Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 27 Kata maaf yang percuma


__ADS_3

Kikan keluar dari toilet setelah membersihkan jejak tangis pada wajahnya. Ia tidak ingin ada orang yang melihat itu. Hhh ... Tepat di depan pintu menuju wastafel di toilet, Kikan menghela napas mencoba menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa keluar dari perusahaan ini.


 


Sungguh waktu yang tidak tepat. Saat itu juga Ruby muncul di lorong yang sama. Perempuan itu terlihat marah dan tersakiti. Kikan menunduk. Mencari obyek lain,  agar pandangan mereka  tidak bersirobok. Kikan tidak ingin melihat wanita ini. 


 


“Aku tidak mengerti kenapa sekarang kakakku membelamu, Kikan. Bukankah seharusnya Dicto memihakku?” tegur Ruby memaksa Kikan mendongak dengan tidak paham. Namun dia tidak ingin berlama-lama membiarkan dirinya jadi pelampiasan amarah nona manja ini. Dia harus mengatakan sesuatu.


 


“Aku tidak tahu apa yang kamu maksud dengan memihak aku, tapi aku rasa kamu keliru. Bukankah Dicto itu selalu berada dalam pihakmu karena kalian kakak beradik, bukan? Dia bahkan tidak peduli saat aku bicara. Menjelaskan kalau aku tidak pernah  menggoda Astra. Yang ada di dalam pikirannya hanya ingin menghancurkan ku karena rasa sayangnya pada adik manja sepertimu,” tunjuk Kikan marah pada Ruby.


 


Ruby yang awalnya berpikir akan marah pada Kikan, terkejut saat justru wanita itulah yang marah padanya.


 


“Malam itu pasti kamu yang menyuruh orang-orang itu untuk menculik ku. Bukankah itu terlalu keterlaluan saat yang kamu hadapi hanyalah orang biasa sepertiku? Kamu bahkan mengerahkan banyak orang termasuk kakakmu yang bodoh itu untuk menyerangku. Jadi kualitas kamu hanya sampai pada level rendahan seperti itu? Menggila hanya karena tahu aku adalah mantan kekasih, Astra?” tanya Kikan marah.


 


“Kamu ...”  Ruby geram. Ia akan menampar Kikan, tapi sebuah tangan menahannya.


 


 “Berhenti Ruby,” pinta Dicto yang muncul di belakang mereka. Matanya menatap tajam ke Ruby.


 


 “Kak Dicto. Lepaskan tanganku!” kata Ruby kesal. Ia berontak. Dicto melepas pegangan tangannya pada tangan Ruby. “Kakak ini kenapa? Kenapa mau membela Kikan?” tanya Ruby gusar.


 


“Karena dia memang tidak bersalah, Ruby. Bukankah sudah aku katakan padamu. Selesaikan masalah kamu dan Astra. Bukan melibatkan Kikan. Jangan masukkan dia dalam target pelampiasan kemarahanmu, Ruby. Kikan itu bersih dari persoalan kalian berdua.” Dicto membuat Ruby memerah karena marah.


 


 “Kak Dicto!” sergah Ruby. Dia tidak ingin Dicto terus bicara.


 


 “Kamu pasti tahu yang aku maksud,” ujar Dicto dengan mata tajam. Itu kode keras bagi Ruby untuk tidak mengganggu Kikan lagi. Lagi-lagi Ruby berwajah kalah. Dia pun pergi dengan wajah kesal.


 

__ADS_1


Kikan melihat kepergian Ruby sekilas lalu berniat berjalan menjauh dari tempat itu.


 


“Maafkan Ruby. Dia sangat bodoh karena sudah berpikiran bahwa kamu ingin merebut Astra darinya,” ujar Dicto mewakili adiknya. Kikan tidak mendengarkan. Dia tidak peduli. Dia memilih bergerak untuk pergi meninggalkan Dicto. Melihat ini, Dicto segera menangkap tangan Kikan untuk mencegahnya pergi. “Kikan, kita kita harus bicara.”


 


“Jangan sentuh aku,” desis Kikan. Itu langsung di respon dengan tarikan tangan Kikan yang cepat. Lalu menatap Dicto dengan wajah tegang. Dicto melepaskan pegangan tangannya dengan cepat. Dia tahu, perempuan ini trauma dengan sentuhan tangannya karena malam itu.


 


“Oke. Aku tidak akan menyentuhmu. Aku hanya ingin bicara denganmu,” pinta Dicto.


