Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 55


__ADS_3

Ternyata makan siang kali ini membuat Dicto lupa diri. Dia tidak segera mengembalikan Kikan ke Denna. Bahkan tidak kembali ke kantor hingga langit menggelap, mereka pun kembali ke rumah.


 


Jam 10 malam.


 


"Sekarang, aku tidur di atas ranjang?" tanya Dicto masih ragu. Kikan yang selesai membersihkan diri di dalam kamar mandi menoleh sekilas.


 


"Memangnya kamu mau, tidur di sofa? Aku sih terserah." Kikan menjawab pertanyaan Dicto tanpa melihat ke arah matanya. Dia sedang bercermin. Sepertinya Kikan malu secara langsung mengatakan bahwa ia mengijinkan Dicto tidur di atas ranjang dengannya. Karena rasa marah dan benci yang singgah di hatinya, ia menjadi sedikit gengsi menunjukkan kepeduliannya pada Dicto.


 


Setelah memakai essence untuk kulit wajahnya, Kikan segera naik ke atas tempat tidur.


 


"Tentu saja tidak," sahut Dicto segera ikut naik ke atas ranjang. Kikan menarik selimut dengan kakinya. Seperti biasa, ia tidur miring ke arah berlawanan dengan Dicto.


 


Sementara itu, Dicto yang belum meletakkan punggungnya pada ranjang segera membantu mengambil selimut di bawah kaki mereka. Lalu menyelimuti tubuh Kikan dengan selimut itu.


 


Namun tidak di sangka, kalau dia ikut masuk ke dalam selimut. Tepat meringkuk di belakang tubuh Kikan. Kepala Kikan menoleh ke belakang. Dia terkejut saat wajahnya begitu dekat dengan Dicto yang menatapnya.


 


"Aku senang sudah memberitahu semuanya bahwa kamu istriku,” kata Dicto tidak menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya.


 


"Apakah itu menyenangkan?" tanya Kikan.


 


"Benar. Aku senang. Kamu tidak senang?" tanya Dicto seraya mencium pundak Kikan.


 


"Aku masih belum tenang. Karena setelah kamu mengumumkan pada semuanya, aku masih belum bertemu siapa-siapa. Kamu menculikku." Kikan kembali memunggungi Dicto.


 


Dicto tergelak. Setelah itu dia memeluk tubuh Kikan.


 


"Terima kasih sudah mau menerima semua perhatianku, Kikan. Sejujurnya aku takut kamu tidak bisa ku dekati. Kamu terus membangun dinding yang tinggi di antara kita. Aku sudah putus asa untuk menunjukkan padamu aku bersungguh-sungguh menikahimu. Bukan hanya karena ada bayi di dalam rahimmu," kata Dicto masih mendekatkan bibirnya di atas pundak Kikan. Hingga terpaan napas hangat pria ini sangat terasa.


 


"Mungkin, bayi di dalam perutku ingin memaafkan mu. Dia mengenalimu," kata Kikan.


 

__ADS_1


"Jadi kamu sendiri belum memaafkan ku?" Dicto terkejut. Tangannya memaksa tubuh Kikan untuk menoleh padanya. Kikan diam sejenak. Dicto pucat. Lalu tiba-tiba perempuan ini melukis senyuman.


 


"Aku ingin kamu lebih berusaha. Tidak hanya sekedar seperti ini. Kak Giska bilang aku harus menyiksamu. Jadi ini belum seberapa," kata Kikan. Dicto pun makin mengeratkan pelukannya. Dia tahu perempuan ini sedang menggodanya.


 


"Kamu sedang belajar menggodaku ya?" bisik Dicto.


 


"Bukan. Aku bukan sedang menggodamu,” sangkal Kikan tidak menduga di tuduh seperti itu. Kikan membalikkan tubuhnya dan mendengus pelan.


 


"Benarkah?" tanya Dicto lembut di dekat telinga perempuan ini.


 


"Besok kita harus bekerja. Lebih baik tidur lebih awal. Apalagi aku harus menghadapi banyak pertanyaan mereka yang terkejut aku adalah istri wakil Presdir." Kikan menutup mata.


 


"Aku tidak bisa tidur, Kikan." Pelukan Dicto makin erat. Bahkan suaranya juga makin berat. Degup jantung Kikan berubah sangat cepat. Tubuh Kikan berusaha meringkuk. Tidak ingin suara detak jantungnya terdengar oleh Dicto. Namun pria itu sudah merasakannya. "Aku dengar detak jantungmu yang kencang. Apa aku membuatmu berdebar?"


 


Kikan menggeliat samar.


 


 


"Meskipun bibirmu tidak mengaku, tubuhmu terus saja menunjukkannya," kata Dicto seraya menyibak rambut Kikan. Sesaat ciuman hangat mendarat di atas tengkuknya.


 


Tubuh Kikan langsung menegang.


