Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 32 Khawatir


__ADS_3

Dicto melihat meja kerja perempuan itu kosong. Yang ada sekarang justru surat pengunduran diri yang datang lewat pos di meja kerjanya. Setelah si tolak mengundurkan diri oleh Astra, Kikan memilih langsung memberikan pada Dicto. Dicto sendiri, setelah mengantar perempuan itu pulang, dia langsung di dera rasa cemas. Terbayang segala hal yang buruk dalam pikirannya.


 


“Apa dia, berniat bunuh diri lagi?” gumam Dicto tidak tenang. Akhirnya Dicto memilih keluar.


 


“Mau kemana, Kak?” tanya Ruby yang melihat Dicto keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa. Dicto hanya menoleh sekilas dan pergi. Dia tidak menjawab sama sekali pertanyaan adiknya. Ruby menipiskan bibir melihat sikap kakaknya.


 


**


 


Mobil Dicto tiba di depan rumah Kikan. Sepi. Kepala Dicto melongok ke kanan dan kiri. Seorang ibu muncul dari jalan yang di lalui Dicto tadi.


 


“Nyari siapa ya, Nak?” tanya ibu itu. Dicto membalikkan tubuhnya. Bola mata Dicto langsung menuju ke arm Sling berwarna biru jeans. Dia tidak pernah tahu kalau lengan ibu Kikan terluka.


 


“Iya, Bu. Saya mau ketemu dengan Kikan.”


 


“Oh, ya. Ayo masuk. Dia barusan keluar. Sebentar katanya.” Ibu itu mengajak Dicto masuk.


 


“Ibu ini ... Ibunya Kikan?” tanya Dicto saat ibu itu membuka pintu.


 


“Iya. Ayo masuk. Tunggu di dalam saja.” Ibu itu mempersilakan Dicto masuk.


 


“Permisi.”


 


“Ya. Ini teman kerjanya ya?” tanya ibu saat Dicto sudah duduk di kursi.


 


“Iya.”

__ADS_1


 


“Kikan sakit, tapi karena tidak ada yang membelikan obat, dia berangkat sendiri. Saya ke belakang dulu ya. Duduk saja dengan tenang. Sebentar lagi Kikan datang,” kata ibu Kikan ramah.


 


Bola mata Dicto mengamati rumah Kikan yang bergaya kuno. Tidak lama, suara deru mobil terdengar di halaman. Dicto menoleh ke belakang. Tampak perempuan itu tengah mengamati mobilnya. Lalu melihat ke arah rumah. Mencari tahu siapa pemilik mobil yang sedang parkir di halamannya.


 


Kaki Kikan berjalan dengan cepat ke dalam rumah. Lalu menoleh dengan cepat ke arah kursi, dimana Dicto duduk di sana. Tatapannya tajam.


 


“Kenapa kamu ke rumahku?” tanya Kikan setengah berbisik. Sengaja begitu, mungkin dia tahu bahwa ada ibu dirumah. Dia tidak ingin keluarganya tahu. “Sebaiknya kamu segera pergi dari rumahku sekarang,” desis Kikan menunjuk pintu keluar.


 


“Oh, Kikan. Kamu sudah datang?” tanya ibu yang muncul dari dapur membawa nampan berisi minuman dan se-toples camilan kering. Camilan yang di belikan Kikan untuk ibunya.


 


Kikan langsung menarik tangannya.


 


“Ya.”


 


 


“Tidak perlu repot-repot Ibu. Saya hanya sebentar saja,” ujar Dicto yang sadar bahwa Kikan menyorotinya tajam di balik punggung ibunya.


 


“Tamu yang datang itu akan membawa rejeki kalau kita menyambutnya dengan baik. Ayo di minum. Kikan, kenapa kamu berdiri saja. Duduklah.  Sambut tamu dengan baik,” ujar Ibu menepuk pundak putrinya pelan untuk mengingatkan. Bibir Kikan tersenyum dengan terpaksa.


 


“Kikan tidak enak badan, jadi ... tidak bisa banyak bicara,” kata Kikan beralasan.


 


“Iya, tapi duduklah dulu. Mungkin saja berkat doa temannya yang menjenguk jadi bisa langsung sembuh dengan cepat.” Ibu memegang pundak Kikan untuk memaksa tubuhnya duduk. Dengan terpaksa, Kikan duduk di depan Dicto. “Ibu permisi dulu, ya Nak ... “ kata Ibu. Dicto mengangguk.


 


Sekarang tinggal Dicto dan Kikan hanya berdua. Manik mata Dicto menemukan kresek kecil yang di bawa Kikan. Seperti yang di katakan ibu tadi. Kikan habis dari apotek.

__ADS_1


 


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Dicto. Kikan bersidekap.


 


“Seperti yang kau lihat,” sahut Kikan enggan.


 


“Aku harap kamu tidak melakukan hal yang berbahaya lagi. Cukup hanya waktu itu kamu ingin melukai dirimu.”


 


“Kamu tidak perlu repot-repot mengurusi aku. Tenang saja, aku bisa mengatasi semuanya. Jadi kamu tidak perlu muncul di depanku. Jadi tolong ACC surat pengunduran diriku. Kamu bisa bebas, Dicto. Tidak perlu melakukan apapun yang membebanimu,” desis Kikan dengan marah tertahan. Mungkin saja perempuan ini akan mengatakannya dengan lantang jika sekarang tidak sedang berada di rumahnya.


 


“Aku tidak merasa terbebani, Kikan. Aku memang harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan.” Dicto juga menekan suaranya. Dia tidak ingin ibu mendengar percakapan dirinya soal ini. Dicto yakin bahwa tidak ada yang tahu soal kehamilan Kikan.


 


“Jangan berlagak, Dicto. Kamu tahu apa soal tanggung jawab?” cibir Kikan.


 


“Aku tidak tahu. Aku memang tidak pernah tahu tentang tanggung jawab seperti ini, karena ini yang pertama bagiku.” Dicto mengaku dengan jujur.


 


Kikan diam.


 


“Jangan pedulikan aku. Cukup abaikan.”


 


“Setelah tahu kamu hamil, bagaimana aku bisa diam saja, Kikan. Itu tidak mungkin,” lirih Dicto membuat mata Kikan melebar. Dia terkejut. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Lalu melotot pada Dicto.


 


“Tutup mulutmu, Dicto. Kamu tidak bisa membahas itu dengan mudah,” tunjuk Kikan marah. Dicto diam. Memang tidak seharusnya dia membahas ini saat tidak hanya berdua. Kikan akan lebih marah jika orang lain tahu. Namun ia ingin perempuan ini mengerti bahwa ia berniat baik. Dicto membuang napas perlahan. Dia yang harus mencoba mengerti.


_______


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2