
Tidak ada kabar dari Kikan setelah dia meminta ijin pulang, karena ibunya berada di rumah sakit kemarin. Namun semuanya memaklumi karena menganggap Kikan menemani ibunya di rumah sakit. Tidak ada satupun dari mereka yang menduga bahwa perempuan itu telah dinodai di malam hari, tepat saat ibunya selesai di operasi.
Kikan sendiri masih trauma. Dia tidak menduga malam itu seakan dunianya runtuh dan hancur. Dalam sekejap kesuciannya lenyap karena seorang pria yang sepertinya sudah salah paham padanya.
Sungguh mengejutkan ia bisa berada di rumah kembali setelah semalam diculik. Bahkan orang-orang yang menculiknya bersikap lain. Mereka tidak kasar seperti saat pertama kali menemukan Kikan.
Tidak ada dalam pikirannya bahwa ia bisa kembali ke keluarganya. Kikan sudah berpikir ia tidak akan selamat karena dirinya mulai sadar dan ingat siapa pria itu. Pria itu adalah pria yang pernah ditemuinya dalam pesta pernikahan Astra dan Ruby. Pria yang ia duga orang yang punya kuasa.
Semuanya utuh, kecuali pusat dirinya yang sudah tidak suci lagi. Tubuhnya juga bersih tidak lengket dengan peluh karena ia memberontak ingin kabur. Jika tidak bisa ingat tentang kejadian semalam, dia tidak akan yakin bahwa ada pria yang mengoyak kesuciannya.
Ponsel berdering. Sepertinya itu sudah berpuluh-puluh kali menghubunginya. Sejak tadi malam. Ternyata adik ibu. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia tidak harus terdengar sedih.
“Halo, Bi.”
"Kamu enggak apa-apa, Kikan?" tanya bibi cemas saat suara Kikan terdengar.
"Ya,” sahut Kikan singkat karena menahan tangis yang akan merebak.
"Semalam kamu pamit untuk pulang. Mandi dan bawa baju ganti, tapi sampai pagi tidak ada kabar darimu. Bibi cemas."
"Ya. Maafkan Kikan, Bi. Ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda tadi malam, jadi aku harus kembali ke kantor," ujar Kikan membuat alasan. Ia tidak harus memberi tahu keluarga soal dirinya di culik semalam. Itu akan menambah beban.
"Kamu akan ke rumah sakit sekarang?" tanya bibi berharap.
"Ya. Aku mandi dulu ya, Bi. Setelah itu, aku kembali ke rumah sakit.
__ADS_1
"Iya. Bibi tunggu, ya ..." Setelah menutup telepon, Kikan menghempas napas. Kemudian menekuk tubuhnya yang masih memakai pakaian semalam. Lalu menangis lagi sejadi-jadinya.
Dibawah guyuran shower, Kikan masih terus menangis. Dunianya seketika hancur. Sesekali rasa perih di bawah sana terasa saat di lewati air shower. Kesucian yang di jaganya dengan baik lenyap. Bahkan Astra saja tidak bisa menjamahnya. Dan sekarang justru orang lain yang tidak di ketahui siapa itulah yang merusaknya.
"Kenapa kisah sedih menghampiriku bersamaan?" lirih Kikan mengeluh pada takdir.
Ternyata di saat dia mengalami hal kejam, bahkan itu membuat trauma karena tadi malam, Kikan masih harus bersikap baik-baik saja setelahnya. Setelah selesai mandi, ia ke rumah sakit dengan memesan mobil online. Karena mobil model lama miliknya tetap berada di rumah sakit.
Saat Kikan sudah datang, bibi pulang sebentar di antar suaminya.
Ibu masih memejamkan mata karena tidur setelah minum obat. Lagi-lagi, Kikan menangis di kamar rawat inap ini. Kejadian semalam tentu masih terlintas jelas di pikirannya. Itu membuat hatinya pedih. Apa yang harus ia lakukan?
"Dia benar selingkuhan Astra?" tanya Dicto dengan gelisah di telepon. Ruby yang menjauh dari ruangan tim perencanaan menoleh ke kanan dan kiri. Takut ada yang mendengar.
"Dia yang dengan genit menggoda Astra, Kak. Astra tidak berselingkuh," ralat Ruby. "Astra sudah memberinya kesempatan untuk mengubah sifatnya yang seperti itu, tapi dia tetap saja menggoda Astra meskipun tahu Astra itu menantu pemilik perusahaan, ZEUs."
"Dia bukan selingkuhan tapi menggoda Astra?" tanya Dicto mengulang kalimat adiknya.
"Iya. Perempuan itu perempuan ganjen yang menggoda pria beristri. Mungkin saja dia bukan hanya menggoda Astra, tapi menggoda pria-pria yang lain." Ruby menambahkan. "Kakak sudah memberi dia pelajaran kan?" tanya Ruby ingin tahu permintaannya di turuti atau tidak.
"Ya. Orang-orang yang kamu suruh itu membawanya."
"Apa kakak sudah melepaskannya?” tanya Ruby yang melihat tidak ada keberadaan perempuan itu di mejanya.
__ADS_1
“Ya.” Dicto diam sejenak. Ada yang membuatnya gelisah lagi.
"Terima kasih kakak."
"Tunggu. Siapa perempuan itu? Jika itu teman kerja Astra, apa bukan berarti dia bekerja di ZEUs juga?" tanya Dicto ingin tahu.
"Aku belum memberitahu kakak siapa dia?"
"Tidak."
"Oh ... ya, dia memang bekerja di ZEUs. Sudah ya Kak, Terima kasih sudah membantu Ruby ... Aku sayang kak Dicto.” Setelah Ruby menutup teleponnya. Dicto masih berpikir.
"ZEUs?" Dicto berpikir keras.
Ia kembali ingat kejadian semalam. Saat ia tidak bisa lagi menahan diri dari godaan tubuh bagus yang sebenarnya tidak sengaja di pertontonkan itu. Dicto menggelengkan kepalanya ingin membuang ingatan kejadian semalam.
"Itu semua karena alkohol. Aku sepertinya telah melakukan hal kejam pada perempuan itu."
Dicto duduk di sofa. Memejamkan mata bermaksud membuang pikiran soal kejadian semalam. Namun justru bayangan-bayangan perempuan itu menari-nari di otaknya.
Masih ingat Indra pendengarannya saat lenguhan sakit perempuan itu terdengar menyayat sebelum pingsan. Tubuhnya langsung tegang. Ia berhenti menyatukan dirinya. Seperti bangun dari mimpi dia terkejut.
Setelah menunggu sadar, dia memerintahkan orang-orang Ruby mengantarkan perempuan itu ke alamat rumah yang tertera di kartu identitasnya.
____
__ADS_1