
Beberapa hari setelah peristiwa Ruby yang terbaring di rumah sakit.
Kikan dan Dicto datang ke rumah sakit, karena hari ini Ruby akan pulang ke rumah mereka. Ternyata Astra sudah bersiap pulang. Sedikit saja mereka terlambat datang, pasti akan berselisih jalan.
Tampak Ruby di atas kursi roda. Meskipun wajahnya tampak kuyu, tapi sorot matanya tajam. Mungkin semua hal yang di alaminya sekarang membawa dampak besar baginya.
"Maaf, kita terlambat," kata Dicto menepuk punggung Astra yang memunggungi mereka. Ruby yang duduk di kursi roda mendongak.
"Aku pikir Kakak tidak akan datang,* kata Ruby.
"Tidak mungkin. Karena kalian tidak memberitahu mama, aku wajib datang," keluh Dicto. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Dicto yang meminta pegangan kursi roda pada Astra. Mereka berganti posisi.
"Baik," kata Ruby. "Ternyata melakukan semua sendiri itu tidak mudah. Dari sini aku belajar. Betapa susahnya berjuang dan berusaha." Orang akan tahu perempuan ini jujur karena bola mata itu benar-benar menunjukkan dia sudah pernah berusaha dengan susah payah.
"Semuanya memang tidak ada yang mudah," kata Dicto bijak.
"Terima kasih tetap muncul di depanku walaupun aku tidak menyukaimu, Kikan," kata Ruby seperti akan memulai lagi pertengkaran di antara mereka.
"Ruby ..." cegah Astra dan Dicto hampir bersamaan.
"Itu tidak masalah. Selama Dicto mencintaiku, aku sanggup bertemu dengan kalian berdua setiap hari pun," sahut Kikan dengan wajah tidak mengandung amarah. Perempuan ini tidak terpengaruh provokasi Ruby. Dicto tersenyum pada Kikan karena kalimatnya.
"Itu berlebihan. Kalau begitu, aku yang tidak mau bertemu denganmu karena Astra akan punya kesempatan memandangimu," lanjut Ruby.
"Hei," protes Astra. Dicto sudah ingin protes dan memarahi Ruby karena memulai pertengkaran lagi. Namun saat mendengar lagi apa yang di ucapkan Ruby selanjutnya, Dicto terdiam.
"Maaf. Maaf sudah membencimu tanpa sebab," kata Ruby membuat Kikan mengentikan langkahnya. Jika tadi Kikan tidak menoleh sama sekali pada Ruby, kali ini Kikan menoleh. Lalu tersenyum mengerti.
"Tidak mungkin kamu membenci tanpa alasan. Walaupun banyak yang tidak paham, kamu tidak akan membenciku tanpa sebab. Aku terima maafmu," kata Kikan melapangkan hatinya.
Sejak tadi dia sudah menganggap kalimat-kalimat Ruby bukanlah sebuah ajakan bertengkar. Perempuan itu hanya masih gengsi untuk bicara baik-baik padanya, karena dia sendiri yang telah memulai lebih dulu menciptakan atmosfir tidak damai di antara mereka.
"Maaf soal penculikanmu. Aku marah besar saat itu hingga aku menggunakan Kak Dicto untuk memberimu pelajaran. Aku yakin kamu dendam padaku karena itu," kata Ruby dengan wajah pasrah untuk di maki.
Astra terkejut bukan main. Ini pertama kalinya dia mendengar soal penculikan itu. Dia memandang Kikan dengan rasa bersalah. Ternyata Ruby bukan hanya selalu memulai pertengkaran lebih dulu, tapi perempuan ini melakukan sesuatu yang berlebihan. Itu semua karena dirinya.
"Ya. Tidak bisa di pungkiri itu hari terburuk di dalam hidupku. Itu juga hari aku sangat terpuruk. Namun karena seseorang mengaku salah dan berniat memperbaiki semuanya, aku merasa punya harapan." Bola mata Kikan menatap Dicto. Bibir Dicto tersenyum dengan perasaan sedih campur bahagia. Sempat teringat lagi kesalahan yang dia buat waktu itu.
__ADS_1
"Sepertinya Kak Dicto benar-benar menjadikanmu ratu di hatinya. Itu sangat istimewa bagi setiap wanita. Aku salut," kata Ruby yang entah kenapa mulai menitikkan air mata. Mungkin dia membayangkan dirinya sendiri yang masih jauh menjadi ratu di hati Astra.
Pria ini mendekat dan memeluk kepala Ruby. Dia tahu apa yang di maksud istrinya. Kalimat itu di tujukan untuk dirinya.
