
Karena sudah ada bukti bahwa bocornya desain produk Glow bukan karena Kikan, perempuan ini di kembalikan pada tim perencanaan 1. Tidak ada yang membantah. Apalagi setelah mereka tahu Kikan adalah istri wakil Presdir.
Sorak-sorai bergembira dari anggota tim menyambut kedatangan Kikan, terdengar riuh. Mereka senang Kikan kembali ke tim mereka. Selain heboh soal kembalinya Kikan, mereka juga heboh tentang pengakuan Dicto kalau Kikan adalah istrinya.
"Katakan dengan jujur. Kenapa kamu tidak memberitahu kami dan memilih bersembunyi?" tanya Cintya menginterogasi. Bahkan orang-orang ini mengelilingi kursi Kikan untuk menadapat jawaban dari rasa penasaran mereka.
"Tidak ada alasan penting. Paling juga karena urusan prosedur perusahaan saja," sahut Kikan santai.
"Prosedur bagaimana?" desak Mirna.
"Karena tidak boleh pacaran di kantor?" tebak Arin.
"Mungkin seperti itu," jawab Kikan.
"Ih, enggak mungkin dong," kata Cintya tidak setuju. Dia tidak begitu saja dengan mudahnya percaya. “Pak Dicto kan wakil Presdir. Dia pasti bisa mengabaikan peraturan seperti itu.”
“Dicto tidak seperti itu. Dia pria yang tahu bertanggung jawab,” bela Kikan.
“Cie ... Belain suami nih ...,” goda Mirna yang langsung di sambung dengan godaan dari lainnya.
“Aku hanya takut pandangan orang banyak akan berbeda padaku setelah tahu aku adalah istri Dicto yang jadi wakil Presdir. Jadi aku ingin bersembunyi dari status itu sebelum aku siap,” ujar Kikan memberi penjelasan yang lebih masuk akal.
“Jadi sekarang saudaraan sama Ruby ya ...,” ledek Cintya yang langsung di sertai tawa yang lainnya. Kikan menipiskan bibir.
“Dia orang baik di rumah kok,” kata Kikan yang terdengar membela perempuan itu.
“Yee ... Mentang-mentang jadi ipar, sekarang belain,” kata Mirna tidak setuju. Yang lain ikut mendukung Mirna.
“Ayo semua ke ruangan Astra untuk rapat,” ujar Dicto yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Ini langsung membuat semuanya kalang kabut karena sedang membicarakan Ruby.
“Baik, Pak!” Semuanya langsung berhamburan ke meja masing-masing untuk mengambil keperluan rapat. Dicto menyempatkan untuk memandang Kikan sejenak. Lalu tersenyum hangat sebelum berjalan menuju ke ruangan Astra.
__ADS_1
Kikan mendengus lucu melihat itu. Ia tersipu. Kemudian kepala Kikan melihat ke kursi Ruby. Perempuan itu tidak muncul sejak tadi. Tangan Kikan menyambar agenda di meja beserta laptop. Kemudian ikut menyusul yang lainnya masuk ke dalam ruangan Astra.
Setelah semua duduk, Dicto mulai bicara.
“Syuting pembuatan iklan Glow sudah selesai. Kita akan melihat bersama-sama pemutaran iklan Glow perdana di televisi,” kata Astra sambil memberi kode pada Rangga untuk menyalakan televisi. Pemutaran iklan Glow hasil tim perencanaan 1 pun berjalan. Semua melihat hasil kerja mereka dengan takjub.
Jika yang lainnya melihat ke arah layar di depan, Dicto justru melihat ke arah lain. Dimana duduk di sana perempuan yang di cintainya.
Awalnya Kikan tidak menyadari itu, tapi sesaat dia melirik. Dia menemukan Dicto tengah memandanginya. Kikan menatap pria itu lurus-lurus. Bermaksud mengingatkan pria itu untuk melihat ke depan. Ke arah layar yang sedang memutar iklan hasil kreatif mereka.
Kepala Dicto menggeleng. Dia menolak untuk melihat ke depan. Pria ini memilih untuk memandangi Kikan. Bola mata Kikan melebar dan bibirnya menipis melihat tingkah Dicto. Lalu menggeleng-gelengkan kepala. Kikan memilih membiarkan pria yang sekarang menjadi suaminya itu, memandanginya. Dia memfokuskan mata ke arah layar. Dimana iklan Glow mulai pada adegan terakhir.
