
Kembalinya Dicto dari dapur, ia melihat Kikan sudah berpakaian rapi.
"Kamu mau kemana?" tanya Dicto heran.
"Berangkat kerja," jawab Kikan. Ya, dia memang tidak keluar dari ZEUs karena Dicto menahan surat pengunduran dirinya.
"Setelah muntah dan mual seperti tadi?" tanya Dicto tidak percaya. Dia khawatir.
"Setiap hari aku juga merasakannya. Jadi buat apa hal itu dibesar-besarkan," ujar Kikan seraya bercermin. Dia sudah sering merasakan morning sicknes. Menurutnya dia bisa mengatasinya, meskipun lemas di awalnya.
"Minumlah dulu," pinta Dicto.
"Letakkan saja di sana," ujar Kikan tanpa menoleh. Namun Dicto justru mendekat. Tangannya memegang minuman itu dan menunggu sampai Kikan mengambilnya. Berdiri di samping seperti itu membuat Kikan tidak bisa leluasa. Akhirnya ia mengambil minuman itu.
"Ambil saja cangkirnya. Setelah minum, aku akan meletakkan di meja," cegah Dicto saat Kikan ingin mengambil cangkir dan alasnya. Ini antisipasi Dicto kalau-kalau Kikan hanya mengambil dan meletakkan kembali tanpa meminumnya. Meskipun tidak pernah merasakan apa yang di alami Kikan, dia mengerti kalau itu pasti tidak nyaman untuk perutnya. Apalagi mama juga cerita kalau mual dan muntah saat hamil itu menyakitkan.
Kikan terpaksa meminumnya. Terasa enak di perut. Kini perutnya lebih nyaman. Dicto lega Kikan mau minum minuman hangat.
...***...
Kikan dan Dicto berangkat dalam satu mobil. Namun saat tiba di dekat perusahaan, ia meminta turun. Dicto enggan melakukannya, tapi dia sudah berjanji kalau pernikahan mereka tidak di ekspos di depan karyawan.
Kemunculan Kikan membuat anggota tim heboh. Mereka langsung menghambur ke Kikan dan memeluknya. Sementara itu Ruby hanya melihat tanpa berdiri. Dia menipiskan bibir melihat perempuan yang tidak di sukainya menjadi saudara ipar.
"Aduh, Kak Kikan. Kangen nih." Arin memeluknya erat.
"Iya nih, Ki." Yang lain pun pada melepas rindu. Dicto yang muncul di lorong tersenyum tipis melihat Kikan di kelilingi oleh teman-temannya. Menurutnya, Kikan terlihat bahagia saat bersama mereka.
Dari dalam ruangannya, Astra melihat keluar karena tahu Kikan datang.
"Dia kembali bekerja," gumam Astra. Namun dia segera berpura-pura melihat ke komputernya lagi saat Ruby melihat ke arahnya. Bibir Ruby menipis karena tahu, Astra pasti melihat Kikan.
...***...
Proyek iklan kosmetik GLoW waktu itu sudah selesai. Kikan tidak ikut serta karena kondisi kejiwaannya yang labil saat itu. Kali ini kembali mereka menggarap iklan kosmetik GLoW untuk dewasa.
Siang ini Kikan berangkat bersama Cintya untuk menemui pihak Glow. Kikan akan menandatangani surat perjanjian kerahasiaan produk baru mereka. Karena mereka takut produk itu bocor sebelum waktunya. Itu akan membuat celah bagi kosmetik saingan mereka mengeluarkan produk yang sama.
"Kamu dengar gosip baru enggak?" tanya Cintya saat menunggu di ruangan perusahaan Glow.
__ADS_1
"Gosip? Kamu selalu mendapat gosip yang fresh ya?" ujar Kikan menoleh. "Tidak."
"Emmm ... pasti tidak dong, ya ... Kamu kan sakit. Jadi enggak mungkin dengar." Cintya lupa itu. Kikan tersenyum. "Dengar-dengar, Pak Dicto sedang melangsungkan pesta pernikahan," kata Cintya membuat Kikan terkejut.
Ternyata gosip yang akan di bicarakan Cintya adalah dirinya.
"Oh begitu ... Kenapa itu gosip? Itu kabar baik kan?"
"Kamu pasti tidak percaya. Itu jadi gosip karena semua karyawan tidak di undang. Hanya orang-orang penting saja," kata Kikan. "Mereka melakukan private wedding," desis Cintya.
Kikan tahu itu. Hanya orang penting saja yang ada di pesta. Sebenarnya itu sedikit menyedihkan untuk Kikan. Di pesta pernikahannya, ia harus bersembunyi karena rasa bencinya pada calon suami. Ya. Ini pernikahan paksa. Dimana dia terpaksa menikah karena sudah ada janin di dalam rahimnya.
