
Setelah pertengkaran itu, Ruby tidak lagi menyerangnya seperti dulu. Mungkin karena Astra juga sudah menepati janjinya untuk tidak mendekati Kikan. Jadi keributan dengan Ruby bisa di minimalisir. Atau wanita itu mungkin sudah lelah, Kikan tidak tahu.
Pulang kerja.
Semua sudah bersiap pulang, tinggal Kikan sendiri yang masih menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku bisa tungguin Kak Kikan kalau mau." Arin dengan senang hati menemani. Kikan tersenyum.
"Tidak. Pulang saja sana. Rangga pasti sedang menunggumu." Kikan tidak mau mengganggu kencan mereka. Meskipun sebenarnya dia senang ada Arin yang menemaninya menyelesaikan pekerjaan. Namun dia perlu tahu diri.
Karena sejak tadi Rangga sudah panik saat Arin mendekati Kikan. Sekarang pun pria itu terus saja berpura-pura sibuk di lorong demi menunggu Arin.
"Oke. Kakak bisa telepon aku kalau ada apa-apa," kata Arin.
"Iya. Terima kasih.”
"Dadaah ... Kak Kikan," pamit Arin. Kikan membalas lambaian tangan gadis itu. Setelah Arin pergi, tinggal dia sendirian. Kikan membetulkan letak kacamata kerjanya dan mulai bekerja lagi.
Ruangan Dicto masih menyala. Ruangannya yang terletak di ujung lorong membuatnya tahu, bahwa Kikan belum pulang. Dicto sudah mengamati sejak tadi.
"Kenapa dia belum pulang?" gumam Dicto. Ia mencoba keluar ruangan dan melongok ke arah ruangan terbuka milik tim perencanaan 1. Perempuan itu masih bekerja rupanya. Dicto memperhatikan Kikan dari jauh.
Mungkin merasa gerah atau ribet, Kikan menarik rambutnya dan mengikatnya ke atas dengan asal. Itu membentuk cepolan yang lucu.
Dicto menelan ludah. Tiba-tiba ia ingat lagi malam itu. Ingatan yang awalnya samar-samar, kini menjadi jelas dan jernih. Ia ingat saat menikmati tubuh indah milik Kikan. Ia ingat saat perempuan itu merintih sakit, sementara dirinya terus saja ...
Aahhh!!! Brengsek!
Setelah mengumpat dengan marah di dalam hati, Dicto balik ke ruangannya sendiri. Memilih menunggu Kikan di dalam ruangannya.
***
Setelah memilih menunggu perempuan itu lewat di depan ruangannya, kini ia benar-benar melihat Kikan lewat.
__ADS_1
"Kikan," pekik Dicto. Ia pun bergegas keluar. Bukan menyusul untuk bisa jalan bareng dengan Kikan, ia tidak berani. Kikan masuk ke dalam lift. Sementara Dicto memilih turun lewat tangga. Kenapa? Dia ingin Kikan tidak menyadari keberadaannya.
Sepertinya Dicto ketinggalan, karena setelah ia tiba di lantai bawah, Kikan sudah tidak ada. Ia pikir Kikan akan berbelok ke area parkir, tapi saat ia mencoba mencari perempuan itu, tidak ada. Saat bertanya pada sekuriti yang berjaga, sekuriti bilang tidak melihat Kikan ke area parkir.
Dicto merasa kehilangan. Ia memilih masuk ke dalam mobil dengan kecewa. Namun takdir berkata dia harus bertemu dengan Kikan malam ini. Ternyata perempuan itu masih berjalan kaki di halaman perusahaan.
Namun ada yang aneh, Kikan membungkukkan tubuhnya dan memegang perutnya. Lalu muntah-muntah. Tubuh perempuan itu lemas. Dicto berlari ke arah Kikan.
Perempuan itu tidak bisa menjawab. Dia sibuk muntah-muntah. Meskipun sudah tahu itu Dicto, tanpa sadar Kikan bersandar pada tubuh Dicto yang berada di sampingnya. Tubuh Kikan lemas. Dicto pun menahannya. Pria ini panik karena mata Kikan terpejam. Seperti tenaganya sudah habis terkuras bersama dengan muntah-muntah tadi. Dicto melarikan Kikan ke rumah sakit.
**
Setelah pemeriksaan Kikan oleh dokter, Dicto di panggil untuk pemberitahuan kondisi perempuan itu. Namun sungguh mengejutkan saat Dicto justru di beri selamat oleh dokter, karena Kikan dinyatakan hamil.
