Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 57


__ADS_3

Kalimat Kikan terasa mengejutkan bagi Ruby. Wanita ini menarik bola matanya ke arah lain. Dia tidak ingin membuat matanya bersirobok dengan Kikan.


 


"Kenapa diam saja, Ruby?" tegur Dicto tidak senang kebaikan istrinya di abaikan. Kikan melihat ke arah Dicto. Memberi kode untuk sabar. Ruby menggerutu pelan. Astra tidak bereaksi banyak.


 


"Aku enggak kedinginan," kilah Ruby. Astra yang sedang mengelus lengan Ruby tahu, kalau perempuan ini berbohong. Tiba-tiba Ruby hendak muntah. Hawa dingin makin terasa. Itu berpengaruh pada ibu hamil yang sensitif. Dicto meminta mantel yang ada di tangan Kikan. Perempuan ini menyerahkan.


 


"Jangan bertingkah. Kakak tahu tubuh kamu menggigil." Dicto menarik tangan Ruby dan menyerahkan mantel itu dengan paksa. "Cepat pakai. Kikan memberikan mantelnya agar kamu tidak kedinginan yang akan membuatmu mual. Dia tahu itu karena pernah mengalaminya. Jadi Kikan paham dan berniat menolongmu.”


 


Ruby menggerutu menerima mantel milik Kikan.


 


"Pakai saja. Kamu bilang perutmu mual terus jika kena hawa dingin," kata Astra mendukung Dicto. Ruby mendelik. Lalu menipiskan bibir karena kesal juga dilema. Antara enggan, tapi butuh.


 


Sebenarnya bukan tidak butuh, tapi dia sangat tidak nyaman dengan kebaikan Kikan yang sudah pernah ia benci. Apalagi kebenciannya adalah karena cemburu buta. Yang dimana itu artinya, kebenciannya pada Kikan tanpa alasan yang jelas.


 


"Kenapa tadi tidak memakai apapun?" tegur Dicto sambil menarik tubuh Kikan mendekat padanya dengan lembut agar tidak kedinginan. Kikan mendongak. Dicto menundukkan pandangan dan tersenyum pada perempuan ini. Ruby tidak menjawab karena kesal. Namun perlahan ia mencoba memakai mantel itu. Astra membantunya dengan penuh perhatian.


 


"Tadi udaranya terasa panas. Mungkin karena mau turun hujan. Dan kita berangkat karena terburu-buru." Astra menjelaskan kenapa istrinya tidak memakai mantel atau apapun untuk menahan hawa dingin.


 


Karyawan mini market yang sibuk menata barang di rak sejak tadi, sesekali melongok ke arah mereka.


 


Dicto mulai melepas jaket miliknya.


 


"Pakailah. Aku tahu kamu kedinginan," ujar Dicto yang paham istrinya sengaja memberikan mantel pada adiknya dan membiarkan tubuhnya sendiri kedinginan. Kikan tersenyum. Ia pun memakai jaket milik Dicto.


 


...***...


 


Akhirnya Ruby terpaksa memakai mantel milik Kikan dan masuk ke dalam mobil setelah dipayungi oleh Astra.


 


"Kamu senang, aku memakai mantel mantan kekasihmu?" tanya Ruby tanpa melihat ke samping.


 

__ADS_1


"Aku senang kamu memakainya karena jadi tidak kedinginan," sahut Astra datar.


 


"Hanya itu? Kamu pasti senang karena Kikan memberikannya," tuduh Ruby. Di sini Astra langsung menepikan mobilnya mendengar ucapan Ruby.


 


"Bisa hentikan pertengkaran semacam ini, Ruby?" tanya Astra tegas.


 


"Kamu terus saja bersikap membela dia. Itu bukti kalau kamu masih memendam perasaan padanya." Ruby tetap meneruskan kalimatnya membahas Kikan.


 


"Tolong berhenti bicara soal Kikan, Ruby," pinta Astra dengan menekan nada bicaranya yang mulai meninggi.


 


"Tidak. Aku tidak akan menghentikan pertengkaran semacam ini karena aku marah padamu. Kamu pasti masih mencintai Kikan," tuding Ruby. Raut wajah perempuan ini makin mengeras. "Katakan saja," desak Ruby.


 


Ruby marah. Hujan di luar makin deras. Astra menghempaskan napas dengan kasar. Ia gusar.


 


"Jika yang kamu katakan saat kita pertama kali menikah, ya. Aku memang masih mencintainya," ungkap Astra membuat Ruby melebarkan mata. Tangannya mengepal. Mendengar fakta soal Dicto dengan Kikan dari mulut pria ini sendiri terasa menyesakkan.