Pihak dari perusahaan Glow muncul. Kikan dan Cintya berdiri. Bersama mereka ada artis yang begitu terkenal, Aurora. Artis yang didebatkan Ruby di rapat waktu itu. Wanita yang cantik. Tubuhnya tinggi semampai dan bagus. Sebagai wanita saja Kikan mengakuinya, apalagi lelaki.
Mereka bersalaman dan memperkenalkan diri.
"Jika dari ZEUs, berarti kalian bawahan Dicto," ujar Aurora sambil tersenyum. Kikan mengerjap.
"Ya. Pak Dicto adalah atasan kami," kata Kikan mengiyakan.
...***...
Sepulang dari perusahaan perusahaan Glow, mereka langsung kembali ke ZEUs.
"Kenapa dia menyebut nama Pak Dicto? Apa mereka berteman?" tanya Cintya.
"Mungkin," sahut Kikan datar.
"Kalau ternyata mereka pacaran, seru tuh." Cintya berkhayal. Kikan hanya tersenyum tipis. "Perusahaan kita pilih kasih. Ruby dan Pak Astra aja boleh suami istri, tapi bawahannya enggak boleh pacaran satu kerjaan." Cintya protes sambil memonyongkan bibirnya. Tanda ia tidak setuju dengan peraturan di ZEUs.
"Kenapa protes? Ruby kan anak pemilik ZEUs. Sudah pasti mereka kebal sama peraturan," kata Kikan masuk akal.
"Ya ... Di beri kelonggaran dikit, kek ... Kita kan juga pengen pacaran."
"Kamu sedang pacaran dengan satu kantor?" tebak Kikan asal. Cintya kelabakan. Dugaannya benar.
"B-bukan begitu." Perempuan ini langsung menjulurkan tangannya ke depan. Menyanggah dugaan Kikan.
__ADS_1
"Pacaran aja. Aku enggak akan lapor. Yang penting jangan ketahuan. Kalian bisa pacaran di luar, kan?" Kikan justru mendukung. Tentu saja. Dia sudah tahu soal Arin dan Rangga. Jadi menurutnya tidak masalah pacaran, selama tidak ketahuan.
"Kamu juga punya pacar di lingkungan kantor, Ki?" tanya Cintya ingin tahu. Soalnya dia tidak pernah tahu Kikan dekat dengan seorang pria.
"Enggak," jawab Kikan. Dia memutar kemudi mobil, masuk ke halaman perusahaan. Ternyata mereka sudah sampai di ZEUs.
"Eh, aku enggak bawa bekal nih. Aku mau beli ke kantin," kata Cintya saat sudah masuk lobi perusahaan. Sekarang memang masuk jam istirahat. "Tapi aku mau ngajak anak-anak dulu. Kamu ikut?" tawar Cintya.
"Tidak. Aku masih ada pekerjaan. Setelah selesai, baru aku turun," kata Kikan.
...***...
Semua sudah melenggang ke kantin. Ruang tim perencanaan 1 lengang. Bahkan Ruby pun tidak ada. Ini jam makan siang. Semua mungkin keluar untuk mencari makan siang.
Kikan hendak duduk saat dia di kejutkan oleh kemunculan Dicto di dekat mejanya.
"Maaf mengagetkanmu," ujar Dicto yang tahu Kikan terkejut dengan kehadirannya. Kikan meletakkan tasnya sambil mengangguk samar.
"Ada apa?" tanya Kikan datar.
"Aku mau mengajakmu makan siang bersama."
"Di sini?" tanya Kikan.
"Ya. Aku tahu kamu tidak suka hubungan kita terlihat oleh semua orang ZEUs, tapi sekarang mereka sedang pergi. Aku mendekatimu karena tahu sekarang ruangan ini kosong." Dicto tahu waktu yang tepat mendekati Kikan.
"Aku masih ada pekerjaan. Kamu bisa makan siang sendiri," tolak Kikan.
"Ini jam istirahat, Ki. Kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu setelah makan. Lagipula, bayimu tidak akan kuat jika ibunya tidak makan ..."
Kikan terkejut Dicto membahas bayi. Ia langsung berdiri dan menutup mulut Dicto.
"Jangan membahas soal bayi, Dicto," desis Kikan. Kepala Kikan menoleh ke seluruh penjuru ruangan. Dia takut ada yang mendengar Dicto bicara barusan.
Bola mata Dicto berkedip pelan. Saat ini jarak wajahnya dengan wajah Kikan begitu dekat. Ini membuat dada Dicto berdebar. Kikan tidak tahu tindakannya membuat jantung Dicto bertalu kencang. Pria ini menatap Kikan dalam.
Saat bola mata Kikan sudah selesai beredar, tak sengaja ia menemukan manik mata Dicto menatapnya dalam. Tatapan mereka bersirobok. Kikan mulai sadar bahwa dirinya berdiri begitu dekat dengan pria ini. Manik mata Kikan mengerjap. Dia mulai gugup.
...____...
__ADS_1