
Kikan membiarkan lengan pria ini memeluknya. Jujur, Kikan sering goyah. Dia membenci tapi terkadang menikmati semua perhatian yang di berikan pria ini. Semua perasaannya campur aduk jadi satu. Membuat pikirannya tidak menentu.
Sekarang ini, saat lengan pria ini memeluknya pun, ada sesuatu yang mengalir lembut dan hangat menjalari sekujur tubuhnya. Kikan tanpa sadar menyentuh lengan itu.
"Aku ingin melihat sawah," kata Kikan tiba-tiba. Dicto melongok dari atas bahu Kikan. Mendekatkan wajahnya ingin melihat ekspresi perempuan ini.
"Sawah? Sekarang?" tanya Dicto memastikan. Kepala Kikan mengangguk. "Oke, kita berangkat." Karena permintaan Kikan, Dicto perlu melepas pelukannya perlahan. Lalu bangkit dari ranjang.
Setelah berpamitan pada ibu, mereka berangkat. Tanpa bertanya apapun, Dicto menjalankan mobilnya. Kini kendaraan itu melaju dengan tenang. Tidak sulit mencari sawah. Tinggal kita bergerak ke jalanan menuju selatan, kita akan menemui persawahan luas di sana. Hanya di tempuh beberapa menit, mereka sampai.
"Hanya melihat dari sini. Tidak boleh keluar dari mobil," kata Dicto memberi peraturan. Kikan yang sudah hendak membuka sabuk pengaman urung. "Jangan kesana," imbuh Dicto.
"Aku ingin makan buah," kata Kikan tiba-tiba.
"Makan buah?" Dicto terkejut bahwa permintaan Kikan berubah dengan cepat. "Oke. Kita akan mencari sepanjang jalan ini. Pasti banyak penjual buah."
"Aku hanya mau di Big mart yang waktu itu," kata Kikan tanpa sungkan menyebut keinginannya. Dicto menaikkan alisnya heran.
"Baiklah. Agak lama karena jauh dari sini. Jadi kamu harus bersabar," kata Dicto siap membawa istrinya ke tempat penjual buah yang waktu itu. Dia kegirangan Kikan mulai sering mengatakan keinginannya tanpa ragu.
Kikan membetulkan letak punggungnya dengan nyaman di kursi. Kepalanya bersandar. Dicto melirik. Kikan menatap jalanan di luar jendela di sampingnya.
"Kamu tahu, Ki. Aku senang kamu mulai bisa mengatakan apa yang kamu inginkan dengan tegas padaku," kata Dicto sambil tetap menatap lurus ke depan. Kikan menoleh. Lalu kembali melihat ke samping.
"Aku hanya ingin menyiksamu," kata Kikan mengejutkan. Dicto tergelak mendengar pengakuan itu.
"Aku tidak merasa itu siksaan. Aku senang," kata Dicto jujur. Kikan menipiskan bibir. Ia bersandar dengan benar. Matanya terpejam. "Kamu lelah?" tanya Dicto.
Kikan sebenarnya ingin melanjutkan tidurnya, tapi ia merasa ada hembusan napas yang terasa sangat dekat dengannya. Matanya terbuka. Pria itu ternyata tengah mengamatinya dari jarak yang dekat. Kikan terkejut. Ia ingin mundur tapi lupa, tempatnya sudah sempit, jadi tubuhnya tidak bisa menghindar lagi.
__ADS_1
"Hati-hati," tahan Dicto. Menahan kepala Kikan agar tidak terantuk badan mobil. Kikan menunduk agar wajahnya tidak terlalu dekat dengan wajah Dicto. "Lebih baik kita segera turun, karena sudah sampai," kata Dicto lembut. Setelah yakin Kikan tidak terantuk lagi, dia melepas tangannya.
"Ya." Kikan mengangguk. Ternyata mereka sudah sampai.
Setelah sampai, mereka segera menuju outlet buah potong. Melihat saja air liur Kikan terasa menetes. Tidak hamil pun, Kikan sangat menyukai buah.
"Aku juga mau salad buah," kata Kikan setelah mendekat, tahu mereka juga menjual salad buah.
"Oke. Bisa tambah keju? Istriku yang hamil ini sangat menyukai keju," pinta Dicto pada penjual.
Setelah pesanan di berikan, Kikan menyendok salad dengan porsi besar. Dicto puas melihat istrinya makan.
