Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 12 Siapakah dia?


__ADS_3

Kikan tidak langsung mengusir gadis ini. Dia tidak tega karena tahu Adis hanya ingin melihat kakaknya menikah.


 


"Ayo masuk," ajak Kikan. Dia membawa Adis masuk.


 


"Tapi ... " Adis ragu juga saat Kikan benar-benar mengajaknya masuk.


 


"Dia bersama ku," kata Kikan saat orang bagian penerima tamu heran melihatnya dengan seorang gadis. Kikan segera mengajak Adis ke ruangan di belakang panggung pelaminan. Berjalan memutar supaya tidak terlihat dari bagian depan pelaminan.


 


"Aku mau di bawa kemana, Kak?" tanya Adis kebingungan. Ternyata Kikan membawa gadis ini ke bilik ganti. Kikan meletakkan tas dan yang lainnya di tempat ini. Mungkin ruangan ini hanya Kikan selaku penanggung jawab, yang tahu.


 


"Duduk di sini. Aku akan mengambilkan makanan untukmu," kata Kikan dan kembali ke pintu. "Oh, ya. Jangan berkeliaran saat aku di luar. Tetap di sini. Aku tidak lama," kata Kikan lalu keluar dan menutup pintu.


 


Selepas pintu tertutup, sebentar saja pintu sudah terbuka. Adis sudah sumringah karena dia pikir itu Kikan. Namun ternyata seorang pria. Tubuh Adis tegang. Dia takut.


 


Pria itu terkejut karena di dalam ruangan ada seorang gadis. Dia menoleh ke balik pintu, merasa keliru. Lalu melihat lagi ke Adis yang tetap berdiri dengan raut wajah tidak tenang.


 


Adis was-was. Apalagi saat pria itu melihatnya dengan menyelidik. Tubuh Adis memang kecil, hingga terlihat seperti bocah. Gadis ini makin di buat tegang. Tangan Adis berusaha menguatkan diri dengan menggenggam erat jari-jarinya. Dia cemas. Kak Kikan!!


 


"Kamu siapa? Anak tamu undangan?" tanya pria itu pada Adis. Masih ingat peringatan Astra pada Adis untuk menyembunyikan diri.


 


"A-aku adik Kak Kikan." Karena gugup, Adis justru menyebut nama Kikan. Pria itu mengerutkan dahi. Dia tidak mengenal sama sekali dengan nama itu.


 


"Siapa itu?" tanya pria ini masih berdiri di dekat pintu. Raut wajah menakutkan tadi mulai luntur.


 


"Karyawan ZEUs. Dia cantik. Kalau kakak berkerja di sana, pasti tahu kakakku," kata Adis mulai lancar bicara karena pria itu mulai mengurangi raut wajah terkejutnya yang malah membuatnya terlihat menakutkan.


 


"Oh, ZEUs? Aku tidak bekerja di sana," kata pria ini lalu kembali ke pintu keluar. Sungguh mengejutkan bahwa Kikan juga akan masuk dari pintu itu. Mereka pun bertabrakan. Hingga suara nyaring piring yang di bawa Kikan terdengar keras. Dan makanannya jatuh berantakan. Bahkan mengenai pakaian pria ini. Kikan sangat terkejut.

__ADS_1


 


"Kakak!" Adis terkejut.


 


"Oh, maaf. Saya tidak sengaja. Maafkan saya," kata Kikan seraya membersihkan makanan yang tumpah di kemeja pria itu. Tangannya sibuk mengusap tumpahan tanpa melihat sama sekali ke arah pria ini. Kikan terlalu panik hingga yang ada di dalam pikirannya hanyalah membersihkan pakaian pria ini.


 


Bola mata pria ini menatap Kikan agak lama. Lalu melihat ke arah pakaiannya sendiri.


 


"Tidak perlu panik. Berkat dirimu, aku bisa bersantai dengan alasan jas-ku kotor." Mungkin pria itu memang benar-benar bersyukur pakaiannya kotor, tapi di telinga Kikan, pria itu seperti mengatakan sindiran yang tajam. Ini membuat Kikan makin keras berusaha membersihkan.


 


"Maafkan saya. Saya tidak sengaja," ujar Kikan tetap berusaha membersihkan pakaian pria itu.


