Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 11 Pesta pernikahan


__ADS_3

Pernikahan Astra dan Ruby berlangsung malam ini. Sebagai penanggung jawab, Kikan harus tetap muncul dengan wajah baik-baik saja, meskipun tadi malam sempat menangis hebat.


 


Bagaimanapun, banyak kenangan manis yang terjadi di antara mereka berdua. Jadi Kikan tidak bisa menghilangkan dari benaknya begitu saja. Air matanya pun berderai lagi tepat di malam hari sebelum hari H pernikahan Astra berlangsung. Kikan teringat lagi.


 


Bahkan ibu sempat mengetuk pintu kamarnya berulang kali karena Kikan telat makan.  Namun Kikan selalu mencari alasan yang tepat. Bahkan dengan ekspresi yang di buat gembira saat bicara dengan beliau. Dia tidak ingin ibu tidak tahu soal sakit hatinya.


 


Namun dia tidak berbohong saat ibu bertanya soal Astra. Kikan mengaku hubungannya sudah berakhir. Namun tidak dengan alasan yang sebenarnya.


 


"Kak Kikan cantik, deh," puji Arin yang muncul tepat di sampingnya. Malam ini semua orang memang memakai gaun. Jadi terlihat berbeda sekali dengan kesehariannya yang seringkali memakai celana.


 


"Semua wanita juga cantik. Kamu juga cantik dan imut," kata Kikan balik memuji Arin. Bibir Arin mengembang.


 


"Beneran, ya ... Kok Kak Rangga tadi hanya bengong aja enggak muji sama sekali," kata Arin yang ingat, kekasihnya itu hanya bengong lalu membicarakan Pak Astra dan Ruby yang tampil menawan.


 


"Rangga tuh, pasti terpesona sampai kebingungan mau ngomong apa lihat kamu yang cantik banget," kata Kikan sambil menaikkan alisnya sebentar.


 


"Benarkah?" Arin tersipu.


 


"Permisi, mau tanya toilet di mana ya?" tanya seorang tamu wanita pada mereka.


 

__ADS_1


"Biar aku saja yang mengantar, Kak. Kak Kikan tetap di sini saja," kata Arin.


 


"Oh, baik. Silakan sama teman saya ini ya ..." Kikan mempersilahkan wanita itu mengikuti Arin. Setelah mengucap terima kasih, tamu itu pergi.


 


Saat itu ia terkejut melihat Adis muncul di sana. Tepatnya di depan pintu masuk aula tempat pernikahan berlangsung. Dengan tergesa-gesa, Kikan menghampiri gadis itu.


 


"Adis," panggil Kikan.


 


"Kak Kikan." Gadis itu tidak begitu terkejut melihat Kikan.


 


"Kenapa muncul disini? Bukankah Astra melarangmu muncul?" tanya Kikan seraya memegang kedua lengan gadis ini dengan cemas. Ia melihat ke kanan dan kiri.


 


 


"Tenang saja, Kak. Aku tidak akan membuat Kak Kikan celaka," kata Adis paham.


 


"Darimana kamu tahu soal pesta ini?" selidik Kikan. Karena sejak hari itu, dia tidak pernah berkomunikasi dengan adik Astra ini.


 


"Aku sengaja terus menerus mengunjungi perusahaan untuk mencari info," ungkap Adis dengan bola mata melihat ke arah lain. Bola mata Kikan melebar.


 


"Jadi kamu ... Tunggu. Apa kamu berkeliaran di lobi?" tanya Kikan dengan ngeri. Adis tidak menjawab. Dia hanya menggaruk tengkuknya seraya melihat ke arah lain. Tidak ada jawaban berarti benar.

__ADS_1


 


Kikan paham kenapa belakangan ini merasa di awasi seseorang. Ia pikir itu hanya perasaan cemas karena sebentar lagi hari pernikahan Astra dan Ruby berlangsung. Kemungkinan itu bola mata Adis yang melihatnya melintas.


 


"Kamu melakukan sesuatu yang berbahaya, Adis." Kikan langsung memarahi adik Astra. Namun dengan nada tinggi yang di tahan. "Apa jadinya jika kamu tertangkap sekuriti? Bukan hanya kamu yang celaka, tapi juga Astra."


 


"Kakak masih cemas pada Kak Astra? Padahal Kak Astra sudah mengkhianati kakak dan menikah dengan orang lain," kata Adis tepat.


 


Kikan menghela napas berat.


 


"Jika kamu ketahuan, aku juga akan ketahuan pernah dekat dengan kakakmu, Adis. Aku tidak mau itu," lirih Kikan. Dia mengatakannya dengan raut wajah serius. Kikan bahkan tidak ingin siapapun tahu dia pernah menjadi kekasih pria itu. Semua itu seperti aib baginya.


 


Sorot mata sedih ada di dalam mata bulat itu. Adis mengerti.


 


"Maafkan aku, Kak," kata Adis yang sekarang tahu bahwa dia perlu memikirkan Kikan juga. Bukan hanya dirinya.


 


"Jangan di ulangi lagi. Lalu bagaimana dengan ayah kalian?" tanya Kikan.


 


"Ayah tidak banyak bertanya, tapi nenek yang selalu menanyakannya," kata Adis.


 


Kikan tidak terlalu tahu bagaimana keadaan sebenarnya keluarga Astra. Pria itu sangat tertutup soal itu. Dia hanya mengenal Adis dengan baik. Hingga dia mengenal nenek dan ayah mereka dari mulut gadis ini. Karena Adis selalu muncul di depan gedung apartemen Astra.

__ADS_1


_____


__ADS_2