"Sepertinya bayi itu akan menggemaskan. Melihat nafsu makan kamu yang besar, pasti bayi itu begitu gembul dan lucu," kata Dicto tertawa.
"Sepertinya," sahut Kikan yang mengejutkan Dicto. Perempuan ini makin terbuka padanya. "Kamu mau?" tanya Kikan seraya menyendok salad.
"Emm ... apa aku akan di suapi?" canda Dicto. Namun mengejutkan bahwa tangan Kikan tetap mengambang. Sepertinya memang berniat menyuapinya.
Setelah puas makan buah, mereka membeli oleh-oleh untuk ibu di rumah.
...***...
Mungkin sekarang pukul 11 malam. Kikan terbangun karena haus. Setelah dari dapur mengambil air minum, ia masuk lagi ke kamar sambil membawa botol berisi air minum.
Jika di rumah keluarga Dicto, pria itu bisa tidur si sofa karena tidak ingin Kikan marah saat tidur satu ranjang. Namun karena kamar Kikan lebih kecil, tidak ada sofa di dalamnya. Itu membuat Dicto terpaksa tidur di atas kasur lantai yang tidak seberapa tebal.
Kikan sudah berulang kali mendengar Dicto mengerang. Mungkin bagi pria kaya ini, tidur di kasur lantai terlalu keras. Kualitas kasur lantai yang Kikan punya juga bukanlah kualitas terbaik.
Tubuh Kikan merunduk. Lalu jongkok di depan Dicto yang tidur dengan gelisah.
__ADS_1
"Kasihan kamu. Meski kamu sudah melakukan kesalahan besar, tapi sebenarnya kamu baik."
Dicto mengerang lagi.
"Dicto ... Dicto ..." Kikan membangunkan pria ini. Setelah sekitar lima menit, Dicto bisa membuka mata.
"Kikan? Kenapa kamu bangun? Perutmu sakit? Kamu muntah dan mual?" tanya Dicto langsung menunjukkan kekhawatirannya. Kepala Kikan menggeleng.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Ayo, bangun. Kamu bisa tidur di atas ranjang," kata Kikan menunjuk tempat tidur.
"Tidak. Aku tidak mau membuatmu harus tidur di kasur ini. Mungkin aku bisa tahan, tapi ibu hamil sepertimu sepertinya akan kesakitan," kata Dicto merasa kuat. Padahal dalam tidurnya Kikan mendengar bahwa pria ini mengerang sakit. Juga lantai di bawah begitu dingin. Pasti punggungnya sakit.
"Jangan membantah Dicto. Aku tahu punggung kamu sakit tidur di kasur ini," kata Kikan. Dicto tergelak. Lalu mengusap kepala Kikan lembut.
"Padahal aku diam saja. Kenapa kamu malah terang-terangan mengatakan itu." Dicto memang tidak mungkin mengeluhkan hal itu.
"Lebih baik kamu pindah ke atas." Kikan masih memaksa pria ini pindah. Perempuan itu berdiri dan mendekat ke tempat tidur.
"Tidak bisa, Kikan. Karena kalau begitu, kita akan tidur dalam satu ranjang," jelas Dicto dengan bola mata mengikuti perempuan itu. Namun Kikan tidak menjawab dan naik ke atas ranjang. "Apakah dia mengijinkan aku tidur satu kasur dengannya?" gumam Dicto sendiri.
Meski ragu, Dicto berusaha berdiri. Ingin membuktikan bahwa ajakan Kikan bukan bohong. Dicto membawa selimut yang ia pakai tadi dan perlahan naik ke atas ranjang. Decit bunyi kasur yang bertambah bebannya terdengar.
"Kamu yang mengundangku, Kikan. Bukan aku. Jadi jangan marah jika aku benar-benar keenakan tidur di atas ranjang empuk ini," kata Dicto takut. Kikan yang tidur miring diam. Saat Dicto perlahan meletakkan punggungnya di atas ranjang, Kikan tetap diam.
Apakah dia benar mengijinkan aku tidur di sini? tanya Dicto di dalam hati.
Dan memang tidak ada gerakan pengusiran dari Kikan. Itu membuat Dicto tersenyum kegirangan. Dia miringkan tubuh menghadap Kikan yang memunggunginya. Lalu menggeser tubuhnya perlahan. Mengecup pundak perempuan itu pelan dan berucap,
"Terima kasih, Kikan."
__ADS_1
...____...