Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 10 Gaun paling indah


__ADS_3

Tidak ada dalam daftar keinginan Kikan memilihkan gaun pengantin untuk perempuan yang sudah merebut kekasihnya. Namun sekarang ia malah melakukannya. Bukan ingin menjadi pecundang, tapi ini termasuk pekerjaan. Dia harus profesional soal itu.


 


"Bagaimana dengan yang ini, Kikan?" tanya Ruby mematut diri di cermin besar dengan gaun pestanya. Betty hanya melihat saja karena Ruby sudah menanyakan pendapat teman yang di bawanya.


 


"Cantik," sahut Kikan datar tapi tetap terlihat sopan. Ia menekan rasa sakit pada seonggok hatinya.


 


Ini sudah ke sekian kalinya Ruby mencoba. Namun perempuan ini masih saja belum merasa pas.


 


"Aku ingin tampil sempurna di depan Astra. Bukan begitu, Kikan?" tanya Ruby seraya menggerakkan tubuhnya miring ke kanan dan kiri.


 


"Ya." Lagi-lagi jawaban yang datar.


 


"Kamu pasti juga begitu kan, jika di depan kekasihmu? Aku yakin kamu punya kekasih." Ruby bercermin lagi.


 


"Tidak. Aku masih fokus untuk berkerja dulu," kilah Kikan.


 


"Oh, ya? Pasti banyak pria yang kamu tolak karena ingin fokus pada karir." Ruby menengok ke belakang.


 


"Aku bukan perempuan istimewa hingga banyak pria yang menawarkan hatinya untukku. Aku hanya perempuan biasa." Kikan merendah diri. Di hadapan seorang Ruby dia tidak ada nilainya. Wanita ini cantik dan juga kaya. Bahkan pria itu memilih mengkhianatinya dan beralih menjadi kekasih Ruby.


 


"Biasanya ... justru perempuan yang menganggap dirinya biasa sebenarnya sangatlah luar biasa. Mereka hanya tidak menyadarinya." Ruby ingin melepas gaun yang di cobanya. Betty mendekat dan membantunya.


 


"Jadi pilih yang mana, nona?" tanya Betty sangat berharap.


 


"Aku pilih gaun yang nomor 2," kata Ruby. Padahal ia sudah mencoba sekitar sepuluh gaun, tapi perempuan ini justru memilih gaun yang di coba pada urutan nomor 2. Lalu apa gunanya mencoba banyak gaun tadi?


 


Betty tidak peduli soal itu. Dia cukup mendapatkan satu pilihan yang pasti dari nona kaya ini, dia akan untung banyak. Juga akan mendapat review dari seorang nona kaya. Itu suatu nilai plus bagi bridal house miliknya.


 


"Kamu tahu, alasanku memilih gaun nomor 2 tadi?" tanya Ruby yang selesai mengganti pakaiannya lagi. Kikan yang sedang menatap ponselnya, mendongak.


 


"Tidak." Bahkan Kikan tidak ingin tahu. Dia tidak peduli.


 


"Aku memilihnya, karena sepertinya kamu tertarik dengan gaun itu," kata Ruby membuat Kikan membeku sejenak. Ia terkejut. Sangat. Bukannya itu tidak ada hubungannya dengan dirinya?


 


"Aku tertarik dengan semua gaun indah itu," sahut Kikan berusaha tenang.

__ADS_1


 


"Oh, ya? Aku keliru kalau begitu." Ruby mengerjapkan matanya. Namun raut wajah perempuan itu tidak menyesal telah salah pilih. Dia merasa sudah mengambil keputusan yang tepat.


 


"Lagipula, meskipun aku menyukai salah satunya, bukankah seharusnya kamu memilih sendiri sesuai dengan seleramu? Ini pernikahanmu. Sebaiknya kamu tentukan sendiri semuanya," kata Kikan.


 


Ruby tertawa.


 


"Ya. Kamu benar. Ini pernikahanku. Bukan pernikahanmu." Ruby melangkah pergi menuju sofa. Kalimat wanita itu sangat menohok. Dia yang menjadi kekasih Astra, tapi Ruby yang di nikahi.


 


***


 


Seorang pria turun dari mobil yang berhenti di depan bridal house. Kemudian masuk ke dalam dengan langkah yang tegap.


 


"Ruby," panggil pria itu seraya berjalan mendekat. Ruby yang duduk sendiri di sofa menoleh.