 


“Pekerjaan atau bukan? Jika itu bukan pekerjaan, lebih baik Anda segera pergi. Kita tidak punya urusan jika itu bukan pekerjaan.” Kikan memberi peringatan.


 


“Ini memang bukan pekerjaan. Aku ingin membicarakan hal lain,” ujar Dicto jujur.


 


“Kalau begitu maaf, saya harus pergi.” Kikan segera berinisiatif untuk kabur. Dia tidak mau berlama-lama berada disini dengan pria ini.


 


 


“Tidak. Jangan bicara lagi. Aku tidak mau.” Rasa ngeri mulai terasa di tubuh Kikan. Dia teringat lagi malam itu.


 


“Aku mau minta maaf Kikan. Malam itu ...”


 


“Berhenti Dicto. Berhenti!” Kikan menutup kedua telinganya dengan tangan. Lorong masih sepi tidak ada yang lewat.


 


“Aku minta maaf karena sudah melakukan kesalahan besar padamu.” Dicto mengakui kesalahannya.


 


 “Tidak seharusnya aku mendengarkan Ruby. Bukan kamu yang salah, tapi Ruby adikku. Aku baru tahu kalau ternyata kamu dan Astra adalah sepasang kekasih sebelum Ruby datang dan menghancurkan hubungan kalian. Demi semua hal yang terjadi, maafkan aku dan Ruby, Kikan,” lanjut Dicto.

__ADS_1


 


Meski sudah menutup kedua telinganya dengan ketat, tapi entah kenapa, suara Dicto mampu menembus tangannya. Kikan mendengar dengan jelas apa yang di katakan pria ini.


 


Dicto diam. Dia membiarkan Kikan yang masih menutup telinga dan matanya. Tidak lama setelah itu, Dicto melihat perlahan tangan Kikan mengendur. Perempuan ini mulai menurunkan tangannya dan membuka mata.


 


“Sudah? Sudah selesai bicara?” tanya Kikan dengan raut wajah marah. “Jangan berpikir untuk mudah di maafkan. Kamu pikir dengan mudah semuanya hilang setelah kamu minta maaf? Kamu pikir rasa getir karena malam itu akan hilang saat kamu meminta maaf seperti ini?” Nada bicara Kikan sangat dingin dan menusuk. “Ingat Dicto, sampai kapan pun sulit untuk memaafkan kamu yang menodaiku malam itu.”


 


Sungguh miris mengatakan peristiwa itu dengan mulut sendiri. Bahkan membicarakan ini dengan si pemerrkosa. Kikan sampai harus diam dan menggigit bawah bibirnya untuk menahan tangis setelah mengatakannya. Lalu memberi jeda sebelum melanjutkan kalimatnya.


 


“Nyawamu pun tidak sanggup membayar rasa getir yang kurasakan. Jadi jangan berlagak meminta maaf dan menyesali semuanya. Karena itu percuma. Aku tidak akan memaafkanmu,” desis Kikan.


 


Perempuan itu pergi dengan sudut matanya yang berair. Dicto tidak bisa mengejar perempuan itu. Karena bisa saja Kikan histeris.


 


“Aku memang tidak pernah berpikir untuk dimaafkan olehmu semudah itu, Kikan. Aku tahu. Aku sadar itu,” gumam Dicto seraya menatap punggung perempuan itu lama. Hingga hilang di belokan lorong. Setelah itu baru Dicto melangkah pergi kembali ke ruangannya.


 


Di belakang mereka, Arin tertegun. Dia yang mencari-cari Kikan karena tidak kunjung kembali setelah dari ruangan Astra, tidak menduga akan mendengar semuanya.


 


“Dinodai? Kak Kikan?” lirih Arin syok. Hatinya ikut merasakan sakit yang di alami Kikan. Dia masih bersandar dengan pandangan kosong. Lalu berdiri tegak dan melihat ke lorong yang sudah sepi. “Apa itu yang membuat Kak Kikan pingsan dua kali? Pasti. Pasti itu. Jika ceritanya begitu, tentu saja Kak Kikan merasa tidak sanggup. Karena itu dia ambruk tepat saat kedatangan Pak Dicto pertama kali.”


 


Arin jadi mengerti kenapa Kikan ambruk saat wakil Presdir datang. Juga ketika pulang kerja. Bertemu dengan pria yang menodainya tentu suatu tekanan yang besar. Apalagi Kikan berusaha seperti tidak terjadi apa-apa. Bebannya di tanggung sendiri. Itu yang membuatnya pingsan.


 


 


_________


 

__ADS_1



 


__ADS_2