Takdir Cinta Kikan

Takdir Cinta Kikan
Bab. 35 Upaya Kikan


__ADS_3

Dicto masih berada di ruang kerjanya. Sejak tadi ia melihat ke arah komputer di depannya. Bukan tatapan sedang melakukan sesuatu, tapi hanya tatapan kosong. Benaknya sedang ke arah yang lain. Dia sedang memikirkan tentang Kikan.


 


"Aku harap dia tidak berbuat aneh-aneh lagi," gumam Dicto. "Aku harus menikahinya." Kepalanya menoleh ke samping. Ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ponselnya berdering. Tangannya meraih ponsel itu. "Kikan?" Dicto terkejut bahwa perempuan itu meneleponnya.


 


"Halo," ujar sebuah suara di sana membuat kening Dicto mengerut. Itu suara laki-laki.


 


"Siapa kamu?" tegur Dicto yang langsung berdiri dari kursinya.


 


"Maaf, Saya ..."


 


***


 


Dicto turun dari mobil dan langsung masuk klub Vegas. Dia segera mencari meja yang sudah di sebutkan tadi. Seorang sekuriti menunggu di dekat tubuh wanita yang menyandarkan kepalanya di meja, sesuai dengan permintaannya. Tentunya dia harus mengeluarkan uang untuk memberi tips. Upah sekuriti menjaga Kikan.


 


"Anda, teman wanita ini?" tanya sekuriti saat melihat Dicto muncul.


 


"Ya. Aku mau menjemput dia."


 


"Silakan." Sekuriti itu mempersilakan Dicto membawa Kikan yang tergeletak tidak berdaya di kursinya. Sepertinya perempuan ini sudah menenggak banyak minuman beralkohol. Dan Dicto tahu itu pasti sengaja di lakukan untuk menggugurkan kandungan.


 


Setelah berpikir mau di bawa kemana perempuan ini, akhirnya pilihan Dicto jatuh pada Giska. Kakak pertama dia dan Ruby. Dicto membawa Kikan ke apartemen Giska.


 


"Dicto?" tanya Giska terkejut.


 


"Tolong kamar, Giska," pinta Dicto. Giska langsung menjauh dari pintu dan membuka pintu kamar yang tidak di pakai dengan segera. Dicto menidurkan Kikan di atas ranjang. Menarik selimut yang terlipat rapi, lalu menutupi tubuh Kikan.


 


"Dia, siapa?" tanya Giska heran. Dia mencoba memperhatikan perempuan yang di bawa adiknya.


 


"Kikan,” sahut Dicto.


 


"Kekasihmu?"


 


"Bukan."


 


"Lalu, kenapa dia kamu bawa ke sini? Seharusnya kamu bawa dia pulang. Dia mabuk berat sepertinya," tanya Giska heran.


 


"Aku tidak ingin ibunya, melihatnya dalam keadaan seperti ini," kata Dicto dengan tetap menatap perempuan yang terbaring lemah itu. Jika bukan kekasih Dicto, pria ini seharusnya tidak peduli bukan?

__ADS_1


 


"Dia bukan kekasihmu, tapi kamu berusaha membuat dia nyaman. Bahkan kamu tidak ingin ibu perempuan ini tahu dia sedang mabuk berat. Itu seperti kamu bukan hanya sekedar mengenalnya, Dicto." Giska mencoba menganalisa sendiri.


 


"Dia Kikan. AE ZEUs."


 


"Oww ... Perusahaan papa? Dia bawahanmu ternyata." Giska jadi berusaha mengerti kenapa Dicto bisa bersama perempuan ini. Namun rasa heran tetap meliputinya. Ini pertama kalinya Dicto membawa perempuan ke apartemennya.


 


"Tolong biarkan dia tinggal di sini. Mungkin hanya semalam. Sampai mabuknya reda," pinta Dicto.


 


"Setelah kamu masuk dan menidurkannya di kamar, kamu baru meminta ijin dia tinggal? Terlambat.” Giska menipiskan bibirnya. “Mau tidak mau aku memang harus membiarkan dia tinggal di sini. Karena dia sudah terbaring di ranjang ini. Dasar, Dicto yang nakal." Giska menepuk pipi Dicto gemas.


 


"Terima kasih, Giska,” ucap Dicto.


 


Giska keluar dari kamar. Setelah membetulkan selimut Kikan, Dicto juga ikut keluar.


 


"Duduklah. Aku buatkan kopi." Ternyata Giska berada di pantry. Ia sedang menyalakan mesin espresso. Dicto duduk di sofa. Menghela napas dan mengusap wajahnya. Terasa lelah. Bukan karena menggendong tubuh Kikan, tapi lebih karena apa yang sudah di lakukan perempuan itu.


 


Kikan pasti mencari cara untuk menggugurkan kandungannya. Dia tetap tidak menginginkan janin itu, desah Dicto lelah.


