
"Astra bilang, dia sakit," sahut Dicto. Tangan Kikan melingkar di lengan pria ini. Lalu mereka berjalan keluar menuju pelataran parkir.
Dicto tidak salah. Semua anggota memang sudah berangkat, tapi Astra masih di ruangannya dan tidak sengaja melihat Dicto mencium Kikan.
"Hhh ..." Astra menghela napas. Kejadian semalam membuatnya pusing kepala. Pilihannya menerima Ruby sebagai istri ternyata tidak berjalan mudah. Namun dia menyadari bahwa kemungkinan itu karma dari dirinya yang menyakiti hati Kikan.
Astra menekan pangkal hidungnya dengan frustasi. Sesungguhnya Astra tidak lagi menaruh hati pada Kikan. Tatapannya yang terlihat dalam saat melihat Kikan, bukanlah tatapan cinta. Itu hanya sebuah penyesalan.
Namun di saat dia ingin benar-benar memberikan cinta pada Ruby, perempuan ini sudah telanjur tidak percaya. Bahkan dia sudah membakar fotonya dan Kikan yang di selipkan di balik buku.
***
"Sebaiknya kita menjenguk Ruby," kata Kikan. Mereka sampai di depan mobil. Dicto membukakan pintu untuk istrinya. Lalu Dicto menyusul masuk ke dalam mobil.
"Aku rasa kamu tidak perlu menjenguknya. Biar aku saja," ucap Dicto seraya menyalakan mesin mobil.
"Aku tahu apa yang kamu khawatirkan." Terdengar helaan napas Kikan. Perempuan ini menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Aku tidak mau dia menggila karena melihat mu,” ungkap Dicto mengapa tidak memperbolehkan Kikan menjenguk.
“Namun aku rasa itu perlu," kata Kikan dengan lembut. “Untuk menghormati mama.”
Dicto mengelus kepala istrinya.
"Ruby itu sering sakit-sakitan waktu kecil dan hampir tidak bernyawa. Jadi mama dan papa selalu memanjakan dia. Aku juga keliru pernah memanjakannya." Dicto menghela napas. Mobil mulai meninggalkan area parkir menuju lokasi perayaan.
"Jadi semua keinginannya sudah ada di depan mata tanpa berusaha. Dia sudah terbiasa begitu. Itu sifat buruknya. Mungkin Astra juga terjebak dengan sifat manjanya yang membuat papa sedikit melakukan pemaksaan. Apalagi Ruby sempat melakukan bunuh diri saat Astra ingin putus," ujar Dicto melanjutkan cerita soal Ruby.
Kikan mulai menyadari bahwa Astra juga tidak sebahagia yang seperti yang di lihat.
"Maafkan adikku yang membencimu tanpa alasan," kata Dicto menoleh ke samping sekilas.
"Jangan meminta maaf. Kalaupun ada yang harus meminta maaf, itu Ruby sendiri. Bukan kamu. Namun aku tidak lagi mempermasalahkan itu. Menurutku Ruby mungkin mulai terbebani dengan kenyataan bahwa Astra pernah dekat denganku. Itu menyiksanya." Raut wajah Kikan terlihat memahami kondisi Ruby yang sedikit mengerikan baginya.
"Sepertinya Astra masih mencintaimu," kata Dicto. Kikan menoleh. Lalu menyentuh lengan Dicto.
"Kenapa jadi membahas itu?" tanya Kikan cemberut. Dicto mengangkat bahu. Sengaja menggoda Kikan. "Kalaupun begitu, jangan pedulikan itu. Hatiku tertuju padamu, bukan dia. Hm?" ungkap Kikan menyentuh garis pipi suaminya. Dicto akhirnya tersenyum. Lalu meraih tangan Kikan dan menciumnya.
"Meskipun aku cemas, sebenarnya aku kasihan pada Astra yang terjebak dengan Ruby. Adikku itu manjanya kelewatan. Dia harus punya stok sabar yang banyak."
__ADS_1
"Aku rasa Astra bisa menangani itu. Sorot matanya saat melihat Ruby menunjukkan dia tidak lagi memikirkan orang lain selain istrinya," kata Kikan berpendapat.
"Benarkah? Jadi kamu memperhatikan Astra?" tegur Dicto pura-pura marah.
"Jangan konyol. Sudah ada pria tampan di sampingku kenapa aku harus memperhatikan yang lain." Kikan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Dicto mengecup pucuk kepala Kikan.
...***...
Kikan dan Dicto berjalan agak cepat di lorong rumah sakit.
"Hati-hati Kikan. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa," pesan Dicto. Kikan mengangguk. Dari wajah cemas mereka, ada hal genting saat ini sedang terjadi.
Akhirnya mereka sampai di pintu kamar perawatan. Dicto membuka pintu tanpa mengetuk. Lalu membiarkan Kikan masuk terlebih dahulu baru dia menutup pintu dan ikut masuk.
