Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 7 Adik Astra


__ADS_3

Security perusahaan heran saat ada gadis sekolah berjalan dengan bingung di lobi perusahaan. Tangannya memegang tali ransel di punggungnya.


 


“Sedang apa kamu di sini, Nak?” tanya security mendekatinya. Mendengar ada yang bertanya, ia lepaskan lolipop itu dari mulutnya.


 


“Aku ingin bertemu kakakku.”


 


“Siapa kakakmu?”


 


“Kak Astra,” jawab gadis itu.


 


“Astra?” Security itu mengerutkan kening. Tidak banyak orang bernama Astra di perusahaan ini. Yang dia tahu adalah kepala tim di bagian perencanaan. Namun melihat tampilan gadis ini yang agak serampangan, security ragu yang di cari gadis ini adalah Astra yang dia tahu. “Tidak ada yang namanya Astra. Mungkin kamu salah. Bukan perusahaan ini tempat kakak kamu bekerja.”


 


“Oh, ya?” Gadis itu melihat-lihat ke sekitar. Ada nama perusahaan di dinding meja resepsionis. “Ini perusahaan ZEUs kan? Jadi kakakku pasti bekerja di perusahaan ini.” Gadis itu bersikeras.


 


“Namun tidak ada nama Astra yang kamu maksud ... “ Security itu tetap mengatakan tidak ada nama Astra. “Kalau memang kakakmu itu bekerja di sini, coba kamu telepon dan suruh menjemputmu,” kata security mulai tidak sabar.


 


“Aku sudah mencoba meneleponnya, tapi tetap tidak di angkat. Bahkan mati saat aku mencoba meneleponnya lagi,” kata gadis itu.


 


“Aneh. Kamu pasti bohong,” tuding security mencibir. Dia tidak yakin apa yang di katakan gadis ini.


 


“Tidak. Aku tidak bohong,” kata gadis itu kesal.


 


“Sudahlah pulang sana. Ini bukan tempat bermain anak-anak.” Security itu membawa tubuh gadis ini menuju pintu depan.


 


“Tidak. Aku tidak berbohong. Tolonglah,” pinta gadis itu. Namun security tidak menggubris kata-kata gadis ini. “Kak Kikan!” teriak gadis itu yang melihat Kikan melintas di belakang sana.

__ADS_1


 


Kepala Kikan menoleh. Dia terkejut adik Astra di gelandang oleh security.


 


“Adis! Tunggu sebentar!” teriak Kikan. Security berhenti sejenak karena ada yang memanggil. Dia langsung membungkuk memberi hormat pada Kikan yang mendekati mereka. “Mau di bawa kemana, dia?” tanya Kikan panik.


 


“Itu ...” Security itu langsung melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan si gadis SMA. Adis memijat pergelangan tangannya.


 


“Aku ingin bertemu Kak Astra, tapi Bapak ini melarangku karena beliau bilang tidak ada nama Astra di sini,” ujar gadis itu mengadu.


 


“Maaf, Mbak. Apa benar, gadis ini adik Pak Astra?” tanya security itu kurang yakin.


 


“Ya. Dia adik Pak Astra,” jelas Kikan. Gadis itu melirik security itu kesal.


 


“Maaf. Saya tidak tahu,” kata security itu merasa bersalah. Setelahnya security itu menjauh dari mereka. Menyerahkan gadis SMA ini pada Kikan.


 


 


“Sudah, tapi kakak tidak mengangkat teleponnya. Bahkan saat aku hubungi lagi, nomornya tidak dapat di hubungi,” keluh Adis. Tidak bisa di hubungi? Namun yang dia lihat tadi, Astra ada di ruangannya.


 


“Ayo aku antar.” Kikan mengajak gadis ini naik lift ke ruangannya. “Kamu sudah sembuh?” tanya Kikan saat di dalam lift.


 


“Sembuh? Aku tidak sakit,” jawab Adis membuat Kikan menoleh cepat. Ia membeku sejenak.


 


“Oh, begitu ...”


"Kenapa?" tanya Adis. Kepala Kikan menggeleng. Ia menyadari sesuatu. Astra pasti menemani Ruby saat itu. Bukan dengan adiknya yang sakit. Saat itu dia sudah di bohongi. Namun dengan bodoh, ia mempercayainya. Itu sudah terlihat aneh saat dirinya tidak di perkenankan menjenguk adiknya yang sakit.


 

__ADS_1


“Memangnya Kak Astra bilang aku sakit?” tanya Adis. Kikan hanya tersenyum. Ia tidak ingin membahas.


 


“Aku antar kamu sampai di lantai ruangan Astra ya. Nanti kamu bisa ke ruangannya sendiri,” kata Kikan mengalihkan pembicaraan ke hal lain.


 


“Kenapa?”


 


Ting! Suara pintu lift terbuka. Sungguh mengejutkan bahwa di depan pintu ada Ruby. Kikan mengangguk bersikap sopan. Meskipun saat ini hatinya tersayat-sayat, tidak akan ada yang mengerti kalau sebenarnya perempuan ini yang telah merebut Astra darinya.


 


Kikan berniat tidak keluar dari pintu lift awalnya, tapi saat melihat Ruby ada di sana, ia ragu.


 


“Jadi aku harus turun di sini, Kak?” tanya Adis. Kikan mengangguk.


 


“Siapa dia?” tanya Ruby yang lebih tertarik dengan gadis berseragam daripada masuk ke dalam lift. Kikan terkejut. Akhirnya ia memilih ikut keluar dari pintu lift. “Kenapa ada anak sekolah berkeliaran di tempat ini?” Kening Ruby mengerut. Wanita ini tidak suka. Kenapa Ruby tidak mengenal adik calon suaminya? Melihat gelagat tidak baik, Kikan ingin membawa Adis menjauh.


 


“Hanya salah ...”


 


“Aku adik Astra. Kakak pasti tahu dengan kak Astra,” kata Adis seraya tersenyum ramah. Kikan panik. Dia yang berniat menyembunyikan identitas gadis ini, terhenyak kaget.


 


Reaksi Ruby sungguh kontras dengan senyuman milik Adis.


 


“Adik?” tanya Ruby heran.


 


“Benar. Kakakku sepertinya orang penting, jadi kakak pasti mengenalnya,” kata Adis bangga.


 


“Jangan bercanda. Astra itu anak tunggal. Dia tidak punya adik atau kakak,” terang Ruby yakin yang membuat gadis SMA ini ternganga. Kikan sudah merasa tidak enak tadi, dan inilah jawabannya. Kemungkinan Astra tidak mengenakan Ruby pada keluarganya.

__ADS_1


_____


__ADS_2