Dokter tidak salah memanggil Dicto, karena pria ini yang membawa Kikan ke rumah sakit. Jadi dokter mengira Dicto adalah suaminya. Namun dokter juga tidak salah karena memang Dicto-lah yang menghamili Kikan.
Langkah Dicto tersendat saat akan menghampiri Kikan. Ia kebingungan untuk merangkai kata soal kehamilan ini. Dari tempat ia berdiri, Dicto sudah bisa melihat bahwa perempuan itu sedang tertunduk seraya menangis.
Napas Dicto tercekat. Kikan sudah tahu soal kehamilan itu dari dokter. Ini pasti membuatnya terguncang.
"Maafkan aku, Kikan," ujar Dicto mengawali pembicaraan.
"Sudah aku katakan maaf tidak akan berguna, Dicto," desis Kikan seraya menarik selimut.
"Tunggu, Kikan," cegah Dicto. Kikan tidak peduli. Ia menerobos tubuh Dicto yang masih berdiri dengan tegang. Menyenggol bahu pria ini dan keluar. Tanpa mengatakan apa-apa, Kikan meninggalkan kamar.
“Kikan!” Dicto pun mulai mengejarnya setelah meraih jas berbahan corduroy milik Kikan. Ia ingin segera pergi dari rumah sakit.
Langkah Kikan tiba di luar rumah sakit. Dia kebingungan karena tidak pernah ke rumah sakit ini. Kikan melihat jalanan. Ia segera berlari lebih kencang.
Kikan sudah berdiri di pinggir trotoar. Dia sudah bersiap melompat ke jalan yang ramai dengan kendaraan lalu lalang. Bola mata Dicto melebar. Perempuan ini ingin bunuh diri. Kikan kalap.
"Kikan!" teriak Dicto seraya menarik tubuh Kikan kuat. Kikan menunduk. Tubuhnya sedang dipegangi Dicto.
__ADS_1
"Lepaskan aku, Dicto," pinta Kikan marah.
"Tidak. Aku tidak mau."
"Apa yang kau lakukan? Aku minta lepaskan aku, Dicto!" Kikan berontak. Pria ini makin kuat menahan tubuh Kikan untuk tidak pergi. Dicto takut terjadi apa-apa dengan perempuan ini.
Bayangan-bayangan mengerikan terlintas di benaknya. Dicto tidak ingin itu sampai terjadi.
"Dengarkan aku, Kikan. Dengarkan aku baik-baik." Dicto berusaha mengajak bicara.
"Tidak. Aku tidak mau mendengarkanmu pria brengsek," umpat Kikan dengan tetap berontak. Dicto harus lebih kuat dari Kikan. Akhirnya ia merengkuh tubuh Kikan dan memeluknya erat. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan, Dicto!"
"Tidak. Aku harus menahanmu. Aku tahu apa yang ingin kamu lakukan, aku tidak ingin melepaskanmu," kata Dicto tegas. Kikan kelelahan. Tubuhnya berontak dengan lemah.
Orang-orang yang ada di sana sempat terkejut dengan kehebohan ini. Bahkan wajah mereka ngeri saat Kikan hendak melompat ke jalanan yang ramai. Untung saja Dicto berhasil menahannya.
Kikan sudah kelelahan. Ia masih menangis, tapi gerakannya sudah tidak sekuat tadi.
"Aku akan bertanggung jawab, Kikan. Aku akan bertanggung jawab dengan kehamilanmu," kata Dicto lembut dan penuh dengan permohonan. "Aku tahu kamu tidak bisa memaafkanku, tapi harus ada ayah untuk anak itu."
"Aku tidak butuh ayah untuk anak ini. Karena aku tidak menginginkan anak ini," kata Kikan lemah dengan airmata berderai.
"Jangan mengatakan itu Kikan. Anak ini tidak berdosa."
"Kalau kamu tidak melakukannya padaku, semua ini tidak akan terjadi Dicto. Tidak akan terjadi. Kamulah penyebab semua ini," tuding Kikan dengan raut wajah getir.
"Aku tahu. Aku brengsek. Maki aku sepuas mu, tapi jangan melakukan apapun yang berbahaya. Kamu harus hidup."
"Aku tidak ingin hidup," desis Kikan.
"Tidak. Tidak. Kamu harus hidup. Bukan untukku, tapi untuk keluargamu. Untuk bayi yang ada di dalam kandunganmu, juga untuk ibumu."
Mendengar ini tangis Kikan makin menjadi. Suara tangisannya menyayat hati. Dicto memeluknya erat. Merasa sangat bersalah karena ketololannya.
__ADS_1
______