Plok! Plok!
Suara tepuk tangan terdengar dari para anggota. Mereka merasa lega karena sudah sukses membuat iklan produk kecantikan itu.
“Ada hal lain yang ingin di sampaikan wakil Presdir?” tanya Astra pada Dicto. Kepala Dicto mengangguk. Lalu ia berdiri.
Siapa yang tidak menyukai pesta, bukan? Semua setuju untuk datang ke pesta saat selesai jam kerja nanti.
“Ada juga kabar baru yang ingin segera aku umumkan,” imbuh Dicto yang membuat lainnya terheran-heran. Para anggota melihat ke arah Kikan demi mendapat bocoran. Namun Kikan menggelengkan kepala tidak tahu. Dan itu benar adanya. Dia masih belum pernah di ajak bicara soal pekerjaan oleh Dicto.
Dicto tersenyum melihat keantusiasan bawahannya.
“Aku akan menghapus peraturan tidak boleh pacaran di kantor,” kata Dicto langsung di sambut meriah oleh anggota. Bahkan lebih meriah daripada adanya pesta kecil sepulang kerja kantor tadi. Rangga dan Arin saling pandang. Namun berusaha menahan diri. Kikan menatap Dicto dengan tidak percaya. “Namun tetap ada syaratnya.”
Keriuhan kebahagiaan mereka tadi menyusut. Mereka jadi was-was kelanjutan dari peraturan yang di hapus barusan.
“Harus tetap di jaga kedisiplinan dalam bekerja. Juga tidak menyangkut-pautkan masalah asmara dengan pekerjaan. Aku akan bertindak tegas jika ada yang melanggar,” ingat Dicto menjadi sangat serius.
Kepala para anggota mengangguk dengan tegas juga. Mereka harus patuh. Jika tidak, peraturan itu akan kembali di berlakukan.
__ADS_1
“Aku juga berharap kalian bahagia seperti aku dan istriku,” ujar Dicto sambil menoleh pada Kikan. Perempuan ini langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena gugup. Sungguh membuat malu mengatakan itu di depan semua orang. Ini jelas membuat semua mata memandang ke arah dirinya. Mereka tampak meledek Kikan. Sementara Kikan hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis menerima ledekan teman-temannya.
...***...
“Bapak belum berangkat?” tanya Rangga yang melihat Dicto di depan pintu ruangannya. “Pasti menunggu Kikan ya, Pak?” tebak Rangga benar.
“Dia masih di mejanya?” tanya Dicto.
“Ya Pak. Kikan masih ada di mejanya. Saya berangkat dulu ya, Pak?” pamit Rangga.
“Ya. Semua makanan dan minuman sudah di pesan. Jadi kalian bisa makan sebelum aku datang.”
“Baik Pak. Terima kasih.” Setelah membungkukkan badan, Rangga berjalan keluar. Dicto menjulurkan kepala melihat Kikan yang belum muncul. Karena tidak sabar, dia berjalan mendekat. Dicto takut perut istrinya sakit. Namun ternyata perempuan itu masih mengerjakan sesuatu di komputernya seraya merias diri.
“Aku pikir ada apa denganmu,” tegur Dicto dengan menghela napas lega. Kikan terkejut.
“Ah, maaf.” Perempuan ini langsung membereskan make-upnya. Dicto mendekat.
“Cantik. Tanpa make up ini pun kamu cantik,” puji Dicto membuat Kikan tersipu. Tiba-tiba saja Kikan terkejut saat pria ini mendekatkan wajahnya. Ia menahan napas sejenak. Kikan tahu apa yang akan di lakukan pria ini selanjutnya. Dicto mengecup bibir Kikan. Setelah Dicto melepaskan bibirnya, Kikan langsung panik dan melihat ke sekeliling. Ia takut masih ada anggota tim.
“Mereka sudah berangkat semua. Tinggal kamu,” jelas Dicto yang paham kewaspadaan Kikan.
“Ternyata aku sibuk sendiri sampai tidak sadar bahwa semuanya sudah berangkat.” Kikan mulai menyadarinya. Dicto tersenyum. “Sudah kamu tanya Astra, kenapa Ruby tidak masuk kerja?” tanya Kikan seraya berdiri dan meraih tasnya.
..._____...
__ADS_1