Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 45


__ADS_3

Setelah rapat soal ide yang akan di pakai untuk iklan Glow yang baru, artis dan orang dari pihak Glow datang berkunjung ke ZEUs. Ingin mengenal siapa saja yang akan menjadi bagian dari tim iklan.


 


"Halo Ruby," sapa Aurora.


 


"Kak Aurora." Mereka pun berpelukan. Hingga rasanya hanya Ruby saja yang perlu di kenal. Sementara yang lainnya bukan orang penting.  Semua mata menoleh ke arah mereka dengan mengangguk-anggukan kepala mengerti. mereka hanya figuran.


 


"Jadi ... ini tim yang akan menggarap iklan itu?" tanya Aurora sambil menunjuk semua orang. Mereka pun tersenyum demi membuat suasana nyaman.


 


"Ya. Dan ketua tim adalah suamiku, Astra." Ruby mengenalkan Astra pada perempuan itu. Astra mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


 


"Oho ... pria yang tampan." Senyum Aurora mengembang. Yang lainnya menipiskan bibir mendengar gurauan itu. Arin melirik pada Kikan yang tidak di toleh sedikit pun. Namun perempuan itu tampak tidak terusik.


 


"Jangan menggoda pria ku," sergah Ruby.


 


"Tidak mungkin. Aku lebih suka dengan yang lain." Kepala Aurora melongok ke sekitar ruangan. Kala itu Dicto muncul di lorong. Karena masih ada orang dari bagian keuangan di ruangannya, dia muncul belakangan untuk menyambut kedatangan pihak Glow. "Itu dia orangnya," bisik Aurora pada Ruby.


 


"Selamat datang di ZEUs," ujar Dicto ramah. Setelah bersalaman, semua anggota di perkenankan bubar. Namun mereka masih berada di dalam ruangan Astra.


 


"Ternyata Aurora lebih cantik kalau bertemu langsung, ya?" Mirna mulai membicarakan tamu mereka.


 


"Ya, tapi aku enggak suka. Dia lebih mirip Ruby. Jadi aku enggak pro ke dia," sahut Cintya lugas.


 


"Ke Kak Kikan aja dia enggak noleh. Padahal yang bertemu pertama di Glow kan Kak Kikan," protes Arin. Kikan mendengus mendengar omelan Arin.


 


"Bertemu pertama atau tidak itu tidak ada hubungannya dengan dia yang harus menyapa aku. Di sini aku hanya sebagai karyawan. Di sebelahku masih banyak orang penting lainnya. Jadi wajar dia merasa harus lebih ramah pada mereka daripada aku. Aku tidak peduli dengan itu," jelas Kikan.


 


"Lagipula aku juga bertemu dengan dia pertama kali. Aku dan Kikan," ralat Cintya. Bola mata Kikan melirik ke dalam ruangan Astra yang tidak tertutupi oleh tirai. Dari tempatnya, ia tahu bahwa sekarang Dicto sedang bersama Aurora. Bercanda dan berbicara.


 


Arin yang melihat tatapan Kikan, ikut menoleh. Dia tahu pasti Kikan sedang memandang ke Astra. Mantan kekasihnya.


 


Ting!


 


Ada pesan di email Kikan dari Arin. Padahal ada di depannya, tapi perempuan itu justru mengirim pesan lewat email. Arin memberi kode buat Kikan agar membuka email-nya.


 


Kikan menuruti kemauan juniornya itu.


 

__ADS_1


"Jangan kasih tempat di hati Kak Kikan untuk orang macam Pak Astra. Jangan isi perasaan Kak Kikan dengan rasa sakit karena ulah pria itu." Begitu pesan yang di kirim Arin di dalam email-nya.


 


Kikan menoleh lagi ke arah ruangan Astra, dia mengerjapkan mata. Pasti Arin melihat dia sedang memandang ruangan ketua tim. Dan perempuan itu mengira bahwa yang di lihatnya adalah Astra. Ya. Setahu Arin, yang pernah punya hubungan khusus dengannya adalah Astra. Jadi Arin mengirim pesan penyemangat untuknya. Padahal itu salah.


 


Kikan memang sedang memandangi ruangan Astra, tapi dia tidak fokus pada pria itu. Pada pengkhianat itu. Dia sedang memandangi pria lain. Pria yang sedang berdiri di dekat dinding kaca dan tengah berbincang dengan Aurora.


 


Kepala Kikan langsung menoleh pada komputernya dengan cepat. Saat dia menjabarkan kesalahpahaman Arin soal siapa yang ia pandang di dalam otaknya sendiri, ia melihat Dicto mengalihkan padangan ke arahnya.


 


"Terima kasih atas kalimat penyemangatnya." Kikan membalas pesan Arin.


 


Di dalam ruangan Astra, Dicto yang menyadari bahwa tadi Kikan memandang ke arahnya jadi tidak tenang.