 


"Aku tidak lupa aroma tubuhmu, Kikan," bisik Dicto tepat di atas kulit punggungnya. Mengendusi tubuh Kikan, hingga membuat perempuan ini menggeliat gelisah. Dicto makin berani menyentuhnya. Kikan kelabakan sendiri menyadari pria ini begitu berhasrat padanya.


 


Tubuh Kikan bergerak ingin lepas, tapi Dicto sudah memenjarakannya dalam pelukan yang sulit di lepaskan.


 


"Aku mencintaimu Kikan. Meski terdengar terlambat, tapi aku tidak bohong soal hatiku." Mungkin sentuhan Dicto bukanlah yang pertama kalinya, karena pria ini telah menyentuh dirinya lebih dari ini kala itu. Namun soal pengakuan cinta, ini adalah pertama kalinya.


 


Kikan diam. Jujur, pengakuan cinta seorang pria seringkali membuat hati seorang perempuan berbunga-bunga. Tidak bisa di pungkiri bahwa Kikan juga merasakan bahagia saat mendengarnya dari bibir Dicto. Di cintai itu indah.


 


Dinding marah dan benci seakan luruh. Sejak perhatian dan kasih sayang yang di berikan Dicto padanya datang bertubi-tubi, Kikan merasakan rasa marah dan bencinya hangus perlahan. Ia mau memberikan kesempatan kedua untuk pria ini memperbaiki kesalahannya.

__ADS_1


 


Mendadak tubuh Kikan kembali menghadap ke arahnya. Bola mata Dicto mengerjap. Apalagi saat mata Kikan menatapnya. "Jangan hanya malam ini saja kamu mengatakan mencintaiku, Dicto," kata Kikan mengejutkan.


 


"Kamu ragu?"


 


"Tentu saja. Aku tidak mengenalmu. Jadi aku tidak tahu bagaimana sebenarnya dirimu," kata Kikan jujur. Dicto mengerti. Mereka yang tidak pernah mengenal satu sama lain, tiba-tiba saja dipersatukan oleh sebuah nyawa tidak berdosa di dalam perut Kikan. Wajar jika keduanya belum mengerti sifat masing-masing.


 


"Aku tahu. Maafkan aku." Dicto mengecup tangan Kikan. "Jadi ungkapan hatiku tersampaikan padamu?"


 


"B-begitulah." Kikan menjawabnya sambil menundukkan pandangan. Bibir Dicto tersenyum senang. Semuanya lebih jelas sekarang.


 


"Aku sangat bahagia Kikan." Dengan gemas Dicto menyentuh pipi istrinya. Kikan tersenyum tipis. Tiba-tiba tangan Dicto menyentuh bibir Kikan lembut. Degup jantung Kikan kembali kencang. Debaran menggempur dadanya. "Boleh aku menciummu?" bisik Dicto penuh harap. Manik mata Dicto sudah berkabut ingin melahap bibirr ranum itu. Kepala Kikan mengangguk.


 


Karena sudah di ijinkan, Dicto tidak segan-segan lagi melahap bibirr perempuan ini. Kikan mengijinkan pria ini menjajah bibirnya. Cecapan bibir Dicto terasa sangat lembut. Kikan terhanyut. Tanpa di sadari, dia sudah bertubuh polos dalam kungkungan tubuh Dicto. Bahkan pria ini juga dalam keadaan polos tanpa sehelai pakaian pun menutupi tubuhnya.


 


Tubuhnya menggeliat saat sebuah ciuman menyentuh bagian sensitifnya.


 


"Aku mencintaimu Kikan," bisik Dicto. Keduanya sudah larut dalam permainan menyenangkan. Hingga Kikan sendiri sudah merasa kehilangan sebagian kesadarannya. "Kita akan melakukannya lagi. Kamu bisa menghentikan aku jika ini menyakitimu. Karena aku tahu trauma tidak hilang dengan mudah."


 


Kikan menatap pria di atasnya. Mengerjapkan mata perlahan.


 


"Aku menerima mu, Dicto," kata Kikan dengan suara lirih. Dicto merundukkan tubuhnya untuk menjangkau bibir Kikan. Memagutnya pelan dan lembut.


 


"Aku akan melakukannya," bisik Dicto serak. Dia sudah di selubungi hasrat yang membumbung tinggi. Kikan memejamkan matanya saat sebuah desakan lembut terasa di pusat tubuhnya. Tanpa di rencana, dessahan lembut keluar dari bibir Kikan.


 


Airmata keluar dari ujung matanya.


 


Ingatan soal malam itu kembali muncul. Namun samar-samar lenyap berganti ingatan yang baru. Otak Kikan dan Dicto merekam ingatan baru untuk di ingat. Hati, jiwa, dan pikiran mereka merefresh sendiri memory menyakitkan waktu itu. Kini bukan lagi ingatan kesalahan malam itu yang ada di dalam hati mereka, tapi ingatan indah soal perasaan bahagia malam ini.


...____...


__ADS_1


__ADS_2