
Adis sudah di amankan. Gadis itu di mintanya pulang setelah memberi beberapa lembar uang untuk ongkos pulang. Ternyata orang-orang yang di perintahkan untuk mengambilkan makanan tadi, membawa banyak makanan. Kemungkinan mereka meminta pihak catering untuk membungkusnya karena itu sangat rapi.
Kikan menyimpulkan pria itu punya wewenang hingga bisa memberi perintah seperti itu pada orang-orang Presdir. Siapa dia?
Tawa gemuruh undangan mengagetkan Kikan yang bergulat dengan pikirannya sendiri mengenai pria itu. Rupanya pengantin yang sedang berbahagia di panggung pelaminan sedang di paksa untuk berciuman. Kikan memindah arah pandangan matanya, ke arah lain. Meskipun sudah mencoba menekan rasa sakit, jika ia memaksa melihat ke depan, hatinya tentu tidak akan sanggup.
Rangga yang tak sengaja menjadi obyek pengalihan mata Kikan yang melebarkan senyum seraya tangannya membentuk kata oke. Seakan memberi semangat padanya atas segala hal yang menyakitinya.
Bibir Kikan tertarik membentuk senyum tipis seraya mendengus. Rangga berusaha terlihat lucu agar Kikan tertawa. Arin yang berada di samping Rangga tersenyum saat tahu Kikan akhirnya tergelak melihat tingkah konyol kekasihnya.
Kikan mungkin tahu kalau Astra di depan sana sedang memandanginya. Makanya dia langsung mengalihkan pandangan ke arah lain saat bola mata mereka bersirobok.
"Lihat ke aku, Astra," kata Ruby seraya menggerakkan dagu Astra padanya. Astra pun menatap istrinya. "Benar seperti itu." Ruby pun tersenyum puas. Lalu melepaskan pegangan tangannya pada dagu Astra. Meletakkan jari-jari Astra di atas punggung tangannya.
Ini hari patah hati se-perusahaan. Para karyawan wanita yang mengidolakan Astra tentu bersedih karena pria itu sudah ada yang punya.
***
Pagi ini kembali normal. Kikan tidak lagi di sibukkan pesta pernikahan, karena Astra dan Ruby sudah resmi menjadi suami istri. Banyak hal berbeda yang terjadi di kantor. Terutama pasangan baru ini. Terlihat di ujung lorong menuju ruang tim perencanaan 1, Ruby memeluk lengan Astra dengan mesra.
"Kenapa mereka datang pagi ini?" tanya Mirna heran. “Mereka bukannya bulan madu?”
“Ditunda mungkin,” celetuk Rangga. Yang lainnya pun bergosip lirih. Semua anggota tim melihat ke arah pasangan baru itu. Namun saat pasangan baru itu menoleh ke depan setelah berbincang barusan, kepala mereka langsung berpindah menengok ke arah lain.
"Pagi semuanya," sapa Astra ramah seperti biasanya. Ruby tetap memeluk tangan suaminya.
"Pagi ...," jawab mereka hampir bersamaan. Bola mata Astra melirik ke arah kursi Kikan. Kakinya berhenti disana. Ruby heran kenapa pria ini berhenti di sini?
"Dia tidak masuk kerja?" tanya Astra yang menghentikan kakinya sejenak. Ruby yang awalnya tidak paham, akhirnya mengerti kenapa Astra berhenti.
"Tidak ada kabar, Pak." Cintya memberi tahu. Yang lainnya ikut mengangguk karena juga tidak tahu kenapa Kikan tidak masuk kerja. Arin juga tidak mendapat kabar.
"Hubungi dia. Tanyakan kenapa dia tidak masuk. Bisa saja dia sakit tanpa memberitahu kita," kata Astra memberi perintah.
"Baik pak."
__ADS_1
Setelah memberi perintah, Astra kembali melangkah menuju ruangannya. Masih dengan Ruby yang memeluk lengannya.
"Bisa lepaskan lenganku?" tanya Astra setelah mereka sampai di ruangan.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa bekerja jika terus saja seperti ini, Ruby," kata Astra menunjuk lengannya.
"Sayang, bukan Ruby," ralat Ruby.
"Ya. Sayang. Bisa lepaskan lenganku, sayang?" tanya Astra lembut.
"Oke." Ruby pun melepas tangannya memeluk lengan Astra.
"Sekarang kamu bisa kembali ke mejamu," kata Astra seraya berjalan menuju mejanya. Kening Ruby mengerut.
"Kamu mengusirku?" tanya Ruby tidak senang.
