
Astra keluar dan meninggalkan kamar perawatan Kikan. Arin yang berada di sana melihat punggung pria itu pergi. Kakinya hendak melangkah masuk saat samar-samar suara tangis terdengar dari dalam. Tangan Arin mengambang. Perempuan ini urung untuk membuka pintu.
“Sepertinya aku akan ke toilet dulu,” gumam Arin dan menutup pintu pelan.
***
Rangga mau kembali ke kamar perawatan Kikan, tapi dia berpapasan dengan Arin yang baru saja keluar dari toilet.
“Kikan sudah tidur lagi?” tegur Rangga saat melihat kekasihnya.
“Enggak. Ada Pak Astra tadi.”
“O.”
“Kok biasa aja?” tanya Arin dengan bibir cemberut.
“Apanya yang biasa?” Rangga heran.
“Kak Rangga enggak heran kenapa bisa Pak Astra muncul di rumah sakit?” selidik Arin.
“Enggak tuh, kenapa?”
__ADS_1
“Dasar laki-laki. Kan seharusnya Pak Astra itu enggak usah muncul. Masa dia enggak peka kalau Kak Kikan itu masih sakit hati,” omel Arin.
“Kan itu hanya menjenguk. Lagipula dia itu atasan. Jadi ketika ada bawahannya pingsan saat masih berada di perusahaan, Pak Astra merasa perlu menjenguknya,” kata Rangga dalam kacamata seorang laki-laki.
“Tapi enggak bisa gitu. Kak Kikan itu habis di sakiti sama Pak Astra, jadi Pak Astra itu harusnya tahu diri. Merasa bersalah, begitu. Jangan sok perhatian setelah membuang Kak Kikan dong.”
“Mungkin menyesal?” jawab Rangga asal.
“Menyesal? Sekarang? Waktu itu kenapa dia mau menikah dengan Ruby? Padahal kan waktu itu Pak Astra kekasihnya Kak Kikan, tapi dia seenaknya saja tiba-tiba menikah dengan Ruby,” geram Arin.
Astra? Kikan?
Dicto menoleh ke lorong di depannya. Lalu ia bergegas menuju kamar Kikan di rawat.
Bodoh! umpat Dicto. Sekarang fokusnya hanya satu, yaitu mendatangi kamar Kikan segera dan ... Napas Dicto naik turun karena tergesa-gesa ingin segera sampai di kamar ini. Dicto hendak membuka pintu dan masuk, tapi ... mendadak ada ragu yang masuk di dalam hatinya.
Dia berniat mengaku salah dan meminta maaf. Namun apa semudah itu? Apa semuanya akan semudah yang dia pikiran? Dia sudah menodai wanita itu, tidak mungkin Kikan langsung memaafkan dan selesai begitu saja. Apakah sebenarnya Kikan tidak tahu kalau dia adalah pria yang menodainya malam itu, jadi dia bersikap biasa saja setelah bertemu dengannya? Dicto jadi meragu.
Dia melihat di dalam sana, Kikan sedang duduk dengan mengusap wajahnya. Kepedihan terpancar jelas dari wajah perempuan itu. Tentu saja begitu. Apalagi dia tahu bahwa Kikan belum pernah melakukannya, karena ada noda merah di atas sprei yang menunjukkan itu pertama kalinya. Kejadian itu pasti membuatnya terpukul. Apalagi harus bertemu lagi sebagai bawahan dan atasan.
Arin sempat menemukan wakil Presdir mereka berdiri di depan pintu dan melihat keadaan di dalam. Namun dia tidak mengerti kenapa pria itu tidak masuk dan justru pergi dari sana.
__ADS_1
Sebelum masuk, Arin mengamati sejenak keadaan di dalam. Terlihat Kikan sudah tidak lagi menangis. Arin akhirnya berani masuk.
“Aku pikir aku belum boleh masuk selamanya,” ledek Arin saat berada di dalam. Kikan yang tadinya menunduk, kini mendongak.
“Darimana?” tanya Kikan dengan wajah senang akhirnya Arin muncul lagi.
“Ke toilet. Eh, iya. Barusan ada Pak Dicto di depan pintu,” ujar Arin membuat jantung Kikan bagai di pikul palu Godam. Matanya langsung melebar, dan menatap dengan was-was. "Pak Dicto dari menjenguk Kakak, ya?" tanya Arin seraya duduk di kursi samping ranjang.
“D-dicto?” tanya Kikan seraya terbata. Suaranya bergetar. Arin yang mendengar suara Kikan aneh, mengerjapkan mata. Tidak menduga reaksinya seperti itu.
“Iya,” sahut Arin seraya mengamati ekspresi Kikan yang mendadak ngeri. “Kak Kikan ... Ada apa?” tanya Arin cemas seraya mendekat dan menyentuh tubuh Kikan perlahan. Tubuh itu gemetaran.
“T-tidak. Aku tidak apa-apa,” sahut Kikan masih dengan suara dan tubuh bergetar. Arin khawatir. Kikan menarik selimut. Meringkuk dan memeluk dirinya sendiri. “Aku tidak apa-apa. Ya. Aku pasti tidak apa-apa,” racau Kikan pelan.
“Kak Kikan ....” Arin langsung memeluk tubuh Kikan. Melihat reaksi barusan, pasti telah terjadi sesuatu. Arin tidak pernah melihat reaksi ngeri barusan. Dia menduga pasti ada sesuatu yang telah terjadi pada Kikan.
Pikiran Arin pun tertuju pada wakil presiden direktur yang baru, Dicto. Karena saat mendengar nama itu, Kikan langsung gemetaran dan berwajah ngeri.
Selain cerita Pak Astra, sepertinya ada cerita lain lagi. Dan sepertinya itu berhubungan dengan Pak Dicto, tapi apa? Cerita apa yang membuat Kak Kikan bagai melihat hantu? Wajahnya langsung pucat pasi setelah aku bilang kalau ada Pak Dicto di depan pintu.
______
__ADS_1