 


"Ada apa, Dic?" tanya Aurora.


 


"Enggak ada."


 


"Kenapa kamu jadi dingin sih. Seingatku, kamu enggak sedingin ini meskipun kita baru pertama putus," kata Aurora. Astra melirik. Dia tahu kegelisahan Dicto. Yaitu Kikan. Sepertinya perempuan cantik ini tidak tahu bahwa Dicto sudah beristri.


 


"Tentu saja dia bersikap dingin, bukankah dia ..."


 


 


"Tidak ada pembicaraan penting jadi aku pamit keluar," kata Dicto yang yakin Kikan sedang mengawasinya tadi.


 


"Tunggu, Dicto!" panggil Aurora. Dicto tidak peduli. Ruby menipiskan bibir melihat Dicto menghindari Aurora. Dugaan Ruby benar. Pria itu mendatangi meja Kikan. Astra memilih duduk di mejanya tanpa melihat. Sungguh, dia merasa ada yang aneh saat melihat Dicto mendekati Kikan.


 


"Halo, Pak Dicto," sapa yang lain membuat Kikan berjingkat kaget. Karena ternyata hanya dia yang tidak tahu bahwa ada Dicto di sampingnya. Kikan menoleh ke samping.


 


"Bisa ke ruanganku, Kikan? Ada yang harus di bicarakan soal Aurora menjadi bintang iklan," kata Dicto tiba-tiba. Kikan mengerjapkan mata. "Aku tunggu di ruanganku." Setelah mengatakan itu, Dicto melangkah menuju ke ruangannya.


 


Kikan melihat ke yang lain. Semua bersikap biasa.


 


...***...


 


Tok! Tok!


 


"Masuklah!" teriak Dicto dari dalam. Dalam benak Kikan saat ini penuh dengan ide iklan Glow terbaru. Karena akan di tanya soal Aurora yang menjadi bintangnya, Kikan sudah menyiapkan materi jawaban.

__ADS_1


 


Kikan masuk sambil membawa proposal ide. Dari mejanya, Dicto melihat perempuan ini berjalan dengan setengah menunduk. Seakan-akan dia enggan melihat ke arah dirinya.


 


"Tidak perlu mendekat, aku yang akan menghampirimu. Duduklah di sana," kata Dicto mempersilakan Kikan duduk di sofa. Ya. Berbincang di sofa memang lebih baik daripada dia harus berdiri. Kikan duduk di sofa. Pria itu datang menghampirinya.


 


Kepala Kikan mendongak. Kali ini dia harus memperhatikan karena akan ada pembicaraan soal pekerjaan.


 


"Maaf jika aku membuatmu merasa tidak nyaman. Meskipun ini tidak penting bagimu, tapi buatku adalah hal penting. Karena sekarang aku suamimu," kata Dicto membuat Kikan mengerjapkan bola matanya dengan tertegun.


 


"Apa yang kamu bicarakan?"


 


"Aurora. Meskipun kamu membenciku, tapi aku merasa wajib memberitahu bahwa kita hanya rekan dalam pekerjaan," jelas Dicto. Kikan mengerti.


 


"Aku tidak masalah," sahut Kikan sambil menunduk.


 


"Aku tahu. Aku tahu pasti, kamu tidak masalah aku dengan siapa saja karena kamu membenciku, tapi aku merasa bersalah pada bayi itu. Darah daging ku sendiri," tegas Dicto.


 


Kikan terdiam. Bayi ini yang selalu membuat Dicto berlebihan.


 


"Terlepas dari aku yang membencimu, aku yakin kamu cukup profesional dalam bekerja," kata Kikan yang entah kenapa muncul dalam bibirnya. Padahal ia ingin menutup mulut dan pergi jika pembicaraan ini sudah selesai.


 


Dicto menghela napas lega.


 


"Jadi tidak ada pembicaraan soal Aurora yang terkait dengan pekerjaan?" tanya Kikan.


 


"Tidak. Maaf. Aku harus berbohong saat ingin bicara denganmu," kata Dicto. Ini merupakan janji penting yang harus di tepati Dicto.


 


"Jika tidak ada pembicaraan soal pekerjaan, aku akan pergi," kata Kikan. Namun tangannya di cegah oleh Dicto. Kikan menoleh ke belakang.


 


"Bisa tinggal di sini sejenak? Hanya beberapa menit," pinta Dicto. Kepala Kikan melihat ke arah pintu. "Mereka sudah tahu aku memanggilmu karena pekerjaan," imbuh Dicto yang tahu kecemasan Kikan.


 


Bola mata perempuan ini menatap Dicto. Tanpa bicara, Kikan memilih duduk kembali. Itu berarti dia mengabulkan permintaan pria ini.


 


"Terima kasih." Senyum Dicto mengembang. Kikan tidak menanggapi.


...______...


__ADS_1


__ADS_2