Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 15 Bertengkar


__ADS_3

"Jam istirahat sudah usai. Sebaiknya kita segera kembali ke ruangan," kata Kikan seraya melihat ke arloji di pergelangan tangannya. Dia tidak harus berada di sini lama-lama. Kaki Kikan sudah beranjak, tapi dengan cepat Ruby menahannya. Kikan melirik ke arah tangan perempuan ini yang menahan pada lengannya, lalu mendongak.


 


"Jawab Kikan," paksa Ruby. Mata itu sudah menunjukkan hawa permusuhan.


 


"Aku tidak tahu apa masalahnya. Kalaupun itu benar, lalu kenapa? Aku hanya mantan. Sementara kamu istrinya. Bukankah posisimu lebih tinggi dariku?" tanya Kikan seraya melepas tangan Ruby dengan paksa. "Kamu lebih berhak atas Astra. Jadi tidak perlu menggangguku." Kikan melangkah pergi menjauh dari Ruby yang menatap punggungnya dengan marah.


 


**


 


Astra terkejut saat menemukan lacinya terbuka dan fotonya dengan Kikan berada di atas lantai. Dia tahu Ruby sempat berada di ruangan ini. Namun dia tidak menduga kalau perempuan itu akan membongkar bingkai yang sudah ada sejak lama. Dimana dia menyimpan foto Kikan setelah tahu akan menikah dengan Ruby. Tubuhnya membungkuk, mengambil foto yang masih terlihat baru itu.


 


"Sial," umpat Astra geram. Dia masukkan foto tadi ke dalam salah satu buku yang ada di rak. Lalu keluar ruangan tanpa membereskan meja.


 


Saat itu dia berpapasan dengan Kikan. Tatapan mereka bersirobok.


 


"Kikan," panggil Astra. Kaki Kikan yang sedang melangkah terpaksa berhenti. Tepat berada di sampingnya. Ada nada minta tolong di sana. Kikan masih lemah hingga dia memilih berhenti. "Dia menemuimu?" tanya Astra tanpa menjelaskan tentang apa. Dia yakin perempuan itu pasti mendatangi Kikan karena sudah melihat foto tadi.


 


Kikan diam.


 


"Lebih baik kamu segera temukan dia." Kikan langsung pergi setelah mengatakan itu. Dari jawaban Kikan, Astra tahu bahwa Ruby sudah menemuinya. Itu berarti Ruby tahu bahwa Kikan adalah mantan kekasihnya. Juga tahu bahwa ia masih menyimpan foto mereka berdua.


 


Kaki Astra setengah berlari mencari Ruby.


 


Arin yang sejak tadi melihat wajah tegang Astra, segera mendekat saat Kikan muncul.


 


"Kak, apa yang mau di katakan Ruby? Apa dia bertanya tentang kakak dan Pak Astra?" bisik Arin. Kikan tersenyum tipis.


 


"Ya."


 


"Benarkah? Kakak mengakuinya?" Arin penasaran sekaligus takut.


 


"Tidak," kata Kikan.


 


"Bukan aku dan Kak Rangga yang mengatakannya, Kak. Kita berdua tidak membuka soal hubungan kalian pada siapapun. Sungguh." Arin tidak enak. Karena yang tahu hubungan Kikan kemungkinan memang mereka berdua.

__ADS_1


 


"Aku tidak menuduh kalian."


 


"Aku tahu, tapi tetap saja aku merasa tidak enak. Karena kan kita berdua yang tahu," kata Arin masih pelan.


 


"Namun aku yakin dia pasti menemukan sesuatu yang mengatakan bahwa aku sempat menjalin hubungan asmara dengan Astra. Dia punya bukti. Ruby tidak akan sembarangan menuduh kalau belum mengantongi bukti," jelas Kikan yakin.


 


"Tapi emangnya salah, kalau kalian pernah menjadi sepasang kekasih?" tanya Arin seraya mencibir. "Lagipula sekarang Pak Astra sudah jadi suaminya. Bukankah itu berarti dia sudah bisa memonopoli hati Pak Astra sendiri. Dia pemenangnya, tapi bertingkah seperti yang kalah. Heran."


 


"Sudah. Jangan bahas itu lagi. Lalu ... hati-hati jangan bicarakan tentang itu di depan orang lain," nasehat Kikan.


 


"Siap. Arin tidak akan berkhianat," janji Arin.


