Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 47


__ADS_3

Sutradara dan tim mengadakan survei lokasi pembuatan iklan terlebih dahulu. Kikan juga sudah memberitahu Aurora untuk datang. Mereka juga membawa produk  glow itu bersama mereka.


Tim ini terdiri dari sutradara dan tim. Dari ZEUs ada Astra dan Kikan.


Dicto agak keberatan, karena itu artinya dia harus melepas Kikan hanya dengan Astra saja. Namun pekerjaan tetaplah pekerjaan. Dicto yang berniat ikut ternyata masih ada pertemuan. Ruby juga ikut cemberut melihat Astra berangkat hanya berdua.


"Jangan ikut. Itu bukan pekerjaanmu. Tetap di kantor dan selesaikan pekerjaan seperti biasa," ancam Dicto. Jika adik perempuannya ini ikut, itu akan menambah beban untuknya. Pikirannya akan berat.


Dengan sangat terpaksa, Dicto mengijinkan Astra hanya membawa satu mobil. Dan Kikan ikut dengannya.


Sepanjang perjalanan, di dalam mobil terdengar sunyi. Tidak ada obrolan sama sekali. Perlahan Astra melirik ke arah Kikan yang duduk di sampingnya.


"Bagaimana kabarmu, Kikan?" tanya Astra setelah sekian lama tadi menahan diri untuk tidak bicara.


"Kenapa bertanya hal yang sudah kelihatan? Kita satu kantor. Tentu kamu tahu bagaimana keadaanku," sahut Kikan tanpa menoleh. Dia tetap melihat lurus ke depan.


"Ya. Aku tahu bagaimana keadaanmu. Apalagi setelah menikah dengan Dicto." Kalimat terjeda sejenak. "Kamu terlihat menikmati menjadi istri pria itu."


"Itu persis seperti yang aku lihat saat kamu dan Ruby. Kamu tampak menikmati menjadi suami perempuan itu," balas Kikan.


"Sebenarnya sejak kapan kamu mulai dekat dengan Dicto?" tanya Astra membuat Kikan menatap tajam.


"Kenapa kamu ingin tahu?" tanya Kikan merasa Astra terlalu banyak ingin tahu.


"Aku tahu kamu Kikan. Kamu tidak mengenal siapa-siapa. Kamu tidak mengenal banyak pria seperti yang lainnya."


"Kamu benar. Kamu tahu aku hanya mengenalmu. Hanya melihat ke arahmu, tapi semuanya sia-sia karena kamu justru memandang ke perempuan lain," kata Kikan menohok. Astra yang memulai. Kikan tidak akan diam saja.


"Ini pembalasanmu?"


"Awalnya tidak, tapi kalau kamu menganggapnya iya, aku akan lebih bersemangat menjadi istri Dicto karena bisa membalas mu," jawab Kikan. Astra diam. "Sungguh lucu kamu melakukan pembicaraan ini, Astra. Dalam segi apapun kamu itu salah. Jadi aku pasti punya celah untuk menyerangmu jika kamu memaksaku seperti itu," ujar Kikan sinis.


Astra tidak mengatakan apa-apa.


"Kita jalani saja kisah hidup masing-masing. Kamu dengan Ruby, aku dengan Dicto,” pungkas Kikan.


...***...

__ADS_1


Mereka tiba di lokasi. Yaitu sebuah air mancur yang sangat kuno nan eksotis. Sepertinya itu bangunan jaman dulu.


Tak berapa lama setelah semua orang tiba, Aurora juga muncul. Meski sebenarnya cukup tim produksi iklan saja yang survei lokasi, tapi perempuan cantik ini muncul. Seperti yang sudah perempuan itu pesankan padanya, bahwa dia akan ikut survei.


"Kenapa hanya kamu dan Astra? Mana Dicto?" tanya Aurora kecewa. Dia sengaja muncul karena berpikir pria itu akan muncul. Dia berharap lebih sering bertemu dengan Dicto.


"Maaf, Dicto hanya sebagai pengawas. Kitalah yang akan melakukan pembuatan iklan. Jadi dia tidak ikut. Cukup tahu dari kiriman email dari kita nantinya," jelas Kikan.


"Hanya pengawas? Bukannya dia wakil Presdir kalian? Caramu bicara seperti menganggap Dicto rendah saja." Aurora tidak setuju. Kikan mengerjap. Tidak menyangka bahwa Aurora berpikir demikian.


Mungkin tanpa sadar, Kikan bicara masih dengan pandangan datar pada seorang Dicto yang sebenarnya adalah atasan mereka. Gejolak marahnya ikut masuk dalam kalimat yang di katakan pada artis dan model cantik barusan.


"Kikan benar. Dicto tidak ikut kegiatan lapangan secara langsung. Itu tanggung jawab aku sebagai ketua tim, dan dia AE yang jadi media di antara kita berdua," kata Astra memberi penjelasan tambahan.


