
Kikan di perbolehkan pulang. Dicto mengantarnya.
“Sebaiknya kita makan dulu sebelum kamu sampai di rumah,” kata Dicto.
“Antarkan saja aku pulang. Aku ingin cepat sampai di rumah. Ibu pasti khawatir,” kata Kikan ketus. Dia masih tidak ingin berlama-lama dengan pria ini.
“Aku sudah menelepon ibu. Memberitahu beliau, bahwa kamu ada pekerjaan tambahan lewat ponselmu.”
“Kamu ...,” desis Kikan marah.
“Maaf, jika lancang. Aku hanya cemas ibu menunggumu semalaman,” ujar Dicto memberi penjelasan. Kikan pun menggeram kesal. Sunyi pun mulai membentang di antara mereka. Mendadak, Dicto menepikan mobilnya. Kikan heran. Dia langsung menoleh pada Dicto di sampingnya dengan cepat.
“Kenapa berhenti?” tanya Kikan tidak sabar.
Dicto menghela napas lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Kikan. “Aku ingin mengatakan sesuatu. Ijinkan aku menikahimu, Kikan,” ungkap Dicto mengejutkan. Kikan terdiam melihatnya. Tangannya gemetar seraya meremas ujung pakaiannya. Kikan memalingkan wajah keluar jendela.
“Jangan semudah itu mengatakan menikah, Dicto. Kamu tahu itu tidak mungkin. Kamu dan aku tidak mungkin menikah karena sebenarnya kita tidak pernah saling mencintai. Ini sebuah kecelakaan.” Kikan memindah bola matanya menatap Dicto sekarang. “Jangan berlagak memaksakan diri. Kamu tidak mengerti, pernikahan karena terpaksa itu tidak akan berhasil,” tunjuk Kikan pada pria itu.
“Apapun itu, kita harus menikah. Meskipun karena terpaksa, kita harus menikah. Aku tidak peduli apapun alasan kamu menolak, Kikan. Kita harus menikah.” Dicto mendesak. Dia tahu tidak semudah itu membujuk Kikan untuk menikah. “Aku akan bicarakan semuanya pada keluargaku. Jadi kamu terima atau tidak, siapkanlah dirimu untuk menjadi mempelai ku.” Dicto sudah bertekad akan memaksa menikahi Kikan. Dia tidak ingin lagi bertele-tele mencoba menunggu wanita ini menerima dengan tangan terbuka.
Kikan diam. Dia menoleh ke arah jendela lagi. Melihat jalanan yang terasa membisu karena tidak terdengar suara apapun. Dalam benak Kikan hanya ada dengung suara Dicto yang melayangkan lamaran dan pemaksaan.
“Aku akan menyiksamu Dicto,” lirih Kikan dingin dan penuh benci.
“Silakan. Lakukan apapun yang kamu mau. Aku memang harusnya mendapat hukuman atas perbuatanku,” sahut Dicto kemudian menyalakan mesin. “Kita pulang.” Kikan tidak menyahut. Dia lelah.
**
Petang, Kikan tiba di rumah. Ibu menyambut kedatangan Kikan dengan suka cita.
“Kamu bekerja keras ya ... Sampai lembur terus.” Ibu langsung menepuk bahu putrinya. Merasa bangga dan khawatir akan kesehatannya. Kikan tersenyum getir. Ibu percaya bahwa putrinya sedang bekerja. Padahal yang sebenarnya adalah ia sedang menambah dosa. Yaitu ingin membunuh janin di dalam perutnya.
Mata Kikan mulai berkaca-kaca. Dicto melihat itu.
__ADS_1
“SepertInya saya harus pulang karena Kikan sudah sampai di rumah dengan selamat,” kata Dicto mengalihkan ibu agar tidak miaht airmata Kikan.
“Lho, kenapa di antar?” tanya ibu heran. Kepala ibu melongok keluar. Namun mobil Kikan tidak ada di halaman. Hanya ada satu mobil di sana, yaitu milik Dicto. Untung saja perhatian ibu teralihkan oleh itu, jadi Kikan bisa menghapus airmata yang menggenang.
“Mobil Kikan ada di bengkel, Bu. Ada sedikit yang perlu diservis, jadi saya mengantarkannya karena ada urusan yang sejalan.” Dicto memberi penjelasan. Kikan sendiri tidak tahu kemana mobilnya. Ia lupa mengurusi mobil itu karena keadaannya. Sepertinya Dicto sudah meminta orang-orangnya untuk mengurusi mobil milik Kikan.
Ibu mengangguk paham.
