Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 53


__ADS_3

"Kamu menanyai orang-orang ku?" tanya Aurora gusar. Ternyata pria ini sudah melakukan penyelidikan.


 


"Ya. Mulut mereka terbuka karena tidak setuju kamu melakukannya. Kamu menyuruh kru kamu untuk mengunggah,” ungkap Dicto. “Jangan menodai kebaikan mereka demi niat buruk mu, Aurora. Jangan memperalat mereka yang hanya bisa menerima perintahmu!" tuding Dicto.


 


"Aku tidak berniat buruk. Aku hanya bercanda," kata Aurora seenaknya. Dia mulai sadar Dicto sudah tahu semuanya.


 


"Bercanda?"


 


 


"Ya. Hanya ingin melihat bagaimana reaksi AE itu apabila ada kejadian yang menyulitkannya," kata Aurora mulai membuka sendiri keburukan yang sudah ia perbuat.


 


"Apa maksudmu?" Kerut Dicto mengerut.


 


"Aku ingin tahu apa kamu akan menolong dia dan menyelamatkan dirinya dari tanggung jawab atas keteledoran produk yang di unggah sebelum pihak Glow mengunggah secara resmi."


 


"Jadi kamu melakukannya karena kesal dengan Kikan?" tanya Dicto lebih serius.


 


"Oh, namanya Kikan? Aku lupa. Ya. AE yang sok dekat denganmu itu. Ruby juga tidak suka dengannya. Jadi aku rasa, aku bisa memberinya sedikit pelajaran," kata Aurora mengatakannya dengan takut-takut.


 


"Jadi tujuanmu hanya itu?" tanya Dicto tidak percaya.


 


"Aku kesal kamu cuek padaku dan memilih peduli dengannya yang bahkan bukan siapa-siapa. Aku hanya ingin bicara denganmu, Dicto. Aku tahu kita tidak akan menjadi sepasang kekasih lagi, jadi aku hanya ingin berteman denganmu. Namun sikapmu sungguh menyebalkan. Kamu mengabaikan aku, tapi peduli pada bawahan mu itu." Akhirnya Aurora membuka semuanya.


 


"Kamu sungguh bodoh!" tunjuk Dicto kesal dan marah. Ia memilih menjauh dari sana daripada harus dekat dengan wanita itu. Ia tidak ingin pikirannya tidak terkontrol.


 

__ADS_1


Saat menjauh dari Aurora, Dicto terkejut melihat Kikan sedang berbicara dengan Denna.


 


"Kikan ..." bisik Dicto yang entah kenapa seakan begitu dekat dengan telinga Kikan. Hingga perempuan itu mendongak. Tatapan mereka beradu. Perhatiannya teralihkan. Denna dan yang lain mengangguk melihat kedatangan Dicto.


 


"Tunggu, Dicto!" panggil Aurora saat kaki Dicto sudah hampir dekat dengan tempat Kikan berdiri. Ternyata wanita ini mengikutinya.


 


Dicto tidak mengindahkan panggilan Aurora. Ia justru terus mendekat ke arah Kikan. Semua orang menyaksikan 'kejar-kejaran' ini dengan seksama.


 


Saat itu Aurora juga melihat Kikan berada di area syuting. "Oh, ternyata ada kamu!" tunjuk Aurora pada Kikan. "Jadi kamu lebih memilih menghampirinya daripada berhenti saat aku memanggilmu?" tanya Aurora tidak percaya.


 


Karena Aurora mulai mengusik Kikan, Dicto terpaksa berhenti. "Apa mau mu, Aurora? Kita sedang di depan orang banyak. Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanya Dicto berusaha menahan diri.


 


"Mau ku adalah, berbicara denganmu. Juga, berharap dia pergi dari sini karena sudah merusak pemandangan area syuting ini. Mood ku bisa jelek, jika dia berada di sini. Lagipula dia bukan tim perencanaan 1. Karena yang aku dengar, dia sudah di keluarkan dari tim olehmu. Lalu kenapa dia harus muncul di tempat syuting?" tanya Aurora tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya pada Kikan. "Jawab aku. Kenapa kamu bisa muncul di sini setelah tidak punya wewenang lagi di lokasi syuting?" Kali ini Aurora menoleh pada Kikan.


 


 


"Aku ada perlu ..."


