
Setelah mencuci wajah dengan facial foam, Kikan menatap kaca wastafel. Tangannya menyentuh dada. Debaran tadi malam masih ada.
Ya. Meskipun perempuan ini sudah menyelimuti tubuhnya dengan selimut, tapi dia tidak benar-benat tidur. Dia hanya tidak ingin Dicto tahu debaran di dadanya terdengar sangat berisik dan kencang.
"Kenapa aku harus berdebar-debar? Untuk apa itu?" keluh Kikan. "Dia adalah orang jahat yang sudah menghamili aku, juga ... orang yang memberi perhatian padaku," dengus Kikan menyadari itu.
Tok! Tok!
"Kikan! Kamu tidak apa-apa? Aku tidak mendengar apapun di dalam sana! Jawab aku, jika kamu tidak apa-apa!" jerit Dicto panik.
Kikan menoleh sebentar ke belakang. Lalu menghela napas.
"Ya. Aku tidak apa-apa!" sahut Kikan. Dicto menghela napas. Kikan keluar sudah berganti pakaian. Dia melihat Kikan yang menunduk saja saat melewatinya.
...***...
Meski tidak pernah bilang, Dicto tahu Kikan pasti rindu dengan ibunya. Kikan merasa surprise saat tiba-tiba ia sampai di depan rumah ibunya. Tempat dia di lahirkan.
"Kamu sudah merencanakan, ini ya?" tebak Kikan.
"Tentu. Aku tahu kamu rindu ibu. Aku tidak boleh egois dengan tidak mengajakmu menjenguk ibu," sahut Dicto mengaku bahwa ia memang sudah merencanakan kepulangan Kikan ke kampung halaman.
Kikan diam. Memandang rumahnya yang masih sama seperti dulu. Hanya saja sedikit terlihat lebih baru karena tambahan dekorasi dan warna dinding rumah. Memandang agak lama.
Aku rindu, ibu.
"Kita masuk?" tawar Dicto. Kikan masih diam, tapi beberapa detik kemudian mengangguk. Mereka pun berjalan sejajar masuk ke dalam rumah.
"Kikan?" seru ibu terkejut putri dan menantunya datang. Ibu langsung meraih tubuh Kikan dan memeluknya. Suasana haru pun terjadi. Karena ini adalah kejutan untuk ibu.
Dicto tidak ikut mendekat. Dia membiarkan Kikan berpelukan dengan ibunya. Namun setelah sadar bahwa ada Dicto disana, beliau melepas pelukan dan mengusap airmata. Lalu tersenyum pada menantunya. Pria ini membungkukkan badan. Menyapa ibu dengan sopan.
"Ayo duduk. Kenapa ibu membiarkan menantu berdiri di sana," kata ibu.
Kemudian Dicto mendekat ke Kikan.
__ADS_1
"Ibu buatkan minuman dulu, ya," pamit ibu pada mereka berdua. Dicto menyentuh pundak Kikan dan membimbingnya menuju sofa.
"Ayo, kita duduk dulu," ajak Dicto. Kikan sudah menghapus air matanya. Setelah duduk, Kikan tampak menoleh ke kanan dan kiri dengan seksama. Bibirnya tersenyum tipis. Masih sama seperti terakhir ia keluar dari rumah ini untuk mengikuti keinginan keluarga Dicto, bahwa ia harus tinggal di rumah mereka.
Ibu muncul dengan membawa nampan.
"Seharusnya ibu tidak perlu repot-repot seperti ini. Kita bukan tamu. Kita anak Ibu," kata Dicto.
"Iya, Ibu mengerti. Kalian pasti langsung pulang kalau sudah petang, ya?" tanya ibu seolah bisa memastikan waktu kepulangan mereka.
"Tidak, Ibu. Kami akan menginap," kata Dicto. Kikan terkejut, karena tidak ada pembicaraan soal menginap sebelumnya.
"Benarkah Kikan?" tanya ibu tidak percaya. Dia menoleh pada putrinya untuk memastikan. Kikan mengerjapkan mata. Sedikit terkejut saat di tanya.
"Ya. Aku akan menginap," sahut Kikan setuju. Pasti setuju. Karena ia sangat ingin tinggal. Mendengar itu ibu mulai berkaca-kaca lagi. Beliau terharu.
"Ibu akan siapkan kamar tidur kalian," kata ibu yang tangannya sudah sembuh dengan semangat.
"Tidak perlu. Biar aku saja," kata Kikan menahan ibu bangkit dari duduknya.
...***...