“Ini ada oleh-oleh untuk ibu.” Dicto tiba-tiba menyerahkan bungkusan warna hijau pada ibu. Kikan tidak tahu kalau pria ini sudah menyiapkan buah tangan untuk ibunya. Ia
“Aduh, apa ini ... Enggak usah bawa-bawa. Ibu juga berterima kasih karena sudah mengantarkan Kikan pulang.” Ibu sangat bersyukur Kikan bersama orang baik, tanpa tahu bahwa pria ini sudah menodai putrinya. Kikan menghela napas lelah. Ingin Dicto segera pergi.
Setelah berpamitan, Dicto pulang.
**
Kikan tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar. Tangannya tak sengaja berada tepat di atas perutnya. Awalnya dia diam saja. Kelamaan jarinya bergerak perlahan. Mengelus lembut perutnya yang berisi janin.
Mata Kikan terpejam. Teringat lagi kata-kata Dicto saat masih di dalam mobil.
“Jangan melakukan hal yang berbahaya, Kikan. Jika soal janin, itu bukan hanya tentang kamu, tapi juga tentang aku. Karena ada hakku mengkhawatirkannya saat dia tersakiti.”
Kikan mendengus.
“Hak? Hak apa yang dia katakan? Lucu. Bayi ini juga ada bukan karena cinta, tapi dia sudah memposisikan dirinya sebagai pelindungnya. Sebenarnya kamu itu, pria seperti apa Dicto?” tanya Kikan dengan gurat wajah sedih.
**
“H-hamil? Kamu sudah menghamili seseorang?” tanya mama Dicto terkejut. Dicto mengaku kepada papa dan mamanya demi mendapat ijin menikah. “Pa ...,” lirih mama Dicto pada suaminya.
Melihat kemunculan Giska saja di rumah ini dengan Dicto, mama merasakan ada yang janggal. Putrinya itu sudah lama tidak muncul ke rumah orangtuanya karena perkara perceraian sepihak yang Giska lakukan. Ternyata itu karena Dicto.
__ADS_1
Presdir terlihat diam. Tidak ada reaksi apapun setelah mendengar pengakuan putranya. Namun mama Dicto gelisah.
“Temukan papa dengan keluarganya. Kita harus meminta maaf karena kebodohan putranya,” tanya presdir. Saat bertanya ini, mulai terlihat beliau menahan amarah.
“Aku tidak ingin hanya meminta maaf, Pa. Aku juga ingin menikahinya,” ungkap Dicto serius.
“Kamu serius?” tanya mama cemas. "Kamu tidak tahu bagaimana pernikahan itu, Dicto." Mama menasehati.
“Dia memang harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan,” potong papa. Sepertinya beliau tidak mau bicara panjang lebar karena ini memang kesalahan putranya. “Siapa wanita itu?” tanya papa ingin tahu.
“Kikan. AE ZEUs,” jawab Dicto.
**
Pagi ini Kikan duduk di depan cermin seraya memulas bibirnya dengan lipstik warna campuran cokelat dan merah. Kemudian dia menyisir rambutnya pelan. Kikan berniat kembali ke ZEUs. Hatinya belum pulih, tapi dia punya banyak tanggung jawab pada perusahaan sebelum dia pergi. Dia ingin menyelesaikan itu terlebih dahulu.
“Kikan! Ada Dicto!” seru ibu dari luar kamar. Sungguh mengejutkan pria itu muncul di sini. Kikan segera bangkit dan membuka pintu. “Dia sudah menunggumu sejak tadi. Ibu sudah mau kasih tahu kamu, tapi ada ibu-ibu ...” Kikan tidak mendengar suara ibu lagi karena ia berjalan ke ruang tamu. Ibu menghela napas melihat tingkah putrinya.
“Kenapa kamu muncul di rumahku?” tegur Kikan masih saja ketus.
“Aku menjemputmu untuk membicarakan soal mobilmu. Aku dengar dari Arin, itu mobil peninggalan ayahmu,” kata Dicto membuat Kikan menghela napas. Dicto bukan membicarakan soal bayi. “Sepertinya kamu sudah siap berangkat,” kata Dicto yang melihat perempuan ini sudah tampil manis.
Kikan menipiskan bibir dengan raut wajah masam.
Ibu muncul sembari membawakan tas putrinya. “Tas kamu, Kikan,” ujar ibu membuat Kikan terkejut. Beliau berpikir Kikan lupa membawa tasnya. Jadi saat Kikan keluar kamar tanpa membawanya, ibu masuk dan mengambilkan tas agar putrinya tidak kerepotan karena lupa membawa tas. “Kamu kan mau berangkat, kerja,” imbuh ibu membuat Kikan mengangguk.
Perempuan ini terpaksa meraih tas yang di sodorkan ibu padanya. Ia tidak tega jika harus mengatakan pada ibu kalau dia tidak ingin bekerja.
“Terima kasih, Bu.”
Dicto melihat kebohongan Kikan demi ibunya. Dia menyadari kalau perempuan ini adalah perempuan yang baik.
_____
__ADS_1