Astra yang sedang duduk di kursi dekat ranjang menoleh.
"Akhirnya kamu datang," kata Astra yang sepertinya sudah sejak tadi menunggu kedatangan Dicto. Bola mata Kikan tertambat pada tubuh Ruby yang terbaring lemah di ranjang. Kikan mendekat dari sisi ranjang yang lain.
"Ada apa dengannya?" tanya Dicto.
"Apakah dia tidak apa-apa?" Dicto menatap cemas ke arah adiknya.
"Kakinya patah," kata Astra berusaha tenang.
"Patah?" tanya Dicto terkejut. Dia langsung berdecak. Astra mengelus kepala Ruby yang terlelap.
"Lalu kehamilannya?" tanya Kikan hati-hati.
"Dia ... keguguran," lirih Astra. Wajah Dicto langsung berubah pucat. Kikan menggigit jarinya. Dicto menjauh dari ranjang. Lalu menggeram sendiri untuk melampiaskan kesedihan. Kikan tidak mendekat. Ia membiarkan Dicto meluapkan semua kesedihannya dulu. Setelah puas, Dicto kembali mendekat. "Kamu sudah menelepon mama?" tanya Dicto dengan napas memburu karena khawatir.
"Belum."
"Belum? Kenapa kamu justru menelepon aku, Astra?! Seharusnya kamu menelepon mama dan ..." Sesaat Dicto menghentikan kalimatnya. Kemungkinan Astra tidak berani menelepon mama karena takut beliau makin panik. Putri kesayangannya jatuh dari tangga dan mengalami keguguran. "Ah sudahlah ... Aku tahu apa yang kamu pikirkan." Dicto mengibaskan tangannya.
Kikan mendekat ke Dicto.
"Lebih baik kita duduk dulu," ajak Kikan lembut dan hati-hati. Dicto menghela napas saat perempuan ini bicara.
__ADS_1
"Kikan, aku ingin marah," kata Dicto seakan ingin membagikan rasa sedihnya.
"Aku mengerti rasa sedihmu, tapi tenanglah. Ayo, kita duduk dulu." Kikan membimbing Dicto untuk duduk. Astra masih berdiri saat mereka menjauh dari ranjang. Dicto mengusap wajahnya dengan kesal.
Kikan memeluk pria ini dari samping. Dicto membalas pelukan itu.
"Ruby pasti tidak apa-apa. Aku yakin. Kamu juga harus yakin," bisik Kikan.
"Ya,” sahut Dicto lemah.
...***...
Setelah panik, marah dan kesal tadi mencuat, kini semuanya sudah mereda. Meskipun rasa cemas tetap ada. Dicto dan Kikan menginap.
"Nggg ... Astra ...," panggil Ruby lirih.
"Ya, sayang ...," sahut Astra cepat. Dicto dan Kikan yang duduk agak jauh dari ranjang berdiri. Lalu mendekat ke tepi ranjang. Bola mata Ruby menemukan Kikan di sana. Dia agak terkejut dan terganggu.
Dicto sudah menggeser tubuh Kikan untuk menjauhkan perempuan ini dari adiknya. Namun Ruby tidak mengindahkan keberadaan Kikan. Perempuan itu terlihat tidak peduli.
"Sepertinya sudah cukup aku membencinya. Aku sudah lelah. Meskipun kenyataannya yang membuatku melakukannya adalah Astra yang masih menyimpan foto Kikan padahal kita sudah menikah, dimana itu artinya dia masih menyimpan rasa spesial untuk Kikan, tapi kakak pasti mengira ini adalah sifat manjaku. Ya ... Aku memang perempuan manja yang kurang tahu cara berusaha," kata Ruby mengejutkan masih dengan suara yang lemah.
"Jangan bicara soal itu. Kamu harus sehat. Semuanya akan baik-baik saja," kata Dicto.
"Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Aku tahu semuanya. Aku mendengar apa yang di bicarakan dokter.” Setelah tadi menundukkan pandangan, kini Ruby menatap ke arah semua orang di dalam ruang perawatan ini. "Kakiku. Bayiku. Aku mendengar semuanya, Kak. Jadi tidak perlu menyembunyikan semuanya dariku,” kata Ruby getir.
Semuanya diam. Helaan napas berat terdengar.
"Aku akan menelepon mama," kata Dicto selanjutnya.
"Tidak. Tidak perlu. Biarkan aku dan Astra saja yang menyelesaikan ini berdua," cegah Ruby. Astra menggenggam tangan istrinya untuk menguatkan.
“Tapi Ruby ....” Dicto tidak setuju.
“Aku ingin membiasakan diri untuk tidak selalu mengandalkan mama dan papa,” pinta Ruby. Dicto tidak bisa memaksa. Itu makin membuat dia khawatir.
“Mama dan papa akan marah,” keluh Dicto. Kikan mengelus lengan dan punggung suaminya.
__ADS_1
... _____...