 


"Kamu tidak perlu menjawabnya Kikan. Dia tidak berhak mengusir atau menginterogasi mu. Jadi jangan membuang tenaga untuk menjawab pertanyaan Aurora," sergah Dicto. Kikan mengerjapkan matanya lagi mendengar Dicto memotong kalimatnya.


 


"Dicto!" teriak Aurora kesal.


 


"Belum selesai, kamu sudah membuat Kikan tertuduh sengaja membocorkan desain produk terbaru Glow? Bahkan aku sudah membuat Kikan keluar dari tim yang sudah ia perjuangkan sejak dulu," kata Dicto langsung membuat seluruh anggota tim tercengang. Untung saja sutradara dan orang-orang dari Glow tidak ada di sana. Mereka tengah makan siang di tempat lain.


 


"Ini semua karena kamu Dicto. Kamu mengabaikan aku. Namun kamu justru memperlakukan dia dengan baik," tunjuk Aurora pada Kikan.


 

__ADS_1


"Itu urusanku. Namun jika kamu ingin tahu, kenapa aku bersikap berbeda, aku akan beritahu kamu," kata Dicto. Aurora mendengus. Saat ia merasa bahagia bahwa akan bertemu dengan mantan kekasih yang masih di cintainya, ternyata ia justru di abaikan. Makanya dia kesal. Ia kecewa.


 


Dicto melangkah dan mendekat ke Kikan yang berhenti bicara dengan Dennis karena ada Aurora. Mendadak Dicto menggenggam tangan Kikan. Ini membuat semua orang terkejut. Kecuali Ruby dan Astra tentunya.


 


Kikan terkejut. Matanya langsung tertuju pada tangan Dicto yang menggenggamnya. Tidak hanya dia, semua mata pun sedang tertuju padanya.


 


"Perlu kamu ketahui, Aurora. Aku tidak bisa bersikap seperti biasanya denganmu walaupun hanya sebagai teman. Karena ada hati yang perlu aku jaga agar tidak tersakiti. Itu adalah hati Kikan," kata Dicto membuat semua mendengung bagai lebah. "Buat semuanya, kalian perlu tahu dan hati-hati saat membicarakan Kikan, karena dia bukan hanya seorang AE di ZEUs, tapi juga sebagai istriku."


 


"Istri?" tanya Aurora terkejut.


 


Semua langsung ikut terkejut mendapat kabar yang tidak pernah di duga ini.


 


"Ya. Mungkin tidak banyak orang tahu kalau aku sudah menikah. Jadi sekarang aku buat pengumuman secara terbuka. Aku dan Kikan sudah menikah. Kita adalah suami istri." Suara seruan terkejut dari bibir semua orang di area syuting. Dicto mengumumkan secara resmi statusnya. "Maaf, Aurora. Aku tidak bisa menerima mu sebagai teman wanita jika sikapmu tidak menghormati Kikan sebagai istriku," kata Dicto sambil menoleh ke Kikan yang berada di sampingnya.


 


Aurora sendiri tidak pernah menduga alur cerita ini. Dimana perempuan yang mengalihkan perhatian Dicto bukan hanya seorang karyawan biasa, tapi sudah menjadi istrinya.


 


Kikan mengerjapkan mata sambil sedikit menunduk. Ia yakin saat ini semua mata tertuju padanya.


 


"Jangan menunduk Kikan. Menjadi istriku bukanlah hal buruk. Tegakkan dagu mu," bisik Dicto seraya menyentuh dagu Kikan lembut. Tentu saja ini membuat Kikan gugup dan memerah di wajahnya.


 


Saat ia mendongak dan menatap lurus ke depan, bola matanya menyaksikan banyak tatapan tidak percaya ke arahnya. Dia perhatikan, anggota tim perencanaan 1 tengah memandangnya.


 


"Sebaiknya kamu mundur. Jangan bertingkah bodoh, Aurora," kata Dicto memberi peringatan dengan pelan. Aurora menatap Kikan dan Dicto tidak percaya. Tenyata setelah putus darinya, pria ini justru menikahi wanita lain. Padahal dia berharap bisa balikan dengan Dicto.


 


Aurora mengepalkan tangannya dengan kesal yang menumpuk. Namun dia perlu bersikap elegan lagi karena dia seorang bintang. Dia masih ingat untuk tidak menjadi gila karena seorang pria yang tidak bisa diinginkannya lagi. Dia berusaha waras. Perbuatan nekat tadi harus bisa di hapus di otak semuanya, meskipun itu hanya sedikit.

__ADS_1


..._____...



__ADS_2