Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 20 Masa pulih


__ADS_3

“Kak Kikan!!” jerit Arin saat melihat Kikan muncul di depan pintu masuk ruangan tim perencanaan 1. Semua menoleh ke arah yang sama. Arin langsung berdiri dan mendekati Kikan. Memeluknya erat sampai-sampai di paksa Mirna lepas karena perempuan itu juga ingin memeluk Kikan.


 


“Kangen nih, Ki ...” ujar Mirna saat sudah memeluk perempuan ini. Kikan tersenyum seraya ikut mengelus punggung Mirna.


 


“Ibu sehat, Ki?” tanya Rangga tanpa beranjak dari kursinya. Dia tidak harus ikut-ikutan meluk Kikan jika tidak ingin di hajar Arin.


 


“Masa pemulihan,” sahut Kikan yang di kawal Mirna dan Arin untuk sampai ke kursinya.


 


“Kamu sendiri bagaimana?” tanya Rangga lagi. Sungguh mengejutkan ada yang bertanya soal keadaannya.


 


“Ya. Aku sehat. Jadi bisa masuk kerja sekarang,” kelakar Kikan bohong. Tidak mungkin dia baik-baik saja. Bukan hanya soal ibu, tapi dia juga sedang mengalami masa kelam. Penculikan yang berujung kesuciannya terenggut, membuat harinya makin gelap. Bahkan warna jalan hidupnya adalah vantablack. Warna hitam paling gelap. Bisa juga disebut raja hitam.


 


Namun ia harus bisa bertahan. Bukan hanya untuk ibunya yang sedang sakit, tapi untuk dirinya sendiri. Laporan ke kantor polisi juga akan sulit. Karena tidak banyak bukti. Meskipun nanti bisa di visum secara menyeluruh, kenyataan bahwa ia tidak virgin lagi akan mengganggu kehidupannya. Apalagi yang ia hadapi bukan orang biasa. Pria itu pasti punya kekuasaan. Hingga Kikan memilih menutup sendiri kasus itu demi mentalnya.


 


Dari ruangan Astra, pria itu bisa melihat Kikan sedang dikerumuni orang-orang. Dia tidak sendirian sekarang. Ada wanita yang tak lain adalah istrinya, Ruby. Wanita itu tadinya sedang berbincang dengan Astra.


 


“Dia sudah masuk rupanya,” kata Ruby seakan tidak senang. Ternyata dia melihat kedatangan Kikan di luar. Astra mendongak. Lalu ia berdiri beranjak dari kursi. “Mau kemana, Astra?” tanya Ruby yang terkejut Astra sudah berdiri dan siap pergi.


 


“Menanyakan kabarnya,” jawab Astra terang-terangan.


 


“Astra!” teriak Ruby marah, hingga suaranya meninggi. Membuat semua anggota tim menoleh ke arah ruangan ketua tim.


 


Cintya yang baru datang dari toilet langsung memeluk Kikan. “Keadaan ibu dan kamu sehat, Ki?” tanya perempuan itu.


 


“Ya,” sahut Kikan.


 


“Syukurlah. Ada apa dengan mereka? Masa pengantin baru sudah bagai di neraka saja,” cibir Cintya saat bola matanya melihat ke arah ruangan ketua tim perencanaan 1.

__ADS_1


 


“Iya. Enggak nyangka aja Pak Astra yang cakep itu dapat jodoh yang songongnya minta ampun,” tutur Mirna.


 


“Kali aja itu karmanya dia pernah ninggalin kekasihnya. Jadi dapat perempuan yang songong sekaligus manja,” celetuk Rangga mengejutkan. Kikan sempat melirik sebentar. Bahkan Arin terlihat memberi kode pada Rangga untuk tutup mulut.


 


“Emang Pak Astra sebelum menikah sudah punya kekasih?” tanya Mirna yang akhirnya bikin Cintya juga penasaran. Rangga panik. Ia kebablasan ngomong. Arin mendelik menyalahkan.