 


***


 


 


"Aku dimana?" tanya Kikan bagai mimpi berada di tempat orang lain. Meski pusing masih bersarang di kepala, Kikan berusaha berjalan untuk membuka pintu. Ia ingin bertanya pada siapa saja yang ada di luar kamar.


 


Ia melihat seorang perempuan memakai celana pendek se-lutut tengah memasak. Kikan makin merasa aneh dengan semua yang ada di sini. Asing.


 


Siapa wanita itu? Itu bukan ibuku.


 


Langkah Kikan pelan menuju pantry. Namun langkahnya tertahan saat melihat seorang pria. Matanya melebar melihat Dicto tidur di sofa. Masih dengan kemeja kerjanya.


 


Dicto? Lalu perempuan itu siapa?


 


"Eh, kamu sudah bangun?" Perempuan manis itu tersenyum ramah.


 


"Ini ... rumah Anda?" tanya Kikan dengan suara lemah.


 


"Ya. Kalau kamu ..."

__ADS_1


 


Kikan tidak lagi mendengar suara perempuan itu karena perutnya bergolak. Ia merasa ada tekanan di dalam perutnya yang membuatnya ingin muntah. Langkahnya tertatih dan terseok-seok.


 


Giska berlari menghampiri untuk membantu Kikan.


 


"Kamar mandi," pinta Kikan sambil menahan mual yang makin bergolak. Sakit terasa di dinding rahim. Giska memapah tubuh Kikan menuju ke kamar mandi. Hampir saja Kikan tidak bisa menahan muntahan.


 


"Hoek! Hoek!"


 


Dicto yang terbangun karena suara Kikan, segera mendekat ke kamar mandi. Giska yang bermaksud memijit Kikan, urung. Dicto mengambil alih posisinya. Giska memilih menggeser tubuhnya dan membiarkan Dicto menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan perempuan itu.


 


"Kikan," lirih Dicto cemas. Tangannya terulur dan memijat tengkuk perempuan itu dengan lembut. Ini menjadi perhatian Giska saat melihatnya. Sedikit memiringkan kepala, Giska melihat Kikan masih ingin muntah. "Perutmu sakit?" tanya Dicto cemas. Namun tidak ada jawaban apapun. Tentu saja, Kikan masih meringis menahan rasa sakit di perutnya.


 


"Hoek! Hoek!"


 


Giska menyingkir dari sana dan menyiapkan minuman untuk Kikan. Setelah agak lama di kamar mandi, Dicto muncul sembari menggendong tubuh Kikan menuju ke kamar. Giska mengerjapkan mata. Baru saja melintas, Dicto muncul lagi. Kali ini adik laki-lakinya berdiri di depannya dengan wajah pucat dan cemas.


 


"Giska, tolong panggilkan dokter pribadimu kesini. Sekarang. Cepat," pinta Dicto dengan rasa cemas yang tiada tara.


 


"Oke." Giska ingin bertanya ada apa, tapi batal karena tidak tega melihat raut wajah khawatir milik adiknya. Ia segera melesat mencari ponselnya seraya melirik ke kamar dimana Kikan di tidurkan. Sekilas dia melihat darah di atas kasur. Degup jantung Giska terdengar kencang.


 


Ada apa sebenarnya?


 


***


 


Dicto menatap cemas ke arah Kikan yang mulai di pasangi infus oleh dokter. Giska melirik ke arah Dicto di sampingnya. Entah ada apa, tiba-tiba saja dia berada di rumah sakit dengan mobil milik Dicto. Padahal menurutnya, wanita ini lemas karena mabuk tadi malam. Namun sepertinya lebih parah dari sekedar Hangover.


 


"Bisa kita bicara?" tanya Mely dokter pribadi Giska selama ini. Dicto melihat Kikan sudah tenang di atas ranjang. Matanya terpejam. Sepertinya karena obat yang sudah di berikan dokter tadi.


 


"Tunggu sebentar," sahut Dicto yang merasa tidak bisa meninggalkan Kikan. Ia khawatir.


 


"Aku bisa menunggui Kikan di sini. Kamu bisa ikut dokter Mely dan bicara dengannya," kata Giska menenangkan adiknya.


 


"Baiklah. Terima kasih."


 


"Memangnya ada apa?" tanya Giska dalam hati. Ia masih belum paham. Meski Dicto lebih banyak diam, tapi Giska yakin dia tahu sesuatu. Setelah membiarkan punggung mereka menjauh dari ruang perawatan, Giska berganti melihat ke arah perempuan yang sedang terbaring lemah di atas ranjang ruang sakit. "Sebenarnya kamu itu siapa? Sampai-sampai adikku khawatir seperti itu?" gumam Giska.


_______

__ADS_1



__ADS_2