
Kalimat Astra berhenti karena melihat Kikan berada di dalam sana. Sementara itu, Ruby yang hendak kembali ke meja, tidak jadi karena suaminya menghentikan kalimatnya. Akhirnya dia kembali mendekat ke ambang pintu dan ikut melongok ke dalam ruangan kakaknya. Dia terkejut saat melihat Kikan ada di dalam ruangan.
"Kikan?" seru Ruby. Astra menoleh ke samping. Sebenarnya dia bukan bermaksud ingin mengajak melihat Kikan dan Dicto bersama-sama, tapi Ruby sudah lebih dulu tahu keberadaan mereka berdua.
"Kalian tidak pernah melihat suami istri makan bersama?" tegur Dicto melihat Astra dan Ruby di ambang pintu. Kikan mengerjapkan mata mendengar Dicto mengatakan demikian. Ya. Di mata orang, dia dan Dicto memang suami istri sah. Itu masih asing di telinganya.
"Jadi sekarang Kak Dicto lebih suka makan di dalam ruangan?" tanya Ruby dengan setengah mengejek. Ia melangkah masuk dan menerobos Astra yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ya. Aku lebih tenang berada di sini apalagi dengan istriku," ujar Dicto yakin. Dia tersenyum pada Kikan yang tengah meneguk minuman. Perempuan ini tidak ingin ikut bicara.
"Padahal kakak tidak pernah dekat dengan Kikan, kenapa bisa jadi suami istri? Aku jadi ingin tahu alasan kak Dicto menikahi Kikan?" Ruby sungguh penasaran. Dia tahu siapa saja yang dekat dengan Dicto. Dan tidak ada nama Kikan di sana. Namun tiba-tiba saja ada kabar kakaknya akan menikah dengan AE ZEUs itu.
Dicto sudah mau mengatakan sesuatu karena dia marah, tapi tak di duga Kikan mulai bicara.
"Mau makan? Ayo masuk. Dicto memesan bermacam-macam makanan. Jadi kamu bisa fokus makan dan tidak banyak bicara seperti sekarang. Itu berisik sekali," ujar Kikan dingin yang membuat Ruby meradang. Astra menahan Ruby dan mengelus pelan lengan istrinya.
"Kamu membela dia?" tanya Ruby sengit.
"Aku tidak membelanya. Sudah ada Dicto sebagai suaminya yang akan membela. Kenapa aku harus ikut-ikutan membela dia?" tanya Astra balik. Ruby kesal. Ia melepaskan tangan Astra di lengannya.
Dicto terkejut mendengar kalimat tajam perempuan itu. Dan dia berpikir, mungkin karena ada Astra. Sebagai kekasih yang sudah meninggalkannya, Kikan tentu sangat sakit hati. Bibirnya tersenyum. Ia punya rencana.
"Masuklah. Kikan sudah mengijinkan kalian masuk. Jadi buat apa tetap di ambang pintu. Kikan tidak ingin banyak orang tahu soal kita. Ayo," ajak Dicto. Astra tidak ingin mengganggu mereka. Karena ada rasa aneh saat melihat Kikan bersama Dicto.
"Baiklah jika kalian memang ingin aku bergabung. Ayo, sayang ..." Ruby menggandeng tangan Astra dan mengajaknya duduk bersama setelah menutup pintu.
“Lebih baik biarkan mereka berdua saja,” cegah Astra.
“Kenapa? Aku kan adiknya kak Dicto, ya enggak apa-apa dong, gabung. Bukannya aku dan Kak Dicto begitu, saat dengan kekasihnya dulu. Iya kan, kak?” tanya Ruby ceria.
__ADS_1
Dicto tidak menyahut. Dia hanya melirik Kikan yang tidak peduli apa saja yang di bicarakan oleh adik iparnya. Itu membuatnya sedikit lega.
"Apa-apaan semua makanan ini? Memangnya Kak Dicto suka? Banyak makanan yang tidak di sukai Kakak," tanya Ruby heran.
"Aku bisa makan apa saja," sahut Dicto cepat.
Kikan menoleh. Dia tidak tahu kalau ternyata semua masakan ini bukan favorit Dicto. Kebanyakan masakan yang di pesan Dicto adalah masakan yang tidak di sukai pria itu. Jadi yang di katakan pria ini benar. Dia memesan semua ini dengan mempertimbangkan pilihan Kikan, bukan dirinya.
"Jangan bilang kalau Kak Dicto memesan ini hanya untuk orang lain." Bola mata Ruby melirik Kikan. Dia tidak ingin percaya itu. Namun Dicto justru tersenyum. Dan itu berarti iya.