 


"Kamu sadar apa yang kamu katakan?" tanya Ruby dengan suara bergetar.


 


 


"Jika kamu memang tidak mencintaiku, seharusnya kamu mengatakannya sejak awal, Astra!" teriak Ruby.


 


"Kamu pikir aku tidak ingin mengatakannya? Aku sudah mengatakannya padamu, kalau aku ingin kita putus. Aku ingin kembali pada Kikan, Ruby. Aku ingin mengembalikan semuanya seperti semula. Dimana aku terjebak dalam cinta yang seharusnya tidak pernah terjadi. Aku ingin mengatakannya," ungkap Astra dengan marah yang tertahan.


 


Ruby berusaha kuat tidak menangis.


 


"Lalu kenapa kamu tidak bicara soal kamu dan Kikan?" desis Ruby.


 


"Bunuh diri itu. Pilihanmu untuk mengakhiri hidupmu itu yang menahan aku pergi darimu. Tindakanmu itu yang membuatku terdesak untuk menyetujui semua rencana Presdir untuk menikahimu. Aku terjebak di antara karir dan cintaku. Jika aku menolak menikahimu, Presdir akan membuang ku. Perjuanganku akan hancur seketika, dan aku akan kembali ke kehidupanku yang hancur dengan ayahku. Aku tidak mau itu."


 


"Jadi kamu menerima cintaku karena karirmu di ZEUs?" tanya Ruby tidak percaya.

__ADS_1


 


"Sudah aku katakan aku terpaksa melakukannya, Ruby. Aku memilih menyelamatkanmu dan membuang Kikan yang masih menjadi kekasihku. Aku juga berkorban, Ruby," kata Astra frustasi. "Jadi jangan terus mempermasalahkan tentang aku dan Kikan dulu dengan terus menerus."


 


Ruby menitikkan air mata. Astra berdecih kesal melihat Ruby menangis.


 


"Maafkan aku," lirih Astra seraya menyentuh tangan Ruby. Namun perempuan ini memilih menepis tangan Astra dan membuka pintu mobil. Keluar dan menerobos hujan. "Ruby!" teriak Astra panik. Dia ikut keluar dan berlari mengejar perempuan itu. Ruby tidak menggubris panggilan Astra dan tetap berjalan menerobos hujan.


 


Langkah Astra lebih sigap. Hingga pria ini mampu menangkap tangan Ruby dan menahannya.


 


"Ayo kita masuk ke mobil. Sekarang hujan deras. Aku tidak mau kamu sakit."


 


"Pergilah!" usir Ruby sedih dan marah. Dia tepis tangan Astra dari tubuhnya. Namun Astra kembali menangkapnya.


 


"Bagaimana aku bisa pergi kalau kamu kehujanan seperti ini."


 


"Jangan pedulikan aku lagi. Jika semua marahku selama ini pada Kikan ternyata karena aku sendiri, aku akan berusaha menghilangkannya tanpa perlu kamu."


 


"Ruby ... Tolong kembalilah. Kasihan bayi yang ada di dalam perut kamu kalau kamu sakit," kata Astra masih mencoba membujuk istrinya kembali ke mobil.


 


"Aku tidak butuh perhatian kamu lagi Astra! Aku akan buat kamu bebas mencintai Kikan!" Ruby berteriak sedih. Astra tidak sabar. Hujan kian mengguyur tubuh perempuan ini. Ia langsung menarik tubuh Ruby dan memeluknya.


 


"Lepaskan aku!" teriak Ruby. Sekalipun wanita itu berontak, Astra tetap tidak ingin melepaskannya.


 


"Kikan dan aku adalah masa lalu, Ruby! Aku benar-benar sudah tidak mencintainya. Aku lebih memilih kamu menjadi istriku. Pendampingku. Jadi tolong maafkan aku yang sudah menyakitimu. Berikan aku kesempatan untuk menunjukkannya!" teriak Astra melawan suara deras hujan yang menggila.


 


Tangis Ruby pecah. Ia menangis sejadi-jadinya. Air matanya bercampur jadi satu dengan air hujan yang melewati pipinya. Astra memeluknya.


 


“Kita masuk ke mobil Ruby. Kita pulang. Jangan sampai hujan ini membuat tubuhmu sakit dan itu berpengaruh dengan bayi kita,” bisik Astra. Dia pun segera menggendong tubuh Ruby. Membawanya ke dalam mobil. “Kita pulang Ruby,” kata Astra yang sudah masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesin dan melaju di jalanan yang basah.


..._____...


 

__ADS_1



 


__ADS_2