya.


"Iya, Saya sempat cek sosial media Aleesha. Dia seorang wanita karier yang hebat. Cantik, cerdas, ramah, sukses di masa muda, itu sebuah pencapaian yang membanggakan. Bukan begitu Jeng Rose ?" Pujinya tertuju langsung kepada Aleesha.


"Betul sekali." Komentar Mama Rose menyetujui pendapat Dokter Maya, sembari mengacungkan dua ibu jarinya.


"Kalian berdua memang pasangan yang serasi, dilihat dari segi manapun. Dua-duanya punya karir yang bagus." Bukan hanya sekedar memuji, tapi memang apa yang Dokter Maya katakan adalah sebuah fakta.


"Dokter terlalu berlebihan. Saya tidak ada apa-apanya dibanding Pak Bram."


"Rose, calon mantumu ini lucu. Sejak kapan ada calon istri memanggil Pak kepada calon suaminya." Kelakarnya.


"Ah, sudah-sudah, kita tinggalkan saja mereka berdua. Suka-suka mereka saja. Maklum calon pasangan baru, jadi masih malu-malu." Jawab Mama Rose asal.


Sengaja Mama Rose mengajak Dokter Maya segera pergi, sekedar untuk menghindari berbagai macam pertanyaan yang bertolak belakang dengan fakta hubungan putranya dengan Aleesha.


"Ya sudah, lekas sembuh ya. Kami permisi dulu." Pamit Dokter Maya.


"Terimakasih Dok."


"Duluan ya Bram."


"Mari, silahkan Dok."


Suasana kembali sepi, setelah Mama Rose kembali pulang ke rumah. Malam semakin larut, seiring dengan detak jarum jam yang berputar.


Kling ...


Sebuah pesan masuk di handphone Aleesha. Bunyinya sedikit nyaring, seakan membuyarkan sunyinya malam.


'Dokter Arya.' Gumamnya dalam hati.


"Hallo Aleesha, bagaimana kondisimu sekarang ?" Awal pesan dari Dokter Arya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sudah mendingan Dok."


"Syukurlah kalau begitu. Maaf, Saya belum bisa menjengukmu. Karena kebetulan ada tugas ke Singapura."


"Gakpapa Dok. Lagipula, Saya sudah lebih baik daripada kemaren."


"Aleesha, Aleesha, harus berapa kali Saya ingatkan. Gak chatting gak ngobrol langsung, masih saja panggil Saya Dokter."


"Siap Arya, maaf kebiasaan bagus." Jawabnya diiringi emogi nyengir.


"Ingat ya, kalau saat ini Saya sedang memeriksa kondisi kesehatanmu, baru Kamu boleh panggil Dokter."


"Siap Dok."


"Oke, sudah malam. Sebenarnya betah rasanya ngobrol via chat sama Kamu, meskipun harus sampai pagi. Tapi jangan, Kamu masih harus banyak istirahat." Goda Arya.


"Iya, lagipula Dokter Arya juga perlu banyak istirahat biar selalu strong." Balas canda Aleesha.


"Bye Aleesha, Aku akan sangat merindukanmu." Candanya.


"Bye Dok, tapi Saya lebih rindu oleh-olehmu." Jawab Aleesha basa basi.


Dokter Arya mengirimkan emogi dengan gambar merana, sebagai pengganti ungkapan isi hati.


Aleesha senyum-senyum sendiri, menimbulkan sebuah kecurigaan bagi siapapun yang melihatnya.


"Tidurlah, Aku akan menjagamu disini." Kata Bram, yang membuat Aleesha semakin tidak bisa memejamkan mata.


Tidak ada jawaban dari Aleesha. Dia masih tetap pada posisinya, tidur miring membelakangi Asbram dengan handphone yang masih menyala di tangannya.


"Saya rasa, Kamu masih punya pendengaran yang bagus untuk bisa mendengar apa yang orang lain katakan." Ucap Bram sembari menyambar handphone Aleesha dari tangannya.


"Hei, tidak perlu Anda rampaspun, saya bisa menaruhnya sendiri." Protes Aleesha sembari berusaha bangun untuk mengambil kembali handphone nya.


Namun, semakin Aleesha berusaha meraihnya, semakin tinggi Asbram menjulurkan tangannya. Bahkan, Asbram sempat membuka dan membaca chat terakhir Aleesha dengan Dokter Arya yang masih terbuka pada halaman utama.


"Kembalikan Pak." Pintanya.


"Silahkan lanjutkan, Saya tidak akan mengganggu." Jawab Bram, sembari melemparkan kembali handphone Aleesha ke ranjang.


"What's, aneh tu orang, kenapa coba ?" Tanya Aleesha heran dengan tingkah aneh Asbram.


Dia pergi begitu saja, meninggalkan Aleesha sendiri di ruang rawatnya.


'Kenapa ya ? Memang ada yang salah ?' Pikir Aleesha.


Entah apa yang Asbram rasakan, yang pasti dia merasakan hal yang tidak seharusnya dia rasakan.


'Kenapa ini, kenapa aku merasa tidak nyaman ketika dia membalas pesan dari pria lain.' Gundah rasa hati Bram.


Next On --------------------->

__ADS_1


__ADS_2