 


"Kakak!" Ruby berdiri dan menyambut pria itu. Lengan Ruby pun memeluk tubuh pria itu dengan erat.


 


"Kenapa memanggilku kesini?" sembur pria tinggi dengan bahu lebar, juga jambang tipis di dagunya. "Kemana Astra? Bukannya seharusnya kamu dengan dia?" tanya pria itu saat melihat ke sekitar. Dia tidak menjumpai sosok pria yang akan jadi calon iparnya itu.


 


 


"Sendirian? Aku tidak melihat mobilmu di luar?"


 


"Aku di antar karyawan ZEUs tadi. Lalu aku suruh pulang karena ingin kakak yang menemaniku." Ruby sudah melepas pelukannya. Ia menarik lengan kakaknya untuk masuk ke dalam.


 


"Mau kemana?" tanya pria itu bingung.


 


"Aku ingin kakak memberi pendapat soal gaun pernikahanku."


 


"Seharusnya ini tugas Astra."


 


"Iya, tapi Astra sedang sibuk. Papa juga gembira saat tahu menantunya bekerja giat meski itu mendekati hari H pernikahan kita," cibir Ruby. Pria ini tertawa.


 


"Itulah papa. Pekerjaan terkadang jadi nomor satu baginya. Dia menyukai orang-orang pintar semacam Astra." Rupanya kakak adik ini sependapat.


 


"Oh, Tuan," ujar Betty terkejut melihat kemunculan putra pemilik ZEUs. "Bisa saya keluarkan lagi koleksi gaun yang Anda pilih tadi?" Betty rupanya harus bersabar lagi. Karena Ruby tidak langsung menyetujui satu gaun tadi. Mendadak, Ruby meminta Betty menunggu kakak laki-lakinya datang untuk memutuskan.

__ADS_1


 


"Ya. Kakakku akan memilihkannya untukku," sahut Ruby.


 


"Apa kau yakin dengan pilihanku? Aku juga tidak tahu soal gaun pengantin, Ruby. Aku belum menikah."


 


"Tidak apa-apa, Kak. Aku tahu Kak Dicto pasti akan memilihkan gaun terbaik untukku," ujar Ruby yakin.


 


"Baiklah. Jangan menyesal," cibir Dicto. Ruby menggelengkan kepala yakin. Dia dan Dicto sangat dekat. Jadi dia yakin akan keputusan pria ini.


 


Betty menunjukkan sepuluh gaun yang sudah di coba Ruby. Dicto memperhatikan.


 


"Kakak pilih yang mana?" tanya Ruby tidak sabar.


 


"Emm ... Semua cantik, tapi aku lebih suka yang nomor 1," kata Dicto seraya menunjuk. Ruby mengerjap. Itu adalah gaun yang sama dengan yang ia pilih tadi. Gaun nomor 2. Sekarang Betty meletakkannya di urutan satu karena Ruby sempat mengambil keputusan mengambil gaun itu.


 


Sebuah gaun dengan pilihan nekat hanya karena sebuah alasan tidak masuk akal. Wanita itu menyukainya. AE yang dicurigainya dekat dengan Astra tampak berbinar saat melihat gaun itu di banding gaun lainnya. Dengan alasan itu ia memilih gaun ini.


 


Ternyata pilihan Dicto adalah gaun itu juga.


 


"Tidak aku sangka, pilihan kak Dicto sama dengan wanita itu," gumam Ruby sedikit kesal.


 


"Wanita itu? Siapa?" tanya Dicto tidak mengerti.


 


"Jadi ... kakak sangat menyukai gaun ini?" Ruby tidak ingin menjawab pertanyaan kakaknya. Ia membicarakan hal lain.


 


"Ya. Gaun ini paling indah di antara yang lain" tukas Dicto yakin.


 


"Baiklah. Betty tolong yang itu ya?" ujar Ruby.


 


"Oh, baiklah." Betty yakin kali ini tidak akan berubah. Ia segera membereskan gaun yang lain. Sementara itu Ruby dan Dicto kembali ke sofa.


 


"Jadi akan ada wanita yang akan di pinang kak Dicto?" gurau Ruby.


 


"Aku belum ingin menikah. Aku masih ingin bebas tanpa seorang istri, bahkan bayi," ujar Dicto dengan jenaka. Ruby ikut tertawa.


____

__ADS_1


__ADS_2