"Mengusir bagaimana?" tanya Astra yang terkejut dengan pertanyaan Ruby. Pria itu sampai harus berhenti dan memutar tubuhnya saat mendengar pertanyaan Ruby.
"Meja kerjamu di sana bersama dengan yang lainnya. Karena sekarang kamu berada di ruanganku saat sudah waktunya bekerja, jadi aku memintamu kembali ke meja mu. Bukankah itu benar?" tanya Astra memberi pengertian.
"Benar. Hanya saja aku tidak suka saat kamu menyuruhmu aku keluar dari ruangan ini." Ruby melipat tangannya. Astra menghela napas.
"Aku bicara sesuai dengan yang seharusnya, sayang. Jadi aku rasa kamu berlebihan," kata Astra kembali memberi pengertian.
"Berlebihan? Bukankah yang seharusnya yang di katakan berlebihan itu adalah kamu, Astra." Sungguh mengejutkan bahwa perempuan ini menuduh Astra. Ruby mulai menunjukkan wajah masam.
"Kenapa jadi aku yang berlebihan? Apa maksud kamu?" tanya Astra tidak mengerti.
"Kikan," sahut Ruby. Nama ini sempat mengejutkan Astra saat di sebut bibir Ruby. Bola mata Ruby mengamati ekspresi laki-laki di depannya.
"Ada apa dengannya?" Akhirnya ada suara yang keluar dari bibir Astra setelah beberapa detik membisu.
"Kamu menanyakan kenapa dia tidak masuk," ungkap Ruby tentang hal yang membuat wajahnya masam.
__ADS_1
"Apa ini Ruby?" Astra menghela napas. "Bukannya wajar, jika aku bertanya kemana anak buah ku, saat kulihat dia tidak ada di kursinya padahal jam kerja sudah di mulai."
"Aku tahu itu," kata Ruby gusar. Dia sebenarnya mengerti tentang itu, tapi hatinya tidak tenang saat Astra menanyakan keadaan Kikan.
"Kalau sudah tahu, kenapa kamu mempermasalahkannya?" tanya Astra bingung.
"Aku ... Oke. Aku yang salah bikin pagi kita untuk pertama kalinya jadi tidak menyenangkan," tegas Ruby kesal.
"Aku tidak menyalahkanmu. Apa yang kamu katakan?" Astra mendekat dan memeluk istrinya. "Aku hanya bertanya kenapa mempermasalahkan hal yang tidak penting itu. Kita baru menikah, seharusnya kita tidak seperti ini karena hal sepele." Astra mengecup kening Ruby. Ini membuat perempuan ini menarik napas panjang. "Lebih baik kamu segera kembali ke meja kerjamu. Kamu tidak ingin mereka melihatmu menyalahgunakan wewenang untuk bersantai kan?"
"Aku bukan sedang bersantai," ujar Ruby ketus. Dia kesal di katakan menyalahgunakan wewenang.
Astra tergelak.
"Iya, tahu. Kamu sedang berbincang dengan ketua tim." Astra kembali mendaratkan ciuman di kening Ruby. "Kamu kembali ke meja. Nanti kita makan siang bareng. Setuju sayang?" tanya Astra dengan sedikit jenaka. Mencoba melunakkan hati istrinya.
"Baiklah. Jangan lupa. Harus makan siang denganku," pesan Ruby.
"Iya. Kamu bisa mengingatkanku berulang kali."
"Oke. Aku akan kembali ke meja dan bekerja. Selamat bekerja sayang ..." Kali ini Ruby yang mendaratkan ciuman di pipi suaminya. Astra tersenyum seraya mengelus lembut pipinya. Ruby berjalan menuju pintu. Lalu keluar setelah melambaikan tangan.
"HH ..." Astra bahkan belum membuka tirai ruangan. Ternyata pagi ini di isi dengan perdebatan. Tangan Astra menarik tirai ruangannya. Terlihat di sana Ruby tersenyum padanya. Bibir Astra pun tersenyum membalas.
Ternyata sudah ada Kikan di sana. perempuan itu sudah muncul.
Astra sedikit lega.
Jadi dia terlambat?
Jujur ada sedikit cemas tadi. Karena perempuan itu tidak pernah terlambat. Bahkan tidak pernah tidak masuk berkerja kalau tidak ada hal yang benar-benar penting.
Tok!tok! Suara pintu ruangannya di ketuk. Astra tahu itu pasti Kikan yang berjalan menuju ruangannya.
“Masuk!” kata Astra. Pintu ruangan terbuka. Benar itu Kikan.
__ADS_1
_____&