Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 8 Astra dan Adis


__ADS_3

"Kok anak tunggal? Kak Astra itu anak pertama. Lalu aku adiknya," jelas Adis tidak terima.


 


"Adis, ayolah. Sebaiknya kita turun saja," kata Kikan menengahi.


 


"Turun? Bukannya tadi Kak Kikan mau mengantarku ke ruangannya Kak Astra? Kenapa sekarang enggak jadi?" tanya Adis heran.


 


Gadis ini tidak paham situasi sebenarnya. Jika Astra memang tidak mengenalkan Ruby pada keluarganya, Adis juga tidak akan tahu siapa Ruby.


 


Orang-orang yang ada di sana mulai terusik dan ingin tahu.


 


Astra yang keluar ruangan bermaksud ke pantry terhenti saat melihat semua orang melihat satu poros. Ia melongok.


 


"Ada apa ini?" tanya Astra.


 


Sangat mengejutkan saat tahu di sana ada Adis, Ruby bahkan Kikan. Semua kembali duduk dengan tenang di kursinya. Ketiga perempuan tadi menoleh bersamaan.


 


"Kak Astra!" Adis berlari ke kakaknya. Pria itu menyambutnya. Ruby terheran-heran melihat Astra tetap menyambut gadis yang mengaku adiknya itu. Kikan mengalihkan padangan ke arah lain.


 


"Jadi dia benar adik kamu Astra?" tanya Ruby tidak percaya.


 


"Tunggu aku di resto yang sudah aku pesan. Kita akan makan siang di sana, sayang," ujar Astra sambil tersenyum. Ruby masih ingin bertanya, tapi ia sudah terhanyut dengan senyuman dan panggilan sayang Astra di depan semua karyawan.


 


"Hhh ... baiklah. Kamu hutang cerita padaku." Ruby menunjuk Astra dengan tatapan lembut.


Kikan masih ada disana saat Ruby sudah masuk ke dalam lift. Ia hendak masuk ke lift juga saat Astra memanggilnya.


 


"Bisa ke ruanganku, Kikan?"


 

__ADS_1


Kikan ingin tidak mengikuti perintah Astra, tapi ia harus bersikap biasa di depan yang lainnya. Terlihat Rangga dan Arin melihat cemas ke arahnya.


 


"Ya."


 


"Ayo, Kak Kikan," ajak Adis senang Kikan juga ikut bersamanya. Kikan urung masuk ke dalam lift. Ia mengikuti Astra yang berjalan masuk ke ruangannya.


 


***


 


"Kenapa muncul di sini, Adis?" tanya Astra saat mereka bertiga sudah masuk ke dalam ruangan. Bahkan tirai juga sudah di tutup.


 


"Aku ingin bertemu dengan Kak Astra. Ayah juga sakit-sakitan," kata Adis yang mulai duduk. Kikan yang tidak tahu mengapa dirinya ikut di ajak masuk, tetap berdiri di dekat pintu.


 


"Apa kalian berdua tidak mengerti kalau aku tidak akan kembali ke rumah itu?" Wajah Astra yang biasanya ramah tampak dingin. Kikan merasa ngeri. Ia tidak menduga pria ini bisa menampakkan wajah seperti itu.


 


 


"Jangan sebut keluarga. Kita bukan keluarga Adis. Jadi perlu aku tekankan lagi, jangan pernah menemuiku dan mengaku adikku. Ibuku hanya satu. Sementara kamu anak istri dari ayahku," kata Astra menahan diri untuk berteriak.


 


Kikan merasakan tubuhnya merinding.


 


"Kak Kikan ...," ucap Adis ingin perlindungan Kikan. Terpaksa Kikan mendekat dan memeluknya. Gadis itu menangis.


 


"Aku tidak tahu apa maksud kamu memintaku ke ruanganmu. Jika hanya untuk melihat semua ini, lebih baik aku keluar, Astra," kata Kikan geram.


 


"Tolong bawa ia pergi. Aku ada janji dengan Ruby," perintah Astra dengan mengibaskan tangannya.


 


"Jadi aku hanya perantara untuk membawa Adis keluar dari ruanganmu?" tanya Kikan dengan kening mengerut.


 

__ADS_1


"Aku tidak bisa membawanya sendiri karena ada banyak mata melihatku, Kikan," kata Astra kesal.


 


"Oh, ya aku lupa sebentar lagi pesta pernikahanmu," ujar Kikan sinis. Tangannya menepuk punggung Adis yang masih menangis. "Walaupun kamu sangat ingin menikah dengan Ruby, itu tidak harus menyakiti adikmu, Astra."


 


"Kamu tidak tahu apapun, Kikan."


 


"Aku memang tidak tahu apapun. Bahan saat aku di bohongi pun aku tidak tahu. Aku tetap berpikir baik tentangmu. Jadi ... aku memang tidak tahu siapa kamu. Sama sekali. Ayo, Adis. Sebaiknya kamu segera pulang dan melupakan bahwa pernah punya kakak bernama Astra." Kikan membawa Adis pergi setelah menghapus airmata yang berderai tadi.


 


**


 


Penuh dengan kebohongan saat keluar dari ruangan Astra tadi. Saat semua bertanya apa benar bahwa gadis yang berseragam sekolah itu adik ketua tim mereka. Tidak ada jawaban pasti dari bibir Kikan. Padahal tanpa di beritahu pun Adis sudah mengakui bahwa Astra adalah kakaknya.


 


"Kak Astra mau menikah dengan siapa, Kak? Bukannya kalian sepasang kekasih?" tanya Adis saat Kikan mengantarnya turun ke lantai bawah.


 


"Aku bukan kekasihnya," kata Kikan singkat.


 


"Tapi yang aku tahu kakak itu ..."


 


"Sebaiknya kita makan siang dulu. Kamu pasti lapar sepulang sekolah kan?" Kikan mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin membahasnya.


 


"Ya. Apa kakak tidak sibuk?" tanya Adis merasa tidak enak menganggu waktu Kikan.


 


"Ini sudah waktunya makan siang, jadi aku bisa keluar denganmu," kata Kikan seraya melihat ke arah arloji di tangannya.


 


"Aku senang kalau begitu. Perutku memang keroncongan, Kak." Adis mulai terlihat ceria lagi. Mereka pun keluar berjalan menuju pintu keluar gedung.


______


 

__ADS_1


__ADS_2