"Tidak aneh jika seorang suami membelikan makanan kesukaan untuk istrinya. Aku rasa Astra juga tahu soal itu." Dicto langsung mengalihkan pandangan pada Astra yang sejak tadi diam saja.
Pria itu tersenyum. Dicto tahu, sejak tadi Astra menatap ke arah Kikan yang menundukkan pandangan. Acara makan pribadi itu kini menjadi acara makan bersama keluarga.
Sungguh aneh hubungan keempat orang ini.
Dicto pikir, Kikan butuh tindakan yang bisa membuat Astra terusik karena pria itu pernah menyakitinya. Idenya adalah mengikuti semua hal yang di lakukan Kikan untuk membuat Astra terusik.
Tiba-tiba saja ia berinisiatif menjulurkan tangan dan membersihkan sudut bibir Kikan dengan tangannya. Ini sempat membuat Kikan terkejut walaupun akhirnya membiarkan tangan itu menyentuh sudut bibirnya lembut.
Astra yang melihat itu memang langsung bereaksi. Ruby ikut memperhatikan tingkah kakaknya dengan wajah kesal. Apalagi melihat reaksi Astra sekilas.
Dicto tidak peduli dengan mereka berdua. Karena sejak awal acara makan siang ini hanya untuk Kikan seorang.
...***...
Dengan adanya Ruby yang keluar dari ruangan Dicto, itu membuat Kikan tidak di curigai apapun. Menurut mereka, dua orang ini pasti berkumpul karena suatu alasan pekerjaan.
Jadi Kikan bisa lega dengan kehadiran Ruby dalam ruangan Dicto tadi. Sementara itu Astra masih ada di dalam ruangan Dicto, tatkala orang dari resto mengambil peralatan makan yang di sewa tadi.
__ADS_1
"Mungkin pikiranku sama dengan Ruby. Aku tidak pernah tahu kamu dekat dengan Kikan, tapi kenapa tiba-tiba mau menikah dengannya?" tanya Astra sambil meneguk kopi yang di buatkan Dicto.
"Apa menikah perlu dekat terlebih dahulu?" tanya Dicto balik.
"Memang seharusnya seperti itu kan?" Astra merasa Dicto aneh menanyakan itu.
"Aku rasa, mengenal baik seseorang tidak akan menjamin kita pasti menikah dengan orang itu," kata Dicto dengan senyum penuh arti. Itu kalimat untuk Astra.
"Mengapa begitu? Bukannya normalnya kita harus pendekatan dulu? Kita akan menikahi orang yang sudah kita kenal dengan baik. Aku rasa kamu belum mengenal baik siapa Kikan," tukas Astra.
"Kenapa kamu yakin bahwa aku belum mengenal Kikan dengan baik?"
"Sebagai bawahan ku, aku yakin bahwa dia tidak banyak mengenal pria di luar kantor. Karena dia karyawan yang mengabdikan semua hidupnya untuk bekerja di ZEUs." Astra yakin sekali. Karena dia tahu bagaimana Kikan dulu. Dia mengenalnya sangat baik.
"Sebagai atasannya, kamu terlalu aneh jika tahu dia sedalam itu. Apa kamu yakin bahwa dia hanya seorang bawahan?" selidik Dicto membuat Astra mengerjapkan mata. Terkejut akan di serang oleh pertanyaan itu.
"Apa maksud kamu?" kilah Astra. Ia ingin menyembunyikan fakta bahwa dulu, dia dan Kikan adalah sepasang kekasih.
"Kamu. Kamu dan Kikan adalah sepasang kekasih, bukan?" ungkap Dicto membuat Astra terkejut.
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Kamu pasti tahu banyak soal Kikan lebih banyak dari aku, karena memang kamu mengenal lebih dulu istriku. Makanya kamu terkejut saat mendengar berita bahwa aku yang tidak pernah ada hubungannya sama sekali dengan dia, tiba-tiba saja menikah dengannya. Apalagi kalian adalah sepasang kekasih sebelum menikah dengan Ruby, bukan?"
Penjelasan panjang Dicto tepat sasaran. Astra terdiam hingga Dicto yang tadinya memunggunginya, kini tersenyum saat melihat ke arahnya. Senyuman puas karena mengungkap semua.
"Ternyata kamu sudah mengetahuinya," lirih Astra. "Jadi ... itu alasanmu menikahi Kikan? Hanya karena dia dulu kekasihku?" tanya Astra mulai bisa mengendalikan keterkejutannya tadi.
Dicto tergelak. Ya, gelak tawanya juga menertawakan dirinya. "Jangan konyol, Astra. Aku tidak selucu dirimu. Aku bukan menikahinya karena dia mantanmu. Jadi jangan salah sangka."
__ADS_1
..._____...