 


“Eh, enggak tahu juga. Mungkin aja begitu. Kalau kita baik, bukannya jodohnya juga baik?” Rangga bisa berkelit. Arin menghela napas lega.


 


“Bener tuh, kata Rangga. Kali aja dia jadi orang yang enggak baik. Sekarang, mana ada orang yang baru menikah sudah berkali-kali bertengkar,” kata Cintya.


 


“Ada,” sahut Arin dan Rangga barengan. Mereka merujuk pada si Astra sendiri.


 


“Iya? Sesuatu banget kalau begitu. Eh tunggu kenapa kalian berdua kelihatan kompak?” cecar Cintya. Arin dan Rangga panik.


 


 


“Eh, enggak sebebas itu kali. Kan ada si putri,” ujar Mirna dengan raut wajah nyinyir, yang langsung disetujui  yang lainnya.


 


“Putri?” tanya Kikan yang sudah duduk di kursinya heran. Setahu dia tidak ada karyawan bernama Putri. Lalu siapa itu?


 


“Ya. Si Ruby,” bisik Arin.


 


“Oh, dia?” Kikan mengangguk paham. Dia memandang ke arah ruangan Astra.


 


Suara keras Ruby tadi membuat tubuh Astra berhenti.


 


“Ada apa, Ruby?” tanya Astra dengan ******* lelah karena sikap istrinya. Sepertinya dia menikah hanya untuk di marahi dan di tegur.

__ADS_1


 


“Ada apa? Kamu enggak sadar sudah menyakitiku?” tanya Ruby tidak percaya. Wajahnya langsung masam.


 


“Yang mana? Yang mana kalimat yang sudah menyakitimu, Ruby?” tanya Astra mulai tidak sabar. “Aku ini hanya mau menanyakan kabar seorang karyawan yang ibu dan dirinya di kabarkan sakit,” jelas Astra.


 


“Aku tahu itu, tapi aku tidak akan percaya karena itu Kikan. Karena kamu masih memikirkannya sebagai mantan kekasihmu. Bukan hanya seorang karyawan biasa. Aku ini tahu, Astra. Aku mengerti itu tata krama seorang atasan dan bawahan, tapi jadi tidak berlaku karena kamu melibatkan perasaan.” Ruby kesal dan akhirnya matanya berkaca-kaca.


 


Astra kembali memeluk perempuan ini. Dia mengelus kepala Ruby. Meski terlihat tidak berperasaan, Ruby punya hati yang sangat sensitif dan rapuh. Apalagi jika itu berhubungan dengan Astra. Dia tidak salah. Hanya saja itu membuat Astra kesulitan.


 


Semua anggota yang tadinya mengintai, kini menunduk saat melihat Astra memeluk Ruby. Astra urung keluar ruangan demi menenangkan istrinya.


 


“Mereka baikan,” cibir Cintya. Kepala yang lain mengangguk. Kikan tidak peduli. Ia tetap menatap layar komputernya.


 


“Enak banget jadi mereka. Bisa pacaran satu kantor. Padahal ada aturan keras tidak boleh ada hubungan asmara di dalam perusahaan,” keluh Mirna.


 


“Iya, ya,” sahut Arin tanpa sadar.


 


“Kenapa? Kalian juga ada yang di sukai di perusahaan ini? Atau jangan-jangan kalian punya pacar diam-diam ya?” tebak Cintya membuat Rangga dan Arin terkejut. Bola mata Cintya menatap mereka satu persatu.


 


“Berdoa saja peraturan itu di hapus,” celetuk Kikan.


 


“Eh, benar. Kalau begitu wakil Presdir harus di ganti dong. Bukannya orang itu yang bikin peraturan ngeselin begini,” kata Mirna. Yang lainnya menganggukkan kepala. Namun itu mustahil.


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2