
Pemeriksaan ke dokter kandungan masih perlu, meskipun Kikan tidak terlalu peduli. Karena saran dari mertua, Kikan berangkat ke dokter kandungan siang ini. Itu membuat mereka memakai jam istirahat siang sebagai alasan.
Karena sudah di daftarkan, Kikan tidak perlu menunggu lama untuk periksa pada dokter yang sudah sangat terkenal ini. Dia dokter Dibyo.
"Selamat siang, Tuan Dicto," sapa dokter Dibyo.
"Siang," balas Dicto.
"Saya baru tahu kalau putra nyonya Dewi ini sudah menikah," kata dokter kenalan mamanya. Dicto hanya tersenyum. Kikan ikut tersenyum tipis meskipun enggan menanggapi. "Mari, langsung ke atas ranjang pemeriksaan. Tuan Dicto juga bisa ikut," ajak dokter Dibyo ini.
Kikan terkejut. Karena dia pikir akan di periksa sendirian. Dia tidak ingin Dicto ikut masuk saat dirinya di periksa. Namun ternyata dokterlah yang mengajaknya.
Ini tidak akan di lewatkan oleh Dicto.
...***...
"Lihatlah di layar monitor. Itu adalah bayi Anda," ujar dokter menunjukkan. Kikan dan Dicto menoleh bersamaan ke arah Layar monitor. Mereka yang baru saja datang ke dokter kandungan tidak benar-benar paham apa yang di tunjukkan oleh dokter. Bagi mereka itu gambaran aneh.
"Masih bingung ya?" tebak dokter dengan jenaka. Kikan dan Dicto sama-sama tersenyum tipis. "Baiklah. Kita lihat lagi."
Bahkan meski berulang kali pun gambar di dalam layar monitor masih tampak aneh. Itu dikarenakan masih berumur lima mingguan. Belum terbentuk dengan jelas bayinya. Ini membuat Dicto tergelak ringan menertawakan dirinya sendiri.
"Bayi itu ajaib ya, Dok," ujar Dicto saat usai pemeriksaan. Kikan melirik. "Padahal bentuknya saja masih belum jelas, tapi sudah membuat istri saya kesusahan. Dia sering mual dan muntah," kata Dicto membuat Kikan menipiskan bibir.
"Itu wajar. Jadi jangan panik," kata dokter sambil tersenyum.
"Istri saya tidak panik. Dia cukup tenang menghadapi semuanya, malah saya yang panik Dok," imbuh Dicto membuat dokter Dibyo tergelak.
Dalam otak pria ini, mungkin sudah benar-benar di isi dengan semua hal tentang bayi mereka. Berbeda dengan dirinya yang sempat ingin membuang dan bahkan membunuh bayi itu. Ada rasa kecewa pada dirinya sendiri.
Banyak nasehat yang dijejalkan oleh dokter Dibyo, termasuk mood ibu hamil haruslah selalu baik. Dicto tahu bahwa Kikan pasti tidaklah dalam kondisi good mood, karena ia hamil sebelum waktunya. Anggap saja ini kehamilan yang tidak di inginkan.
"Mau beli sesuatu untuk camilan kamu di rumah, Ki?" tanya Dicto sebelum mobil keluar dari pelataran tempat praktek dokter Dibyo.
__ADS_1
"Aku bisa beli sendiri."
"Tidak. Uang kamu untuk kamu sendiri dan untuk semua keperluan kamu, aku yang penuhi," kata Dicto. Kikan tidak menjawab. "Kita ke supermarket itu," tunjuk Dicto.
Mobil pun berhenti di supermarket. Meski enggan, Kikan tetap ikut turun. Dicto membawa troli dan berjalan sejajar dengan istrinya. Kikan hanya berjalan dengan melihat ke rak buah dan sayuran di sebelah kiri.
"Buah ini, Kikan?" tawar Dicto saat melihat Kikan sempat meliriknya. Itu buah kelengkeng. Buah kesukaan Dicto yang kini sama-sama di sukai Kikan.
"Ya," sahut Kikan datar. Dirinya tidak bisa menahan godaan buah yang sudah menjadi buah favoritnya itu.
"Itu kamu, Dicto?" tegur seorang perempuan. Kikan menoleh. Lagi-lagi perempuan cantik. Dengan segala kelebihan yang di miliki pria ini, tidak heran banyak perempuan cantik yang Dicto kenal.
"Oh, Mary."
Demi kesopanan, Kikan mengangguk memberi salam. Perempuan bernama Mary ini melirik lalu tersenyum.
"Kamu sudah bertemu Aurora? Dia bilang sekarang bekerja sama denganmu," kata Mary Dicto menoleh pada Kikan.
"Emm ... Ya," jawab Dicto ragu.
Bola mata Mary melihat ke arah tangan Dicto yang menggenggam jari-jari Kikan dengan terkejut.
