
Kikan memejamkan mata. Menelan ludah yang terasa sakit saat melewati tenggorokan. Setelah pertemuan dengan wakil presiden direktur yang ternyata adalah pria yang menodainya, Kikan mengalami pusing yang hebat. Tubuhnya gemetaran.
Mungkin pertemuan dengan Dicto yang merupakan pemerrkosanya membuat trauma yang belum hilang muncul kembali. Akhirnya Kikan ambruk lagi sepulang kerja, hingga terpaksa di bawa ke rumah sakit.
Arin berjaga untuk menemani karena mereka tidak bisa menghubungi keluarganya. Dia tidak tega melihat Kikan yang terus saja ambruk. Rangga pun ikut menemani.
"Ada apa dengan Kak Kikan? Kenapa dia sampai dua kali ambruk?" tanya Arin yang ikut sedih melihat keadaan Kikan. Gadis ini mengelus punggung tangan Kikan dengan lembut.
"Apa bukan karena kelelahan menunggui ibunya yang berada di rumah sakit?" Yang di dengar Rangga memang seperti itu.
"Aku juga berpikir begitu, Kak, tapi kenapa rasanya Kak Kikan sedang punya masalah besar, ya ..." Arin menatap wajah Kikan yang terlihat pucat dan lemah di atas ranjang rumah sakit dengan sedih.
"Kamu bisa mencoba menanyakannya. Mungkin saja dia memang sedang punya masalah dan tidak bisa memberitahu orang. Kamu cukup dekat, jadi mungkin saja dia mau untuk bercerita," kata Rangga memberi nasehat. Arin mengangguk.
Kikan membuka mata perlahan. Menatap langit-langit kamar rumah sakit, kemudian menoleh ke samping. Dimana ada dua orang sedang menatapnya cemas.
"Kak Kikan sudah bangun?" Arin langsung mendekat ke pinggir ranjang. Rangga yang tadinya mau keluar tidak jadi. Dia tidak mendekat, tapi masih bisa melihat keadaan perempuan itu.
"Sudah baikan, Ki?" tanya Rangga.
"Ya. Kalian membantuku lagi." Suara Kikan terdengar lemah saat melihat mereka berdua di sana.
__ADS_1
"Jangan permasalahkan itu," kata Rangga. Arin mengangguk sependapat dengan pria ini. "Kami tidak mengabari keluargamu karena tahu ibumu juga masih di rumah sakit. Arin akan tetap di sini menemanimu. Aku tinggal dulu, ya?" Rangga berpamitan keluar.
**
"Sebenarnya Kak Kikan kenapa sih? Sudah dua kali dalam satu hari ini Kakak ambruk. Kelelahan banget ya?" tanya Arin. Kikan mengulurkan tangan meminta bantuan pada Arin untuk duduk. Arin berdiri dan membantu membuat sandaran dengan bantal di belakang punggung Kikan agar nyaman.
"Ya," jawab Kikan seraya membetulkan selimutnya. Setelah itu Arin duduk lagi. Gadis ini menatap seniornya ini agak lama.
"Kalau ada yang ingin di ceritakan, Kakak bisa mengandalkan aku menjadi pendengar. Mungkin aku tidak bisa memberi solusi, tapi aku bisa meringankan beban Kak Kikan, saat Kakak berbagi," kata Arin tulus.
Kikan menatap Arin. Lalu tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan juniornya ini.
Pintu ruang perawatan di buka oleh seseorang. Arin pikir itu Rangga. Jadi dia menoleh, begitu pun Kikan. Bola mata mereka melebar terkejut. Ternyata bukan. Itu Astra. Kening Arin mengerut melihat kemunculan pria ini. Dia berdiri dan membungkuk sopan.
"Bagaimana keadaanmu, Kikan?" tanya Astra seperti tidak tahu diri di ambang pintu. Rupanya dia hanya datang sendirian. Ruby tidak datang bersamanya. Bibir Kikan bungkam tidak memberi jawaban. Arin sebenarnya ingin mengusir, tapi dia tidak punya hak melakukan itu. Kaki Astra melangkah mendekat ke ranjang.
"Aku keluar dulu, ya Kak," pamit Arin yang sepetinya harus pergi dari sana sejenak. Astra ikut mengangguk pada Arin yang berpamitan. Kikan masih diam saat Astra duduk di kursi samping ranjang.
"Kamu pingsan dua kali, Kikan," kata Astra.
"Seharusnya kamu tidak perlu kesini," tegur Kikan tanpa menoleh ke arah pria ini.
__ADS_1
"Sebagai ketua tim, aku berhak menjenguk saat semua anggota tim perencanaan 1 sakit, termasuk kamu," jelas Astra.
"Kalau begitu, datanglah dengan Ruby. Bukan sendirian yang akan menimbulkan banyak masalah nantinya," ujar Kikan seraya menatap Astra dengan bola mata yang tajam.
Arin tidak menjauh dari kamar. Perempuan itu hanya duduk di luar sambil menguping pembicaraan mereka berdua. Dia takut ada apa-apa.
"Sepertinya kamu masih tidak paham, Astra. Jangan lakukan itu meski hanya sebuah formalitas. Kamu tidak mengerti betapa marahnya Ruby jika dia tahu kamu sekarang berada di sini?" Kikan marah. Itu membuat kepala Kikan di serang rasa sakit yang sangat.
Kikan merintih kesakitan seraya memegangi kepalanya.
"Kikan, kamu kenapa?" tanya Astra panik. Dia mendekati Kikan bermaksud membantu, tapi Kikan segera menepis tangan Astra yang hendak menyentuhnya.
"Jangan pedulikan aku. Aku enggak apa-apa. Pasti," kata Kikan seraya menjulurkan tangan ke depan dengan menahan geram. Membuat jarak untuk Astra dengannya. Pria ini langsung terdiam. Sementara Kikan masih terus merintih kesakitan.
Arin mengintip di balik kaca di pintu. Ada apa gerangan yang terjadi di dalam sana?
"Lebih baik kamu pulang. Berhenti bersikap peduli padaku. Urusi Ruby," tunjuk Kikan menunjuk ke arah pintu. "Sebaiknya kamu hentikan kegilaannya karena benci padaku yang sudah kamu buang, Astra," Kikan melanjutkan kalimatnya lagi.
Astra masih diam. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia bersikap sebagai pendengar. "Apapun itu jangan bersikap yang tidak perlu padaku. Dengan kamu diam dan tidak mendekatiku jika itu bukan pekerjaan, aku akan selalu baik-baik saja, Astra ...," kata Kikan.
"Maaf," kata Astra akhirnya. Kikan menundukkan pandangan seraya menghela napas. Dia tidak peduli soal maaf atau apapun kecuali Astra berhenti bersikap peduli padanya. Itu menjadi suatu beban untuknya.
__ADS_1
______