Dicto melepas tangannya pada pegangan kursi roda.
"Sini," perintah Dicto pada Kikan yang melihat pasangan itu saling berpelukan. Setelah mendekat, Dicto memeluk Kikan dari samping lalu mengusap-usap lengannya. Rupanya Dicto juga ingin memeluk istrinya.
"Aku tidak apa-apa," bisik Kikan.
"Aku tahu, tapi aku ingin memelukmu," bisik Dicto. Dua pasangan ini saling berpelukan dengan perasaan yang berbeda-beda.
...***...
Beberapa bulan kemudian.
Kikan sedang berjuang di kamar bersalin di dampingi Dicto.
"Ambil napaaasss ... Ya. Ibu bisa. Iya. Begitu." Ibu dokter memberi bimbingan dan arahan untuk Kikan mengejan. Kikan sekuat tenaga mengejan. Peluh membasahi pelipisnya.
Setelah sekitar kurang dari satu jam, akhirnya bayi lahir dan memperdengarkan suara lantangnya.
"Selamat Tuan. Putri Anda lahir dengan selamat," kata dokter sambil menggendong seorang bayi mungil yang masih penuh dengan darah. Ibu dokter ini mendekatkan bayi pada Kikan. Menunjukkan rupa putrinya untuk pertama kali. Kikan menangis. Dicto ikut menitikkan air mata karena haru dan bahagia.
"Anak kita sudah lahir, sayang. Terima kasih sudah berjuang." Dicto mengecup kening Kikan.
Lelah, penat dan sakit karena proses melahirkan mulai berkurang dengan adanya tangis bayi yang terdengar. Bayi yang segera memperdengarkan tangisannya di anggap bayi yang sehat. Jadi Kikan dan Dicto bersyukur karenanya.
Ada perasaan gembira, lega, kagum, dan sukacita ketika melihat bayi mereka sudah lahir. Rasa sakit ketika melahirkan pun terasa terbayar dengan melihat wajah si mungil.
"Tuan bisa istirahat sejenak. Kami akan melakukan pembersihan rahim agar tidak ada sisa dari darah atau jaringan di dalamnya. Iki akan mengurangi pendarahan," jelas dokter setelah memberikan bayi mereka pada petugas yang membersihkan bayi.
Dicto mengangguk.
"Aku keluar dulu melihat bayi kita, ya ... Aku akan kembali setelah proses pembersihan rahim selesai," kata Dicto seraya mengecup kening istrinya. lalu ia mengusap rambut Kikan dengan sayang.
__ADS_1
***
Saat keluar dari pintu ruang bersalin, Dicto tidak melihat siapapun di luar pintu. Padahal tadi keluarganya ada disana semuanya. Ada mama dan ibu mertua.
Ponsel Dicto berdering. Ternyata itu mama yang sedang vidcall. Dicto menerimanya.
"Ya, Ma."
"Dicto! Putrimu cantik sekali. Lihatlah," seru mama yang ternyata mengikuti kemana cucunya di bawa pergi. Ibu Kikan juga ada di sana sambil tersenyum memandangi wajah cucunya.
"Jadi mama ada di sana?" tegur Dicto.
"Iya. Mama enggak sabar untuk melihat dan menggendong cucu mama." Mama begitu antusias. Dicto menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan mamanya.
"Baiklah, tapi jangan sampai mengganggu petugas rumah sakit ya ...," pesan Dicto.
"Kamu ini," ujar mama pura-pura marah. "Ya sudah. Mama tutup. Tidak usah di jemput. Biar mama yang nanti barengin suster bawa putrimu."
Dicto tertawa ringan.
"Kamu terlihat sangat bahagia, Dicto," kata Giska.
"Kak Giska." Mereka pun saling berpelukan.
"Kikan masih di dalam?" tanya Giska.
"Masih ada pembersihan rahim. Mungkin tidak lama."
"Mama tidak datang?" Giska heran di depan ruang bersalin tidak ada keluarga sama sekali.
"Datang. Mama sedang mengawasi cucunya yang sedang di berisikan," jelas Dicto.
"Mama pasti sangat ingin mendapat cucu. Dariku saja yang anak perempuan pertama, mama tidak mendapatkan apa-apa. Mungkin beliau kecewa karenanya," kata Giska beraura sedih.
"Mama tidak akan pernah kecewa dengan putrinya. Bahkan pada Ruby yang begitu manja dan seringkali memusingkan, mama tetap sayang," kata Dicto mengambil contoh nyata.
..._____...
__ADS_1