"Oh, ya? Walaupun begitu, seharusnya Dicto muncul. Apalagi aku sudah sampai di sini." Aurora menggerutu.


Astra menipiskan bibir. Kikan hanya diam.


"Lebih baik aku telepon saja dia agar ke sini," kata Aurora. Astra melirik Kikan yang menatap perempuan itu agak lama. Mungkin Kikan merasa itu menyakitinya. Karena Aurora seenaknya saja ingin menelepon suami orang. Namun Kikan pergi dan menjauh dari perempuan itu.


...***...


Sebuah mobil muncul di pelataran parkir. Ternyata itu Ruby.


"HH ... aku pikir Dicto akan muncul setelah aku telepon. Ternyata dia tetap tidak muncul," keluh Aurora. Perempuan itu mendekat dan menyapa Aurora.


Kemunculan Ruby sempat mengusik Astra. Dia takut perempuan itu akan melakukan hal-hal yang menyebalkan ke Kikan. Mereka masih berbincang soal ide dan sebagainya bersama-sama.


Ruby ingin melihat dari dekat suaminya. Sekaligus mengawasi. Semua mendekati kolam air mancur. Mereka-reka adegan iklan yang akan di buat. Namun kaki Kikan terpeleset, Astra yang berada di dekatnya, otomatis menarik tangan Kikan dan menahan tubuh perempuan ini agar tidak jatuh.


"Apa yang di lakukan Astra?" tanya Ruby terkejut. Aurora melongok, dia tidak paham kenapa reaksi Ruby demikian. "Hei, jauhkan tubuhmu dari Astra!"


Astra melepaskan tangan Kikan setelah yakin perempuan itu aman. Lalu melihat ke arah Ruby dengan wajah masam.


"Kamu mencari kesempatan, ya?" Ruby yang mendekat langsung menegur dengan kesal. Kikan hanya menatap beberapa detik, kemudian menoleh ke arah lain. Dia tidak memedulikan Ruby. "Hei, kamu tidak dengar apa yang aku bilang?" Ruby menahan tangan Kikan. Kini bola mata mereka beradu. Kikan menghempaskan tangan Ruby dengan kasar.


"Sayang ... jangan berlebihan." Astra berusaha menenangkan.

__ADS_1


"Soal mencari kesempatan? Apa? Apa yang kamu maksud?" tanya Kikan sengit.


"Ya tadi." Ruby tak kalah sengit. Semua menoleh serempak. Berbisik-bisik membicarakan mereka berdua. Astra mendekat.


"Bukannya Astra, yang seharusnya di anggap mencari kesempatan, Ruby?" tanya Dicto yang mendadak tiba di tempat ini. Bibir Aurora melukis senyuman. Ruby menoleh dengan terkejut.


Dicto mendekat, lalu menarik lengan Kikan lembut. “Kita pergi dari sini, Kikan,” kata Dicto mengajaknya menjauh dari Ruby yang terdiam.


Aurora menaikkan alisnya. Ia mendengar dari Mary bahwa Dicto terlihat dekat dengan seseorang di ZEUs. Yang ia lihat sekarang adalah pria itu sedang membela perempuan yang menjadi AE.


...***...


"Maaf, atas keributan yang Ruby buat," kata Dicto yang membawa istrinya di dekat mobil.


"Aku sudah terbiasa dengan itu," kata Kikan tidak berlebihan.


"Kamu terluka?" tanya Dicto mencoba mengamati perempuan.


"Tidak."


"Oh, syukurlah." Dicto lega. Saat itu, Aurora ternyata mengikuti mereka. Dia melihat dan mendengar percakapan Dicto.


"Kamu bersikap dingin padaku, karena dia?" tanya Aurora tanpa basa-basi. Kikan dan Dicto melihat ke arah perempuan ini.


"Kamu mengikuti ku karena ingin menanyakan itu?" tanya Dicto balik.


"Ya. Aku ingin tahu." Aurora pantang berkata tidak sesuai dengan hatinya. Dia cukup tegas mengutarakan apa yang ia rasakan. Kikan menghela napas.


"Ya. Aku harus menjaga jarak dengan banyak wanita lain karena dia." Dicto memberi keterangan.


"Oh, begitu? Siapa perempuan ini, kamu harus melakukan itu?" kejar Aurora. Dia menatap Kikan dengan tajam dan menyelidik. Dicto menatap perempuan yang kini menemaninya di setiap hari-harinya. Meskipun hubungan mereka belum banyak perubahan.


Kikan menghela napas.


"Dia orang yang spesial untukku, Aurora," ungkap Dicto dengan menatap Kikan lembut dan dalam.


..._____...

__ADS_1



__ADS_2