"Hem ... kalian ..." Perempuan itu menunjuk ke arah Kikan dan Dicto.
"Aku Kikan. AE ZEUs." Kikan melepas tangannya dari Dicto dan memperkenalkan dirinya.
"Ah, ya. Orang dari ZEUs ya ...?" Mary tersenyum sambil tetap menatap ke arah Kikan dengan curiga. Setelah berbincang sebentar, perempuan itu pergi. Kikan berjalan melanjutkan langkahnya.
"Kikan," kejar Dicto. Kikan tetap melangkah sambil memegang buah-buahan yang ada di rak samping. "Aku dan Aurora sempat menjalin hubungan asmara. Sebentar." Tiba-tiba saja Dicto membuat pengakuan. Tentu saja ini mengejutkan. Kaki Kikan berhenti melangkah.
"Aku rasa kamu harus tahu itu. Mendengar Mary bicara soal Aurora dengan santai, aku tahu dia akan berulah. Jadi kamu harus tahu lebih dulu soal itu." Dicto dengan segenap keyakinan bahwa inilah yang benar, melanjutkan bicara.
Mendadak, perut Kikan terasa sakit.
__ADS_1
"Kikan, kamu kenapa? Bayinya membuatmu kesakitan?" tanya Dicto perhatian. "Sebaiknya kita mencari tempat duduk." Kepala Dicto menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat tingkah panik ini, seorang karyawan menawarkan tempat duduk untuk Kikan. Dicto sangat berterima kasih. "Ayo duduklah."
Tubuh Kikan membungkuk dan duduk. Kemudian menghela napas. Dicto jongkok dan mencoba melihat keadaan Kikan dari bawah. Manik matanya tertambat dengan perut perempuan ini.
"Maafkan aku, anakku. Ini pasti karena barusan mamamu lagi bad mood mendengar papa bicara hal yang tidak bermutu. Jadinya kamu marah," kata Dicto pada bayinya.
Kikan mendadak merasa seluruh wajahnya panas. Ia menggerak-gerakkan tangannya bagai kipas, agar mengurangi rasa panas yang menyerangnya tiba-tiba.
Kata-kata Dicto membuatnya kebingungan sendiri. Sekilas dadanya berdebar mendengarnya. Itu kalimat yang manis.
"Aku ingin makan buah," kata Kikan tiba-tiba.
"Hah? Buah? Oke. Sebentar. Aku cari. Oh, di sana ada outlet yang menjual buah potong. Lebih baik kita pindah ke tempat itu. Ayo," ajak Dicto. Setelah mengucap terima kasih pada karyawan yang sudah memberikan kursi untuk Kikan, mereka bergerak menuju outlet buah potong yang masih berada di dalam supermarket ini.
Karena di sini ada tempat duduk layaknya sebuah mini cafe, Kikan bisa duduk dengan nyaman. Saat itu, Dicto sedang memilih buah untuk istrinya.
"Dia ... meminta sesuatu? Ini baru pertama kalinya," seru Dicto girang di dalam hati. Dicto memilihkan lima macam buah potong. Semangka, alpukat, anggur merah, apel dan pir. Semuanya di dalam cup dengan garpu kecil untuk makan.
"Aku datang ...," seru Dicto membawa cup itu dengan baki kayu kecil.
"Itu ... terlalu banyak," kata Kikan terkejut.
"Tidak, tidak. Untuk bayi yang ada di dalam kandungan, ini bukanlah porsi yang banyak. Karena dia memang butuh banyak nutrisi," bantah Dicto. Lalu meletakkan baki kecil itu di atas meja. "Mau aku suapi?" tawar Dicto.
"Tidak. Aku bisa makan sendiri," sahut Kikan menolak tawaran. Kikan mengambil satu cup buah dan makan dengan lahap. Dicto selalu menyempatkan melihat momen dimana Kikan melakukan banyak hal. Seperti makan buah sekarang ini. Karena dia belum pernah punya momen manis berdua.
Itu wajar jika menilik riwayat mereka menikah karena apa. Maka dari itu, Dicto merasa perlu punya momen manis dalam setiap kegiatan. Dia perlu memperhatikan setiap gerak-gerik perempuan ini. Dari sana, mungkin saja dia akan punya celah untuk masuk dan di terima dengan baik.
"Jadi Aurora itu mantan kekasihmu ...," gumam Kikan. Dicto yang tadinya fokus memandangi Kikan, kini mulai fokus pada isi pembicaraan perempuan ini. "Kalau begitu kita impas. Di sana juga ada Astra yang jadi mantan kekasihku." Kikan memberi pengakuan.
"Soal Astra bukan hal besar, karena aku tahu dari sejak pertama. Dia tidak akan mengusikmu karena kamu milikku." Dicto mengatakannya dengan senyuman lembut di bibirnya.
Pria ini ... terus menerus mendesakku dengan semua hal manis, dengus Kikan.
__ADS_1
..._____...