Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 51


__ADS_3

Pagi ini, setelah kepulangan mereka berdua dari rumah ibu Kikan, Dicto di hadapkan pada satu masalah di kantor.


 


"Bagaimana ini bisa terjadi, Astra?" tanya Dicto.


 


"Maafkan aku. Semua itu mungkin memang kurang pengawasan dari aku. Jadi sebagai ketua tim perencanaan 1, aku meminta maaf." Astra menundukkan kepala. "Aku akan mengatasinya."


 


"Bagaimana kamu akan melakukannya? Jika pihak Glow menuntut, kita akan banyak mengeluarkan uang untuk membayar denda," ujar Dicto.


 


"Ya. Tinggal menunggu pihak Glow tahu soal bocornya desain produk mereka yang baru, semuanya akan merusak citra perusahaan." Astra mengangguk paham "Soal unggahan anonim itu sudah bisa di hapus. Tinggal menelusuri siapa yang sudah menyebarkan foto produk yang baru itu.”


 


"Kikan harus bertanggung jawab," kata Dicto mengejutkan. Astra menatap pria di depannya lurus-lurus.


 


"Kamu akan memberikan hukuman bagi dia?"


 


"Ya. Bukankah dia yang menandatangani surat perjanjian kerahasiaan? Apalagi kabar ini sudah di dengar oleh semua ketua tim selain tim 1.”


 


"Tapi, dia istrimu Dicto." Astra tidak percaya.


 


"Aku tahu. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab?" tanya Dicto balik. Astra terdiam.


 


"Aku bisa melakukannya," kata Astra akhirnya. Dicto menatap Astra. Mereka saling bertatap mata.


 


"Kenapa kamu yang menggantikan kesalahan Kikan?" tanya Dicto dengan kerutan di dahinya.


 


"Karena aku adalah ketua tim," sahut Astra yakin.


 


"Jadi kamu akan menerima semua hukuman yang akan di berikan pada setiap anggota mu saat mereka melakukan kesalahan?" todong Dicto.


 


"Itu ..." Astra ragu.


 


"Jangan mencoba menjadi pahlawan karena itu Kikan, Astra. Tidak hanya kamu, aku juga bisa. Dan yang lebih pantas mendapat hukuman jika itu untuk menggantikan Kikan, itu adalah aku. Bukan kamu," kata Dicto menyadarkan Astra bahwa posisinya jauh lebih berhak di atasnya.


 


"Aku hanya ingin menyelamatkan bawahan ku."


 


"Aku ucapkan terima kasih untuk itu. Namun itu tidak perlu," kata Dicto sambil tersenyum. Namun Astra menangkapnya itu adalah ancaman.

__ADS_1


 


***


 


Demi membuat tim lain yang sudah tahu soal ini tenang, Dicto memilih mengeluarkan Kikan dari tim perencanaan 1 juga proyek Glow ini. Astra menatap Kikan yang sedang dikerubuti teman-temannya.


 


"Aduh Kak Kikan ... Kenapa Pak Dicto jahat banget sih, mengeluarkan kakak dari tim," keluh Arin sambil menekuk lengan Kikan.


 


"Tidak. Pak Dicto tidak jahat. Semuanya sesuai prosedur. Karena aku yang bertanggung jawab, jadi aku akan menanggung kesalahan jika ada apa-apa dengan produk," kata Kikan hanya ingin menenangkan pemikiran orang-orang tentang Dicto. Bagaimana pun pria itu ada di sampingnya sebagai suami, meskipun semuanya masih berjalan perlahan.


 


"Ki, maaf ya aku enggak ikut. Padahal aku juga ngikutin kamu ke Glow pas tanda tangan itu, tapi hanya kamu yang bertanggung jawab." Cintya merasa bersalah.


 


"Enggak apa-apa. Memangnya mendapat hukuman perlu rame-rame?" Kikan tergelak pelan. Semuanya berpelukan. "Hei, aku hanya pindah ruangan saja. Aku pindah ke tim lain saja. Bukan di keluarkan," jelas Kikan lagi. Namun mereka tidak peduli. Mereka hanya ingin memeluk Kikan.


 


"Benar. Kikan itu hanya di hukum pindah ke tim perencanaan 2 saja, bukan di keluarkan. Sepertinya berlebihan kalau kalian bersikap seperti itu," kata Ruby yang duduk di kursinya merasa terganggu.


 


"Mungkin karena Ruby baru masuk ke tim ini, jadi perpisahan sepele ini tidak berpengaruh. Beda sama kita yang sudah lama sama Kikan," kata Cintya yang bikin Ruby mengerutkan kening. Merasa di serang. Apalagi semua mata menatap dia dengan pandangan kesal.


 


Ruby menipiskan bibir. Tidak bisa menjawab.