Itulah asal muasal Kikan dan Dicto berakhir di dalam kamar Kikan yang lama. Karena rencana menginap yang tidak di bicarakan sebelumnya.
Kikan membuka jendela kamarnya yang menghadap timur. Jadi saat jendela kamar dibuka, udara sejuk dan sinar matahari langsung memenuhi kamar tidur. Udara di tempat Kikan yang masih banyak pepohonan yang tumbuh.
"Sejuk," ucap Kikan lirih. Angin menerpa wajahnya. Bibirnya tersenyum. Teringat saat ia masih kecil dulu. Bermain di kebun di belakang bersama teman-temannya. Dicto yang berdiri di sisi kanan Kikan, bisa menemukan senyuman itu. Pemandangan ini membuat Dicto takjub.
Tok, tok. Dicto menoleh. Ternyata ibu.
"Ini ... Ibu bawakan sprei yang baru," kata Ibu yang muncul di pintu. Kikan menoleh ke belakang.
"Ya, Bu. Terima kasih." Dicto menerimanya karena lebih dekat dari pintu. Lalu beliau pergi setelah menutup pintu.
"Duduk saja. Biar aku yang melakukannya," kata Dicto menahan gerakan Kikan.
__ADS_1
Awalnya Kikan ragu. Takut pria ini belum pernah melakukannya. Namun ternyata Dicto segera menyelesaikan mengganti sprei dan sebagainya. Kikan pun duduk di kursi tempatnya bekerja dan belajar.
"Aku sudah selesai," kata Dicto seraya menoleh. Namun perempuan ini sudah terlelap di kursinya sambil memeluk bantal. Dicto tersenyum lembut. Ia bisa melihat wajah perempuan ini yang polos.
Kakinya mendekat. Kemudian menggendongnya dalam pelukan. Memindah tubuh itu ke atas ranjang. Meletakkan perlahan, karena takut perempuan ini terganggu. Namun sungguh mengejutkan bahwa tiba-tiba lengan Kikan memeluknya.
Dicto mengerjap.
Mungkin Kikan sedang bermimpi atau dia sedang mencari guling. Kebetulan disana ada Dicto yang tidak jauh darinya. Pria ini kebingungan. Membangunkan Kikan dan menyadarkannya atau mengikuti saja apa yang sedang di lakukan perempuan ini.
Bibir Dicto tersenyum nakal. Dia tentu tidak ingin melewatkan kesempatan langka ini. Perlahan ia naik ke atas ranjang secara pelan-pelan. Kemudian meletakkan punggungnya di atas ranjang. Tidur di samping Kikan yang masih saja terlelap.
Dari samping sini, ia bisa menatap wajah perempuan ini dengan puas. Saat ini, kelopak mata Kikan bergerak perlahan. Kemudian terbuka dengan sempurna. Hanya saja mungkin masih berkabut. Namun saat sudah jelas, bola mata itu melebar. Kikan terkejut.
"A-apa yang kamu lakukan?"
"Apa?" tanya Dicto tenang.
"Kenapa kamu memelukku?"
"Aku tidak memelukmu," bantah Dicto tanpa memberitahu kejadian sebenarnya secara cepat. Kikan ingin memprotes. Namun secepatnya ia mencoba memperhatikan keadaan. Sekarang yang ia lihat adalah, tangannya yang justru melingkar pada pinggang pria ini. Bukan tangan Dicto yang memeluknya.
Kikan melepas pelukan itu dengan cepat dengan panik. Lalu berbalik arah memunggungi pria ini. Bermaksud bangkit dari sisi ranjang yang lain. Namun tangan Dicto terlalu cepat dan menahan tubuh itu untuk bangkit.
"Tunggu." Dicto berhasil menangkap tubuh itu. Kikan memejamkan mata sebentar seraya berdecak. Tubuh Dicto mendekat mempersempit jarak antaranya tubuhnya dan punggung milik Kikan.
Tanpa menundukkan pandangan, ia sadar kalau secara perlahan lengan itu menyusup masuk ke balik lengannya. Memeluk lembut tubuhnya dari belakang.
Terasa hangat tengkuk Kikan karena terpaan napas pria ini.
"Aku sangat ingin memelukmu, Kikan. Memelukmu saat kamu tersadar seperti ini. Bukan saat kamu sedang terlelap dan bermimpi," bisik Dicto.
Kikan yang masih mengeraskan tubuhnya mencoba tenang. Ia memejamkan mata dan menghela napas. Meringkuk dan melunakkan pikiran.
_____
__ADS_1