 


**


 


Ruby sudah berjalan hendak kembali ke ruangan tim perencanaan 1. Saat itu Astra sudah menemukan perempuan ini lebih dulu sebelum masuk ke ruangan. Masih di lorong.


 


"Ruby," panggil Astra. Ruby yang berjalan menunduk, kini mendongak. Langkahnya berhenti. Manik mata Ruby menatap Astra lurus-lurus saat kaki Astra melangkah dengan pelan saat mendekati dirinya.


 


 


"Aku tidak peduli dengan itu."


 


"Tidak peduli? Oh, tentu. Kamu tidak lagi peduli soal foto itu karena tetap di kenang di hatimu," cemooh Ruby.


 


"Maafkan aku, kamu baru tahu soal Kikan."


 


"Ya, tidak apa-apa. Toh, yang menikah denganmu adalah aku, bukan dia." Astra sudah berdiri di depan Ruby. "Tapi aku belum yakin dengan hatimu." Ruby menunjuk dada Astra dengan geram. Dia marah. Astra membiarkan Ruby marah.


 


"Itu hanya foto, Ruby. Hanya foto. Kamu tidak bisa menyalahkan aku karena foto itu sudah lama. Lagipula kemungkinan aku lupa membuang semua hal yang berkaitan dengan Kikan. Itu tidak di sengaja," kilah Astra.


 


"Hanya foto ya ... Benar. Itu hanya sebuah foto. Bukan hal yang besar." Ruby mendengus. "Tapi tetap saja aku tidak bisa mendiamkan ini, Astra. Bisa saja kamu menyimpan foto Kikan lagi di tempat lain yang aku tidak tahu." Ruby marah.


 


Rangga yang sebenarnya ingin ke toilet urung karena itu.

__ADS_1


 


"Busyet dah. Mana kebelet nih, mereka malah bertengkar di sana," keluh Rangga seraya memegangi perutnya. Saat dia kembali dan akan mencari toilet di lantai lain, Cintya muncul.


 


"Katanya mau ke toilet? Kenapa balik?" tanya Cintya seraya menepuk punggung Rangga.


 


"Eit, eit. Mau kemana?" tanya Rangga menahan langkah perempuan ini dengan menarik bahu Cintia.


 


"Ya, mau ke toilet lah ..."


 


"Jangan lewat saja. Cari jalan lain," usir Rangga.


 


"Kenapa sih? Usil banget. Kalau harus lewat jalan lain itu artinya muter. Kalau mau ke toilet lantai lain, nanti gak keburu," ujar Cintya benar. Namun Rangga tidak ingin pertengkaran pasangan baru itu terlihat orang lain.


 


Perempuan ini tetap nekat meski Rangga menahannya. Namun saat Cintya sudah lewat belokan, dia kembali dengan terburu-buru. lalu bersembunyi sambil bersandar pada dinding. Napasnya memburu seperti habis melihat hantu.


 


"Kenapa?" tanya Rangga yang belum pergi. Rasa ingin ke toilet lenyap seketika.


 


"Ada Pak Astra dan Ruby. Mereka bertengkar," ujar Cintya dengan wajah terkejutnya. Namun bukannya ingin pergi, Cintya justru tertarik untuk mendengarkan. Menguping pembicaraan mereka.


 


"Sudahlah Ruby. Kita baru menikah. Dan bahan ini baru beberapa hari. Haruskan kita bertengkar?" tanya Astra lelah.


 


"Aku juga tidak ingin bertengkar, Astra. Menikah denganmu adalah impianmu, tapi ...,"  Ruby tidak bisa meneruskan kalimatnya karena air matanya berderai.


 


Astra memeluk Ruby. Wanita ini tidak menolaknya. Karena dia memang ingin mendapat pelukan dari pria ini meskipun sudah menyakitinya.


 


"Rangga. Drama apa yang sedang terjadi? Bukankah mereka adalah pasangan baru? Kenapa sudah ada prahara di antara mereka?"  tanya Cintya yang akhirnya di seret paksa oleh Rangga untuk kembali ke ruangan mereka lebih dulu. Karena kalau tidak, Cintya akan terus menguping dan mungkin saja mereka ketahuan.


 


"Itulah, kenapa aku tidak mau menjadi pria tampan. Karena pasti akan terjadi masalah," kata Rangga.


 


"Hadehhh ... Makanya kamu di kasih muka standar begini. Berterima kasihlah wajahmu tidak tampan dan rupawan," ejek Cintya.


 


 


____

__ADS_1


 


__ADS_2