 


 


Di lorong Dicto sudah menunggu Kikan. Ia mendekat dan menyambar kotak barang-barang milik perempuan ini. Kikan terkejut.


 


"Jangan tertunduk lesu. Kamu harus tetap mendongakkan kepalamu," kata Dicto.


 


"Ya. Aku usahakan," sahut Kikan.


 


"Kamu tentu bisa. Kamu perempuan kuat Kikan. Masalah ini tidak harus membuatmu lemah. Ini masalah kecil jika melihat semua masalah yang kamu hadapi. Termasuk masalah yang aku buat, dan melukai mu," kata Dicto.


 


Pria ini benar. Ini masalah kecil yang tidak sepadan dengan kenyataan pahit yang ia alami.


 


"Masuk ke ruanganku," perintah Dicto tiba-tiba.


 


"Untuk apa?" tanya Kikan heran.


 


"Masuk saja, jangan membantah," kata Dicto. Kikan pun berhenti membantah. Ia mengikuti Dicto yang masuk lebih dulu. Kikan masuk dan menutup pintu. Dicto meletakkan kotak barang-barangnya dan berbalik ke arah Kikan. Mendadak pria ini memeluk Kikan.

__ADS_1


 


"Dic ..." tegur Kikan pelan.


 


"Kamu harus diam. Aku sedang memberikan semua semangatku untukmu," kata Dicto melucu. Kikan tersenyum tipis. "Karena aku tidak ingin melihatmu lesu. Kamu harus bersemangat meski di hadapkan hal-hal seperti ini."


 


"Aku tidak apa-apa. Jadi bisa lepaskan aku?" tanya Kikan. Dari pelukan ini tercium lagi aroma yang pelan-pelan ia hapal.  Aroma tubuh milik pria ini. Terkadang itu membuat Kikan kalang kabut sendiri.


 


"Tunggu sebentar saja." Dicto masih memejamkan mata sambil memeluk Kikan. Kemudian melepaskan tubuh perempuan ini setelah puas. "Aku akan mencari tahu, siapa sebenarnya yang memfoto produk itu. Karena produk itu hanya kita dan pihak Glow yang memiliki. Jika kemungkinan itu dari pihak Glow, itu berarti aku harus mengumumkan pada semua orang bahwa kamu tidak lalai."


 


"Terima kasih," kata Kikan.


 


"Jangan berterima kasih. Aku memang wajib melakukan ini untuk istriku." Sekali lagi kata istri mampu membuat Kikan terkejut. "Sepertinya kamu selalu berjingkat kaget saat aku menyebut kata istri di depanmu. Kenapa?"


 


"Tidak apa-apa. Biarkan aku ke ruangan tim 2 sekarang," kata Kikan terburu-buru. Wajahnya sedikit panas karena pertanyaan itu. Dicto tersenyum miring.


 


"Aku bantu bawakan kotak barang mu," kata Dicto.


 


"Tidak perlu Dicto. Aku akan ke sana sendirian."


 


"Tidak."


 


"Dicto, aku bisa ke ruangan tim 2 sendiri. Ini tidak berat. Orang-orang akan heboh jika kamu menolongku." Kikan berusaha meminta kotak barangnya.


 


"Sebenarnya aku lebih suka orang-orang heboh dan tahu bahwa kita suami istri, daripada seperti ini. Meskipun aku juga menikmati menikah sembunyi-sembunyi seperti ini," kata Dicto mengaku. Kikan hanya tersenyum tipis. "Kamu masih belum mau kalau hubungan kita ini di ketahui semua orang?" tanya Dicto dengan wajah mengiba.


 


“Bukan begitu.”


 


“Apa kamu masih ragu dengan semua perhatianku?” tanya Dicto lagi. Kikan terdiam. "Aku masih belum pantas mendapat pengakuan bahwa kita adalah suami istri?" Dicto mendekat. Mencegah Kikan menjauh darinya.


 


Kikan menghela napas.


 


"Mungkin bukan kamu belum pantas, tapi orang akan berpikir kamu terlalu sempurna untukku." Kikan menyentuh garis wajah pria ini. Dicto menangkap tangan itu. Lalu menggenggamnya.


 


"Tidak. Tidak. Aku tidak sempurna. Kesalahanku padamu itu menunjukkan kalau aku bukan pria sempurna." Dicto menggenggam tangan Kikan. “Jadi ... Aku bisa memberitahu semuanya?” desak Dicto. Kikan mengangguk pelan akhirnya. Hatinya mulai melunak. Dicto tersenyum. Mendadak ia mengecup kening Kikan. Ini mengejutkan Kikan. "Aku akan mengantarkanmu ke ruangan tim 2," tekad Dicto.


...____...

__ADS_1



__ADS_2