 


"Berhenti," kata pria itu seraya menangkap tangan Kikan untuk berhenti membersihkan. Rupanya ia sadar karena teriakan gadis yang duduk di sana tadi bahwa perempuan inilah kakaknya.


 


Saat ini kepala Kikan mendongak. Mata bulat itu menatap. Pria itu tertegun.


 


 


"Aku tahu. Tidak apa-apa. Sudah aku bilang aku tidak apa-apa. Bahkan aku bisa beristirahat dulu karena pakaian ini kotor," kata pria itu masih mencoba menatap Kikan yang menunduk. "Kamu mengerti?" Mendadak pria itu memiringkan kepala untuk mendapat perhatian bola mata Kikan yang menghadap ke lantai.


 


Bola mata Kikan mengerjap. Kepalanya langsung menjauh dari pria itu. Kemudian mengangguk mengerti.


 


"Y-ya. Bisa minta tolong lepaskan tangan saya?" pinta Kikan. Pria itu menengok ke tangannya. Ternyata dia masih memegang pergelangan tangan perempuan ini.


 


"Ah, ya." Pria itu melepaskan tangannya. Beberapa orang muncul di sana. Sepertinya para orang-orang keluarga presdir.


 


"Kakak enggak apa-apa?" tanya Adis yang kemudian datang mendekat pada Kikan. Gadis itu memeluk Kikan.


 


"Awas, jangan menginjak tumpahan makanan. Aku enggak apa-apa," sahut Kikan seraya menepuk pundak gadis itu. Pria itu tampak terus memperhatikan semua pergerakan Kikan. Sesaat ia menoleh pada makanan yang berantakan tadi.

__ADS_1


 


Beberapa orang mendekat ke pintu ruangan ini. Kikan terkejut. Dia langsung menepikan Adis. Berusaha menyembunyikan gadis ini dari mereka di balik punggungnya. Kikan tidak ingin mereka menangkap gadis ini. Begitu yang ada di dalam benaknya sekarang. Pria itu heran melihat sikap Kikan barusan.


 


"Ada apa, Tuan?" tanya mereka mengejutkan pada pria yang ada di depannya.


 


"Ah, kalian. Tidak ada apa-apa. Oh, ya. Panggilkan orang untuk membersihkan tumpahan itu," tunjuk pria itu pada makanan dan pecahan keramik yang berserakan.


 


"Baik, Tuan."


 


"Juga ambilkan makanan untuk gantinya."


 


Kikan mengerjap melihat mereka patuh. Siapa pria ini? Mengapa mereka sangat patuh?


 


"Kamu masih perlu makanan untuk adikmu ini, kan?" tanya pria itu seraya melirik ke Adis.


 


"Itu ... Saya bisa mengambilkan sendiri." Kikan tidak mau merepotkan orang lain. Apalagi dia tidak ingin keberadaan Adis di ketahui banyak orang.


 


"Jangan khawatir. Tidak akan ada yang tahu kamu membawa adikmu ke pesta ini," kata pria itu mengejutkan. Kikan langsung melirik ke Adis yang tetap diam sejak tadi di belakang punggungnya. Pria ini mengira Adis adiknya. Juga sadar bahwa Kikan berusaha menyembunyikannya.


 


"Mereka akan membawa makanan. Jadi kamu tetap bisa di ruangan ini untuk makan," kata pria itu pada Adis. "Aku akan pergi," pamit pria itu kemudian.


 


"Tapi pakaian Anda ..." Kikan masih khawatir pada kemeja pria ini yang berubah warna karena bekas makanan.


 


"Tidak apa-apa. Tidak masalah. Bahkan ... aku harus mengucap terima kasih untuk tumpahan ini. Terima kasih." Pria itu tersenyum. Lalu menjauh dari sana.


 


"Kakak itu baik, ya Kak Kikan." Adis tidak lagi bersembunyi.


 

__ADS_1


"Entahlah. Tidak semua yang bersikap manis itu baik." Masih ada luka di hati Kikan. Itu terlihat jelas di mata wanita ini. "Sebaiknya kita berharap saja pria itu tidak membesar-besarkan masalah ini. Jadi tetap tidak ada yang tahu soal kamu di sini," harap Kikan. Adis mengangguk.


___


__ADS_2